Wikimu - bisa-bisanya kita

Kris Bheda

Apakah Suara Hati Sama Dengan Suara Allah?

Rabu, 02-01-2008 14:44:16 oleh: Kris Bheda
Kanal: Opini

Apakah Suara Hati Sama Dengan Suara Allah? Setiap manusia mempunyai HATI NURANI yang menuntut manusia untuk berlaku berdasarkan prinsip-prinsip moral, seperti bertindak adil, benar, dan jujur.

Tuntutan tersebut bersifat mutlak atau tidak bisa ditawar-tawar, bukan berdasar pertimbangan untung atau rugi, bukan pula berdasarkan perasaan senang atau tidak senang, misalnya saja bila ada orang yang tidak melakukan tindakan moral (seperti mencuri, membunuh, menganiaya, berlaku tidak adil, dll), orang tersebut akan merasa malu, bersalah dll, bahkan seandainya tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

Pertanyaannya, "Dari manakah tuntutan HATI NURANI yang bersifat mutlak tersebut?" Pastilah bukan sebuah realitas di luar diri manusia (misalnya alam, orang lain, atau masyarakat), karena tuntutan apapun yang berasal dari luar selalu masih dapat dipertanyakan oleh SUARA HATI, "Apakah tuntutan dari pihak luar tersebut sesuai atau tidak dengan tuntutan HATI NURANI?". Dapat ditambahkan bahwa tuntutan dari pihak luar hanya mengikat sejauh tidak bertentangan dengan HATI NURANI (seperti apa yang baik, adil, jujur, benar, dan sebagainya).

Tuntutan yang bersifat mutlak tersebut pasti juga bukan berasal dari diri sendiri sebab tidak mungkin manusia mewajibkan dirinya secara mutlak. Kalau ia dapat mewajibkan diri, maka ia juga dapat mencabut tuntutan tersebut. Dengan demikian tuntutan tersebut pasti lah berasal dari realitas yang transenden, mengatasi segala, personal, dan suci.

Personal: sebab yang bisa memanggil dan menuntut hanyalah realitas yang personal yang tahu dan memperhatikan. Terhadap binatang/benda, kita tidak bisa atau tidak perlu merasa malu. Realitas yang baik dan suci: sebab terhadap bajingan, kita tidak bisa merasa malu atau bahkan kita sering merasa tidak bersalah bila kita mencuranginya.

Disebut yang transenden: sebab kriteria tersebut (a. dan b.) tidak bisa ditemukan dalam dunia ciptaan yang selalu memiliki keterbatasan. Dan dalam tradisi teologi bahkan dalam tradisi filsafat "realitas yang transenden tersebut sering disebut dengan sebutan ALLAH.

Namun demikian suara hati jangan disamakan dengan suara Tuhan. Ia suara lubuk hati kita sendiri tapi yang berhadapan dengan Tuhan dan karenanya menilai tantangan-tantangan yang dihadapi dari sudut Tuhan. Dari pengalaman ini yang ilahi tidak menjadi objek pengetahuan kita dan karena itu implikasi suara hati uang menunjuk pada Tuhan dapat disangkal oleh orang yang nalar dan emosinya sudah tertutup. Kita tidak dapat melihat yang ilahi dalam hati tetapi menyadarinya yaitu keseriusan mutlak terhadap tantangan moral.

(sumber image:airynnz.blogspot.com)

21 komentar pada warta ini
Rabu, 02-01-2008 15:00:06 oleh: Retty N. Hakim

Kata hati bisa ditumpulkan oleh perjalanan dan pengalaman hidup, oleh ke"egeois"an, dll. Karena itu perlu waktu untuk mengasah kembali ketajamannya.


Rabu, 02-01-2008 15:15:28 oleh: Panjikristo

Suara hati pun bisa mati jika kita sama sekali tidak pernah mengindahkannya, sehingga walaupun suara hati terus mengingatkan dan menegur, kita sudah kebal mendengarnya.
disini yang mati sebenarnya bukan suara hati tapi pendengaran kita.


Rabu, 02-01-2008 15:15:34 oleh: ateis murni

yang dimaksud hati ini jantung atau liver ya?
lalu apakah jantung atau liver bisa bersuara seperti mulut?
(untuk mendapat tanggapan yang lebih memuaskan silahkan bergabung di ateis@yahoogroups.com)

anda bisa berteori (baca: berspekulasi) mengenai moralitas, saya pun bisa.

Binatang yang berkumpul termasuk manusia mengembangkan bahasa dan budaya. Tujuan perkumpulan adalah agar menjadi lebih kuat menghadapi predator atau tantangan lingkungan. Bahasa dan budaya pada dasarnya adalah aturan yang diperlukan agar perkumpulan tetap bertahan.
Aturan tersebut oleh manusia didefinisikan lebih detail dalam konsep kejujuran, keadilan, kebaikan, kebenaran, dst.

Bahasa dan budaya ini terekam dalam memori. Karena manusia memiliki otak yang berkapasitas memori yang lebih besar daripada hewan maka manusia bisa mengingat dan memutar ulang 'kaset' bahasa dan budaya ini dalam pikirannya. Suara yang berulang-ulang secara otomatis dalam pikiran ini yang disebut suara hati.


Rabu, 02-01-2008 16:18:22 oleh: Ecko Manalu

hampir mirip dengan konsep mas
@ateis murni (mas apa mbak ya :D ), menurut saya pribadi, suara hati itu sepertinya merupakan salah satu hasil dari jutaan pertimbangan yang mengalir ke otak per satuan detik.
dan imho, ini juga merupakan hasil proses mesin analitik / inferential engine yang kita miliki (otak). sama seperti ketika ada suatu penelitian yang membuktikan bahwa naluri, perasaan cinta, rasa bahagia, rasa takut, yang dulu kita anggap sebagai bagian yang terpisah dari otak, ternyata bersumber dari otak belakang juga, dan sebagian juga merupakan hasil sekresi dari hormon2 tertentu.
namun jika dikaitkan ke suara Allah ??? Saya lebih memandang bahwa suara hati adalah sarana Allah untuk menyampaikan suaranya, atau dapat dikatakan sebagai media untuk mendengar Suara Allah. CMIIW


Rabu, 02-01-2008 16:33:27 oleh: ateis murni

Menimbang bahasa dan budaya yang berbeda menghasilkan moralitas yang berbeda dalam praktik maka suara hati tentu bersumber pada bahasa dan budaya setempat.


Rabu, 02-01-2008 19:27:27 oleh: Bonen

Hari gene masih ada yang atheis (?)


Rabu, 02-01-2008 20:00:26 oleh: ateis murni

Silahkan berkunjung ke ateis@yahoogroups.com. Mampir dan liat-liat sehingga yang mana yang masuk akal dan tidak masuk akal jadi jelas. Mana yang jujur dan mana yang bohong jadi terlihat. Mana yang kebenaran dan mana yang sekadar teori/spekulasi jadi gamblang.


Kamis, 03-01-2008 09:36:57 oleh: Mieka Kurnia

Koq jd ribut mslh atheis & theis?
Kebodohan orang atheis adalah mencoba menyangkal suatu realitas yang tidak bisa disangkal.
Kebodohan orang theis adalah mencoba menjelaskan suatu realitas yang tidak bisa dijelaskan.


Kamis, 03-01-2008 10:28:10 oleh: ateis murni

kalau teori dianggap kebenaran, orang yang kritis harus angkat bicara.
kalau imajinasi dianggap realitas, orang yang waras harus angkat bicara.
kalau suara hati dianggap suara Tuhan, ateis harus angkat bicara.


Kamis, 03-01-2008 11:35:50 oleh: is silarta

kalau suara hati dianggap kebenaran...orang yang hidup juga harus mengakui kenyataan dan kejadian yang realitas terjadi didalam kehidupannya selama bermukim/tinggal dibumi.

Contoh kecil yang nyata : (bukan dari buku, bukan dari katanya, bukan dari dongeng)...ini beberapa kejadian di-kekehidupan.
- Ada beberapa orang yang jarang melakukan ibadah agama dan mungkin tidak mempunyai kepercayaan kepada Sang Pencipta...fakta yang ada ketika dijenguk/ditunggui saat sakit parah menjelang akhir hidupnya, dia menyebut...duh Gusti dan seterusnya.
- Ada beberapa orang yang taat beribadah dan merupakan tokoh dan selalu berkata " Saya siap dipanggil Sang Pencipta, kapanpun dan dimanapun"
...fakta yang ada ketika sembuh dari sakit dan diberi waktu untuk bermukim didunia sesaat lagi, dia mengakui " Wah, waktu itu saya betul betul takut mati", dan seterusnya.

Semoga 'ego kita' tidak mengingkari kejadian dan kenyataan hidup kita di-kekehidupan dibumi kepada Sang Pencipta.
Salam n Bravo Wikimu,


Kamis, 03-01-2008 12:12:05 oleh: ateis murni

Ateis tidak tahu ada kehidupan sesudah kematian karena itu tidak peduli mau ada surga atau neraka.
Surga, neraka, malaikat, setan, atau Tuhan hanya teori (baca: spekulasi) belaka. Bisa benar, bisa tidak.


Takut pada kematian dan cinta pada kehidupan adalah hal yang wajar dan tidak perlu dihubung-hubungkan dengan penciptaan.


Pencipta manusia adalah ayah dan ibunya sendiri, atau lebih tepatnya sperma ayah dan telur ibu. Belum ada bukti berlimpah mengenai asal usul kehidupan. Asal-usul kehidupan masih sekadar teori/spekulasi.

Agama-agama dengan kebenaran-kebenarannya dan Tuhan-tuhannya mengklaim kebenaran pada teori-teorinya. Dengan demikian, agama mengurangi semangat toleransi dan kerendahan hati bahwa manusia belum tahu banyak mengenai alam semesta dan kehidupan.


Maka dari itu:

-kalau teori dianggap kebenaran, orang yang kritis harus angkat bicara.
-kalau imajinasi dianggap realitas, orang yang waras harus angkat bicara.
-kalau suara hati dianggap suara Tuhan, ateis harus angkat bicara.


Kamis, 03-01-2008 13:02:59 oleh: Kris Bheda


Menarik untuk menanggapi komentar-komentar di atas. Saya mencoba ;nmbrung' dengan dua topik saja, mewakili beberapa komentator.

@ buat Bu Retty dan Bung Panjikristo

Saya sependapat dengan komentar ibu dan bung, sebab dalam kenyataannya suara hati dapat salah. Mengapa? karena berhadapan dengan kenyataan manusia kadang keliru mengambil keputusan.Manusia bahkan tidak sadar (persoalan rasionalitas)akan keputusan yang diambilnya, dan baru menyadarinya SETELAH sebuah peristiwa terjadi. Jadi di sini suara hati tidak bersifat mutlak, karena dapat salah. Namun manusia beruntung punya tahap kesadaran selanjutnya yang disebut sebagai MENYESAL. Nah ini adalah tahap penting untuk mengetahui keputusan kita ternyata tidak sesuai dengan suara hati.

lantaran itu,manusia mesti terus belajar berdasarkan prinsip-prinsip moral yang dihadapkan dengan realtias yang ada, agar suara hati tetap menjadi senjata yang peka dalam menjatuhkan setiap keputusan moral.

@ Buat Atheis Murni

1. Suara hati bukan jantung, liver atau semacamnya yang bisa diraba secara fisik, tetapi sebaliknya sebuah KESADARAN MORAL.Suara hati tumbuh dan berkembang menjadi matang dan peka berbarengan dengan tumbuh kembang seorang manusia dalam realitas kongkret (bahasa, budaya, dan pengetahuan atau agamanya)
2. Baik seorang theis, maupun seorang atheis manusia tetap memiliki suara hati. Kebenaran suara hati menjadi tampak pada keputusan yang diambilnya, dan bagaimana konsekuensinya.

Akhirnya sjatinya berbicara tentang suara hati sebetulnya bukan berbicara tentang kebenaran, tetapi sebuah tahap sebelumnya yang disebut sebagai menemukan kebenaran, sebab sejatinya manusia itu 'sedang menjadi'


Kamis, 03-01-2008 13:05:22 oleh: Kris Bheda

Oh maaf, saya lupa satu, saya janji akan mengunjungi ateis@yahoogroups.com.Siapa tahu di sana saya dapat menemukan TUHAN


Kamis, 03-01-2008 16:30:28 oleh: Sandhyani Ellismethia Damayant

@ atheis murni
Silahkan anda mempunyai pendapat sendiri, tetapi anda juga tidak bisa menyalahkan orang lain yang mempunyai pendapat berbeda

Kok bisa2nya bilang orang lain yang tidak sependapat dengan anda gak waras...... please deh...

Santai aja mas/mbak..., silahkan anda berpendapat tanpa harus ngerasa jadi "si paling bener" OK!!!


Kamis, 03-01-2008 20:28:46 oleh: ateis murni

terima kasih atas tanggapan2-nya.

memang penting sekali bagi manusia mencari kebenaran, bukannya mengklaim kebenaran, apalagi memaksakan kebenaran.

karena itu, diskusi itu penting sekali dimulai dengan semangat toleransi dan kerendahan hati.


Kamis, 03-01-2008 20:33:01 oleh: Kris Bheda

@ ateis murni

esensi dialog bukan hanya soal komunikasi timbal balik, tetapi juga ketulusan dan kerendahan hati. Dengan demikian maksud dan tujuan dari dialog bisa terlaksana. Dalah hal ini saya sependapat dengan anda.


Sabtu, 05-01-2008 11:49:07 oleh: Mieka Kurnia

Sebelum ruang komentar ini jadi arena debat kusir, saya coba memberi masukan (abaikan saja jika tidak cocok) :

- Nietzsche dengan filsafat Tuhan Telah Mati-nya akhirnya mendekam di RSJ di akhir hidup.

- Harun Yahya yang memaksakan teori Penciptaan-nya dijadikan olok-olok orang-orang yang pernah membaca buku-bukunya.

- Beberapa kelompok2 masyarakat melakukan tindak kekerasan atas nama agama.

- Para guru-guru Zen tidak pernah menyinggung keberadaan Tuhan tapi mereka mendapat pencerahan karena lebih mengenal diri mereka.

- Para penganut Budha sejati tidak mementingkan keberadaan Tuhan.

- Pengikut Adi Sangkara menyatakan Tuhan itu neti-neti atau bukan ini bukan itu dan Aham Brahmanasmi atau Aku adalah Tuhan. Kata ketiga mereka adalah Tat Twam Asi atau aku adalah kamu dan kamu adalah dia. Maksudnya, kita semua dan semua yang ada di sekitar kita adalah Tuhan.

Yang terpenting dari semua hal di atas adalah atheis ataupun theis tidak pernah berarti apa-apa kalau kita tidak memahami keberadaan kita sendiri dalam hubungannya dengan waktu dan tempat. Tanpa pemahaman ini orang atheis tidak pernah lebih baik daripada orang theis dan orang theis tidak pernah lebih baik dari orang atheis.
Pengakuan lebih baik dan lebih tidak baik hanyalah ego manusia.

Jadilah theis yang baik dan jadilah atheis yang baik. Tidak ada gunanya memaksakan prinsip satu sama lain.




Minggu, 23-11-2008 16:38:37 oleh: budi

atheis = orang yang mencoba melogikakan manusia lahir dari kambing yang tidak pernah pakai celana.
atheis tidak pernah mencari sebab mengapa manusia lahir, hidup dan mati.


Rabu, 14-10-2009 03:50:06 oleh: agus slamet riyanto

suara hati suara indra ke 6 kita, yang mengetahui apa2
yg di berikan allah kepada kita.


Senin, 11-01-2010 18:49:28 oleh: fery fonataba

kpn e baru dpt hal-hal yang bisa kita sadar...di tahun yang baru...


Sabtu, 09-10-2010 13:49:05 oleh: beller

menurutku yg bisa rada bener bahkan ngawur... hehe
suara mesiN , hewaN, angin, ujan , air, petir, dll
seakaN menegur negatip n menyerukaN positip ..
pro n kontra dipemikiran dihubungkan dgN pengetauaN tentang perkataaN daN baik buruknya persoalaN.. bahkan bs sampai menyentuh haL tabu yg tdk terpikirkan sebelumnya... mungkin jg gelombang otak mempengaruhi bagai frekuensi radio.. dan masih byk yg kyaknya ga perlu saya ceritakaN... hihi parno euy..



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY