Sang Surya semakin tenggelam meninggalkan percikan sinar di kegelapan malam. Perjalanan kami lanjutkan ke arah Nusa Dua, tepat di pertigaan, kami berhenti untuk sekedar mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Tentu sambil menikmati hidangan chinees food, obrolan jadi santapan tambahan. Karena sudah hampir 10 tahun tidak berjumpa, obrolan semasa kuliah jadi topik hangat malam itu. Bukan menggosip, namun lebih pada menceritakan realita yang sudah terjadi di masa lalu. Mengembalikan ingatan seakan menjadi obat penyemangat hidup dan bekal di masa yang akan datang. Semua sudah terjadi, dan waktu tidak bisa diputar kembali, sehingga yang mampu dirasakan hanyalah sepenggal kisah cerita lama. Itu lah kekuatan memori otak yang memutar kembali roda kehidupan tanpa meninggalkan jejak, momen yang mengesankan. Bagi sebagian orang semua momen pasti mengesankan, apabila menemukan kebaikan dibalik momen itu. Sepertinya keputusan dalam hidup ada di tangan masing-masing manusia. Tidak ada yang salah dalam keputusan itu, yang salah adalah bagaimana kita tidak mau menerima realitas dan berjuang membangun kembali realitas yang baru. Berjuang memenuhi kehampaan diri yang mungkin mulai hadir dimanapun dan kapanpun.
Setiap orang ada kemungkinan memunyai kisah masa lalu, pedih, menyakitkan, membahagiakan, menggembirakan, bahkan menjadi trauma yang memengaruhi perkembangan diri. Tinggal bagaimana kita mau fokus dan memilihnya. Dalam sebuah buku tertulis bahwa kata-kata memiliki kekuatan luar biasa untuk menginspirasi kebaikan dan keburukan. Seperti yang saya sampaikan tadi, tergantung bagaimana kita memilihnya. Lebih tepatnya pilihannya ada pada diri kita. Contoh sederhananya adalah “kita bisa memilih untuk membesarkan hati atau mengecilkan hati”, “kita bisa memilih untuk fokus pada kekuatan atau memilih berfokus pada kelemahan”. Begitupun saat menghadapi berbagai tantangan dalam hidup, apa yang akan kita pilih, “menyerah atau tetap bersemangat untuk mendapatkan pembelajaran?” Toh kalaupun kita adalah pribadi yang sedang terluka, bukankah kita bisa menciptakan paradigma baru, dari “apa yang bisa saya dapatkan?”, mentalitas kita beralih ke “apa yang bisa saya berikan?”
“Danke Well!” kata sang pemilik restaurant kepada 2 bule sehabis makan. Suara tadi memecahkan suasana obrolan kami. Ternyata waktu menunjukkan pukul 20.00 Wita. Kami sepakat untuk menuju kembali ke Denpasar, karena esok hari saya harus kembali berkarya. Jalan dimana kami lewati cukup padat, bahkan tepatnya seperti sebuah antrian panjang tidak berujung. Semua kendaraan ada di lokasi yang sama, namun menuju pada tujuan yang berbeda. Sepadat-padatnya jalan di Kuta, kami masih bisa melewati dengan penuh perjuangan. Rasanya lega lolos dari padatnya kendaraan di Kuta. Kuta semakin jauh dipandang, kami meninggalkannya sekitar pukul 20.30 wita. Lolos dari sergapan kendaraan yang menghimpit dan memasuki Kuta. Dalam perjalanan pun keramaian masih bisa dinikmati. Seakan-akan setiap jengkal tanah di Bali adalah lokasi wisata menarik. Kira-kira 40 menit kami tiba di Oka House, saya harus berpisah sementara untuk beristirahat. Sedangkan teman setia saya selama di Bali harus kembali ke rumahnya. Malam itu menjadi momen berkesan menikmati indahnya Bali. Satu tempat pun seakan sudah seperti mengunjungi seluruh Bali. Seluruh aktifitas setengah hari, akhirnya saya bawa ke dalam nikmatnya bantal dan guling serta dinginnya AC.
Pagi seperti biasa saya bangun dan mempersiapkan diri untuk memberikan inspirasi buat orang lain. Dan hari itu hari terakhir saya berjumpa dengan Tini, teman kuliah di Jogja. “Tok..tok..tok, pintu diketuk dari luar. Rupanya teman saya sudah datang, siap untuk menjadi guide mengantarku ke suatu tempat yang menjadi impian selama ini. “Sudah siap!” katanya. “Ok!” tukasku. Menjelang pukul 17.00 wita, kami meluncur menuju desa Ubud. Dengan menggunakan motor matic, kami melenggang di jalan-jalan di tengah kota Denpasar. Matahari sore itu tidak terlalu terik, jadi sungguh menjadi kenikmatan tersendiri saat berkendara di tengah kota. Ada 2 jalur menuju Ubud, “Mau lewat pantai atau tidak?” tanya Tini, saya katakan,”Lewat pantai saja!” Jadi lah kami melewati pinggiran pantai yang tentu saja melewati pasar Sukawati.
Bersambung....