Sesungguhnya untuk mengenali kesempatan sangat dibutuhkan kemampuan mengenali gairah kehidupan kita. Mengenali passion, berarti mengenali hal yang bisa membuat kita melupakan diri kita sendiri. Terlalu larut dalam hal-hal yang menggairahkan bisa membuat kita lupa makan, lupa istirahat, lupa akan hal-hal lain di luar hal itu sendiri. Karena itu mengenalinya juga berarti mencari jalan untuk menjaga keseimbangan hidup.Seringkali kita mendengar bahwa kesempatan hanya datang sekali seumur hidup. Beruntung saya memiliki buku harian, sehingga saya bisa dengan sangat yakin berkata bahwa kesempatan senantiasa datang menghampiri kita. Hanya seringkali kita tidak cukup kuat mengenali keinginan kita sendiri dan membiarkan segala masukan dan pemikiran eksternal mengacaukan pilihan kita. Atau kita tidak cukup pandai untuk menangkap punai di tangan karena tidak bisa melepaskan pandangan dari burung di udara.
Baru-baru ini saya membaca sebuah kutipan dari Paulo Coelho, "Saat seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan membantu orang itu untuk mewujudkan mimpinya". Terkadang mungkin orang tidak merasa cukup berharga untuk menginginkan sesuatu. Atau mungkin juga seseorang tidak mampu fokus pada keinginannya sendiri. Kedua hal ini membuat dia tidak mampu menghadirkan rasa "benar-benar menginginkan sesuatu".
Lucunya, keadaan ekstrem juga sama mengacaukan. Merasa terlalu berharga untuk menginginkan sesuatu, atau terlalu fokus pada hasil akhir dari keinginan juga bisa memperlemah kekuatan keinginan itu sendiri. Pernah suatu ketika saya berulang kali diingatkan bahwa,"Mintalah maka engkau akan diberikan, bila engkau sungguh-sungguh memintanya". Tiba-tiba saya disadarkan bahwa doa saya senantiasa berisikan kata,"Kalau boleh ya Tuhan...". Tidak ada yang salah sebenarnya, tapi doa ini membuat saya di dalam hati bersiap untuk kecewa bila Tuhan belum memberikan keinginanku. Padahal saya tahu benar bahwa doa saja tidak akan pernah cukup tanpa tindakan. Ora et Labora! Tuhan meminta perjuangan! Tuhan memberi kebebasan untuk memilih dan kekuatan untuk berjuang di dalam pilihan itu. Hanya, waktu Tuhan tidak selalu sama dengan waktu manusia, karena itu sekarang saya berdoa,"Tuhan, kalau ini baik bagiku, bantu saya dan beri saya kekuatan untuk berjuang mendapatkannya".
Kenali gairah anda, dan bekerjalah bersamanya. Saya kembali mengingat kisah Butet Manurung,"Berkat menjadi porter dan kurir Stefani, aku sempat menyembuhkan kerinduanku kepada orang rimba". Butet memiliki kecintaan pada pendidikan bagi anak-anak rimba. Ia ingin menjadi guru bagi anak-anak rimba, bukan menjadi porter atau kurir! Bila dia terlalu fokus pada keinginan menjadi guru, maka bisa jadi dia melewatkan kesempatan yang datang berupa tawaran menjadi porter dan kurir orang asing.
Bisa jadi anda belum mencapai pekerjaan yang sesuai dengan kecintaan atau gairah hidup anda, lakukanlah pekerjaan yang ada dengan gembira dan sikap positif. Karena dengan sikap positif yang mudah-mudahan menular ke lingkungan anda, gairah atau kecintaan anda pada hal yang anda kerjakan juga akan tumbuh.
Saya mengetahui latar belakang penulis artikel Lentera Jiwa, Yoris Sebastian. Berangkat dari kecintaannya pada fotografi dan musik, dia mulai bergiat sebagai jurnalis lepas majalah remaja Hai ketika masih bersekolah di SMA Pangudi Luhur. Berbagai kegiatan organisasi sekolah yang diikutinya selama di SMA termasuk tugasnya sebagai bendahara OSIS sekolah membuatnya memilih jurusan Akuntansi sebagai pilihan studi.
Ketika datang tawaran untuk bekerja sebagai asisten PR di Hard Rock Café, ia harus memilih antara terus bergelut dalam dunia yang sedang dijalaninya atau merambah dunia baru, dunia perkantoran, yang mungkin juga akan lebih membatasi kebebasan yang sudah biasa dirasakannya sebagai jurnalis lepas sembari kuliah. Dia memilih untuk memulai lagi dari awal, belajar lagi aspek-aspek lain dari dunia musik. Dari sinilah langkahnya memasuki dunia marketing dan manajemen perusahaan multinasional dimulai.
Kreativitas dan bakat alam memang memegang peran penting dalam perkembangan kariernya. Ketika karier di dunia kerja meningkat, sistem perkuliahan dengan sistem SKS yang memperhitungkan jumlah kehadiran membuat dia lagi-lagi harus memilih. Keberaniannya memilih karier mungkin merupakan bagian dari kepercayaan dirinya akan kekuatan "skill", tanpa itu mana mungkin ia berani memilih fokus sepenuhnya kepada karier tanpa berbekal ijazah sarjana. Bagaimanapun bekerja pada orang lain di Indonesia ini masih sangat membutuhkan selembar kertas berharga yang terkadang sampai dipalsukan.
Menduduki jenjang General Manager Hard Rock Café sebagai orang Indonesia pertama yang mendapat kepercayaan itu, dalam usia yang relatif muda (26 tahun, menjadi orang termuda kedua yang pernah duduk di jajaran GM HRC di seluruh dunia) dia semakin berkesempatan mengasah talentanya. Ia memperoleh penghargaan mulai dari ajang nasional seperti Young Marketers Award IMA dan Markplus berkat keberhasilannya mengembangkan program "I Like Monday", sampai mengikuti kompetisi IYMEY 2006 (International Young Music Entrepreneur of the Year 2006), sebuah ajang kompetisi kreatif (sekarang lebih dikenal sebagai International Young Crative Entrepreneur of the Year for the Music Award 2006) yang disalenggarakan oleh British Council. Dari program terakhir ini dia berkesempatan mewakili Indonesia ke ajang internasional di London, UK, dimana ide kreatif yang dinamainya Project Goliath berhasil mendapatkan penghargaan istimewa.
Lagi-lagi pada saat di mata orang-orang dia sudah berada di jalur yang mantap dan aman, dia berhenti dari Hard Rock Café. Ia lalu membuka lapangan-lapangan pekerjaan baru terutama melalui perusahaan OMG Creative Business Consulting. Selain itu dia memiliki kesempatan untuk bisa lebih berkonsentrasi pada proyek Goliath yang bermaksud membantu para musisi muda yang belum terkenal sambil mengembangkan potensi keuangan dari musisi senior yang bersedia membantu yuniornya.
Lompatan Yoris Sebastian dari fotografi dan musik ke dunia kreatif yang berhubungan dengan bidang pemasaran dan manajemen, merupakan keahlian Yoris melihat berbagai kesempatan.
Kelihatannya dunia Butet Manurung dan dunia Yoris Sebastian mungkin jauh berbeda. Tetapi keberanian memilih jalan, dan keberanian mereka mengambil resiko untuk mengembangkan diri mereka di dalam gairah (passion) kerja mereka merupakan pembelajaran dalam mengenali kesempatan. Kesempatan menjadi ada bagi orang yang menerima tantangan!