Seiring dengan kemajuan zaman, semangat konsumerisme terus bertiup menyelusup ke segala bidang, tidak terkecuali dalam dunia medis. Pasien tidak sekadar dipandang sebagai pihak yang perlu ditolong, tetapi ceruk pasar yang harus terus "dibina".
Akan tetapi, hanya segelintir masyarakat yang menyadarinya. Kendati begitu, pendulum kesadaran terus bergerak melalui komunitas kecil semacam Health Talk. Komunitas ini baru tahun 2004 terbentuk.
Meski demikian, diskusi yang digelar setiap Sabtu minggu ketiga setiap bulannya itu selalu saja mampu menghadirkan pencerahan yang kadang mengejutkan. Jangan bayangkan diskusi ini disponsori produk-produk obat atau suplemen tertentu, yang pesertanya harus membayar ratusan ribu rupiah. Bincang-bincang komunitas ini bertempat di salah satu lounge di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, dengan ditemani camilan seadanya.
"Terbentuknya komunitas ini berawal dari pengalaman buruk saya sendiri dan nenek saya, saat sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Sementara, nenek saya akhirnya meninggal," tutur Melinda N Wiria, pemrakarsa komunitas tersebut.
Pertengahan tahun 2004, Melinda jatuh sakit dengan diagnosa demam berdarah, yang sebenarnya belakangan diketahui para tifus. Selama seminggu dirawat, keadaannya bukan makin membaik, gejala yang dikeluhkan malah semakin bertambah. Melinda malah mengalami diare, mual hingga perdarahan seperti menstruasi. Belakangan, dicurigai kuat, hal itu karena pemberian obat yang berlebihan, termasuk antibiotik yang diberikan secara suntik.
Sekeluarnya dari rumah sakit, dirinya merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Dia lalu mendatangi dokter keluarganya yang juga ahli farmakologi, yaitu Profesor Iwan Darmansjah SpFK. "Sembilan macam obat yang diberikan dari rumah sakit itu dibuang ke lantai oleh Profesor di depan saya dengan marah. Padahal, itu obat-obat mahal. Profesor itu lalu meresepkan obat lain dan lalu menyarankan makanan untuk meningkatkan vitalitas tubuh. Saya akhirnya sembuh setelah keracunan obat," tutur Melinda.
Sejak itulah Melinda tergerak meniti terbentuknya komunitas yang bercita-cita memperbaiki layanan kesehatan di negeri ini. Prof Iwan, yang juga guru besar emeritus di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, merupakan narasumber utama dalam komunitas tersebut.
Selain diskusi bulanan, para anggotanya dapat berdiskusi melalui suatu mailing list (milis) dan situs pribadi Prof Iwan. Kini anggota milis tersebut telah berjumlah 231 orang, baik yang berdomisili di dalam maupun luar negeri, dengan berbagai latar belakang. Topik yang selalu hangat dibahas yaitu soal hubungan antara dokter dan pasien serta fenomena polifarmasi, yaitu pemberian obat dalam jumlah banyak secara bersamaan.
Mely G Tan, salah seorang anggota Health Talk, mengatakan, pasien merupakan seseorang dalam posisi yang cenderung lemah. Di Indonesia, khususnya, pasien selalu cenderung menyerahkan seluruh nasibnya kepada tenaga medis. Sikap seperti ini mengakibatkan pasien tidak kritis.
"Pasien menerima begitu saja resep yang diberi dokter tanpa keinginan untuk bertanya atau mencari tahu lebih jauh informasi seputar obat yang akan dikonsumsinya itu, apa dampak dan potensi efek sampingnya. Di rumah sakit, pasien juga sering tanda tangan begitu saja rencana tindakan medis yang akan diperuntukkan baginya. Suster malah menyuruh supaya pasien menurut saja, tidak perlu baca-baca lagi," tutur Mely, yang juga mendalami sosiologi medis.
Salah seorang dokter yang enggan disebut namanya pernah bercerita, hubungan antara dokter dan industri farmasi saat ini jauh lebih "erat" ketimbang dokter dengan pasiennya. Keeratan hubungan tersebut lambat laun bahkan semakin tidak etis dan merugikan pasien.
Pasien kerap dicekoki obat- obat mahal yang sering kali tidak diperlukan atau berlebihan dosisnya. Latar belakang fenomena ini, menurut dokter tersebut, tentu tidak terlepas dari adanya timbal balik dari pihak industri kepada tenaga medis. Alih-alih mencari penyebab utamanya, dokter kerap memberikan satu macam obat untuk setiap satu gejala yang dikeluhkan pasiennya. Terjadilah apa yang disebut polifarmasi tersebut. Dalam kasus pasien anak kecil, hal ini bisa sangat memprihatinkan. "Saya sering menjumpai pasien anak yang menderita gangguan lever yang rupanya disebabkan berlebihan mengonsumsi obat," tutur dokter tersebut.
Keeratan hubungan dokter dan industri farmasi ini sebenarnya bisa dilihat sekilas di rumah-rumah sakit. Para agen pemasaran obat sering kali leluasa berlalu-lalang dan menemui dokter menawarkan produk-produk mereka.
Di Indonesia parah
Dalam suatu kesempatan diskusi, peserta Health Talk diberikan artikel di New England Journal of Medicine (jurnal kesehatan terkemuka di dunia) berjudul Doctors and Drug Companies yang ditulis oleh Dr David Blumenthal. Dia memaparkan, tindakan industri farmasi dalam mencari laba semakin menjadi-jadi, mengabaikan etika bahkan hukum.
Dengan rinci, Blumenthal bahkan menguraikan bagaimana industri farmasi menawarkan insentif kepada dokter supaya meresepkan obat produksi pabriknya kepada pasien. "Kondisi seperti itu sudah jadi keprihatinan di mana-mana, termasuk negara maju. Di Indonesia sendiri, intensitasnya sangat parah. Orang tua pun sering senang jika anaknya jadi dokter karena seolah gerbang menuju kemakmuran, bukan pengabdian," ujar Melinda.
Dax Cahyadi, anggota baru, mengaku setelah mengikuti diskusi Health Talk baru mengetahui bahwa ternyata antibiotik bukanlah obat yang digunakan untuk gejala influenza. "Wah, baru tahu saya... selama ini kalau ke luar negeri malah bawa bekal amoxilin dulu buat persiapan kalau flu... ha-ha-ha...," ujar Dax.
Sarie Febriane (Kompas)