Wikimu - bisa-bisanya kita

Yusuf Iskandar

Pengalaman Pertama

Jumat, 02-05-2008 14:31:42 oleh: Yusuf Iskandar
Kanal: Suara Konsumen

Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya - Semarang, beberapa hari yang lalu.

Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah ogah repot-repot ngurusi konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang boarding siap menuju ke pesawat.

Sebungkus kue plus akua gelas (apapun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.

Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.

Seorang bule yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak...), si bule tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.

Melihat perilaku si bule yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasan tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.

Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.

Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah ngelok-ke (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : "have a nice flight....".

Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara pethenthengan (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru gethem-gethem....., berempati turut merasa jengkel.

Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa' Gym. Ee..., barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan blazer merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.

Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna body putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.

Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita.....).

3 komentar pada warta ini
Sabtu, 03-05-2008 07:36:44 oleh: Retty N. Hakim

Pengalaman pertama penting sekali ya pak, soalnya berita dari mulut ke mulut sangat cepat menyebar.

Waktu ke Seoul kemarin hampir semua peserta Forum Jurnalis Warga OMNI memuji pelayanan pramugari Korean Air, padahal kami sama sekali tidak diminta pendapat mengenai hal itu. Rupanya ada dua hal yang menarik perhatian peserta: senyum manis dan pelayanan mereka, serta wajah mereka (dandanan) yang mirip semua dan seakan boneka yang tidak boleh cemberut, pakaian yang harus selalu rapih. Ada juga pramugari Garuda yang bertugas di pesawat saya, dan mereka tampaknya cukup profesional bersanding dengan rekan-rekan dari Korea (ada yang agak pendek sih..he...he...he...)

Kalau saya sendiri juga terpesona pada kebaikan penumpang Korea di sebelah saya yang sigap membantu saya yang sendirian mengambil barang dari kabin. Sepertinya itu bagian dari kesadarannya menerima tamu yang akan berkunjung ke negaranya.


Senin, 05-05-2008 07:47:05 oleh: solma

Saya juga punya pengalaman dengan Pramugari Korean Air. Bulan Ramadhan tahun 2007 yang lalu, saya minta kepada Pramugari agar makanan saya diberikan pada saat buka puasa. Diapun menyanggupi. Ketika semua cendela pesawat ditutup untuk memberi kesempatan penumpang beristerahat atau tidur saya kelabakan karena tidak bisa mengintip keluar jendela untuk memastikan apakah matahari sudah mulai terbenam apalagi saya duduk di kursi tengah. Setelah beberapa menit terbang dalam suasana gelap saya bertanya kepada pramugari tentunya dalam bahasa Indonesia karena dia orang Indonesia. Mba apa sudah boleh buka soalnya ini gelap sekali. Ntar pak saya tanya pilot dulu di depan. Dengan tergopoh-gopoh pramugari yang baik hati itu menuju ruang cockpit. Tidak lama kemudian terdengar suara pengumuman dari Pilot :"Attention for all Moslems fasting, Sunset will be 20 minutes from now. Thank you".
Oooh senangnya saya mendengar pengumuman seperti itu saya tinggal melihat jam. Tepat 20 menit kemudian sang pramugari Mba yang cantik dan baik hati itu mengantarkan makanan buka puasa saya. Terima kasih mba Pramugari, terima kasih Korean Air atas pelayananya.


Senin, 05-05-2008 08:16:24 oleh: solma

Di tahun 2006 pertama kali naik pesawat SAT (Sakhalinsk Air Transportation? mungkin itu singkatan SAT) pesawat Rusia dari Yuzhno ke Incheon, Seol Koreasel. Biasanya saya naik pesawat ASIANA Air. Saya bersama teman duduk di dikursi kedua dari belakang. Seperti biasa sebelum pesawat tinggal landas pramugari membagikan perment kepada penumpang. Begitu tiba pada giliran teman saya (sifat asli Indonesianya muncul kalau berombongan) ia mengambil beberapa biji perment di nampang yang disodorkan. Dengan mata melotot dan kata-kata kasar dalam bahasa Rusia yang saya tidak mengerti marah-marah kepada teman saya sambil merebut kembali perment yang sudah diambil teman saya. Melihat insiden itu saya malu pada teman yang berlebihan dan agak jengkel kepada pramugari Rusia yang tidak sopan itu. Akhirnya saya sendiri tidak mengambil perment pembagian itu, ngak berselera lagi.



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY