Wikimu - bisa-bisanya kita

Mimbar Saputro

(Keris) Nagasasra dan Sabukinten

Senin, 27-08-2007 10:35:38 oleh: Mimbar Bambang Saputro
Kanal: Gaya Hidup

Pada tahun 1966, penerbit Kedaulatan Rakyat menerbitkan buku berjudul Nagasasra dan Sabukinten. Sebelum dijadikan buku, serial ini dimunculkan pada harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, yang langsung mendapatkan sambutan hangat sebab sang pengarang SH Mintardja mampu mengolah pertempuran demi pertempuran menjadi sebuah kesusasteraan indah.

Setelah pengarangnya meninggal pada 1999, cerita hilangnya keris Nagasasra dan Sabukinten dimuat kembali dalam harian Kedaulatan Rakyat, dan herannya masih menjadi buah bibir pembicaraan sementara orang sampai sekarang. Bahkan sebuah situs www.gajahsora.com mengumpulkan potongan demi potongan cerita sampai tamat, dan sejak dimuat pada 2000-an sampai sekarang masih tak putus dikunjungi penggemar cerita silat jawa ini.

Seorang ibu profesional perminyakan bahkan menceritakan, bahwa dalam perjalanan mudik ke "Jawa" mereka sempat melewati situs yang pernah ditulis dalam cerita tersebut, seperti Candi Baka, Gunung Merapi, Ambarawa, Gunung Gajah Mungkur, sampai-sampai "bibir saya rasanya kebas," lantaran ditanggap oleh anak-anaknya untuk terus mendongeng. Entah kebetulan seorang puteranya, bahkan kini menjadi dalang kecil yang sering muncul di TV.

Dalam situs www.Gajahsora.Com diberikan peringatan "Ultra Keras" seperti material, gambar, ide yang ditampilkan di sini secara kejiwaan bisa membuat anda tergila-gila dan kecanduan.

Cerita Nagasasra dan Sabukinten ciptaan bapak SH Mintardja bukanlah sekedar bacaan yang bisa dibaca sambil lalu, lalu anda lupakan. Ada roh di dalamnya, mampu merasuk jiwa. Anda anda akan bergeming di depan layar dan belum puas kalau belum menyelesaikan kata demi kata dalam cerita ini.

Saat pendongeng bercerita mengenai konflik horizontal antar kaum golongan putih, kalau kita boleh menyebutnya demikian, maka melalui metafora suling,ejek mengejek, perang syaraf dilancarkan. Saat anda membaca Mahesa Jenar tokoh utama dalam cerita ini ternyata begitu kikuk saat menghadapi kekasihnya sampai-sampai anda akan terbawa gemas, rindu kadang jengkel.

Anda juga dibawa mengintip kesaktian serta aji-aji yang dimiliki para raja bakal kerajaan Mataram nantinya, seperti ilmu kebal "Lembu Sekilan," bahkan ajian yang aneh terdengar "RogRog Asem."

Sialnya lagi sejarah membuktikan. Cerita ini tidak mudah hilang dalam ingatan anda. Mungkin anda sudah berusia lanjut, namun roh Mahesa Jenar mampu menghinggapi, anak, mungkin cucu anda.

Kini buku "masterpiece" - sudah dicetak ulang sehingga peminat yang rindu akan cerita berkesan bisa menuturkan untuk generasi dibawahnya. Buku terdiri dari 3 julid edisi lux. Saya mendapatkannya malahan saat liburan di Gramedia Yogya.

 

18 komentar pada warta ini
Senin, 27-08-2007 10:56:53 oleh: chika

Pak Mimbar, wah....kayaknya buku ini bisa jadi bahan tambahan koleksi saya.
Kalau buku Gajahmada, gimana Pak? Saya lihat di Gramedia, ada beberapa seri cerita, tapi belum tergerak untuk beli...


Senin, 27-08-2007 17:48:05 oleh: Bagus Y Prayitno

Membaca artikel2 pak Mimbar menganai cerita silat jawa akhirnya tergerak mengomentari yang agak lain.
Bahwa dicerita2 tersebut digambarkan kesaktian2 pendekar2 , dan para mumpuni tanah jawa.
Bahkan kemampunannya seperti atau melebihi film seri "Heroes".
Tapi sebanarnya hal2 kemampuan tersebut bukan hanya isapan jempol atau dongeng menjelang bobok (boboknya anaknya pendekar..he.he..), tapi kemampuan2 supra tersebut memang ada.
Bahkan dari pengamatan saya , sejak hampir 2 dasawarsa ini banyak bermunculan perguruan2 yang mengolah daya linuwih tsb. Dan ini tidak didesa2 atau gunung, melainkan dikampus2, dikantor2.
Kalau bercerita dengan mereka, yang sudah belajar tenaga dalam tersebut, banyak cerita yang tidak masuk akal (menurut org awam), tapi benar2 terjadi. Seperti orang bisa loncat sampai puluhan meter, spt bisa mecah rogo, bisa berbadan lebih dari satu dilain tempat.
Terus dari pengamatan saya juga ada kencenderungan banyaknya munculnya "anak2 indigo" akhir2 ini, baik yang diekspos dimedia, maupun yang tidak.

Bahkan tahun 2006 lalu saya melihat berita di Tv ada anak muda (16/17 thn) di perbatasan India nepal, bermeditasi sudah hampir setahun, tidak bergerak sedikitpun (apa lagi makan). Hal ini diliput oleh berbagai media tv.

Ini semua jadi pertanyaan saya, apakah ini pertanda dunia, terutama di Indonesia sudah kembali mengarah ke dunia/ jaman Spiritual?? spt ramalan nenek moyang kita. Hanoman-e wis mudun maneh(Sang hanoman sdh turun lagi kedunia untuk menyeimbangkan ekosistem kebenaran)
Kita tunggu dan saksikan saja..




Senin, 27-08-2007 18:24:23 oleh: Mimbar Saputro

Untuk Chika.. cerita Gajahmada Okey juga, banyak istilah jawa, gerak seni tempur, namun saat membacanya jangan baca buku sejarah. Maklum ini kan fiksi, kalau dicocokkan dengan cerita yang "normal" kita dengar - agak repot nantinya.

Untuk mas Bagus, daripada menunggu, kenapa nggak sekalian belajar, jadi menghindari terlalu overestimate dan underestimate. hehe

Mbak Firsa, syukurlah kalau cerita ini berguna. Seorang ibu rumah tangga tinggal di Amrik pernah cerita bahwa kelompok mereka di Missouri sana membicarakan cerita silat Nagasasra dan Sabukinten yang bisa diunduh di Internet. Ibu tiga anak ini lalu berselancar dan menceritakan bahwa ia kenal pada orang yang memasang cerita di www.gajahsora.com, gara-gara itu dagangan kue tartnya menjadi ikutan laku...


Selasa, 28-08-2007 08:30:12 oleh: Yulius Haflan

Wah, seru banget pak! Dulu sempat baca Nagasastra dan Sabukinten, tapi saiki wis lali sampe mana jalan critanya. Yang paling menarik hati saya adalah nama2 ajian-ajiannya itu lo. Ternyata ajian-ajian itu dulu memang ada dan sampai sekarang tetap ada. Ternyata sang pengarang nan legendaris ini udah pernah ngadain observasi dulu soal ajian-ajian tersebut, seperti lembu sekilan, itu kan seperti ilmu tenaga dalam yang ada sekarang, bila musuh melakukan serangan, serangannya mandeg pas hanya satu sekilan (jengkal) aja dari badan.


Selasa, 28-08-2007 12:03:10 oleh: Diana Wahyuni

Wah 'ta pikir ada gambarnya, rada kecele pas ngelongok ke gajahsora :D penikmat cergam soalnya. Ternyata pas dibaca lagi di awal artikel ini memang ditulis buku.
Jaman sd dan smp sempet ikutan silat, tapi ngga bertahan lama karena pada dasarnya saya orang yang bosanan hehhee.. jadi belum punya tuh tenaga dalem atau daya linuwih (bener ngga ya..? bahasa jawa agak ngaco neh :D)
Sejak SMP saya cinta berat sama kangmas Upasara Wulung ciptaan Arswendo :">
Sepertinya tokoh Mahesa Jenar juga ada deh di cerita Senopati Pamungkas.
Kok sinetron2 laga kita belum bisa dinikmati senikmat menonton Heroes ya..


Selasa, 28-08-2007 16:33:27 oleh: Bagus Y Prayitno

Iya pak Mimbar..saya mau belajar tapi yang gak ngoyo he..he..he.. Saya baru mendalami filsafatnya saja..

Mbak Diana, memang sinetron silat kita jauh dari imaginasi kita ttg kependekaran kita jaman dulu.
Soalnya sinetron kita belum punya ciri kepribadian. Contohnya film silat jaman dulu, tapi gerakan2 silatnya jelas kentara bukan pencak silat / maen po (sunda). karena disamping gerakan terlalu gaya terbuka, jaraknya lebar2 , jarak jauh dan bebrapa cirikhas silat spt gerakan berputar maju,lemah tapi lentur kuat, tidak terdapat.
Belum lagi kostumnya yang beraneka corak warna menyala, kedombrongan, sangat tidak identik dgn pendekar2 kita, yang biasanya pakaiannya sederhana.

Saya lihat justru film terbitan2 dulu, spt pitung, ken arok , Sunan kalijaga, dll, masih mencirikan gerakan silat kita.
Terus terang kalo saya lihat film2/ sinetron silat kita tidak tertarik.


Selasa, 28-08-2007 16:44:54 oleh: Mimbar Saputro

Mbak Diana...
Kalau mau yang dengan ilustrasi, ada di buku edisi cetaknya sekalipun tidak semua dicetak.


Rabu, 29-08-2007 08:31:39 oleh: Rachmat Hariyanto

Mengingatkan masa dulu, jaman saya masih kecil, karya ini juga di "sandiwara radio"-kan.
Karya lain SH Mintarja adalah "Api di Bukit Menoreh" dengan Kyai Grinsing, Sutawijaya. Itu juga seru, sampai-sampai kuliah agak terbengkalai, karena keasyikan bacanya, sampai seratus jilid lebih kalau tidak salah.
Kapan-kapan aku cari deh bukunya, kangen bacanya...


Rabu, 29-08-2007 10:04:15 oleh: Mimbar Saputro

Buku tersebut dicetak dengan sangat terbatas. Kalau sempat kehabisan, bakalan menunggu entah sampai kapan lagi lho. Kecuali sudah mantabs dengan yang di website.


Rabu, 29-08-2007 17:03:41 oleh: Arisakti Prihatwono

Dear Pak Mimbar ...
Sejak saya baca di wikimu ada Mahesa Jenar
Saya menyempatkan diri baca di internet
Skrg uda seri ke 319

Sebenarnya point yang menjiwai di cerita ini
ada bentuk ksatria yang eling pada Tuhannya (vertikal) dan sayang pada umat sekaligus bangsa dan negaranya (horisontal)

Memang sangat relevan dengan keadaan sekarang ini
Apalagi masalah harga diri bangsa kita.
Masalah TKI di Malaysia belumlah lepas dari ingatan ditambah lagi wasit karate Indonesia dipermak polisi adigang adigung adiguna -nya Malaysia.

Malu kita ini Pak ...
Malu

Harga diri diinjak2

Ditambah pemerintah Malaysia tidak mau minta maaf
Ditambah pernyataan presiden kita yang menyatakan "masalah minta maaf itu masalah kebiasaan atau budaya".

Bangsa ini mau dibawa kemana pak Presiden ?
Dimana wajah kita akan dihadapkan ?

Tunduk dan tunduk
Muka selalu menghadap ke bawah

Terima kasih buat yang selalu mengobarkan nilai2 kesatriaan tanpa melupakan unggah ungguh , norma2 ketimuran

Semoga secercah bacaan ini mampu menjiwai kita semua
dan kita dapat tegak berdiri

Bangga sebagai Bangsa Indonesia


Rabu, 29-08-2007 20:18:34 oleh: Diana Wahyuni

Ok deh Pakde, nanti kucari bukunya di Gramedia. Kalo dah ngga dapet, boleh pinjem ngga? :D Abis mlototin layar komputer lama-lama bisa bikin mataku kayak orang abis nangis bombay :D


Senin, 03-09-2007 23:02:54 oleh: rudi

bookmark...ben rak lali URLe..di baca saat wekend..


Selasa, 11-09-2007 12:03:23 oleh: Adi

Tolong.............
Saya kecanduan Nagasrasra Sabuk Inten !!!!
Saya sudah baca karya SH Mintardja itu sejak SD, sudah berpuluh-puluh kali membaca dan sudah sangat hapal jalan ceritanya, dialognya, perangnya, aji-aji nya, kelakuan Lembu Sora, ketenangan Mahesa Djenar, kejenakaan Pandan Alas, kelakuan Kebo Kanigoro, kecerdasan Karebet, ketangguhan Arya Salaka, kebijaksanaan Panembahan Ismaya, nasib buruk Pasingsingan dan Lawa Idjo, kelicikan Jaka Soka, keberangasan Uling Putih dan uling Kuning, sadisnya nagapasa dll.
Tapi kok gak bosen-bosen ?
Saya sudah download ceritanya dari situs Gajahsora.net (agak protes, kenapa yang diambil nama Gajah sora, bukan Mahesa Djenar), dan sudah pula berulang kali membaca, tapi setiap kali saya 'diapksa' untuk mengulangi lagi membaca kisahnya sampai terakhir.
Tolong...........


Rabu, 12-09-2007 13:20:02 oleh: Mimbar Saputro

Hehe seperti sudah diperingatkan Ultra Keras, sekali diklik pantang di exit..


Selasa, 20-11-2007 13:52:16 oleh: Rudi Kure

saya ucapkan terima kasih kepada situs www.gajahsora.com yang telah memuat seluruh kisah ini (Kyai Nagasasra & Kyai Sabukinten), sehingga saya dapatmembaca sampai tamat.
Dulu waktu saya masuh duduk di SD saya sangat seneng ngedengerin radio walaupun radio saya cuma satu band, kalau tidak salah acara sandiwaranya di siarin sekitar jam 19.00 an per episode dan hanya pada malam-malam tertentu doank dan hari minggu pagi sekitar jam 8.00 an pagi dua episode.
Masih terngiang ditelinga saya bagaimana sang pembawa cerita mengiringi kisah ini dengan sangat menariknya, diselingi dengan suara-suara suling yang mengalun hingga membangunkan bulu roma...wah...pokoknya enak banget ngedengerinnya. (kalau nggak salah dimainkan oleh sanggar Prativi). Saya berharap cerita ini disiarin lagi di radio! trims (Rudi Kure)


Senin, 07-01-2008 12:24:38 oleh: nury nusdwinuringtyas

walah, kok jadi seperti waktu saya mencarikan anak saya Joko Tingkir

makamnya ada, kalau Joko Tingkir, (sultan Pajang -kemudiandiannya - di Hadiwidjojo) Desa (m)Butuh Sragen , bersama dengan makan ayahnya Ki Kebo Kenongo
lokasinya dekat situs Purbakala sangiran
ada kisah kepemimpinannya yang bisa diceriterakan oleh jurukuncinya yang seorang guru

bahkan sisa geteknya pun ada
nanti ya , setelah saya ujian saya fotonya (foto sisa getek) saya upload dan tuliskan artikelnya

sejak itu anak saya menyukai sejarah dan mencari "nenek moyang"


Sabtu, 13-03-2010 17:19:29 oleh: Kosasih Memed

Mahesa Jenar, SH Mintarja, dua tokoh beda waktu dengan karakter sama, SH Mintarja Ksatria sekarang, Mahesa Jenar pendahulunya, bagi saya dua duanya pendekar yang digdaya


Sabtu, 26-05-2012 09:39:21 oleh: murny

pak mimbar... sy mau tanya. buku naga sasra sabuk inten yang dicetak ulang tersebut penerbitnya mana? dan tahun berapa? kira2 berapa harganya ya? info ini penting buat sy.terimakasih.



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY