Melinda N. Wiria

Ketika Pasien Mencerdaskan Dirinya

Selasa, 21-11-2006 10:56:11 oleh: Melinda N. Wiria
Kanal: Gaya Hidup

Seiring dengan kemajuan zaman, semangat konsumerisme terus bertiup menyelusup ke segala bidang, tidak terkecuali dalam dunia medis. Pasien tidak sekadar dipandang sebagai pihak yang perlu ditolong, tetapi ceruk pasar yang harus terus "dibina".

Akan tetapi, hanya segelintir masyarakat yang menyadarinya. Kendati begitu, pendulum kesadaran terus bergerak melalui komunitas kecil semacam Health Talk. Komunitas ini baru tahun 2004 terbentuk.

Meski demikian, diskusi yang digelar setiap Sabtu minggu ketiga setiap bulannya itu selalu saja mampu menghadirkan pencerahan yang kadang mengejutkan. Jangan bayangkan diskusi ini disponsori produk-produk obat atau suplemen tertentu, yang pesertanya harus membayar ratusan ribu rupiah. Bincang-bincang komunitas ini bertempat di salah satu lounge di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, dengan ditemani camilan seadanya.

"Terbentuknya komunitas ini berawal dari pengalaman buruk saya sendiri dan nenek saya, saat sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Sementara, nenek saya akhirnya meninggal," tutur Melinda N Wiria, pemrakarsa komunitas tersebut.

Pertengahan tahun 2004, Melinda jatuh sakit dengan diagnosa demam berdarah, yang sebenarnya belakangan diketahui para tifus. Selama seminggu dirawat, keadaannya bukan makin membaik, gejala yang dikeluhkan malah semakin bertambah. Melinda malah mengalami diare, mual hingga perdarahan seperti menstruasi. Belakangan, dicurigai kuat, hal itu karena pemberian obat yang berlebihan, termasuk antibiotik yang diberikan secara suntik.

Sekeluarnya dari rumah sakit, dirinya merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Dia lalu mendatangi dokter keluarganya yang juga ahli farmakologi, yaitu Profesor Iwan Darmansjah SpFK. "Sembilan macam obat yang diberikan dari rumah sakit itu dibuang ke lantai oleh Profesor di depan saya dengan marah. Padahal, itu obat-obat mahal. Profesor itu lalu meresepkan obat lain dan lalu menyarankan makanan untuk meningkatkan vitalitas tubuh. Saya akhirnya sembuh setelah keracunan obat," tutur Melinda.

Sejak itulah Melinda tergerak meniti terbentuknya komunitas yang bercita-cita memperbaiki layanan kesehatan di negeri ini. Prof Iwan, yang juga guru besar emeritus di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, merupakan narasumber utama dalam komunitas tersebut.

Selain diskusi bulanan, para anggotanya dapat berdiskusi melalui suatu mailing list (milis) dan situs pribadi Prof Iwan. Kini anggota milis tersebut telah berjumlah 231 orang, baik yang berdomisili di dalam maupun luar negeri, dengan berbagai latar belakang. Topik yang selalu hangat dibahas yaitu soal hubungan antara dokter dan pasien serta fenomena polifarmasi, yaitu pemberian obat dalam jumlah banyak secara bersamaan.

Mely G Tan, salah seorang anggota Health Talk, mengatakan, pasien merupakan seseorang dalam posisi yang cenderung lemah. Di Indonesia, khususnya, pasien selalu cenderung menyerahkan seluruh nasibnya kepada tenaga medis. Sikap seperti ini mengakibatkan pasien tidak kritis.

"Pasien menerima begitu saja resep yang diberi dokter tanpa keinginan untuk bertanya atau mencari tahu lebih jauh informasi seputar obat yang akan dikonsumsinya itu, apa dampak dan potensi efek sampingnya. Di rumah sakit, pasien juga sering tanda tangan begitu saja rencana tindakan medis yang akan diperuntukkan baginya. Suster malah menyuruh supaya pasien menurut saja, tidak perlu baca-baca lagi," tutur Mely, yang juga mendalami sosiologi medis.

Salah seorang dokter yang enggan disebut namanya pernah bercerita, hubungan antara dokter dan industri farmasi saat ini jauh lebih "erat" ketimbang dokter dengan pasiennya. Keeratan hubungan tersebut lambat laun bahkan semakin tidak etis dan merugikan pasien.

Pasien kerap dicekoki obat- obat mahal yang sering kali tidak diperlukan atau berlebihan dosisnya. Latar belakang fenomena ini, menurut dokter tersebut, tentu tidak terlepas dari adanya timbal balik dari pihak industri kepada tenaga medis. Alih-alih mencari penyebab utamanya, dokter kerap memberikan satu macam obat untuk setiap satu gejala yang dikeluhkan pasiennya. Terjadilah apa yang disebut polifarmasi tersebut. Dalam kasus pasien anak kecil, hal ini bisa sangat memprihatinkan. "Saya sering menjumpai pasien anak yang menderita gangguan lever yang rupanya disebabkan berlebihan mengonsumsi obat," tutur dokter tersebut.

Keeratan hubungan dokter dan industri farmasi ini sebenarnya bisa dilihat sekilas di rumah-rumah sakit. Para agen pemasaran obat sering kali leluasa berlalu-lalang dan menemui dokter menawarkan produk-produk mereka.

Di Indonesia parah

Dalam suatu kesempatan diskusi, peserta Health Talk diberikan artikel di New England Journal of Medicine (jurnal kesehatan terkemuka di dunia) berjudul Doctors and Drug Companies yang ditulis oleh Dr David Blumenthal. Dia memaparkan, tindakan industri farmasi dalam mencari laba semakin menjadi-jadi, mengabaikan etika bahkan hukum.

Dengan rinci, Blumenthal bahkan menguraikan bagaimana industri farmasi menawarkan insentif kepada dokter supaya meresepkan obat produksi pabriknya kepada pasien. "Kondisi seperti itu sudah jadi keprihatinan di mana-mana, termasuk negara maju. Di Indonesia sendiri, intensitasnya sangat parah. Orang tua pun sering senang jika anaknya jadi dokter karena seolah gerbang menuju kemakmuran, bukan pengabdian," ujar Melinda.

Dax Cahyadi, anggota baru, mengaku setelah mengikuti diskusi Health Talk baru mengetahui bahwa ternyata antibiotik bukanlah obat yang digunakan untuk gejala influenza. "Wah, baru tahu saya... selama ini kalau ke luar negeri malah bawa bekal amoxilin dulu buat persiapan kalau flu... ha-ha-ha...," ujar Dax.

Sarie Febriane (Kompas)
Bookmark and Share

Tag/Label Tidak ada tag/label untuk artikel ini.
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
1 komentar pada warta ini
Selasa, 21-11-2006 13:39:42 oleh: Melinda Wiria

Sedikit update... sampai hari ini tgl 21 Nov 2006, anggota milis tercatat sebanyak 341
orang. Selain itu, tempat diskusi sudah pindah ke Magenta, sebuah kafe di Jl. Wijaya IX/16, Kebayoran Baru (sayang sekali pihak hotel Dharmawangsa berusaha mengeduk keuntungan dari Health Talk dengan cara yang kurang terpuji sehingga memaksa kami untuk pindah).




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
inasa ori sativa: barang apa ini ? tidak bermutu .

Testimoni selengkapnya... (3 komentar)



Testimoniku Terbaru:
ridlo almuiz   pada  motor tossa 100cc
ridlo almuiz   pada  motor tossa 100cc
Kang Kuku   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
syamsul kheir: nambahin opini nya mas eko. saya yangjuga pengguna jasa dari produk telkomsel dah banyak dikecewainnya.contohnya kmaren saya ngenggunain NSP yang katanya gratis cuman ujujng-ujungnya mah saya slalu dapet smsm yg ga perlu dan nyedot pulsa saya. tolong dong telkomsel yg bener

Suara kita selengkapnya... (8 komentar)



Suara Kita Terbaru:
syamsul kheir   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
wahyudiansyah   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
anda renaco.Simatupang,Amk   pada  Visi Lingkungan Caleg Kita

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-7222921 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY