Wikimu - bisa-bisanya kita

Erwin Arianto

Menerima Kekurangan dan Kelebihan Diri Kita

Jumat, 02-11-2007 09:21:32 oleh: Erwin Arianto
Kanal: Opini

Menerima Kekurangan dan Kelebihan Diri Kita

Kehidupan yang selalu berubah serta penuh dengan perbedaan antara keadaan seseorang dengan orang yang lain, seringlah menimbulkan kejengkelan, kecemburuan dan putus asa. Sering kali kita menyesali, mengapa orang lain lebih bahagia daripada kita, padahal tingkah laku mereka tidak lebih baik daripada kita. Kita yang telah berusaha berbuat baik, penderitaan malah sering mengikuti seperti bayangan kita sendiri. Apakah ada kesalahan kita? Mengapa pula di dunia ini ada orang yang kaya-miskin, sehat-sakit-sakitan, umur panjang-umur pendek, cantik-jelek, pandai-bodoh, dan masih panjang lagi daftar ini bila semua dituliskan.

Perasaan kita kadang lebih hancur bila kita mengingat penderitaan seakan lebih sering terjadi pada kita dibandingkan pada orang lain. Hal semacam ini juga terjadi dalam kehidupan kampus, rasanya kita telah lebih banyak belajar untuk persiapan ujian, kenapa orang yang lebih tidak siap menghadapi ujian sering memperoleh nilai yang hampir sama, bahkan kadang sama atau malah melebihi nilai kita. Kita kecewa. Kita kemudian bertanya dalam hati, apakah kesalahan kita? Apakah benar ini cobaan hidup? Siapakah yang mencoba? Kita terus berusaha mencari 'kambing hitam' atas kesulitan yang dialami.

Namun, lebih baik untuk tidak menyalahkan pihak lain atas kesulitan kita. Semua penderitaan dan masalah kehidupan pasti ada penyebabnya. Setiap orang memiliki penyebabnya masing-masing.

Oleh karena itu, sungguh tidak tepat bila dalam diri kita masih juga muncul kejengkelan, iri hati terhadap kebahagiaan orang lain, bahkan amat keliru kalau kita sampai putus asa, patah semangat hidup dalam menghadapi perubahan yang terus terjadi dalam kehidupan. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kehidupan ini memang selalu berisikan perbedaan, saling bertolak belakang. Perbedaan dalam dunia ini malah sering diibaratkan sebagai saudara kembar. Artinya, kita tidak mungkin hanya menerima satu sisi dan menolak sisi yang lainnya. Kita hanya mau menerima sisi kebahagiaan saja dan menolak sisi yang berisikan penderitaan. Tidak bisa. Tidak mungkin. Kita pasti menerima keduanya.

Menerima kedua kenyataan hidup ini sering membuat pikiran kita menjadi tidak seimbang. Kadang pikiran merasa senang, tetapi tidak jarang pikiran menjadi sedih. Sungguh sulit untuk bertahan pada pikiran yang penuh kebahagiaan.

Bila diamati, kondisi bahwa segala sesuatu selalu berubah ini adalah merupakan hakekat kehidupan. Perubahan itu sendiri adalah netral, tidak menyedihkan maupun menggembirakan. Munculnya perasaan suka maupun duka dalam menghadapi perubahan itu adalah hasil pikiran kita sendiri. Oleh karena itu, tidak mungkin kita mampu mengubah dunia. Tidak mungkin kita mengubah kenyataan. Hal yang mampu kita lakukan adalah mengubah cara berpikir kita sendiri.

Siap menerima kenyataan sebagai kenyataan, bukan seperti yang kita harapkan menjadi kenyataan. Cara berpikir yang salahlah yang membuat kita menderita. Cara berpikir yang salah ini karena kita terlalu mengharapkan kenyataan dapat berubah sesuai dengan keinginan kita. Makin besar keinginan mengubah kenyataan, makin besar pula penderitaan dan kekecewaan yang akan dirasakan. Kita ingin selalu berkumpul dengan segala sesuatu yang dicinta. Sebaliknya, kita selalu berusaha menolak untuk bertemu dengan apapun yang kita benci. Kenyataannya, kita pasti akan berpisah dengan segala yang dicinta dan bertemu dengan hal-hal yang dibenci. Karena itu, kita hendaknya mengubah cara berpikir agar mampu menerima kehidupan ini sebagaimana adanya.

Mari kita rubah cara pandang kita dalam kehidupan ini, karena sesungguhnya orang hanya saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya. Apabila ia melihat orang lain memiliki sesuatu yang ia sendiri belum memiliki maka ia katakan orang itu berbahagia. Kenyataannya, kebahagiaan relatif sifatnya. Kebahagiaan adalah urusan pribadi, tidak dapat diukur oleh orang lain.

" marilah kita menerima semua yang ada pada diri kita, baik kekurangan atau kelebihan kita "

"Jangan mengira yang kita anggap baik untuk hidup kita adalah selalu yang terbaik "

Dalam Perenunganku, Menerima kelebihan
Depok, 31 Oktober 2007 21:00


http://blogerwinarianto.blogspot.com/

5 komentar pada warta ini
Jumat, 02-11-2007 11:20:53 oleh: kasyanto

ada benarnya sih bahwa kebahagiaan itu relatif.

tapi kesuksesan tidak relatif, kesuksesan itu dapat diukur dengan objektif, misalnya dengan jumlah uang, indeks prestasi kumulatif, jumlah anak, foto wisata ke luar negeri, dsb.

berkaitan dengan sukses, memang ada orang yang lebih berbakat dibandingkan yang lain. kalau sukses diartikan kekuasaan atas dunia, maka dunia ini memang milik orang-orang berbakat. orang-orang berbakat ini tentu lebih sedikit daripada orang tidak berbakat. inilah ketidakadilan hidup yang mau tidak mau harus diterima.


Jumat, 02-11-2007 15:27:21 oleh: Silvi Anhar

bener mas win, saya pilih informasi ini berguna. terutama buat saya pribadi. kadang "rumput tetangga lebih bagus dari rumput kita".... padahal belum tentu...


Jumat, 02-11-2007 16:28:04 oleh: Muhammad Nizar

ini cerita masalah rumput tho.. memang susah melihat makna dibalik peristiwa. bahkan sebenarnya orang2 banyak baru menangkap makna kalo udah ditimpa kejadian.


Kamis, 01-01-2009 17:17:40 oleh: anto

sekedar masukan saja, tulisannya kebanyakan memakai kata "kita" dalam kalimat yang sebenarnya bisa ditiadakan. maaf sekedar koreksi semoga berlapang dada.


Selasa, 20-01-2009 20:54:28 oleh: joko santoso

patennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-5260758 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY