Ternyata, gaji dari 450 Profesor yang ada di Indonesia tidak lebih dari 3.3 juta rupiah sebulan perorangnya. Bandingkan dengan di Malaysia, seorang Profesor mendapat gaji yang setara dengan 35 juta rupiah sebulan. Kesejahteraan Profesor ini ternyata berdampak langsung pada kualitas perguruan tinggi. Artinya, kualitas perguruan tinggi di Indonesia memprihatinkan.
Di artikel sebelumnya, http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=4672, saya menceritakan tentang seorang bintang Indonesia yang bersinar di dunia akademik di Amerika. Nelson Tansu bisa menjadi Profesor di perguruan tinggi di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Tapi ia tidak mau pulang ke Indonesia karena atmosfer riset di Indonesia tidak semendukung di Amerika. Penghargaan untuk ilmuwan dan dosen di Indonesia pun tidak sebaik seperti di Amerika.
Di Amerika atau Singapore, seorang profesor/dosen mendapat gaji hingga 18-30 kali lipat gaji profesor/dosen di Indonesia. Padahal, biaya hidup di Indonesia hanya 3 kali lebih murah dibanding Amerika atau Singapore. Jadi, anda bisa lihat bagaimana sejahteranya seorang profesor atau dosen di Amerika atau Singapore, dibanding dengan di Indonesia. Kembali ke Malaysia lagi, dengan gaji yang setara 35 juta rupiah sebulan, sementara harga nasi goreng di Malaysia-pun sama-sama sekitar 20 ribu rupiah seperti di Indonesia, anda bisa lihat bagaimana seorang profesor bisa lebih sejahtera di sana.
Kesejahteraan seorang profesor/dosen sangat berpengaruh pada kualitas perguruan tinggi tempat profesor/dosen tersebut berada. Jika kebutuhan keluarganya terpenuhi, bahkan bisa hidup sangat layak, seorang profesor/dosen bisa benar-benar berkonstrasi pada mengajar, riset dan membuat publikasi ilmiah. Kualitas suatu perguruan tinggi dinilai berdasarkan jumlah publikasi ilmiah perguruan tinggi tersebut di jurnal-jurnal internasional atau jurnal-jurnal yang bergengsi. Nah, bagaimana seorang profesor/dosen di Indonesia bisa fokus membuat publikasi ilmiah jika dia sibuk "mencari makan". Menjadi anggota Asdoling (Asosiasi Dosen Keliling) yang mengajar di banyak perguruan tinggi demi mengejar setoran, atau bekerja juga sebagai konsultan/engineer/dll di perusahaan-perusahaan swasta/asing di Indonesia. Dia tidak akan punya waktu untuk membuat publikasi ilmiah. Sebaliknya, jika dia fokus pada riset dan membuat publikasi ilmiah, keluarganya tidak makan. Mengerikan.
Dengan kondisi seperti ini, profesi dosen jadi profesi tidak populer dan tidak begitu dihormati. Lulusan-lulusan terbaik perguruan tinggi tidak akan mau bekerja sebagai dosen saat dia lulus. Padahal, kualitas dari perguruan tinggi benar-benar merupakan fungsi dari kualitas dosen-dosen-nya. Bahkan lulusan yang memang benar-benar tertarik menjadi akademisi pun ciut hatinya melihat kenyataan bahwa akhirnya dia tidak akan sempat membuat publikasi ilmiah karena mesti "cari makan". Akhirnya, lulusan-lulusan terbaik akan memilih bekerja di industri. Ini di Indonesia, tidak demikian halnya di Malaysia. Di sana, gaji awal seorang dosen lebih tinggi daripada seorang engineer di industri. Akibatnya, lulusan terbaik pasti akan sangat tertarik untuk berkarir di dunia akademik. Kembali lagi ke gaji seorang profesor di Indonesia tadi, yang hanya 3 jutaan perbulan, seorang programmer yang hanya lulusan S1 saja bisa jauh lebih besar gajinya daripada itu. Jadi, buat apa susah-susah ambil Master, Doktorat dan jadi Profesor segala. Gaji pokok seorang profesor di Indonesia adalah Rp. 2,070,000. Tunjangan fungsional sebesar Rp. 990,000. Jadi totalnya Rp. 3,960,000 maks. Programmer yang gajinya jauh di atas itu di Jakarta ada banyak.
Dr. Ali Khomsan dari IPB mengatakan bahwa pada 2003, gajinya sebagai seorang Doktor hanyalah 2.5 juta. Justru hanya seperempat dari yang dia dapat sebagai bea siswa saat study di Amerika. Memang dia bisa mendapatkan dana riset dari pemerintah hingga 40 juta rupiah. Tapi riset kualitas apa yang bisa dihasilkan dengan dana sekian. Rektor Universitas Muhammadiyah, Prof. Dr. Ir. Muhammadi mengatakan kalau gajinya dulu hanya 2.5 juta rupiah saja.
Di Indonesia, di perguruan tinggi swasta, dosen yang sudah mengabdi selama 10 tahun gajinya hanyalah 2.5-3 juta rupiah saja sebulannya. Di Lampung, gaji dosen di sana adalah 500 ribu rupiah.
Beberapa pergururan tinggi sudah ada yang melakukan perbaikan. Misalnya di UGM, gaji para petinggi-nya naik 400%. Rektor dan Pembantu Rektor saat ini bergaji antara 20-25 juta rupiah. Dekan dan wakilnya antara 12-15 juta rupiah. Tapi, bagi yang tidak duduk di struktur kepemimpinan tetap saja. Contohnya, seorang Profesor Emeritus (65 tahun ke atas), hanya mendapat 900 ribu sebulan. Asisten dosen juga, hanya 270 ribu perbulan. Di Belanda, ketimpangan ini tidak ada. Karena gaji rektor hanya 1.2 kali gaji dosen biasa. Sedangkan di UI, dibawah Prof. Gumilar Somantri konon bisa memberikan tambahan 9 juta rupiah per bulan untuk staf tetap-nya. Mungkin ini yang bisa dipelajari perguruan tinggi lainnya di Indonesia.
Melihat hal ini, jika anda seorang yang pintar, punya motivasi untuk menjadi akademisi, apakah anda akan jadi dosen/profesor di Indonesia? Atau malah hengkang ke Malaysia, Singapore bahkan Amerika? Artinya, perguruan tinggi-perguruan tinggi di luar negeri lah yang akan kebanjiran minat orang-orang berbakat. Dengan masuknya orang-orang briliant tadi, perguruan tinggi-perguruan tinggi di luar negeri tadi menjadi semakin hebat. Sementara itu, nasib perguruan tinggi di Indonesia? Kelihatannya ini masalah yang sangat serius.