Kubuka koran Kompas, 11 Desember 2007. Kutemukan berita bahwa Bapak Sukyatno Nugroho pendiri waralaba Es Teler 77 telah menghadap Tuhan YME pada tanggal 9 Desember 2007. Kubaca keinginan Pak Sukyatno di berita tersebut membuat aku langsung membayangkan pertama kali aku berkenalan dengan yang namanya Es Teler 77. "Apabila pada saat nanti saya meninggalkan dunia, saya ingin memberikan warisan bagi bangsa dan Negara ini... agar ilmu yang langka dan satu-satunya di Indonesia ini tidak hilang begitu saja." - Sukyatno di 18 Jurus Sakti Dewa Mabuk Membangun Bisnis.
Siapa yang sekarang tidak tahu es teler? Bagi orang Jakarta, siapa yang tidak tahu es teler 77? Aku masih ingat sewaktu es teler mulai beken. Rasanya es teler yang harus kuminum adalah Es Teler 77. Kenapa aku sangat suka Es Teler 77? Nangkanya selalu enak. Aku memang menggemar nangka.
Membaca berita tersebut, membuat aku penasaran bagaimana perjalanan Es Teler 77 dan bagaimana Pak Sukyatno berhasil dalam usaha ini. Maka aku langsung menggooling dan membeli bukunya.
Jika aku menggooling maka hal-hal ini yang aku dapat:
Bermula dari keberhasilan Murniati Widjaja yang memenangkan perlombaan membuat minuman tradisional Indonesia pada 1982, merek Es Teller 77 pun mulai dikenal masyarakat. Merek yang sekaligus mencerminkan produk unggulan (es teler) dari perusahaan yang memulai kegiatan operasionalnya di pelataran gedung pertokoan Duta Merlin, Jakarta, ini makin berkembang setelah dikelola lewat sistem waralaba.
Gerai pertama yang dikembangkan dengan sistem waralaba dibuka di Solo, Jawa Tengah, pada 1987. Sejak itu permintaan untuk mewaralabakan Es Teller 77 kian bertambah. Kini, di tangan Sukyatno Nugroho, mantu tertua Murniati, pengelolaan Es Teller 77 makin tertata. Perkembangan bisnisnya pun kiat pesat, ditandai dengan tersebarnya gerai-gerai Es Teller 77 di pusat-pusat pertokoan di kota-kota besar di seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri, seperti Malaysia, Australia, dan Singapura.
Dengan dorongan keyakinan yang besar serta kerja keras, Pemilik Es Teller 77, Sukyatno Nugroho menambah menu dan menstandarkannya. Kemudian, guna kepentingan pengembangan bisnis, dia berani mem-franchise-kannya. Hasilnya sekarang bisa dilihat. Puluhan outlet dan cabang telah berdiri megah di berbagai kota. Tak hanya di dalam negeri, Es Teller 77 bahkan juga telah merambah negara tetangga di Asia Tenggara dan Australia. Bisa jadi, jika pria bernama asli Hoo Tjoe Kiat itu malas bekerja, hanya berjualan dengan menu itu-itu saja, tak akan sebesar sekarang. Atau mungkin bila Sukyatno hanya puas dengan memiliki satu outlet, Es Teller 77 tak bakal sesukses sekarang.
Setelah aku membaca bukunya maka hal ini yang terbayang olehku. Aku mencoba tidak membaca ‘ringkasan' di belakang buku, agar tidak bias pikirku. Setelah aku membacanya hal-hal yang paling berkesan adalah jiwa pantang menyerahnya, inovasi terhadap sesuatu hal yang baru, kesederhanaannya tetap mau ‘susah' jika diperlukan.
Memulai usaha pada saat sedang bangkrut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dapat bangun dan semakin bersemangat. Berbagai rintangan harus dilalui bagi seseorang yang hanya punya modal pas-pasan.
Setelah stabil keluarlah inovasi-inovasinya. Salah satunya inovasi ‘ingin membantu' teman-teman yang mempunyai bakat tertentu, dengan mengadakan lomba membuat gado-gado, yang di kemudian hari 70% dari peserta sukses dalam usaha penjualan gado-gadonya. Aku merasa lomba tersebut sangat memotivasi orang. Tentu inovasi dan keberanian yang paling sukses adalah membuat Es Teller 77 mengenal sistem franchise/waralaba. Dalam bukunya banyak contoh-contoh lainnya.
Kesederhanaannya yang mau bersusah-susah dahulu untuk mencapai sesuatu yang lebih besar, tercermin dari setiap hal-hal yang ingin dicapainya. Cerita yang berkesan untukku sewaktu beliau ‘mengoceh' berjam-jam untuk mempromosikan es teler 77 di kota yang baru dibuka gerainya. Baik itu di radio ataupun sambil mengadakan acara-acara yang inovatif.
Banyak pengusaha yang punya keunikan masing-masing, aku menganggap Pak Sukyatno salah satu pengusaha yang dapat menjadi teladan dan motivator untuk kita semua. Kedekatannya pada orang kecil, membuat inovasi-inovasinya mengarah kesana. Caranyapun unik, terkadang hal yang sederhana/kelihatannya kecil bisa menjadi besar ditangannya.
Masih banyak lagi kesan-kesan yang kudapat dari buku tersebut. Akhirnya setelah puas dengan bayanganku maka aku membaca ringkasan di belakang buku tersebut. Inilah kalimat-kalimat yang mempunyai makna besar:
•Saya senang menciptakan sesuatu yang baru, aneh, edan dan yang lain daripada yang lain. Contohnya lomba lukis tunanetra
•Saya berani tampil beda
•Saya tidak takut melakukan sesuatu dengan cara yang lain dari orang lain. Contohnya buku ini...
•Saya pantang menyerah!
•Saya selalu membuat apa yang saya impikan menjadi kenyataan. Dan saya siap melakukan apapun juga untuk melaksanakannya
•Saya membuat kesulitan menjadi peluang!
•Saya berani mengambil resiko untuk sesuatu yang bertujuan baik!
Kita telah kehilangan seorang pengusaha dan seorang yang telah membaktikan dirinya kepada bangsa Indonesia. Biarlah ajaran dan teladannya tetap ada di hati kita.
Kupersembahkan tulisan ini untuk Bapak Trisno Budijanto dan Ibu Muniati Widjaja, Ibu Yenny Setia Widjaja beserta anak-anak Felicia Nugroho & keluarga, Andrew Nugroho & istri, Fredella Nugroho & keluarga.
Sumber gambar: http://www.execblogger.com/, http://arisat.blogspot.com/2007/04/sukyatno-as-bussiness-drunken-master.html
Sumber: berbagai sumber