Wikimu - bisa-bisanya kita

Leonardo Paskah Suciadi

Rokok itu Narkoba!

Selasa, 05-02-2008 09:54:08 oleh: Leonardo Paskah S
Kanal: Kesehatan

Rokok itu Narkoba!

Rokok adalah pintu gerbang bagi narkoba. Lebih spesifik lagi, rokok itu sendiri sebenarnya termasuk ke dalam definisi narkoba. Ya, di tengah maraknya kampanye anti-narkoba di masyarakat, ternyata tidak banyak yang menyadari hal ini. Merokok kini tidak lagi merupakan masalah kesehatan melulu, tetapi sudah memiliki kompleksitas tersendiri.

Di dalam pengertian Narkoba termuat 3 kelompok zat aktif yaitu Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif lainnya. Rokok bersama dengan alkohol termasuk ke dalam kelompok yang terakhir. Nikotin yang merupakan salah satu komponen dari rokok merupakan zat psikotropika stimulan. Jadi sesungguhnya rokok itu adalah narkoba juga. Oleh karena itu, rokok pun memiliki sifat-sifat utama layaknya narkoba lain yaitu habituasi, adiksi dan toleransi. Habituasi adalah suatu perasaan rindu, terus menerus melintas di pikiran untuk menggunaan zat, sehingga seseorang akan terus berkeinginan menggunakan zat tersebut saat berkumpul dengan sesama teman pemakai. Sedangkan adiksi merupakan dorongan kompulsif untuk menggunakan suatu zat diserta tanda-tanda ketergantungan.

Ketergantungan itu sendiri dapat berupa ketergantungan psikis (psychological dependence) maupun ketergantungan fisiologis (physiological dependence). Ketergantungan psikis merupakan kompulsi penggunaan zat untuk memenuhi kebutuhan psikologis, seperti untuk menghadapi stress. Sedangkan ketergantungan fisiologis berarti proses perubahan fungsional tubuh sedemikian rupa dikarenakan paparan rutin terhadap zat. Toleransi adalah contoh bentuk ketergantungan fisiologis, yaitu seiring bertambahnya waktu penggunaan maka pemakaian zat berikutnya diperlukan dosis yang lebih besar dari sebelumnya untuk mencapai efek kenikmatan yang sama. Toleransi inilah yang akan membuat seorang perokok, dan pemakai narkoba lainnya, terus menambah jumlah batang rokok yang dihisapnya dari waktu ke waktu.

Rokok merupakan narkoba termurah dan dijual bebas. Dengan selembar uang Rp 1.000,00  seseorang sudah mampu mendapatkan sebatang rokok yang mengandung 4.000 macam zat kimia. Tidak ada satupun produk farmasi yang berisikan 4.000 macam zat kimia dapat dibeli dengan harga sedemikian murah. Oleh karena itu, siapapun mudah memperoleh sebatang rokok, dari mereka yang usia tua maupun anak sekolah dasar. Selain itu rokok juga memberikan kenikmatan, walaupun sementara, dan hal ini lah yang menjadi magnet bagi pribadi-pribadi labil yang tidak puas akan kenyataan hidup ini atau bagi para remaja sebagai teman setia saat kumpul-kumpul.

Jadi tidak perlu heran jika merokok telah menjadi  kebiasaan buruk yang popular di masyarakat. Berdasarkan laporan Breslau dkk (2001), 1 dari 4 orang dewasa di Amerika Serikat memiliki ketergantungan terhadap nikotin, walaupun belakangan ini popularitas merokok di kalangan remaja Negeri Paman Sam terus melorot. Penduduk Indonesia sendiri merupakan salah satu konsumen rokok terbesar di dunia, serta memiliki produksi rokok yang tidak kalah besarnya pula. Fakta ini membuat berbagai perusahaan rokok asing, seperti Philip Morris, berebut pangsa pasar di negeri ini.  

Dan akhirnya seiring impor rokok dan investasi dari negara maju yang semakin masif, penyakit-penyakit terkait dengan rokok juga diimpor. Penyakit kardiovaskular dan kanker (terutama kanker paru) sekarang ini menduduki tangga teratas penyebab kematian di Indonesia, menggeser berbagai penyakit infeksi.

Ada beberapa tahapan yang dialami seorang perokok hingga menjadi tahap ketergantungan. Tahap pertama adalah eksperimental atau coba-coba. Mereka mulai menghirup rokok untuk mencari ketenangan, energi lebih dan pelarian dari stress sehari-hari. Pada tahap ini seorang perokok merasa yakin masih dapat mengontrol kebiasaannya untuk merokok.

Pada tahap selanjutnya, yaitu penggunaan rutin, perokok mulai dikendalikan oleh efek dasyat nikotin. Pada tahap ini penyangkalan memainkan peranan penting. Perokok akan menyangkal bahwa ia tidak dapat mengendalikan lagi kebiasaannya merokok, menyangkal bahwa kebiasaannya itu dapat menimbulkan berbagai penyakit fatal. Sebenarnya ia mengetahui bahaya-bahaya merokok, tetapi kenikmatan semu tersebut telah terlanjur menutupi kecemasan dan akal sehatnya. Dengan penyangkalan ini, maka tidak heran kampanye anti-rokok yang mengusung berbagai bahaya merokok bagi kesehatan menjadi mentah.

Tahapan terakhir adalah ketergantungan, di mana rokok sudah menjadi sahabat setia perokok setiap waktu, dan tanpanya, perokok akan mengeluh berbagai macam kesengsaraan dari mulut pahit hingga demam. Dan selanjutnya, ia pun akan merokok lagi, bukan sekedar mencari kenikmatan seperti tahapan awal melainkan untuk menghindarkan diri dari kesakitan withdrawal.

Menilik bahwa rokok berawal dari coba-coba, rasa ingin tahu maupun rasa setia kawan, maka tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa pribadi perokok adalah rentan juga terhadap narkoba lainnya. Rokok adalah pintu gerbang kepada narkoba lainnya. Kematian dikarenakan penyakit-penyakit terkait rokok adalah lebih besar daripada kematian karena narkoba jenis lainnya. Biaya negara untuk merawat penduduknya yang menderita penyakit-penyakit terkait dengan rokok juga lebih besar dibandingkan pendapatan dari pajak rokok.

Celakanya rokok adalah satu-satunya narkoba yang dapat menyerang orang yang tidak turut menggunakannya. Beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa perokok pasif memiliki resiko yang kurang lebih sama dengan perokok aktif untuk menderita penyakit jantung koroner, saluran napas, katarak dan bahkan kanker paru. Sehingga tidak disangsikan bahwa rokok lebih berbahaya dibandingkan narkoba jenis lainnya.

Merokok bukanlah sekedar permasalahan kesehatan, tetapi melibatkan pula segi politik, bisnis, sosial-pergaulan, psikologis maupun kemiskinan. Walaupun telah diketahui resiko dari rokok sedemikian besar, adalah mustahil untuk melarang pabrik rokok untuk beroperasi. Industri rokok adalah tempat perputaran uang yang hebat berupa lapangan kerja serta penyumbang pajak terbesar bagi negara. Beberapa orang terkaya di negeri ini berasal dari industri rokok. Rokok sudah lama menjadi sponsor utama berbagai program olahraga, terutama sepak bola yang sangat popular di masyarakat. Iklan rokok selalu menampilkan sosok pria yang maskulin dan jiwa petualang sehingga mampu merebut hati para remaja yang memang masa penuh mimpi untuk menjadi idola. Dengan demikian, apalah artinya himbauan kecil bahaya merokok bagi kesehatan yang tertera di bungkus rokok dibandingkan iklan rokok yang begitu megah. Hal inilah yang menjadikan rokok sebagai salah satu narkoba yang ‘dilegalkan’. Bahkan selama ini ketika kasus narkoba terus bergejolak, rokok selalu terabaikan sebagai akar masalah narkoba. Bagaimana mungkin kita hendak melenyapkan ilalang tanpa mencabut akarnya?

Walaupun rokok dibentengi dengan kokoh oleh unsur politik dan bisnis, bukan berarti upaya memerangi rokok harus terhenti di tengah jalan. Upaya kampanye anti-rokok harus terus menerus digalakkan, namun dengan berbagai pendekatan lain. Selama ini pendekatan dengan mengedepankan berbagai ancaman kesehatan sudah banyak dipakai, dan biasanya kurang efektif. Tentu saja  jarang seorang perokok berhenti merokok dikarenakan ketakutannya akan berbagai penyakit tersebut kecuali jika ia memang telah menderitanya. Yang terjadi adalah kenikmatan sementara dari asap rokok yang mengebul telah membuat diri perokok tenang, tidak mencemaskan apapun, hidup menjadi nikmat serta mengaburkan kekhawatiran akan masa depannya.

Pendekatan yang mungkin lebih efektif adalah dengan menekankan betapa penting untuk menghentikan merokok demi menyelamatkan orang-orang yang disayangi seperti istri atau anak perokok dari bahaya sebagai perokok pasif. Selain itu saat ini telah tersedia obat-obat pengganti nikotin seperti varenicline, hal ini mungkin menjanjikan, tetapi bisa juga hanya sekedar pergeseran dari  satu bentuk ketergantungan kepada ketergantungan lainnya. Belum lagi masalah biaya yang pastinya mahal karena produksi obat ini masih dipegang swasta.

Larangan merokok di tempat umum seperti yangt tertuang pada Peraturan Daerah (Perda) No 2 Tahun 2005 tentang Penanggulangan Pencemaran Udara (PPU) di DKI Jakarta sebenarnya adalah upaya positif, namun sayangnya kenyataan di lapangan tidak berjalan sebagaimana semestinya. Permasalahan rokok harus terus ditangani serius oleh berbagai pihak, dalam skala makro maupun mikro, seserius dengan slogan-slogan anti-narkoba yang kerap kita dengar dan lihat.

(sesuai dengan artikel yang dimuat dalam majalah Dokter Kita Edisi Februari yang merupakan hasil tulisan saya sendiri juga)

10 komentar pada warta ini
Rabu, 06-02-2008 08:20:09 oleh: gunardi

"Pada tahap selanjutnya, yaitu penggunaan rutin, perokok mulai dikendalikan oleh efek dasyat nikotin. Pada tahap ini penyangkalan memainkan peranan penting. Perokok akan menyangkal bahwa ia tidak dapat mengendalikan lagi kebiasaannya merokok, menyangkal bahwa kebiasaannya itu dapat menimbulkan berbagai penyakit fatal. Sebenarnya ia mengetahui bahaya-bahaya merokok, tetapi kenikmatan semu tersebut telah terlanjur menutupi kecemasan dan akal sehatnya. Dengan penyangkalan ini, maka tidak heran kampanye anti-rokok yang mengusung berbagai bahaya merokok bagi kesehatan menjadi mentah. "

Ah, seperti Papa saya, selalu menyangkal dengan menunjuk si A atau si B panjang umur walaupun merokok, si C atau si D sakit jantung walaupun tidak merokok. Lalu katanya, kedokteran bukan ilmu pasti. Akhirnya katanya, hidup mati adalah keputusan Langit.


Rabu, 06-02-2008 08:23:17 oleh: gunardi

"Celakanya rokok adalah satu-satunya narkoba yang dapat menyerang orang yang tidak turut menggunakannya. Beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa perokok pasif memiliki resiko yang kurang lebih sama dengan perokok aktif untuk menderita penyakit jantung koroner, saluran napas, katarak dan bahkan kanker paru. Sehingga tidak disangsikan bahwa rokok lebih berbahaya dibandingkan narkoba jenis lainnya."

Saya paling sedih harus jadi perokok pasif dari kecil. Lagi-lagi, Papa saya membela diri dengan menunjuk Mama yang tidak ada masalah apa-apa. Mama anehnya juga ikut membela dan mempertahankan kebiasaan merokok Papa.

Hu hu hu, kalau aku kena kanker siapa mau peduli dan membiayai pengobatannya??? *sedih banget*


Rabu, 06-02-2008 14:40:13 oleh: Leonardo Paskah Suciadi

Yah getu lah Mas Gunardi, orang perokok itu penyangkalannya hebat, jadi klo mau bujuk mereka jgn bilang bahwa rokok bisa buat penyakit ini atau itu, karena yah ga mempan. Emank ucapan yg sering bgt dalih perokok untuk bilang bahwa ada temennya yang merokok berat tapi umurnya panjang2 aja tuh. Jadi pendekatan yg tepat adalah mengatakan bahwa berhenti merokok demi orang yg disayangi misal istri atau cucu.
Saya sudah menulis pendekatan terhadap perokok, nanti bsk2 saya kirim kemari ok?! semoga berguna...
dan kayaknya saya masi utang tentang dementia, maaf ya, tapi pasti akan saya tulis juga, lagi belum mood aja tentang dementia nya hehe


Rabu, 06-02-2008 14:49:23 oleh: gunardi

ah, saya yang berutang pada Dokter Leonardo karena banyak mendapat ilmu gratis.
saya serahkan pada waktu dan kesediaan Dokter Leonardo untuk menulis.


Rabu, 19-11-2008 11:26:39 oleh: Diko

Salam kenal

Surabaya saat ini sudah mempunyai perda yg khusus mengatur masalah rokok, dan saat ini sedang dalam proses penyelesaian Perwali, dan SK.
Bagaimana pendapat Bpk Dokter yg terhormat?
Bagaimana bentuk sosialisasi/ kampanye pendidikan antirokok kepada masyarakat umum yg bs menghasilkan output yg bener-bener maksimal?

Terimakasih


Jumat, 15-05-2009 16:52:41 oleh: Ahmad Syahrial

Saya ingin slogan


Senin, 29-06-2009 12:06:29 oleh: misbah

Pak dokter definisi rokok itu sendiri apa ?
Terus bagaimana dengan pernyataan "merokok sebagai indikasi perilaku stress dan usaha katarsis bagi seseorang "
tolong beri tanggapan ya.......
thanks before !


Rabu, 26-08-2009 20:03:40 oleh: husna alamudi alyamani

aku punya sejarah pahit ttg rokok.ayahku tercinta adlah seorang perokok berat,saudaralaki2ku semuanya merokok.ayah wafat karena penyakit paru2 menahun asbab rokok,adik laki@ku baru 23th wafat krn sakit jantung dan asma yang juga merokok.andai tak ada rokok.....?


Rabu, 20-01-2010 20:08:16 oleh: Indra Setiadi

He..he.. numpang ye...! sebenarnya berbicara tentang rokok, pasti ada yg pro dan kontra. nah sy di pihak yg sedikit kontra nih. boleh kan..! @husna : apa bener ayah dan adik kamu meninggal karna rokok.? atau itu defenisi para kebanyakan dokter.?
baru aja kmrn terjadi pacar sy sakit perut sehabis minum capucino, trus stlh denger alur kejadiannya dokter itu bilang jangan minum kopi kecuali habis makan. akhirnya kena deh sekian puluh ribu. nah pacar sy byr pake uang 50 rb dan gak ada kembalian. trus susternya di suruh belikan rokok pake tuh duit. padahal dokter blg rokok ntu gak sehat. mgkn kalau pcr sy sakit perut sehabis makan roti, dokter jg akan bilang jgn makan roti. halah...! meninggalnya seseorang ntu ajal bu, dan sebaliknya justru banyak perokok yg lebih sehat dari yg non perokok. nah skrg muncul rokok yg lebih menyehatkan. pasti ada bantahan mana ada rokok yg sehat kan asap.
1. mandi sauna adalah menghirup asap dari rempah2x, 2. pengobatan tradisional jg banyak menggunakan asap 3. rokok herbal terbuat dari madu, kayu siwak dan daun sirih. wajar donk kalau sehat. coba check di http://rokokkesehatan.com/?ref=27 dah terbukti bahkan temen sy yg kena polip jd sembuh, sebagiannya justru jd berhenti mengkonsumsi rokok yg skrg. ji alkohol dinyatakan tidak baik tapi ada alkohol yg dimanfaatkan utk obat dan jd baik, so, pasti bisa dong untuk tembakau asal di campur dengan ramuan yg baik pula. jd jgn terlalu menyalahkan rokok lah..! sy perokok berat, tapi syukur kesehatan sy lebih baik dr mrk yg bukan perokok. semua itu tergantu kita menjalani hidup spt apa.


Kamis, 29-03-2012 11:42:32 oleh: fahmisubarkah

MEROKOK MATI TIDAK MEROKOK MATI LEBIH BAIK MEROKOK SAMPAI MATI



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY