Wikimu - bisa-bisanya kita

Ign. Taat Ujianto

Saat Bekerja sebagai Buruh Jauh dari Hidup Layak, Saat Menganggur?

Minggu, 04-11-2007 09:45:18 oleh: Ign. Taat Ujianto
Kanal: Gaya Hidup

Saat Bekerja sebagai Buruh Jauh dari Hidup Layak, Saat Menganggur?

Sebut saja namanya Firda. Ia sempat menjadi buruh PT. RTI (perusahaan perakitan elektronik) sepanjang tahun 1996 sampai Desember 2005. Pada bulan-bulan terakhir, Firda mendapat penghasilan sekitar Rp 776.000,- per bulan. Penghasilannya kadang lebih besar bila ia menjalani lembur kerja, tetapi itu tidak rutin. Di saat perusahaan mengaku sedang merugi, penghasilannya berkurang, sampai pernah hanya menerima Rp 300.000,- selama sebulan kerja.

Agar menghemat biaya transportasi, Firda mencari tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari lokasi pabrik. Selama rentang waktu itu, Firda sempat mengaku berpindah kontrakan selama tiga kali.

Rumah kontrakan yang dipilih Firda terdiri dari enam pintu ruangan. Firda menempati salah satu ruangan tersebut. Ruangan berukuran dua kali tiga meter dengan lampu penerangan berukuran sekitar 20 watt. Tak ada lubang ventilasi untuk sirkulasi udara. Terasa pengap.

Ruangan Firda beralaskan karpet. Untuk ruang selebar itu, diisi perabotan berupa satu kasur, tv 14 inc di atas rak, sebuah seterika listrik, satu almari mini terbuat dari kayu untuk tempat pakaian, sebuah kipas angin. Untuk kondisi seperti itu, Firda dengan tersipu menilai, “Yah, sebenarnya nggak layak sih ya, kata orang-orang sih, kayak kandang burung. Kurang lapang, gitu”

Oleh pemilik kontrakan, satu ruangan dikenakan biaya Rp 150.000,- per bulan. Biaya listrik ditanggung oleh penghuni seluruh ruangan. Dalam satu bulannya, Firda rata-rata ikut menanggung Rp 50.000,-. Namun, bila hujan dan banyak petir, hampir dipastikan listrik mati. “Terlalu sering mati lampu, apa lagi musim penghujan”, kata Firda. Tapi, biaya listrik rata-rata tetap tidak berubah.

Fasilitas kontrakan terdiri dari dua kamar mandi dan WC dan air bersumber dari air tanah yang disedot sanyo. Sekitar 7 orang penghuni menggunakannya secara bergantian.

Kamar mandi hanya dua sih, sekian banyak orang. Ada satu, dua, tiga, empat, lima, enam, ada enam pintu. Ada berapa orang orang ya, dulu sampai banyak juga, kan hampir 20-an orang untuk dua kamar mandi. Terus waktu dulu sih, waktu kita masih bekerja gitu, waktu ini penuh semua, ya karena kebetulan ada sif-sifan gitu, ya masih bisa ini sih ya, nggak terlalu ngantri-ngantri banget. Ya paling ada yang bangunnya pagi banget, jadi sudah, kita sudah terbiasa hal-hal yang kayak gitu misalnya yang bangun pagi sih ini, jadi paling siang si ini,  gitu.

Kadangkala, untuk bisa mandi dua kali sehari, bila terlalu antri, Firda melakukan aktivitas mandi di tempat kerja, atau sesekali numpang di tempat temannya. Di samping ngantri, Firda mengaku kurang nyaman dengan fasilitas MCK yang ada karena kurang terawat. Gotnya sering terlalu kotor dan tikus got sering terlihat maondar-mandir. Tentu, aromanya bisa ditebak.

Nggak ada air, pernah dulu gini-gini nggak ada air, mandinya di pabrik, he-eeng. Terus kalau nggak ada air ya nggak mandi [ketawa], kadang ya mandi numpang-numpang mandi di mana gitu

Untuk perawatan fasilitas kontrakan, Firda mengaku memilih melakukannya sediri atau ditanggung bersama penghuni lainnya, dari pada menunggu lama diperbaiki pemilik kontrakan. Pernah mesin sanyonya rusak, Firda dan penghuni lainya patungan Rp 25.000,- untuk memperbaikinya. Bila ada kerusakan saklar, ia ganti sendiri. Tidak sering memang, tetapi ia pernah juga beberapa kali mengeluarkan kocek Rp 20.000 sampai Rp 30.000,-

Ya juga sih, memang kadang,  ya apa, apa yang ini yang itu, ya kita betulkan, ya kita ganti sendiri, misalnya ganti-ganti saklar, itu biaya sendiri, sih. Ya habis dari pada laporan lama, ya sudah kita mbetulin sendiri.

Saat di tempat kerja, Firda sempat menikmati jatah nasi ketring yang disediakan pabrik. Pembagian jatah ketring tersebut kemudian dihentikan karena banyak buruh yang tidak bisa menikmatinya karena makanan sering berbau minyak tanah dan kadang sudah basi. Saat tidak ada ketring, Firda harus makan siang pada jam istirahat di penjaja sekitar pabrik. Untuk sekali makan, rata-rata Firda mengeluarkan koceknya Rp 5.000,-. Menu tahu, tempe, sayur kangkung adalah menu kesehariannya. Sesekali ia menikmati sop ayam atau daging ayam. Tentunya biayanya lebih besar. Minum susu pun sangat jarang. Katanya “Sebenarnya kadang minum, kadang nggak, ya karena gajinya kadang cukup, kadang nggak.” Demikian juga untuk makan cemilan atau sekedar jajan ringan. Firda mencoba tidak membiasakan itu.

Ya, kita juga ngelihat kondisi keuangan kan, nggak mungkin kita dibiasakan jajan banyak-banyak kan, ya maksimal sepuluh ribu atau lima ribu, ya sekitar itu. Ya kadang, kan nggak jajan karena nggak ada duit.

Sedangkan untuk makan di tempat kontrakan, Firda mengaku lebih sering membeli. Memasak sendiri hanya sesekali saja bila badan tidak terlalu capek karena kerja seharian atau ditambah lembur. Saat memasak sendiri, ia membeli sayuran di warung terdekat. Prinsip yang utama baginya adalah, “Yang penting bisa kenyang”.

Yang penting kita kenyang, gitu [ketawa]. Kadang, kita kalau ngikuti bergizi itu, kadang kan mahal kan, tapi memang bergizi itu nggak selalu mahal. Cuma kan kalau misalnya, kita makannya bervariasi, misalnya sehari kangkung, apa segala macam, kalau kayak gitu, kan sebenarnya mahal juga. Kalau, ya ibaratnya, ya mahal juga. Kalau harus berganti-ganti, misalnya mau makan ayam, harus seminggu sekali, atau gimana, gitu kan.

Saat penghasilan Firda masih lancar, ia secara rutin mengirimkan sejumlah uang untuk keluarga dan adik-adiknya di kampung. Jumlah yang ia pos-kan antara Rp 100.000 sampai Rp 150.000,-. Ia berpikir bahwa uang tersebut dapat membantu bapak ibunya untuk mengurangi beban biaya hidup di Bumiayu.           

Kendati sering mengaku sakit pegal linu, dan perut melilit, istilah para buruh sakit maag dan asam urat, Firda mengaku jarang mau ke dokter. Dari pada uangnya untuk membayar dokter, kalau ada duit mending buat lainnya.

Cuma, kadang aku merasa masih, ah dulu pernah (sakit) kayak begini,  ya tahan saja. Masalahnya, kadang diobatin pun, kalau misalnya kayak batuk, apa kayak gimana gitu, kan diobatin pakai obat apa saja nggak mempan. Ya, sudah didiamin saja, nanti sembuh sendiri. Kadang malas juga sih, karena nggak terlalu doyan sama obat itu. Kalau nggak terpaksa banget mah,nggak, mending menyembuhkan.

Waktu sempat ada Askes di pabriknya, ia memanfaatkan untuk berobat. Tetapi obatnya jarang diminum. Ia tak yakin obat tersebut bisa mujarab. Ia lebih suka mimilih pijitan dari teman-temannya. Hanya saja, ia berharap tidak mengidap sakit serius. “Jangan sampai dah, saya orang miskin, jangan sampai sakit. Orang miskin dilarang sakit, karena nggak ada duitnya, entar nggak diterima rumah sakit,” demikian ia berkelakar.

Menjelang malam hari, sambil menghantar lelap tidur, Firda biasanya menjalani ritual nonton tv. Bebagai acara suguhan, sinetron, infotaimen bisa melupakan sejenak dari derita kerasnya hidup sehari-hari. Tayangan iklan berbagai barang super-gaul sebenarnya sangat kontras dengan kenyataan Firda. Tawaran HP merek baru, berbagai menu makanan siap saji yang serba enak dikecap di mall, elektronik, pakaian, alat kecantikan, dan sebagainya, dijejalkan dalam kepala Firda agar tertanam seolah menjadi kebutuhan pokok, nota bene secara tak sadar. Hasilnya? Firda tak ketinggalan membeli HP. Untuk barang satu ini, ia harus relakan koceknya untuk membeli pulsa senilai Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,- per bulan. Kebanyakan ia gunakan untuk mengontak temannya atau sekedar “say hello” dengan saudara-saudaranya. 

Barang-barang elektronik seperti tv pun tak jauh berbeda. Firda harus membeli itu sebagai sebuah kebutuhan utama hidup di kota. Kurang afdol bila tak ada televisi di kontrakanya yang dua kali tiga meter itu. Ruangan boleh sempit, makanan boleh seadanya, tetapi tv wajib ada. Ceramah ibu guru saat Firda sekolah di bangku SD sudah tak berlaku lagi. “Kebutuhan pokok manusia tidak hanya sandang, papan, dan pangan, tetapi adalah HP, tv, dan kalau perlu sepeda motor”.

Ya, itu kan sebenarnya, kita kan sebenarnya, kalau dipikir, itu kan nggak penting banget, ya. Maksud saya, nggak terlalu kebutuhan pokok, gitu. Kayaknya kalau misalnya sudah ke ini, kayaknya kita kalau ngikuti perkembangan jaman kayaknya dituntut untuk, ya punya itu, ya walaupun sebenarnya kadang kalau dipikir-pikir, kadang kita kalau beli, juga maksa gitu. Ibaratnya, aku juga belinya sebagian juga kadang (ikut) arisan gitu kan, kadang kridit gitu. Dan sebagian teman-teman juga kayak begitu.

Beruntung Firda saat masih bekerja bisa ikut arisan. Saat mendapat giliran ia bisa belikan barang elektronik yang sering ditawarkan di televisi. Dengan cara lain, misalnya pinjam ke teman dan ia bayar dengan mencicil, ia pun berani, sebab masih bekerja di PT. RTI. Ia masih merasa aman dan percaya akan mampu melunasinya. Sementara terus bekerja untuk mengangsur hutangnya, 

Kalau tv, kalau nggak salah, pinjam uang teman dulu, deh. Mungkin agak maksain makasain punya gitu, ya pinjam. Jadi, ya otomatis kayak kredit juga sih, diicil juga bayarnya. … Waktu itu harganya satu juta.

Agak sedikit berbeda dengan cerita Firda, seorang buruh lain saat masih merasa aman, ia berburu memiliki simbul-simbul kekayaan yang sering ditawarkan di televisi. Agus, seorang buruh pabrik karpet misalnya. Ia ingin memiliki sepeda motor, maka ia mengambil kridit sebuah merek sepeda motor dengan mengangsur Rp 485.000,- per bulan selama 36 bulan. Ia mengaku dengan cara itulah bisa terwujud impianya. Selain biaya ongkos mikrolet yang terus naik, bisa dialihkan untuk angsuran motor, akan sangat berarti juga sebagai tabungan. Bila ada kebutuhan superdarurat, toh motor yang ia angsur bisa juga dijual kembali. Ada benarnya juga.

Persoalan yang perlu dipertanyakan Firda atau Firda yang lain, sebetulnya adalah soal hidup layak. Dunia infotaimen televisi menawarkan kekayaan. Seolah kekayaan mengatasi kelayakan hidup manusia. Maka, yang dikejar Firda bukan lagi kelayakan, tetapi seringkali adalah simbol-simbol kekayaan. Mengejar kelayakan akan semakin jauh dari kenyataan. Apa kelayakan bagi Firda? Di antaranya: bisa tinggal di kontrakan lebih baik dengan ukuran lebih luas, kamar mandi dan wc sendiri, bisa menikmati makanan yang lebih bergizi dan bervareasi, bisa menabung dan menata secara bertahap agar kelak bisa punya rumah sendiri, dan lain-lain.

Firda adalah manusia perempuan seperti layaknya perempuan dan kita semua. Ia membutuhkan sabun mandi, sabun cuci, bedak, pelembab kulit, pengharum dan lain-lain. Secukupnya ia coba penuhi kebutuhan tersebut. Salon kecantikan atau alat kecantikan serba lux yang sering ditawarkan di televisi untungnya tidak terlalu digubris oleh Firda. Sehingga, ia bisa sedikit menghemat dan biasanya untuk kebutuhan semua itu, ia mengeluarkan kocek Rp 100.000,- per bulannya. Untuk perhiasan, ia pernah bisa membeli cincin emas, tetapi tatkala tak punya uang, cincin itu akhirnya dijual lagi.

Ya sebenarnya sih, minimal kalau hanya kebutuhan bulanannya perempuan gitu, kalau dipepet-pepetin kurang lebih Rp 100.000,- kali ya, kebutuhan beli sabun apa gitu kan…

Pokoknya digabung segitu saja, maksudnya dipepet-pepetin. Kadang pun pemakaiannya jadi malah jadi jarang, misalnya setiap habis mandi dipakai kadang sekarang kalau mau kerja saja deh, untuk ngiri-ngirit gitu kan.

 Potong rambut saja, kadang Rp 15.000,- tergantung salonnya, sih. Kadang Rp 15.000,- ribu, kadang yang Rp 25.000,-, sudah yang sekitar itu saja. Yang murah-murah-lah….

Sebenarnya, lebih sih, kalau misalnya kosmetik itu kan mahal. …Ya, itu tapi kadang kan yaitu ya aku kurangi misalnya yang ini bulan ini nggak beli, belinya bulan besok, jadi begitu diganti-ganti saja. “Oh masih ada sisanya, jadi bulan ini nggak beli, ini saja yang dibeli,” gitu…

Kalau odol (pasta gigi) itu biasa pepsoden, kalau sabun itu ganti-ganti yang dicari yang murah. Kalau dulu sih pakainya ya kadang-kadang lux, kadang-kadang biore gitu. Ini sih ganti-ganti juga …

Kayak misalnya anting, jam tangan, pernah beli. Nggak punya duit dijual, paling begitu. Cincin pun sama

Toh, sekalipun sudah dibuat super hemat dan cermat untuk kebutuhan tertentu, Firda kadang tetap mengalami defisit. Harga barang tak pernah turun, justu terus melambung. Kenaikan BBM adalah salah satu penyebabnya. Sesungguhnya, sebelum para majikan merasakan dampaknya, para buruh sudah merasakan dampaknya terlebih dulu. Biaya hidup meningkat sementara gaji belum tentu bertambah secara bersamaan. Saat BBM belum naik gaji buruh belum tentu mencukupi, maka jelas terancam makin tidak tercukupi lagi. Dampak kenaikan BBM seperti yang diungkapkan oleh Lila, seorang perempuan asal Wonosobo, teman Firda sebagai sesama buruh di PT. RTI.

Karena naik BBM kan berarti semuanya naik gitu kan, dari harga-harga makanan, kontrakan kan juga naik, dari dulu Rp 130.000 kan, sekarang Rp 150.000,- ya terus ya itu biaya ongkos buat angkutan itu, ongkos angkutan gitu kan juga naik. Jadi gimana y,a kita sebenarnya gaji naik juga, masih belum bisa menutupi pengeluaran gitu sebenarnya, cuma kita belum sempat ngrasain gaji naik tapi ngrasain BBM naik [ketawa]. Ya. Begitu. …

Ya jadi pengeluaran lebih banyak gitu. Yang tadinya misalnya makan tadinya misalnya anggaran buat makan misalnya, misalnya Rp 10.000,- cukup gitu kan, jadi karena BBM naik itu, segitu nggak cukup gitu. Terus misalnya ongkos, ongkos saja sampai 50 persen kan (kenaikannya), dulu kalau ke rumah kakak itu, mau main ke rumah kakak duit buat ongkos 10 ribu juga masih ya cukup, itu nyisah. Kalau sekarang itu sudah kurang segitu ya, buat ongkos itu juga. Ya begitu deh pengeluaran, terus kontrakan juga, jadi serba sekarang itu serba kurang gitu.

Bagi Firda, agar bisa melewati masa satu bulan, biasanya ia pinjam dulu ke temannya. Saat mendapat gaji lagi, ia kemudian melunasinya. Model seperti ini adalah khas seperti juga teman-temanya di pabrik.

Kadang gaji itu memang nggak cukup, dan pas dapat gaji gede, jadi misalnya gajinya nggak cukup bulan ini, misalnya kurang, terus ya sudah, pinjam dulu ke siapa, terus nanti pas gajian gede dibayar, gitu.

Kalau Firda juga manusia seperti kita, di saat jengah dan capai menjalani kerasnya dunia, ia butuh berlibur atau sekedar rekreasi. Bagi yang sudah punya pacar bisa jalan bareng nonton filem bioskop, atau sekedar jalan ke Kebun Raya Bogor. Namun, nampaknya Firda agak sedikit lain. Ia lebih banyak enggan untuk menjalani ritual seperti itu. Sepanjang hidup di Bogor, ia hanya mengaku pernah sekali saja nonton filem bioskop. Ia lebih sering bergaul menjenguk teman-temannya dan sesekali ke tempat saudaranya. Jarang jalan-jalan ke mall dan kebun binatang. Bukan apa-apa, bukan karena ia tak mau, ia pun punya keinginan dan hasrat berlibur atau rekreasi seperti ke Puncak yang ramai didatangi kaum bermobil saat hari libur. Firda mengaku, “Sayang duitnya, mending buat yang lainya.”

Namun sebagai makhluk sosial, Firda tidak pernah bilang, “Sayang duitnya”, bila ia diminta saweran untuk teman kerjanya yang berduka cita misalnya ayah atau ibu temannya meninggal. Ia rela menyumbangkan Rp 5.000,- atau Rp 10.000,- untuk itu. Ia ikhlas walaupun jatah sekali atau dua kali makan siang ia sumbangkan. Juga bila ada iuran RT, iuran Agustus-an, hari Kemerdekaan RI, ia tidak ketinggalan saat diminta.

Mari, kita andaikan bahwa kehidupan Firda saat masih bekerja di PT. RTI adalah situasi yang wajar. Kita andaikan bahwa semua yang dijalani sehari-hari oleh Firda masih baik adanya. Firda masih tetap sehat, bangun pagi berangkat kerja, pulang malam, nonton tv tidak ketinggalan, istirahat, bangun pagi lagi untuk siap bekerja lagi, dan seterusnya. Tentu ada kegiatan lain, cuci, kakus, berdandan, makan di warteg, jenguk teman, saudara, beli permen, dan lain sebagainya. Firda masih kokoh.

Terhitung Januari 2006, Firda berhenti digaji PT. RTI karena pindah ke Cianjur. Ia menolak model tawaran yang diberikan majikannya karena menurutnya tidak adil. Sampai dengan bulan September 2006, ia nyaris tak bekerja sebagai buruh di perusahaan lagi. Otomatis pemasukan yang bersifat pasti, tiada lagi. Ia tetap aktif memperjuangkan kehendaknya. Apakah bisa kita bayangkan bagaimana ia jalani hidup sehari-hari di kota Bogor?

Jakarta, 16 Januari 2007

Taat Ujianto

Sumber wawancara:

Firda, Desa Puspasari, Citerep, 05 September 2006

Lila, Desa Puspasari,Citerep, 06 September 2006

 

1 komentar pada warta ini
Minggu, 04-11-2007 15:26:24 oleh: yanuar

INDONESIA BANGET...



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY