Wikimu - bisa-bisanya kita

Satrio Arismunandar

Kurangi Pergi Haji dan Umroh...

Rabu, 30-07-2008 07:35:28 oleh: Satrio Arismunandar
Kanal: Opini

Saya bukan ahli agama, dan tidak pernah secara khusus belajar tentang ajaran agama saya, Islam, kecuali di sekolah umum, mulai dari SD sampai universitas. Membaca Al Quran pun saya tidak fasih. Maka, saya jelas jauh dari kriteria seorang ulama. Jadi, mohon tulisan saya ini lebih dipahami sebagai cetusan pemikiran seorang awam, yang berusaha menggali hal-hal yang mungkin bisa dilakukan untuk kebaikan masyarakat.

Dalam Islam, setahu saya, ada dua macam amal ibadah. Pertama, jenis ibadah yang lebih berfokus dan berdampak pada individu yang melaksanakannya, seperti: sholat, naik haji, umroh, puasa, dan sebagainya. Kedua, jenis ibadah yang memiliki implikasi sosial yang lebih luas. Seperti: zakat, infaq, sedekah, dan sebagainya.

Kedua macam ibadah ini sama-sama penting. Namun, dalam kondisi tertentu, orang harus memilih dan membuat skala prioritas. Misalnya: Saya punya uang lebih Rp 40 juta. Apa yang akan saya lakukan dengan uang itu? Saya bisa gunakan untuk naik haji atau umroh, yang artinya saya nikmati sendiri. Tetapi, uang itu juga bisa saya manfaatkan untuk menyantuni anak yatim, membiayai sekolah mereka, membantu orang miskin dan korban bencana alam, yang berarti saya ikut memperbaiki kondisi sosial masyarakat.

Bayangkan, berapa banyak orang miskin yang akan tertolong nasibnya dengan uang sebanyak itu. Berapa banyak anak yang sekarang drop out, karena orang tuanya tak sanggup membayar SPP, akan bisa mengenyam bangku sekolah lagi. Berapa banyak bayi kurang gizi, yang terancam lumpuh atau kehilangan masa depan, akan tumbuh sebagai anak-anak yang sehat dan cerdas.

Dalam kondisi sosial-ekonomi saat ini, jutaan rakyat Indonesia makin terpuruk tingkat kesejahteraannya, akibat kebijakan ekonomi neoliberal yang tidak prorakyat, yang menghasilkan kenaikan harga BBM dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Dalam kondisi krisis semacam ini, alangkah baiknya jika umat Islam memberi perhatian lebih besar pada ibadah yang berimplikasi sosial meluas, seperti: zakat, infaq dan sedekah.

Kalau Anda sudah pernah satu kali naik haji, kewajiban berhaji ke tanah suci Mekkah sebetulnya sudah lunas. Maka, jika Anda masih punya kelebihan uang, sebaiknya tidak dipakai untuk berkali-kali pergi haji atau umroh. Uang itu seyogyanya dialihkan untuk membantu masyarakat lain, yang masih sangat membutuhkan. Ada jutaan rakyat miskin dan susah, di berbagai pelosok Tanah Air, yang sangat membutuhkan uluran tangan Anda. Sering kali, mereka bahkan bisa ditemukan di lingkungan sekitar, tak jauh dari rumah Anda.

Saya dan siapapun juga memang tidak berhak melarang Anda pergi haji dan umroh berkali-kali. Toh, yang Anda gunakan itu adalah uang Anda sendiri. Namun, saya hanya mengimbau, tolong lihatlah kondisi masyarakat kita sekarang, dan ubahlah sedikit skala prioritas Anda dalam beribadah. Saya percaya, doa tulus yang disertai rasa syukur dari orang-orang yang telah Anda bantu itu -Insya Allah-- akan membantu Anda memperoleh ridla dan ampunan Allah SWT. ***

2 komentar pada warta ini
Rabu, 30-07-2008 09:12:40 oleh: Anwariansyah

Saya vote 2 kali tulisan Anda, tanpa lo gin & dgn lo gin

Membangun surga sendiri memang baik (ibadah dalam konteks kepentingan individual) tapi yang terbaik adalah membangun surga orang lain sekaligus membangun surga sendiri (ibadah sosial), seperti menyantuni sebanyak-banyaknya anak yatim, memberi makan sebanyak-banyaknya orang miskin, menciptakan lapangan pekerjaan untuk sebanyak-banyaknya masyarakat miskin. Saya pikir kalau itu dilaksanakan, haji dan umrohnya tetap akan bisa dilaksanakan berkali-kali nantinya


Jumat, 21-11-2008 14:21:38 oleh: Arza Mitra

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Saya sangat sependapat dengan apa yang bapak tulis tentang pentingnya ibadah sosial dibandingkan dengan ibadah individu saat ini. Kaum Duafa di Indonesia saat ini buaaanyaak! karena krisis ekonomi dan egoistis umat Islam. Ironisnya jamaah haji dari Indonesia setiap tahunnya selalu bertambah sehingga jika mendaftar tahun ini di kodya/kab Bandung maka berangkatnya nanti pada tahun 2010 atau 2011 Luaar biaasa!. Itulah fenomena yang terjadi disini, mengapa ? Menurut pendapat saya yang awam ini, berangkat haji bagi masyarakat Indonesia lebih merupakan tradisi turun temurun memperoleh gelar, prestise atau kebanggaan diri/ keluarga dibandingkan dengan ibadah Lillahi Ta'ala. Saya masih ingat kalau orang tua saya dan orang tua kita yang lainnya berpesan : "kalau sudah mampu/kaya harus berangkat haji" jarang mendengar pesan: Kalau sudah mampu/kaya harus punya pesantren, yayasan anak yatim/jompo/penampungan kaum du'afa?.
Hanya di Indonesia nama orang diberi titel Haji, bahkan banyak orang menyebut dirinya pak haji atau ingin dipanggil haji dan marah kalau titel hajinya tidak dituliskan. Kita sering melihat setiap tahun seremonial keberangkatan haji, mulai dari pemberitahuan berangkat haji di masjid, acara tausiah walimatul syafar, rombongan besar mengantar ke bandara, acara penyambutan saat kepulangan, bahkan acara reuni yang tentunya menghabiskan biaya besaaar (apakah dijamin tidak ujub, ria dan sombong?). Para Ustadz juga ikut berperan membesar-besarkan tradisi ini, coba kita perhatikan apakah porsi ceramah dan dakwah tentang ibadah haji baik di pengajian atau di media massa berimbang dengan tentang zakat/infaq/sedekah?. Apakah ibadah lain yang dilakukan ikhlas Lillahi Ta'ala tidak mendapat pahala besar dan jaminan masuk surga atau akan diampuni seluruh dosa, mengapa harus HAJI menjadi prioritas utama ?



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY