Hari menjelang malam, awan gelap mulai bergabung membangun kegelapan di Monkey Forrest. Kami memutuskan untuk kembali ke Denpasar melalui jalur lain. Saat itu kondisi badan lagi sedang kurang sehat, saya putuskan untuk berganti posisi. Tini di depan dan saya membonceng. Rupanya dia tidak keberatan, dan justru menikmati posisi barunya. Jalur ini tidak kalah menariknya dibanding yang pertama. Pemandangan pedesaan dengan sawah serta Pura masih dapat saya nikmati sepanjang perjalanan. Dengan lampu-lampu jalan yang mulai menyala, menambah suasana sore itu seperti berada didunia lain. Beberapa restaurant di pinggir jalan memberikan dan menambah nuansa sore itu semakin menakjubkan. Geliat aktifitas masyarakat yang akan bersembahyang di Pura juga mulai nampak. Perasaan jalan yang kami lewati tidak terlalu menyita waktu. Hampir 4o menit kami sudah tiba di Denpasar.
Tujuan pertama, setelah sampai Denpasar adalah mencari beberapa souvenir. Yaitu ke Erlangga. Memasuki toko tersebut saya teringat dengan Mirota Batik di Jogja, beberapa souvenir yang dijual kurang lebih sama. Hampir semua mencirikan khas Bali. Saya masih ditemani Tini melongok kesana kemari mencari hiasan dinding yang dimaksud. Cukup lama kami berdua mencarinya. Sampai akhirnya di bagian tengah sebelah kiri saya menemukan barang itu. Hiasan yang menarik dan cocok dengan imajinasi saya. Setelah selesai, tujuan selanjutnya adalah mencari makan. Tini merekomendasikan tempat makan enak yang cukup khas di jalan Teuku Umar. Tidak terlalu lama waktu kami tempuh antara Erlangga dan tempat makan tersebut. Malam itu, jalan cukup ramai. Sebagai orang asli Bali tentu saja Tini cukup banyak tahu jalan-jalan tikus yang bisa dilewati untuk mempersingkat waktu. Dengan kondisi badan yang sebenarnya mulai drop, tetap saja tidak menurutkan niat untuk menikmati Babi Guling Chandra. Di dalam rumah makan ada beberapa orang yang menikmati hidangan khas tersebut. Jadi tidak terlalu lama, hidangan yang kami maksud sudah ada di atas meja. Wah mantap dan nikmat sepertinya. Satu hidangan sepertinya dibuat lebih dari 1 macam rasa. Ada dua macam sate, 1 diolesi bumbu seperti parutan kelapa, dan 1 lagi sate kecap. Kemudian potongan daging bakar dan rebusan daging dengan bumbu yang nikmat. Satu hal saya hindari adalah sambal yang sangat pedas sekali. Luar biasa pedasnya!!. Oh ya satu lagi, ada kuah sop sebagai pelengkap kenikmatan hidangan.
Itu baru salah satu kuliner yang bisa saya nikmati. Pasti lebih banyak lagi yang seharusnya bisa dinikmati. Dengan keterbatasan waktu, sudah bisa datang ke Bali dan merasakan langsung pesona Bali sudah merupakan hal yang luar biasa. Dari seluruh perjalanan saya yang tidak seberapa ini, kesimpulan yang bisa saya berikan adalah pesona Bali sungguh memikat setiap orang. Sebagai salah satu destinasi wisata yang dikenal sampai mancanegara, Bali memberikan nuansa berbeda di banding tempat lain. Salah satunya yang pertama, masyarakat Bali mampu menjaga tradisi dan budaya yang sungguh memikat. Nilai kultural yang sudah tertanam berabad lamanya masih terjaga dan lestari sampai sekarang. Kedua, masyarakat Bali mengondisikan kepada wisatawan untuk merasakan sendiri hidup dalam kultur Bali. Ini yang membuat wisatawan merasa betah dan merasakan langsung dinamika kehidupan masyarakat. Ketiga, keunikan Bali yang terkait dengan budaya menghasilkan profesi khas yang digeluti oleh lapisan masyarakat. Contohnya ada sebagian masyarakat yang menjaga profesinya sebagai tukang pahat dan bahkan satu kampung melestarikannya. Dari kunikan ini menjadikan masyarakat Bali sebagai penjaga tradisi. Ada yang seniman, melukis dan sebagainya. Keempat, melalui lokasi wisata pedesaan, pegunungan, pantai, hutan, danau, pura, upacara keagamaan, dan itu semua menyatu dalam ritme kehidupan yang membudaya dengan religiusitas iman yang tumbuh kuat di Bali. Di sinilah kekuatan dari destinasi wisata di Bali.
Akhir perjalanan, saya akhiri di Oka House. Tini kembali menghantarku ke hotel tempat saya menginap. Kemudian Tini kembali pulang, dia bilang, “Sampai ketemu lagi”, selamat jalan!! dan saya harus meringkuk karena suhu badan mulai meninggi. Dengan harapan esok hari badan mulai pulih kembali untuk berkarya. Malam itu terakhir saya berjumpa dengan Tini, entah kapan akan berjumpa lagi. Terimakasih sudah berbagi cerita kehidupan, dan saya belajar dari itu semua. Belajar menjadi pendengar dan melihat itu semua dari sudut pandang positif. Dalam keremangan malam itu, suasana kamar membuat ku terlelap. Malam itu, merupakan malam terakhir saya di Bali. Saya tinggalkan malam itu dengan harapan esok hari merupakan hari yang terbaik dalam hidup.