Wikimu - bisa-bisanya kita

Meidy

Pengantar ke Museum Gajah (Museum Nasional)

Sabtu, 08-09-2007 16:04:25 oleh: Meidy
Kanal: Wisata

Tulisan ini saya buat bukan untuk mendahului teman-teman yang besok akan berkunjung ke Museum Gajah tapi hanya sekedar sharing mengenai pengalaman saya berkunjung di sana.

 

Bulan Juli lalu saya diajak oleh teman saya untuk mengunjungi Museum Gajah di Jalan Medan Merdeka untuk melihat pameran mengenai Budaya Majapahit. Kesan pertama yang saya lihat dari luar adalah wajah bangunan Museum Gajah sudah berbeda. Tampak bangunan gedung baru yang megah. Hal tersebut benar-benar sangat membanggakan saya yaitu Museum Nasional yang mana di museum tersebut tersimpan berbagai benda bersejarah, artifact-artifact benda cagar budaya maupun barang tradisionil bangsa Indonresia yang sangat terkenal terdiri dari beragam suku dan etnis.

Setelah saya memarkir kendaraan, kebanggaan saya tersebut ditemani oleh beberapa kejutan yang saya alami dan menimbulkan polemik di kepala saya sendiri yaitu di antaranya adalah:

1. Tempat parkir di basement. Saat itu kebetulan hari itu hujan dan saya memarkir kendaraan di basement. Setelah parkir saya menanyakan ke petugas di mana pintu masuknya. Ternyata akses pintu masuk dari basement belum selesai dan para pengunjung diharuskan naik melalui jalan masuk kendaraan. Langsung terbersit di kepala saya bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana kalau hujannya sangat deras ? Naik melalui jalan masuk kendaraan sangatlah berbahaya apalagi di waktu hujan , tetapi dikarenakan tidak enak hati dengan teman saya tersebut yang sangat pecinta museum akhirnya saya naik juga dengan memakai payung. Saya berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan pengunjung lainnya.

2. Harga karcis masuk ke dalam museum sangatlah murah yaitu di bawah Rp 1.000,00/orang. Kembali saya bertanya di dalam hati saya, bagaimana dengan harga karcis yang sangat murah tersebut pihak museum dapat melakukan maintenance maupun membayar operating costnya? Dengan biaya yang sangat kecil tersebut apakah akan mencukupi? Sedangkan barang koleksi yang harus dijaga, dilestarikan dan dipamerkan tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit? Apakah dengan biaya yang sangat minim tersebut bukankah akan membuat karyawan bekerja tidak maksimal? Ataupun memancing pihak ketiga untuk menawarkan sesuatu kepada para karyawan untuk berbuat sesuatu yang tidak baik seperti menukar barang asli dengan yang palsu ataupun melakukan pencurian? Mohon maaf bukan maksud saya untuk berprasangka buruk tapi sesuatu yang wajar barang yang disimpan di museum adalah barang yang tidat ternilai harganya. Museum di luar negeri memiliki anggaran yang besar dan di museum mereka tersebut dilengkapi dengan pengaman canggih serta tingkat kelembaban yang bisa diatur.

3. Eskalator di gedung baru hanya berfungsi sebagian. Saat itu pengunjung cukup banyak di mana ada anak-anak, orang tua maupun nenek/kakek. Saya mendengar banyaknya keluhan di mana mereka capek berjalan kaki menaiki tangga eskalator yang DUT (mati) tersebut. Saya melihat teman saya tersebut tetap bersemangat menaiki eskalator yang mati dan berkeliling melihat display koleksi di gedung baru tersebut yang megah , tertata rapi dan berpendingin AC. Sepertinya teman saya tersebut tidak masalah dengan kondisi eskalator yang mati. Kembali timbul pertanyaan di kepala saya, seandainya seluruh pengunjung mempunyai kecintaan benda bersejarah seperti sahabat saya tersebut mungkin tidak masalah. Apapun kendala tidak menyurutkan niatnya untuk berkunjung ke Museum. Tetapi apa jadinya dengan pengunjung lainnya? Bagaimana dengan generasi kita yang saat ini sudah dimanjakan oleh mal-mal yang berfasilitas lengkap dan nyaman? Apakah eskalator yang mati tersebut akan menimbulkan cerita jelek di antara mereka sehingga menyurutkan niat mereka untiuk berkunjung ke museum walaupun gedungnya tampak megah dari luar? Lift ada tapi lama nunggu dan selalu sudah penuh sesak isinya. Waktu itu pas musim liburan anak sekolah.

4. Hal-hal lainnya yang tidak saya akan ceritakan karena takut dimarahin oleh pengurus Museum Gajah ...hehehehe...

Di balik hal-hal tersebut diatas, saya tetap merasakan bahwa wajah Museum Gajah yang merupakan Museum Nasional Bangsa Indonesia yang sudah berubah. Mereka tampaknya sudah berbenah diri dan menginginkan kemajuan. Suatu hal yang patut diisyukuri dan dibanggakan walaupun di balik kemajuan tersebut masih banyak hal-hal lainnya yang harus disempurnakan.

Minimal dengan bertambah modernnya gedung Museum serta adanya ruang tambahan untuk display, akan memberikan keleluasaan bagi para arkeolog kita untuk menata artifact yang ada dan mengumpulkan artifact-artifact lainnya yang selama ini tercecer dimana-mana seperti banyaknya arca-arca candi kita yang disimpan di museum Belanda yang mana pihak Belanda sudah setuju untuk mengembalikan benda cagar budaya kita tersebut tetapi dikarenakan terbatasnya tempat penyimpanan sehingga akhirnya kekayaan leluhur kita tersebut masih disimpan ataupun dititipkan di museum di negara tersebut.

Salam saya untuk seluruh pengurus Museum di Indonesia terutama kepada Bapak Soeroso, M.Hum yang mana dedikasi dan sumbangsih beliau bagi kemajuan dan perkembangan Museum di Indonesia sangatlah besar jasanya. Maju terus para pengurusnya dan buktikan bahwa bangsa Indonesia mampu menyimpan sendiri Benda Cagar Budayanya serta melestarikannya tanpa harus bertumpu dengan pihak asing.

 

Foto: original penulis di ruang Pameran Majapahit

2 komentar pada warta ini
Senin, 10-09-2007 11:00:20 oleh: Tri Hupadi

Keberadaan museum di tengah modernisasi ternyata tidak begitu menarik bagi generasi muda. Tawaran yang hedonistis dan konsumtif terasa lebih menjanjikan bagi mereka. Keberadaan pusat perbelanjaan di hampir setiap ruas jalan di Jakarta seoleh mau menyingkirkan hal bernuasa 'kuno'. Ini sebuah keprihatinan bersama. Saya sebagai orang yang cenderung peduli dengan hal-hal 'kuno' merasa terusik dengan keadaan ini. Gaji pegawai museum yang cenderung tidak naik dan fasilitas di dalamnya yang kurang memadai seolah ini menjadi pelecehan terhadap generasi kita, leluhur kita. Bahkan ini merupakan 'pengkhianatan' terhadap masa lalu, yang menjadikan saat ini ada. Ada satu hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini: 1)Ubah setting museum menjadi lebih menarik dan elegan; 2)Jauhkan kesan penjaga museum dengan seperti orang purba yang ga pernah 'gaul'. Lengkapi mereka dengan pengetahuan, bahasa Inggris, Mandarin, Jepang dll.3)Tingkatkan kesejahteraan hidup mereka. Ketiga hal tersebut jika dapat dilaksanakan niscaya museum menjadi tempat yang indah, nyaman dan menyenangkan. Semoga!


Senin, 10-09-2007 12:36:35 oleh: elonk

jadi inget dulu wkt jaman SD kan sering study tour ke museum gajah ini. kl baca uraian tante meidy ttg museum gajah skrng itu berarti udah hebat yah bangunan+fasilitasnya en pake ac pula lagi dalamnya, ck...ck...ck...sayangnya fasilitas tsb tidak bisa berfungsi sebagaimana layaknya yah, artinya SAMA JUGA BO'ONG dunk!!!



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY