Wikimu - bisa-bisanya kita

Okto Silaban

Pelajar Malam Indonesia

Senin, 14-05-2007 10:57:24 oleh: Okto Silaban
Kanal: Opini

Pelajar Malam Indonesia

Di benak kebanyakan orang, kehidupan malam adalah milik orang dewasa. Kehidupan malam seringkali identik dengan hiburan - hiburan malam dan berbagai hal negatif yang menyertainya. Apalagi di lingkungan mahasiswa, hal ini terasa sangat dekat dengan mereka. Tetapi jika kita cermati lebih dalam lagi, apakah kehidupan malam ini hanya milik mereka yang dewasa saja, seperti yang kita lihat pada acara Fenomena yang disiarkan salah satu televisi swasta Indonesia.

Jika anda mempunyai anak, adik atau saudara yang masih duduk di SMP, cobalah tanyakan kepada mereka apakah mereka memiliki kehidupan malam? Mungkin anda akan menemukan fakta - fakta yang mengejutkan.

Pada suatu malam, saya kaget melihat seorang pelajar tingkat SMP baru pulang ke rumah pada pukul 3.00 dini hari. Ketika ditanya baru pulang darimana, dengan santainya ia menjawab, "Biasa mas.., ngumpul bareng anak - anak..". Cukup aneh rasanya, anak seumuran itu bisa keluar malam tanpa dimarahi orang tuanya. Beberapa hari kemudian saya melihat lagi anak yang lain mengendap - endap keluar dari rumahnya dengan membawa sepeda motor milik orang tuanya. Iseng saya tanya, "Lho.., mau kemana bos jam segini?". Tanpa basa - basi dia menjawab, "Bomber mas... Kan waktu perangnya jam segini, he..he..". Bomber itu adalah sebutan bagi orang atau sekelompok orang yang membuat mural (coret - coretan di tembok atau dinding) secara diam - diam dan biasanya di tempat - tempat yang dilarang.

Seketika saya akhirnya sadar. Tentu saja orang tua mereka tidak mengambil tindakan apapun atas apa yang dilakukan anak - anak itu. Karena para orang tua ini sendiri tidak pernah tahu bahwa ada sisi lain dari kehidupan anaknya. Para pecinta bulan junior ini, mulai dari bangun pagi hingga menjelang waktu tidur sekitar pukul 9.30 telah dengan begitu pintarnya berakting jadi anak baik - baik. Kemudian di kala waktu telah menunjukkan sekitar pukul 2.00 dini hari atau lebih, mereka segera bangkit dari kasurnya untuk membuka topeng yang ia kenakan seharian. Kunci sepeda motor telah diletakkan di tempat yang ia bisa jangkau tanpa harus mengganggu orang tuanya. Kemudian dengan gaya pakaian anak punk, mulailah ia menjalani sisi kehidupannya yang lain bersama teman - temannya.

Dari yang saya ketahui secara pasti memang tidak hanya membuat mural saja kerja mereka. Untuk kalangan anak - anak SMA, sudah sangat banyak yang sudah mulai "latihan" dugem. Anak - anak SMP pun tak kalah "hebatnya". Saya pernah menjumpai beberapa orang anak seumuran anak SMP pada umumnya, sedang nongkrong di poskamling pukul 1.00 dini hari sambil minum minuman keras, sebagian lagi ada juga yang tersesat di game center. Tetapi sebelum pukul 5.00 pagi, mereka sudah kembali ke tempat tinggal masing - masing, dan tak lupa memasang topeng mereka lagi. Luar biasa !

Hal - hal seperti itu memang belum tentu sama di seluruh Indonesia, tetapi setidaknya itulah yang bisa anda temukan di Jogja, yang katanya "Kota Pelajar". Mungkin ada benarnya, di sini begitu giatnya orang - orang belajar. Bahkan saking giatnya, mereka yang masih belia sudah mulai belajar untuk menjalani kehidupan malam dengan caranya masing - masing. Dan para orang tua pun sepertinya juga harus mulai rajin untuk ikut belajar menangani pelajar malam Indonesia.

(sumber foto : Prima Sp Vardhana)


Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY