Wikimu - bisa-bisanya kita

Leonardo Paskah Suciadi

Merokok dan Perda No.2 Tahun 2005

Rabu, 27-02-2008 15:51:01 oleh: Leonardo Paskah S
Kanal: Opini

Merokok dan Perda No.2 Tahun 2005

Saat menonton siaran Snapshot MetroTV pada hari Selasa, 26 Februari 2008 lalu tentang aplikasi Perda Jakarta No.2 tahun 2005 tentang larangan merokok di tempat umum, saya merasa geli sendiri mendengar jawaban spontan beberapa perokok yang caught in the act. Jawaban mereka begitu polos dan malu-malu sendiri seperti “Wah saya lupa” atau “Wah tadi ngeliat ga ada gambar larangan merokok sih, kalau tau sih yah nggak merokok disini”. Tetapi ada juga yang bermuka tebal dan menyalahkan pihak lain seperti mengatakan bahwa peraturan itu cuma angin-anginan yang sementara aja, harusnya lebih tegas dalam pelaksanaannya atau pengadaan petugas pemantau yang memadai. Ada juga yang bahkan menyalahkan pabrik rokok dan mengatakan solusi yang benar adalah menutup pabrik rokok.

Perda larangan merokok di tempat umum, seperti yang diduga sejak saat baru diluncurkan April tahun lalu, hanyalah anget-anget tahi ayam. Awalnya tampak hangat dan begitu professional, bahkan sidak dan razia kerap dilakukan diikuti dengan pengadilan di tempat. Tapi lama-lama kemudian, semua hambar tanpa arti.

Ketika awal-awal didengungkan, banyak perokok yang berbondong-bondong mencari smoking room setiap hendak merokok, sebagian dari mereka memang sadar akan hak orang lain yang terganggu akan asap rokok, sebagian lagi (umumnya) karena takut setengah mati jika sampai dirazia 50 juta. Tetapi setelah satu tahun berlalu, seakan-akan hanya ‘perokok yang culun’ aja yang sekarang masih repot-repot patuh merokok di dalam smoking room. Mungkin hanya di mal perda tersebut masih relatif mendapat perhatian lebih, sehingga sudah jauh lebih jarang melihat perokok seliweran di dalam mal.

Saya disini tidak akan membahas tentang bahaya kesehatan dari merokok (semua orang bahkan perokok sendiri sudah hapal tentunya dengan hal satu ini), ataupun membahas tentang pentingnya perda tersebut (karena saya juga bukan agen pemerintahan atau birokrat). Tapi yang mau saya singgung dari peristiwa tersebut adalah tentang perilaku kesadaran kita terhadap hukum. Secara prinsip, perilaku manusia terhadap hukum yang berlaku ada 3 macam derajat, yaitu perilaku di bawah hukum, sejajar hukum dan di atas hukum. Dan masyarakat kita, termasuk juga saya, acapkali hanyalah sekedar perilaku sejajar dengan hukum jika bukan perilaku di bawah hukum. Demikian juga yang berlaku jika menyimak SnapShot edisi larangan merokok di tempat umum tadi.

Perilaku di bawah hukum wajarnya didapatkan pertama saat kita masih kecil (balita) , yaitu kita menaati suatu peraturan karena rasa takut dan mendapat rewards. Takut akan sangsi, takut diomeli dsb. Contoh kasus merokok di atas yah karena tidak ada lambang larangan merokok, tidak ada petugas yang tegas, tidak ada sangsi nyata lagi, maka seorang perokok ini tetap merokok, wonk ga ada yang ngelarang dengan jelas kok. Jadi di sini sama sekali tidak ada kesadaran dalam diri perokok, misalnya mengapa sih merokok itu sampai dilarang di ruang publik, mereka hanya main kucing-kucingan saja.

Sedangkan perilaku sejajar hukum wajarnya terjadi pada masa remaja di mana seseorang mulai mencari jati diri dan bentukan benar-salah perilakunya. Jadi di sini seseorang mulai ‘bermain kata’ dengan peraturan. Misalnya jika peraturan sekolah mengatakan anak laki-laki tidak boleh berambut panjang hingga mengenai kuping, maka orang yang sejajar hukum akan menyisir rambutnya yang panjang sedemikian rupa ke belakang sehingga kupingnya nongol.

Contohnya pula pada edisi Snapshot yang lalu, ketika seorang PNS ketangkep basah sedang merokok di koridor dalam kantor Dirjen Perhutanan, maka ia berkilah bahwa merokok yang dilarang kan jika di dalam ruang publik, sedangkan sekarang dia sedang berjalan di koridor dan bukan duduk diam dalam ruangan, jadi yah boleh-boleh saja. Pernyataan seperti demikian menggambarkan perilaku sejajar hukum, jadi menaati hukum dengan kesadaran setengah-setengah saja.

Adapun perilaku di atas hukum adalah seseorang menaati hukum tanpa perlu tahu hukum itu ada atau tidak, jadi dengan kesadaran penuh. Dan perilaku seperti inilah yang disebut perilaku mature/dewasa. Jika Anda pernah ke Jepang maupun negara-negara Eropa tertentu, Anda akan menyaksikan bahwa jarang sekali ada peraturan ‘buanglah sampah pada tempatnya’ di tempat-tempat umum, tetapi masyarakat sana tidak peduli akan hal itu dan sangat peduli untuk selalu buang sampah pada tempatnya.

Mustahil melihat penduduk di sana yang buang selembar tusuk gigi saja di jalanan. Orang yang di atas hukum jika melanggar hukum akan mendapatkan sangsi moral yang hebat yaitu rasa malu; malu saat dilihatin orang banyak sekitarnya. Sayangnya rasa malu itu tidak ada pada kamus mereka yang di bawah maupun sejajar hukum. Padahal rasa malu akan kesalahan sendiri adalah suatu rasa yang mencerminkan kedewasaan dan peradaban manusia. Kita mungkin bisa menyaksikan harimau pun bisa marah sama seperti ketika komputer kita dihadiahi virus dari usb teman. Tetapi harimau tidak pernah malu, hanya manusia (yang beradab) bisa malu.

Jadi perda larangan merokok di tempat umum itu sesungguhnya perlu disadari untuk dilaksanakan karena itu suatu perilaku beradab terhadap orang lain. Seseorang tentunya memiliki hak penuh atas diri sendiri, termasuk untuk merokok. Tetapi orang lainpun demikian, memiliki hak menghirup udara bersih bagi kesehatannya. Kesadaran adalah kata kunci dalam benturan antara hak tersebut.

Merokok pada smoking room adalah solusi dalam kesadaran tersebut. Tapi sayangnya kita harus fair juga kepada perokok yang tidak taat pada aturan tersebut, soalnya smooking room masih terbatas tempatnya di tempat umum. Di stasiun KA atau terminal bus, apakah kita dapat menjumpai smoking room dengan mudah? Jadi ini adalah PR pemerintah selanjutnya.

Kebiasaan merokok adalah kebiasaan yang paling sulit dihilangkan, karena rokok itu adalah narkoba juga. Jadi kecanduan adalah suatu point yang sangat sulit dihilangkan, apalagi pada perokok berat dan sudah lama.

Pertanyaan dari pasien saya yang paling susah dijawab adalah “Dok, bagaimana cara berhenti merokok?” Jujur saja saya tidak punya jawaban yang meyakinkan atas pertanyaan ini ketimbang pertanyaan kesehatan lainnya. Yang ada hanyalah himbauan dan nasihat semata, karena perokok yang sudah kecanduan lebih memilih tidak makan seharian ketimbang tidak merokok satu batang sehari.

Solusi untuk menutup pabrik rokok adalah ngaco, agak mustahil dilakukan, sebab pabrik rokok adalah tempat perputaran uang suatu negara (suatu ironis padahal penyakit terkait rokok juga merupakan tempat perputaran uang negara dalam menanggung biaya kesehatan penduduknya ). Pabrik rokok menyedot tenaga kerja yang amat banyak, telah menjadi sponsor berbagai acara akbar dan mendatangkan pajak skala besar. Bahkan suatu tulisan di surat kabar berani mengatakan bahwa menutup semua pabrik rokok di suatu negara berkembang sama saja menutup negara itu sendiri.

Terkait perda tentang rokok tersebut, kesadaran pribadi perokok masih menjadi tonggak utama keberhasilan program sebenarnya bertujuan baik bagi kesehatan masyarakat. Tidak perlulah razia, aparat yang rajin menegur ataupun stiker dilarang merokok dimana-mana, yang penting teguran terhadap diri sendiri saja, yaitu budaya malu tadi.

Almarhumah nenek saya pernah berpesan saat saya kecil, “Kamu boleh-boleh aja jadi anak nakal, tapi nakalnya yah mbok buat diri kamu aja, jangan nakal ganggu orang lain!” Nah jadi boleh-boleh saja merokok, kan diri sendiri yang bertanggung jawab akan kesehatan diri sedniri, tapi yo jangan ngajak orang lain sakit lah...

2 komentar pada warta ini
Kamis, 28-02-2008 11:04:07 oleh: Panjikristo

saya juga heran, UU itu jadi apa tidak ya?
karena dalam prakteknya koq adem2 aja ya
mungkin 'tahi' ayamnya sudah tidak hangat lagi ya hehehe


Minggu, 02-03-2008 03:50:55 oleh: Jaka S

ini perda yang aneh..

di mall dilarang merokok, jelas benar tapi sediakan fasilitas tempat merokoknya yang banyak dong, saat ini jumlahnya dalam 1 mall bisa kehitung pake jari dan tempatnya jauh2(masalahnya gak semudah itu buat orang banyak yang merokok langsung hilang gara2 perda anti rokok).

weird rules.. kayanya terlalu terburu2 untuk dibuat perda. apa mungkin cuma cari award????

mending LEBIH digalakkan dilarang menggunakan EKSTASI yang udah jadi lifestyle di jakarta (dari anak smp sampe orang tua)??
come on we all know that !!!



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY