Baru saja (jam 9) saya menonton tayangan di sebuah stasiun televisi seputar Soeharto, tepat setelah tontonan komedi. Yang bikin saya bingung, dikatakan bahwa berbeda dengan Soekarno yang anti China, Rusia, dan Barat, Soeharto membuka peluang bagi negara luar untuk berbisnis di negara Indonesia.
Lha, wong di buku Sejarah SMP saya dikatakan bahwa Soekarno dituduh komunis karena berteman dengan China dan Rusia. Kalau sampai dituduh begitu, mana mungkin beliau bermusuhan dengan dua negara tersebut?
Pasti masih banyak juga yang ingat tentang peristiwa Mei 1998 yang sungguh menekankan tentang diskriminasi terhadap kaum Tiong Hoa. Saat itu Soeharto lah yang menjadi Presiden, bukan Soekarno. Berdasarkan memori tua orang tua saya pun, sekolah-sekolah China ditutup paksa dan marga China harus diganti, itu semua adalah pada saat dekade pemerintahan Soeharto. Sedangkan Soekarno justru mengakui etnis Tiong Hoa di Indonesia, buktinya adalah ketika dilakukannya Sumpah Pemuda. Ketika itu, etnis Tiong Hoa juga mengirimkan perwakilan, bersama-sama dengan etnis Jawa, Sulawesi, Papua, dan lain-lain. Setelah itu, Soekarno menjadi Presiden.
Walaupun berniat membersihkan nama Soeharto, bagi para stasiun televisi dimohon jangan mengubah sejarah seenaknya. Bagi saya sendiri, peristiwa Mei 1998 itu memiliki arti tersendiri yang sangat mendalam, yang membuat saya sukar memaafkan Soeharto, biarpun beliau pernah jadi Presiden tanah kelahiran saya. Yang beliau perbuat sudah terlalu menusuk di hati. Mohon bagi stasiun televisi Indonesia untuk tidak mericuhkan lagi data sejarah yang sudah kelewat ricuh.