Wikimu - bisa-bisanya kita

Suriaty

Salahkah Kami Tinggal di Rumah Kumuh??

Selasa, 22-05-2007 09:48:11 oleh: Suriaty
Kanal: Layanan Publik

Salahkah Kami Tinggal di Rumah Kumuh??

Banyak orang yang bilang Jakarta itu kota metropolitan yang kejam, sama seperti pemikiranku dahulu memutuskan pindah dan menetap di Jakarta (1996). Sampai sekarang pun pemikiran seperti itu tetap sama, ketika pagi-pagi dikejar waktu, sehingga harus mengejar bis kota, waktu di bis berdiri hingga tempat tujuan. Hal yang paling mengiris hati ketika melihat seorang anak kecil naik ke bis dengan telanjang kaki dan baju compang-camping tidak terurus, dengan wajah melas mengamen tidak jelas dan menyodorkan amplop putih satu persatu, ada yang menanggapi dengan iba ada pula yang cuek bebek.

Tentu itu urusan kita dengan hati nurani ketika melihat kejadian itu, tawar menawar antara hati nurani dan logika, "Jika aku memberinya uang, apakah mental anak ini akan terus menjadi pengamen sampai besar nantinya?" vs pertanyaan " Jika aku tidak memberinya uang, apakah hari ini dia bisa makan barang sebungkus nasi?"


Menjadi pengamen adalah pilihan, pernah suatu waktu saya berbicara dengan seorang anak kecil (pengamen), dari pembicaraan itu anak itu malah menganggap aku cenderung menghina kehidupannya, dan menganggap aku tidak pernah peduli dengan kehidupan mereka. Akhirnya, saya minder sendiri dengan kehidupanku.

Kututup kasus itu dengan hati pilu, dan akhirnya aku larut kembali dengan rutinitasku, berangkat kerja pagi, pulang kerja malam, enam hari selama seminggu. Kuakui ada sesuatu dalam diriku yang tidak dapat berbohong yaitu rasa "keberpihakan", padahal semenjak mulai kerja kuputuskan untuk meredam semua rasa itu, kadang kusadari juga tindakan seperti itu salah.

Ada lagi, kejadian yang membangunkan dari mati suriku, pada awal Februari ketika Jakarta dilanda banjir, rumahkupun ikut kelelep. Kulihat berita di televisi banyak pihak yang menyalahkan permukiman kumuh di sekitar kali Ciliwung dan membuat tuduhan menyebabkan terjadinya banjir.

Aku mulai berpikir dengan pemikiran yang simple, apakah hanya orang-orang yang hidup di tempat kumuh yang disalahkan? Kenapa tidak menyalahkan pengusaha real estate yang membangun mal-mal sehingga mengurangi lahan penyerapan air? Seperti pada kawasan Kelapa Gading, dibangun mal-mal yang megah, padahal dulunya rawa yang daya penyerapan airnya sangat bagus. Apakah Jakarta akan menjadi kota pengkoleksi mal? Yang menikmati bangunan mal juga toh orang yang mampu.

Bagi orang kurang mampu, paling cuma bertanya-tanya "Sampai kapankah kami akan tinggal di rumah kumuh ini?" Mereka tentunya juga punya cita-cita untuk dapat hidup layak. Rumah kumuh yang mereka punyai mungkin bagi sebagian besar orang sangat merusak pemandangan kota metropolitan, akan tetapi apakah pilihan mereka juga tinggal di rumah kumuh?

Mungkin perlu kita gali lagi lebih dalam kenapa mereka (penduduk di sekitar kali Ciliwung) ogah digusur? Ketika berhembus selintingan kabar bahwa mereka akan dievakuasi dan dipindahkan ke Rumah Susun. Mereka berat akan RASA KEBERSAMAAN yang sudah mereka ciptakan di rumah kecil yang seringkali kita sebut RUMAH KUMUH.

6 komentar pada warta ini
Selasa, 22-05-2007 10:09:48 oleh: Wahjoe Witjaksono

Orang miskin dilarang tinggal di Indonesia. Itu yang terjadi saat ini, karena kepedulian pemerintah terhadap mereka sangat kurang, orang miskin akan dijadikan objek hanya waktu pemilu untuk menarik simpati, setelah itu terserah bagaimana mereka harus hidup. UUD 45 hanya dijadikan kambing hitam, mungkin pejabat-pejabat negara kita nggak pernah membacanya kalaupun pernah tidak pernah menghayatinya dan mengamalkannya, jadi harap maklum kalau orang miskin nggak diperhatikan sama pejabat negri ini, Jadi orang miskin dilarang tinggal di Indonesia,terus mau tinggal dimana?


Rabu, 23-05-2007 14:18:12 oleh: cien2

hmm sebenernya si hal ini juga membingungkan..
kenapa mereka mau hidup di lingkungan kumuh?
bukannya mereka sebagian berasal dari kota yang lain, mereka ke jakarta sebenarnya untuk mencari uang banyak kan. Kenapa mereka tidak kembali ke kota asal mereka, toh disana mereka juga mencari uang yang banyak juga, dan mungkin kehidupan mereka jauh lebih baik dari yang disini.


Kamis, 17-04-2008 18:03:45 oleh: ega

great!!!!!!!!!!!!!!


Rabu, 17-09-2008 17:43:35 oleh: prihardjanto

kata orang dulu, hidup emang harus memilih, so...jangan mau memilih hidup di lingkungan kumuh kalo hanya untuk kenekatan hidup di Jakarta!! Right!. janganlah semua orang merasa dirinya miskin. Usaha donk!! kan bisa cari rumah sederhana murah. tapi kalo untuk yg bener2 g mampu, ya paling tidak rumahnya ya dibersihkan dirapihkan biar agak kelihatan rumah sedikit. liat tuh rumah2 liar di pinggir kali code yogya. kan lebih homy gituuuu....


Jumat, 24-10-2008 15:16:18 oleh: gusti

Kemiskinan dan pemukiman kumuh merupakan hal yang berbeda, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karenanya, keduanya harus diatasi secara bersamaan. Pertama, mental penghuninya dibenahi dahulu dengan penyadaran bahwa hidup di pemukiman kumuh adalah kemauannya sendiri. Jangan salahkan siapa pun. Mereka harus berjuang untuk mandiri. Kedua, bantuan pihak lain hanyalah sebagai motivasi saja agar mereka mapat mengatasi masalahnya sendiri. Ketiga, penataan dari pemerintah konsisten dalam pelaksanaannya. Payung hukumnya jelas. Keempat, perlu pendidikan kependudukan yang komprehensif. Kota bukanlah tujuan hidup segala-galanya. Kelima, wujudkan dalam ikatan religiusitas dengan pemahaman bahwa hidup di pemukiman kumuh bukanlah kutukan.

Oktober, 08
gusti


Kamis, 12-03-2009 21:27:18 oleh: ilvo febiofani

eeehhmm...
sebenarnya kalian tidak salah tinggal di lingkunggan kumuh,,,tapi apa lebih baik kita tinggal di tempat lebih layak,,,

karna menurut saya lingkungan kumuh tidak baik untuk kesehatan kalian ,,,
bknnya pemerintah sudah menyediakan rumah susun,,knpa tidak kita lestarikan saja,,itu akan lebih baik



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY