Wikimu - bisa-bisanya kita

Mimbar Saputro

Jangan Berkumur Setelah Cabut Gigi

Sabtu, 07-04-2007 11:26:49 oleh: Mimbar Bambang Saputro
Kanal: Kesehatan

Ini nasehat dari dokter gigi senior. Habis cabut gigi, biarkan 24 jam jangan berkumur. Hari berikutnya hanya boleh kumur lalu "lepeh" - alias di keluarkan lagi. Lagian siapa sih mau sakit gigi, kata pedangdut, "lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini.." - ah teori karena belum ketanggor gusi abses.

Seperti kata komedian Untung gigiku othek. Lalu saya menilpun langganan saya puluhan tahun. Sebut saja drg Endah. Waktu mulai praktek dulu ia mencari pelanggan dengan mengingatkan pasien untuk periksa gigi, sekarang sudah jadi dokter laris bukan alang kepalang sampai buka klinik dimana-mana. Ketika dihubungi melalui tilpun, menurut pembantunya sedang pakansi ke Amerika dan tidak jelas kapan kembali. Padahal gigi geraham belakang sudah "nyut nyut." Tidak bisa menunggu lagi, tidak juga hilang dengan cap enam belas (puyer), apalagi diberi masakan kaleng ikan sardin seperti di iklan yang membuat gemes lantaran boongnya keterlaluan.

Seperti juga usus buntu, gigi geraham paling belakang tidak ada fungsinya kata sementara orang, tetapi justru lokasi paling sukar dicapai sikat gigi sehingga titik paling lemah untuk diserang para bakteri.

Lalu ada yang menyarankan untuk menyoba di klinik gigi Trisakti. Saya langsung menolak kuatir dijadikan kelinci percobaan para mahasiswa/i ditambah lagi mengantri panjang. Rupanya saya yang kurang piknik pasalnya ada pelayanan eksekutip ditangani dokter senior dan tidak perlu mengantri.

"Wah ini kejutan, biasanya orang ke malas periksa gigi lantaran terlalu lama antriannya."

Sekitar jam 8 pagi saya ke Trisakti. Sebuah sekolah yang saat mahasiswa imejnya adalah borjuis. Kendati sekarang saya tambahkan "gemar tawuran." Rupanya saya harus ke lantai enam dengan menggunakan lift. Selama perjalanan, lift berhenti setiap lantai dan menyaksikan calon dokter dengan kamerjas putih wajah segar, masuk keluar lift sambil menebar aroma wangi dan penuh percaya diri. Tetapi namanya sakit gigi, ya semangkin (ng)  lama semangkin (ng)  terasa.

Waktu masuk di ruangan sejuk eksekutip yang saya temui hanya sebuah pesawat TV yang menayangkan sinetron Setan. Ruang tunggu sepi. Membersit lagi keraguan. Apa saya urungkan saja niat ini. Logikanya restoran sepi, tanda tak laris.

Tapi niat ingsun sudah muanstab (mantab) wal nekat. Apalagi menyadari teroris sakit gigi bisa meledak kapan saja.

Di ujung ruangan seorang sedang berbicara di tilpun. Kata orang dia adalah resepsionis, fungsinya mirip dengan frontline sebuah perusahaan. Tetapi dimata saya ia sedang memperdalam dan memperhalus ilmu cek&ricek ala infotemen. Saya dekati lalu dengan isyarat mata, “ada pelanggan nih, yang membayari gaji kamu”, dari ujung matanya ia balik kirim isyarat seakan menjawab nanti dulu saya sedang sibuk menyelesaikan kasus antara hidup dan mati. Lalu beliau meneruskan pergunjingannya.

Lagi-lagi telinga saya menguping “Si Adek ya.. blabla..bla.. Kalau aku jadi Adek aku akan bla..bla.. bla..”

Setelah menunggu mbak Gunjing menaruh tilpun pertanda usai hajatnya menjadi konsultan rumah tangga. Saya segera mendaftarkan diri. Bukannya ditanya nama, alamat, umur dan keluhan malahan menyerupai interogasi. Mulai dari pertanyaan apakah mahkota kegigian saya sudah pernah direnggut orang tak bertanggung jawab, gigi yang mana sakit, apakah membawa foto rontgen gigi dan beberapa pertanyaan lagi.

Sekali lagi ini kasus ini sakit gigi. Maka halal saja kalau jarum kesabaran saya menghilang secerdik gas LPG menghilang dipasaran.

"Mbak saya bukan mahasiswa gigi, aku kemari karena gigiku sakit, panggilkan dokter bisa..?" - saya kuatir kalau didiamkan bakalan tanya kode lokasi gigi ku yang sakit. Memangnya saya mahasiswa praktek mencetak gigi.

Setelah menyerahkan formulir barang dua halaman barulah ia menilpun dokter yang piket. Dan memang, dokter, sebut saja dr. Agus langsung datang. Ia memang sudah senior.

Gigi saya diperiksa. Disuruh nggeget (menggigit) sendok gigi melihat reaksi gigi dengan besi. Saya bilang linu sedikit.

"Tandanya sudah infeksi," sehingga terbit rasa linu. Kalau sudah begini, bius tidak efek. Alhasil bengkaknya harus hilang dulu agar saat dicabut efek obat bius cepat bekerja.Lalu usrek-userek daia menulis sesuatu.  Resep antibiotik Lincomycin 500 mg buat 4 hari @ 3 kapsul.

Empat hari kemudian, saya ke klinik Trisakti lagi yang berlokasi di Kiyai Tapa. Jam 8 tepat dokter masuk, saya langsung dikerjai. Disuntik bius yang pahit rasanya (plus sakit dikit) pelan-pelan rasa kebas menyerang sekitar bibir.

Sambil menunggu bius bekerja dokter bercerita waktu mahasiswa di Grogol pada 1965 keadaan masih sepi belum se super duper macet seperti sekarang.

Barang dua menit gigi dioklek-oklek, lalu dia tanya, sakit?

Satu telapak tangan saya hadapkan kemuka sambil digerakkan ke kiri dan kanan, seperti "dadah" walau maksudnya tidak sakit. Eh dia mengerti. Ternyata gigi sudah pamit dari sarangnya.

Nasehatnya, sejam kasa digigit lalu dibuang, jangan berkumur, jangan sikat gigi selama seharian. Besok pagi boleh kumur tapi tidak boleh diarahkan ke luka, cuma kumur lalu lepeh, maksudnya tidak perlu diguncang-guncang dalam mulut, jangan mendorong luka dengan lidah, apalagi menyedot luka. Kalau terasa amis, itu biasa.

Aku mengangguk karena masih nggeget kassa. Dia menulis resep, obat pembunuh rasa sakit, Ponstan 500 gram untuk mengurangi rasa sakit dan antibiotik Lincomycin kalau terasa gusi infeksi.

Rekening terbaca Rp. 200.000 kelas eksekutip. Lalu seorang teman Australia, Sheldon, sampai dipulangkan pakai helikopter karena ketahuan sakit gigi dan langsung ditunggui perawat di darat. Menurutnya sekali periksa tidak putus 200 dollar (1,4 juta). Padahal kalau sakit gigi dua kali datang sudah tergolong cepat.

Stempel “recommended” saya jatuhkan pada dr Agus van Trisakti dan sekalian mengucapkan "dadah" dokter gigi yang lama.

2 komentar pada warta ini
Senin, 14-07-2008 21:50:50 oleh: retno

aaah, dokter agus itu dosen sayaah..mantan dosen sih sebenarnya..
dokter agus yang pembawaannya diem itu kan? berkacamata dan berjalan pelan dan rada bungkuk sedikit..hihi baik banget tu dosen.. ^_^


Kamis, 28-08-2008 22:17:15 oleh: mira

duh,aku lagi sakit gigi karena terlanjur abses nih. apa kudu ke Dr Agus ya? tapi gimana caranya dapat pelayanan eksekutip? mau donk infonya :-) nuhun.....



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY