Wikimu - bisa-bisanya kita

Norman Sasono

Profesor di Malaysia Digaji 10 kali Lipat Profesor di Indonesia

Senin, 12-11-2007 15:10:14 oleh: Norman Sasono
Kanal: Opini

Profesor di Malaysia Digaji 10 kali Lipat Profesor di Indonesia

Ternyata, gaji dari 450 Profesor yang ada di Indonesia tidak lebih dari 3.3 juta rupiah sebulan perorangnya. Bandingkan dengan di Malaysia, seorang Profesor mendapat gaji yang setara dengan 35 juta rupiah sebulan. Kesejahteraan Profesor ini ternyata berdampak langsung pada kualitas perguruan tinggi. Artinya, kualitas perguruan tinggi di Indonesia memprihatinkan.

Di artikel sebelumnya, http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=4672, saya menceritakan tentang seorang bintang Indonesia yang bersinar di dunia akademik di Amerika. Nelson Tansu bisa menjadi Profesor di perguruan tinggi di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Tapi ia tidak mau pulang ke Indonesia karena atmosfer riset di Indonesia tidak semendukung di Amerika. Penghargaan untuk ilmuwan dan dosen di Indonesia pun tidak sebaik seperti di Amerika.

Di Amerika atau Singapore, seorang profesor/dosen mendapat gaji hingga 18-30 kali lipat gaji profesor/dosen di Indonesia. Padahal, biaya hidup di Indonesia hanya 3 kali lebih murah dibanding Amerika atau Singapore. Jadi, anda bisa lihat bagaimana sejahteranya seorang profesor atau dosen di Amerika atau Singapore, dibanding dengan di Indonesia. Kembali ke Malaysia lagi, dengan gaji yang setara 35 juta rupiah sebulan, sementara harga nasi goreng di Malaysia-pun sama-sama sekitar 20 ribu rupiah seperti di Indonesia, anda bisa lihat bagaimana seorang profesor bisa lebih sejahtera di sana.

Kesejahteraan seorang profesor/dosen sangat berpengaruh pada kualitas perguruan tinggi tempat profesor/dosen tersebut berada. Jika kebutuhan keluarganya terpenuhi, bahkan bisa hidup sangat layak, seorang profesor/dosen bisa benar-benar berkonstrasi pada mengajar, riset dan membuat publikasi ilmiah. Kualitas suatu perguruan tinggi dinilai berdasarkan jumlah publikasi ilmiah perguruan tinggi tersebut di jurnal-jurnal internasional atau jurnal-jurnal yang bergengsi. Nah, bagaimana seorang profesor/dosen di Indonesia bisa fokus membuat publikasi ilmiah jika dia sibuk "mencari makan". Menjadi anggota Asdoling (Asosiasi Dosen Keliling) yang mengajar di banyak perguruan tinggi demi mengejar setoran, atau bekerja juga sebagai konsultan/engineer/dll di perusahaan-perusahaan swasta/asing di Indonesia. Dia tidak akan punya waktu untuk membuat publikasi ilmiah. Sebaliknya, jika dia fokus pada riset dan membuat publikasi ilmiah, keluarganya tidak makan. Mengerikan.

Dengan kondisi seperti ini, profesi dosen jadi profesi tidak populer dan tidak begitu dihormati. Lulusan-lulusan terbaik perguruan tinggi tidak akan mau bekerja sebagai dosen saat dia lulus. Padahal, kualitas dari perguruan tinggi benar-benar merupakan fungsi dari kualitas dosen-dosen-nya. Bahkan lulusan yang memang benar-benar tertarik menjadi akademisi pun ciut hatinya melihat kenyataan bahwa akhirnya dia tidak akan sempat membuat publikasi ilmiah karena mesti "cari makan". Akhirnya, lulusan-lulusan terbaik akan memilih bekerja di industri. Ini di Indonesia, tidak demikian halnya di Malaysia. Di sana, gaji awal seorang dosen lebih tinggi daripada seorang engineer di industri. Akibatnya, lulusan terbaik pasti akan sangat tertarik untuk berkarir di dunia akademik. Kembali lagi ke gaji seorang profesor di Indonesia tadi, yang hanya 3 jutaan perbulan, seorang programmer yang hanya lulusan S1 saja bisa jauh lebih besar gajinya daripada itu. Jadi, buat apa susah-susah ambil Master, Doktorat dan jadi Profesor segala. Gaji pokok seorang profesor di Indonesia adalah Rp. 2,070,000. Tunjangan fungsional sebesar Rp. 990,000. Jadi totalnya Rp. 3,960,000 maks. Programmer yang gajinya jauh di atas itu di Jakarta ada banyak.

Dr. Ali Khomsan dari IPB mengatakan bahwa pada 2003, gajinya sebagai seorang Doktor hanyalah 2.5 juta. Justru hanya seperempat dari yang dia dapat sebagai bea siswa saat study di Amerika. Memang dia bisa mendapatkan dana riset dari pemerintah hingga 40 juta rupiah. Tapi riset kualitas apa yang bisa dihasilkan dengan dana sekian. Rektor Universitas Muhammadiyah, Prof. Dr. Ir. Muhammadi mengatakan kalau gajinya dulu hanya 2.5 juta rupiah saja.

Di Indonesia, di perguruan tinggi swasta, dosen yang sudah mengabdi selama 10 tahun gajinya hanyalah 2.5-3 juta rupiah saja sebulannya. Di Lampung, gaji dosen di sana adalah 500 ribu rupiah.

Beberapa pergururan tinggi sudah ada yang melakukan perbaikan. Misalnya di UGM, gaji para petinggi-nya naik 400%. Rektor dan Pembantu Rektor saat ini bergaji antara 20-25 juta rupiah. Dekan dan wakilnya antara 12-15 juta rupiah. Tapi, bagi yang tidak duduk di struktur kepemimpinan tetap saja. Contohnya, seorang Profesor Emeritus (65 tahun ke atas), hanya mendapat 900 ribu sebulan. Asisten dosen juga, hanya 270 ribu perbulan. Di Belanda, ketimpangan ini tidak ada. Karena gaji rektor hanya 1.2 kali gaji dosen biasa. Sedangkan di UI, dibawah Prof. Gumilar Somantri konon bisa memberikan tambahan 9 juta rupiah per bulan untuk staf tetap-nya. Mungkin ini yang bisa dipelajari perguruan tinggi lainnya di Indonesia.

Melihat hal ini, jika anda seorang yang pintar, punya motivasi untuk menjadi akademisi, apakah anda akan jadi dosen/profesor di Indonesia? Atau malah hengkang ke Malaysia, Singapore bahkan Amerika? Artinya, perguruan tinggi-perguruan tinggi di luar negeri lah yang akan kebanjiran minat orang-orang berbakat. Dengan masuknya orang-orang briliant tadi, perguruan tinggi-perguruan tinggi di luar negeri tadi menjadi semakin hebat. Sementara itu, nasib perguruan tinggi di Indonesia? Kelihatannya ini masalah yang sangat serius.

27 komentar pada warta ini
Senin, 12-11-2007 15:41:43 oleh: Linuz

dan karena semakin memprihatinkan, tidak ada satupun uni/institut yg masuk jajaran "ivy league"nya (UI dkk) indonesia yang masuk ke dalam 1000 universitas terbaik di dunia (CMIIW)..dan semakin terpuruk sejak univ. negri disini berubah status menjadi BHMN, semakin komersil bo..


Senin, 12-11-2007 16:20:47 oleh: Norman Sasono

Maaf. Saya lupa mencantumkan sumber berita:
Campus Asia, Volume 1 Number 1, October 2007.


Senin, 12-11-2007 17:49:59 oleh: Haryo Prabowo

Pak Norman, itung2annya salah gk... =)

Gaji pokok seorang profesor di Indonesia adalah Rp. 2,070,000. Tunjangan fungsional sebesar Rp. 990,000. Jadi totalnya Rp. 3,960,000 maks. Programmer yang gajinya jauh di atas itu di Jakarta ada banyak.


Senin, 12-11-2007 18:01:37 oleh: Norman Sasono

Iya. Ada yg salah. :) Ada faktor lain yg gak ketulis. Tp pd intinya, gaji profesor Indonesia cuma 3 jutaan! Isn't that ironic?


Senin, 12-11-2007 18:21:07 oleh: Haryo Prabowo

so so ironic

saya dulu ingin jadi researcher jg (ada niatan begitu waktu SMA). Tapi setelah lihat2 prospek untuk diri sendiri (&keluarga) serta dukungan yang sangat kurang dari pemerintah / industri akhirnya pupuslah sudah cita-citaku...

akhirnya sekarang ingin jadi programmer aja =)

*walau akhirnya tahu value programmer di Indo gk bagus2 amet jg


Senin, 12-11-2007 23:10:17 oleh: indra hermayadi

saya pribadi melihat lebih ke sudt eksplorasi hasil alam, dan tentunya itikad baik pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan mahluk Indonesia. -maaf saya katakan mahluk,karena satwa dan sumber daya alam di Indonesia pun tidak di sejahterakan (hanya dimanfaatkan,setelah itu entah).
pemerintah selalu akan dan akan, berusaha dan berusaha, tanpa ada sebuah realisasi yang benar-benar terasa. semisal gaji guru, sejak kapan pemerintah berencana menaikan gaji para pahlawan tanpa tanda jasa ini, sekali pun naik, harga sembako pun ikut-ikutan naik, malah kadang persentasenya jauh lebih gila dari persentase kenaikan gaji guru.
dan contoh konkrit lain adalah, Indonesia belum bisa merealisasikan anggaran pendidikan minimal 20%.
jadi jangan harap pendidikan kita bisa maju, jika hampir tiap 2 tahun sekali kurikulum diganti...


Senin, 12-11-2007 23:44:27 oleh: herman sulistyo

solusinya cuma dua.
JANGAN PUNYA BINI
JANGAN PUNYA ANAK
kalau nggak bisa dua-duanya, minimal yang terakhir itu jangan deh, atau dibatesin aja satu biji per keluarga.


Selasa, 13-11-2007 02:20:12 oleh: Vinsensius Sitepu

Iya, saya merasakan selama 2 tahun saya selama menjadi asisten dosen. Modal saya adalah idealisme ingin membuat perubahan. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya merasa diri saya berada di padang yang gersang, jauh, kering dan sepi.

Apa yang terjadi di dunia pendidikan kita adalah kengerian yang amat sangat. Saat ini sangat sulit sekali meminta seorang dosen meminta tulisan untuk publikasi majalah departemen yang saya urus. Bagaimana saya bisa mendorong para mahasiswa, sedangkan dosennya sendiri malas!

Dosen sekarang memprihatinkan, kalau tidak pintar mencari proyek penelitian yang tak seberapa, menggarap konsultasi dan lain sebagainya yang tak seharusnya dilakukan. Benar, sangat sulit mendapatkan kualitas lulusan PT yang baik daripada jika pengajarnya sendiri tidak berkonsentrasi di kampus. Itulah sebabnya dosen tidak punya kesempatan menulis artikel di surat kabar, apalagi menulis buku yang membutuhkan energi lebih.

Ah, syukurnya saya adalah penulis yang bisa menjadi cermin mahasiswa-mahasiswa saya di tengah keraguan saya melanjutkan karir sebagai dosen.

Menyedihkan...........

sepertinya saya harus cepat-cepat ke malaysia dan singapura......


Selasa, 13-11-2007 12:32:51 oleh: Muhammad Nizar

jangankan prof, masih banyak profesi lain yang tidak digaji layak di indon. misal, buruh bangunan, udah kerja peras keringat seharian, eh duit dibawa lari mandor. kesimplan, ga cuma prof butuh makan!


Selasa, 13-11-2007 13:22:37 oleh: Feliyanus Gea

maaf pak nizar, ko malah ngomongin buruh, kita kan sedang berbicara mengenai rendahnya apresiasi pemerintah terhadap kalangan akademisi yang berujung terdegradasinya kualitas pendidikan tinggi disini..


Selasa, 13-11-2007 15:39:57 oleh: Muhammad Nizar

maksudnya begini bung Feli, kita khan lagi bicarakan kesejahteraan profesor. pada dasarnya kesejahteraan prof sangat tergantung pada negara. Nah ini persoalannya bukan hanya rendahnya penghargaan tapi juga ketersediaan anggaran, disegala sektor, yang sangat minim. seandainya Prof digaji sangat tinggi tetapi nasib masyarakatnya tetap aja miskin apakah fair? tunggu tulisan saya berikutnya..


Selasa, 13-11-2007 16:08:03 oleh: Feliyanus Gea

nah itu dia pak, karena kesimpulan bapak membutuhkan artikel khusus tersendiri yang membahas apa yang bapak maksud..ditunggu ya pak..


Rabu, 14-11-2007 17:18:00 oleh: Boy Sapto

Kenapa bisa begitu ?.

jawabannya:
sebenarnya negara kita duit nya ada utk membayar gaji
pegawai negeri, guru , dosen, proffessor, polisi dan TNI dengan rate yang mencukupi (kalau sekarang sih sebagian besar bukan mencukupi 'tapi' 'meratapi':) .
Nah namun duit dan kekayaan negara kita yang banyak itu hanya dikuasai oleh para 'Oknum' dari kalangan pejabat daerah dan negara, politisi, aparat hukum dan penegak hukum, serta pengusaha nakal.

Coba saja kita lihat berita 'korupsi' 'kolusi' 'nepotisme'
busyet......markupnya,
ini nya itu nya ..dan-lain-lin ...besar.... bgt.

Sebenarnya 'kita' (bangsa dan pemerintah saat ini)
'harus' berani utk 'memenjarakan' seumur hidup para 'oknum' tsb dan mengembalikan harta dan kekayaan negara dari genggaman tangan 'keluarga' dan 'kroni' mereka.

Nah problem nya apakah pemerintah , aparat hukum dan penegak hukum , serta rakyat yg memilih dan memenangkan pemerintah saat ini 'mau','rela' dan 'berani' melakukaknya.
?

Jawabannya:
Sampai saat kayaknya "Nggak" wong pemerintahannya, aparat hukumnya, rakyat pendukungnya masih kayak dulu.


Kamis, 15-11-2007 11:39:52 oleh: Joko Martono

"Gaji pokok seorang profesor di Indonesia adalah Rp. 2,070,000. Tunjangan fungsional sebesar Rp. 990,000. Jadi totalnya Rp. 3,960,000 maks. Programmer yang gajinya jauh di atas itu di Jakarta ada banyak."

Tapi programmer yang gajinya di bawah gaji supir Bus Way lebih banyak mas......


Kamis, 15-11-2007 13:50:55 oleh: Retty N. Hakim

Oh gaji professor cuma segitu toh? Kok mirip sama gaji TKI di Taiwan? Pantes orang-orang males belajar, jadi TKI lebih gampang kali ya...

Tapi pendapatan artis kok kayaknya tinggi banget ya, Mulan Kwok saja bisa beli dua rumah di PI...pantes juga anak muda sekarang pengen jadi artis saja...


Kamis, 15-11-2007 14:29:46 oleh: Firsa Hanita

bener tuh di ITS juga segitu kok, makanya sekarang banyak anak malas belajar beneran ye, soalnya jadi artis nyanyi satu lagu selama setahun kayak mulan udah bisa beli rumah...kasihan banget bangsaku negeriku indonesiaku....


Kamis, 15-11-2007 15:34:42 oleh: Mimbar Saputro

Tapi saya pikir cukup berimbang kok. Di Indonesia Jakarta, seorang profesor memiliki Helikopter pribadi. Kalau dia digajih sama dengan Malaysia, jangan-jangan Tanker Onasis dimilikinya juga


Jumat, 16-11-2007 11:01:56 oleh: dian handayani

klo orientasinya cuma gaji ya jelas ja kita kalah..buat para profesor alangkah mulianya jika anda tidak selalu mengejar materi..tapi kewajiban moral anda-anda untuk mencerdaskan bangsa ini jangan egois memikirkan diri sendiri jangan jadi kacang lupe ma kulit...indonesia lbh baik daripada malaysia or US coz ini negeri kita..


Jumat, 16-11-2007 11:23:49 oleh: Norman Sasono

:)

Dian Handayani, justru di situ masalahnya, seorang Profesor gak akan bisa fokus ngajar dan bikin riset ilmiah & publikasi jika kebutuhannya tdk tercukupi dgn baik. Akibatnya, Professor2 jadi sibuk mroyek, yg akibatnya mengurangi waktunya utk pendidikan & riset. Kalau professor2 ini terpenuhi kebutuhannya cukup dari gaji, dia akan bisa full time utk pendidikan & riset. Gak perlu mroyek di luaran lagi.


Jumat, 16-11-2007 11:34:33 oleh: Panjikristo

sepertinya di Indo, tidak ada profesi yang digeluti secara yang fulltime dalam satu kerjaan, rata-rata masih cari proyek lain di luar pekerjaan sebenarnya, seperti:
Guru/dosen dan sejenisnya, karyawan, artis, atlit, para pejabat, anggota DPR/MPR dan ... lain sebagainya sehingga ada istilah side income, sambilan yang diperoleh dengan berbagai cara termasuk korupsi.
alasannya agar dapur ngebul atau lebih ngebul lagi (kalau mau lebih ngebul lagi, bakar sampah aja).


Sabtu, 24-11-2007 12:33:40 oleh: arsyad alie

kalo jadi professor memang gak perlu jadi dosen, kerja aja sendiri ambil bagian penelitan meracik sabu-sabu,ekstasi(narkoba)yg konon harganya rp 100.000,-/pertablet dan penggemarnya cukup banyak, buat apa perlu jauh-jauh ke Amerika or Malaysia,di Batam or Jakarta juga bisa.U e e n a k k a n


Senin, 26-11-2007 23:19:55 oleh: WL

Indonesia sebenarnya kaya, namun beberapa hal ini membuat Indonesia tetap miskin dan parahnya telah dilakoni oleh Indonesia selama puluhan tahun. Hebat bo.

Di Indonesia, Dana Pemerintah habis buat
1. subsidi BBM, Listrik, Pupuk, dll - sebagian benar buat subsidi, sebagian buat dinyolongin. Ayo, mana ada pertanggungjawaban dan perincian subsidi tsb, samar-samar khan?
2. pembangunan infrastruktur (inipun dinyolongin pimpro, Kepala Daerah dan Kontraktor) Baru bangun 1-2 tahun dah rusak lagi, proyek lagi, disunat lagi
3. Membayar Gaji PNS (Inipun sumber korupsi baru, Nepotisme, banyak PNS yang merupakan hasil prinsip "Torang samua basodara")
4.Dan berbagai macam lelucon dalam APBN dan penggunaan anggaran pemerintah, jadi dana untuk riset dan membayar orang-orang pintar seperti mereka tidak ada.


Kamis, 24-04-2008 11:43:07 oleh: Muhamad Haikal

nasi goreng Rp.20ribu

boleh direvisi ya..

harga nasi goreng diindonesia banyaknya 5ribu-an (kenyang lagi..) :D

piss


Kamis, 24-04-2008 12:07:35 oleh: Norman Sasono

Yang saya maksud adalah, nasi goreng dgn kelengkapan yg sama dgn yg biasa saya beli di Indonesia 20,000, di Malaysia juga segitu harganya.

Artinya, kalau di Indonesia harganya 'x', di Malaysia juga 'x'. Sama harganya, berapapun besarnya.

So, kalau ada yg kualitas-nya lebih rendah, harganya '1/4*x', ya di Malaysia-nya akan sama aja seharga '1/4*x'.

:)


Sabtu, 26-04-2008 17:25:20 oleh: afdal mazni

Ada yang perlu kita ketahui bersama bahwa profesor ataupun dosen ataupun guru...dan ORTU kita semuanya adalah profesi yang menciptakan NILAI (value), pada diri kita dari sejak bayi sampai kita dewasa. Nilai tersebut berkaitan dengan apa saja nilai moral, nilai kerja, nilai budaya dan nilai hukum. Hakim, jaksa, polisi, dan pimpinan disuatu lembaga adalah profesi penjaga nilai agar tetap eksis ditengah masyarakat minimal di unit kerja dan lebih sempit lagi di unit rumah tangga. INDONESIA ini sebagai masyarakat negara sudah berada pada kondisi yang amat sangat PRIHATIN karena fungsi nilai-nilai kerja seperti (rajin versus malas, pintar versus bodoh, disiplin versus tidak disiplin, produktif versus tidak produktif) diluluhlantakan oleh kebutuhan sesaat atau potong kompas melalui KKN, sehinga yang terjadi nilai budaya kerja "anomali", atau yang terjadi justru si malas, si bodoh, si penjilat, sipeniru, sipenipu yang sukses secara "materi"..... inilah yang merusak tatanan nilai etika, moral dan nilai hukum. Salah siapa ????? semua kita kecipratan salah terlepas dari besar atau kecilnya kesalahan kita ! apa yang dapat kita lakukan untuk bangkit ???? apapun profesi kita pertahankan nilai positif yang masih tersisa..... dan carilah PEMIMPIN yang bisa menjaga keseimbangan antara penciptaan nilai (value creation) dan penjagaan nilai (value excistence) BRAVO INDONESIAKU....!!!


Senin, 09-03-2009 00:17:57 oleh: awayjojo

tenang bro !!! rakyat kecil juga butuh uluran tangan.........? Indonesia TETAP SEMANGAT....

Majulah Indonesia

Soal Gaji guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa?

Kalo kualitas bagus harga juga bagus....

Ingat kata aa gym jagalah hati maka prestasi mudah di raih? Mungkin itu bisa membantu anda


Rabu, 15-04-2009 12:12:10 oleh: raduan.U

pak...minta penjelasan....

kemungkinan masadepan seseorang yang menggajikan dirisendiri....apa...?



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-5260758 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY