Generasi Z adalah mereka yang lahir tahun 1990 sampai sekarang. Jadi mereka yang pada tahun 2011 ini berusia 20 tahun ke bawah, yaitu para remaja, atau para siswa dan sebagian mahasiswa, merupakan bagian dari generasi Z. Ada beberapa sebutan untuk mereka, yaitu generasi M, generasi net, generasi internet dan generasi native digital. Generasi ini tumbuh bersama tumbuhnya internet (yang dimulai tahun 1991). Mereka tumbuh pada masa berakhirnya perang dingin, yang kemudian disusul dengan krisis ekonomi menjelang tahun 2000.
Generasi Z tumbuh pada jaman media, mulai dari HP sampai internet dan semua isinya. (Saya pikir mereka tak terlalu akrab dengan media cetak.) Jika generasi sebelumnya, yaitu generasi Y, lahir di masa pra digital dan kemudian masa digital (yang kemudian disebut sebagai migran digital), maka generasi Z hidup pada masa digital (maka disebut generasi native digital). Generasi ini hidup dalam dunia digital. Radio atau kaset sudah digantikan dengan HP, televisi analog digantikan dengan televisi digital, mesin ketik digantikan laptop dan seterusnya. Mereka tak pernah merasakan bagaimana hidup tanpa teknologi digital.
Di satu sisi mereka menguasai alat-alat modern, fasih dengan HP-HP terbaru. Mereka multi tasking, ngobrol sambil menulis SMS dan lainnya. Namun di sisi lain, kehidupan mereka dangkal. Tahu banyak hal, namun hanya dipermukaan saja. Mereka bisa serius namun sulit jika diajak mendalami kehidupan, misalnya berkontemplasi. Mereka sangat tergantung dengan teknologi. (Saya membayangkan jika mereka dilepas sendirian di alam terbuka yang jauh dari teknologi digital, mereka akan stres. Stres bukan karena lapar namun stres karena tak tahu harus melakukan apa.) Mereka aktif di jejaring sosial, punya kenalan warga seberang pulau, namun belum tentu akrab dengan tetangga samping rumahnya. (Menurut survei Milward Brown di 70 kota di 15 negara – Eropa, Asia, AS dan Amerika Selatan – 50% responden yang berusia 8 – 12 tahun online tiap hari.) Namun sayangnya, beberapa dari generasi Z ini terindikasi kecanduan internet. (Studi University of Maryland di 10 negara terhadap remaja usia 17-23 tahun.)
Karena mereka fasih dengan teknologi digital, mereka sangat cocok bekerja di perusahaan besar, perusahaan yang mampu menyediakan fasilitas modern. Namun mereka akan kesulitan jika diminta mengelola sebidang tanah, dengan fasilitas pengairan, dan modal uang secukupnya. Karena yang ada di benak mereka adalah komputer, laptop dan HP, bukan peternakan, perikanan dan pertanian. Generasi Z ini juga disukai para produsen karena mereka merupakan pasar empuk untuk menjajakan produk-produk modern.
Memang survei ini dilakukan di luar negeri, dan para remaja kita tidaklah separah itu. Namun jika kita melihat situasi di negeri ini, hasilnya pun sama saja. Indikasi-indikasi yang terlihat saat ini sudah mengarah kesana. Bagi siswa SMP yang orang tuanya tidak miskin, memiliki HP merupakan kewajiban, dan laptop merupakan properti wajib sebelum lulus SMA. Dan jika kita melihat kondisi makro ekonomi negara kita, poteksi perdagangan merupakan sesuatu yang semakin sulit ditegakkan. Selain karena faktor tekanan dunia juga karena kesalahan pembuat kebijakan negara.
Lantas apa yang bisa dilakukan oleh orang tua dan para pendidik? Pertama, kurangi ketergantungan terhadap teknologi digital. Misalnya: ada baiknya anak secara periodik dipisahkan dari HP selama beberapa jam. Kedua, ajak anak untuk bersosialisasi dengan warga sekitar. Ketiga, kenalkan anak dengan teknologi manual. Dan lainnya yang intinya untuk menyeimbangkan kehidupan para remaja.
Sumber: wikipedia dll