Wikimu - bisa-bisanya kita

Habasiah Syafri

Pengurangan Dampak Buruk untuk Pengguna Napza Suntik di Jawa Barat

Senin, 14-06-2010 09:48:48 oleh: Habasiah Syafri
Kanal: Kesehatan

Penasun adalah pengguna napza suntik yang dikarenakan ketergantungan atau adiksinya akan napza sangat sulit untuk bisa berhenti. Adiksi atau ketergantungan dapat dikatakan chronic relapsing disease atau suatu penyakit yang selalu dapat relaps atau berulang. Sehingga seorang penasun tidak pernah dapat dikatakan sebagai “mantan penasun” tetapi pulih, karena sewaktu-waktu dapat kembali menggunakan napza. Adiksi ini juga dikatakan brain disease, yang menyebabkan terjadinya perubahan atau kerusakan otak sehingga sangat sulit untuk sembuh. Untuk bisa berhenti yang diperlukan waktu cukup lama dalam terapinya. Yang menyedihkan adalah ketidaktahuan masyarakat mengenai penasun atau bahkan ketergantungan ini, sehingga cap yang melekat pada penasun adalah anti sosial, kriminalitas sehingga meresahkan masyarakat, pemalas, dsb. 

Bila saja masyarakat mengerti mengenai ketergantungan ini, dimana bila penasun membutuhkan narkoba dan tidak dipenuhi pada waktunya maka akan timbul craving atau bahasa junkienya sakaw. Seorang penasun akan selalu berusaha menghindari terjadinya sakaw, karena akan timbul sakit yang luar biasa. Sehingga penasun berusaha untuk menutupi rasa sakaw itu dengan memenuhi kebutuhan napzanya sesuai dengan dosis toleransinya yang semakin lama semakin meningkat. Pemenuhan tersebut dilakukan dengan berbagai cara yaitu melakukan tindak kriminalitas yang dimulai dari keluarga, tetangga bahkan ke masyarakat dengan cara paksa ataupun tidak. Bahkan di kalangan penasun perempuan melakukannya dengan cara tukar body. 

Oleh karena pengaruh negatif dari napza sangat besar efeknya yaitu hubungan sosial yang tidak baik, faktor ekonomi yang bisa disebabkan karena tidak ada pekerjaan, uang habis untuk beli napza, dll, kesehatan yang dapat tertularnya HIV, Hep C dan infeksi lainnya. Oleh karena strategi dalam memerangi narkoba yaitu supply reduction: pengurangan suplai narkoba dan demand reduction: pengurangan permintaan kurang keberhasilannya dalam memutus mata rantai penularan HIV dan penularan lain melalui darah, maka dibuatlah strategi yang lain yaitu: Harm Reduction (HR) atau pengurangan dampak buruk.

Strategi utama dalam program pengurangan dampak buruk untuk mencapai adanya perubahan ke perilaku yang lebih baik atau konsepnya adalah pencegahan atau pengurangan dampak negatif terhadap kesehatan yang berhubungan dengan tingkah laku. Tahap dari strategi perubahan perilaku untuk program Harm Reduction adalah:

Pertama, Berhenti pakai: Hal ini bisa dilakukan dengan cara ikut program rehabilitasi (sosial) di panti rehab khusus Narkoba atau pondok pesantren. Tetapi sampai sekarang di Indonesia belum pernah ada penelitian berapa banyak keberhasilan dari rehabilitasi ini.

Tahap kedua bila sulit untuk berhenti pakai, jangan menggunakan narkoba dengan jarum suntik. Hal ini bisa disiasati dengan menggunakan napza yang dihirup, dihisap atau ditelan seperti Subutek/Subokson dan methadone. 

Tahap ketiga: Bila terpaksa pakai jarum suntik, pakailan jarum suntik sendiri atau jangan bergantian, hal ini dapat mengikuti program LJASS (Layanan Jarum dan Alat suntik steril) di puskesmas atau mengambil di Drop in centre LSM. 

Sedangkan tahap keempat adalah kalau terpaksa menggunakan jarum bergantian/bekas, upayakan untuk disterilisasi dengan menggunakan pemutih atau lebih dikenal dengan istilah“Bleaching”.

Program pengurangan Dampak Buruk atau yang lebih dikenal adalah program Harm Reduction atau HR di kalangan aktivis peduli HIV dan AIDS. Program HR ini adalah program yang dikhususkan untuk mencegah penularan di kalangan pengguna napza suntik (penasun). Program HR ini perlu segera diimplementasikan karena semakin tahun jumlah risiko terinfeksi HIV dikarenakan pengguna napza suntik semakin tinggi. Hal ini bisa dilihat data dari Dinas Kesehatan Prov Jawa Barat, pada 2004 (kasus AIDS: 287;penasun:241), tahun 2006 (AIDS:572; penasun:475) hingga pada Maret 2010 dari 104 kasus AIDS dari penasun sebanyak 69 orang (83,65%)

Awal program ini akan diimplementasikan di Indonesia begitupula di provinsi Jawa Barat, terdapat banyak pro dan kontra dari berbagai kalangan. Kalangan yang Pro memang melihat bahwa salah satu cara untuk memutus mantai rantai penularan dari penasun ke penasun atau dari penasun ke masyarakat umum adalah dengan program HR. Sedangkan kalangan yang kontra adalah melihat dari moralitas dan agama, dimana beranggapan bahwa bila ada program HR (LJASS) akan mengakibatkan bertambahnya jumlah penasun baru serta melegalisasikan pemakaian putaw atau heroin dengan cara disuntikkan. Program HR terdiri dari 12 program yaitu:

1.      KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi)

2.      Penjangkauan(Outreach)

3.      Peer educator/penyuluhan sebaya

4.      Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau Konseling dan Tes HIV secara sukarela

5.      Susbstitusi oral (methadone)

6.      Care Support and Treatment (CST) atau dukungan, perawatan dan pengobatan

7.      Terapi ketergantungan narkoba (Rehabilitasi)

8.      Kesehatan Dasar

9.      Layanan Alat suntik steril (LASS)

10.  Bleaching: Sterilisasi jarum bekas dengan menggunakan pemutih

11.  Insenerasi/penghancuran alat suntik bekas

12.  Pencegahan infeksi (Infeksi opportunistic)

Dari 12 program hanya 4 program yang merupakan rekomendasi WHO yang langsung mencegah terjadinya penularan HIV antar penasun maupun ke masyarakat umum. Pengguna jarum suntik bila dilihat risikonya berasal dari penyuntikan yang tidak steril dan hubungan seksual yang tidak aman (tidak menggunakan kondom.

4 program tersebut adalah: 1) LASS; 2)KIE; 3) CST dan 4) substitusi oral.

 

1.       Layanan Jarum dan Alat suntik steril (LJASS)

Layanan Jarum dan Alat suntik steril yang sebelumnya dilakukan oleh petugas lapangan dari LSM untuk distribusi jarum. Tetapi sekarang ini juga merupakan tanggung jawab pemerintah untuk memberikan layanan. Telah ada di beberapa puskesmas di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan (Makassar), Bali dan Yogyakarta. Hal ini untuk memudahkan penasun mengakses layanan LJASS karena dekat dari tempat tongkrongan/rumah penasun, lebih mudah/tidak ribet, akan berkesinambungan, sebagai tempat rehabilitasi medis, dll. Menurut UU Narkotika No.35 tahun 2009, puskesmas dimana merupakan layanan kesehatan dianggap sebagai tempat untuk rehabilitasi medis, yang bila penasun terdaftar dalam program HR apakah itu LASS ataupun methadone maka bila terkena sanksi hukum akan lebih dipertimbangkan untuk dilakukan rehabilitasi.

Beberapa LSM di Jawa Barat yang memiliki Drop in Centre yang menyediakan jarum suntik steril:

-         HR PKBI di Kota Bandung HR-PKBI Bandung. Jl.Venus Timur VI No.9 –Bandung Tlp. 022 93074001Fax.022 7564474 .

-         HR PKBI Kota Tasikmalaya Jl Burujul I No.19 –Tasikmalaya Tlp. 0265 328900 – 0265 9111090

-         Yayasan Masyarakat Sehat Subang; Jl Sawo 1 No.10 Blok 2 Kab.Subang

-         Grapiks Bandung Jln Gunung Batu gg. Pada Asih No 31. Bandung

-         Grapiks Bekasi: Jl. Lombok Raya No.23 Perumnas III Bekasi Timur Kota Bekasi 171111 Telpon: 021-88340903

-         Rumah Cemara Cianjur

-         Rumah Cemara Sukabumi

Adapun puskesmas-puskesmas di Jawa Barat yang memberikan layanan jarum suntik steril dan layanan kesehatan untuk penasun adalah:

Kota Bandung:

-         Puskesmas Garuda ; Jl. Dadali No.81 Bandung ; Telp: 022-6013885

-         Puskesmas Pasir kaliki; Jl. Pasirkaliki No. 188 Bandung; Telp: 022-4206531

-         Puskesmas Buah Batu; Jl. Terusan Buah Batu No.314 Bandung Telp: 022-7567384

-         Puskesmas Sarijadi; Jl. Sari Asih 76 Bandung; Telp: 022-82025109

-         Puskesmas Kiara Condong; Jl. H. Ibrahim Aji No. 88 Bandung; Telp: 022-7208355

-         Puskesmas Kopo; Jl. Kopo No.369 Bandung; Telp: 022-70722596

-         Puskesmas Puter; Jl. Puter No. 3 Bandung. Telp: 022-92610452

-         Puskesmas Cikutra Baru; Jl. Cikutra Utara – Depan Bumi Kitri Bandung; Telp: 022-2531883

-         Puskesmas Pasundan; Jl. Pasundan No. 89 Bandung Telp: 022-4214192

-         Puskesmas Antapani; Jl. Plered No.2 Komplek Antapani, Bandung; Telkp: 022-7232881

-         Puskesmas Ujung Berung; Komp.Ujung Berung Indah Blok 18/16 Bandung; Tewlp: 022-7834834

Kabupaten Bandung

-          Puskesmas Banjaran Kota; Jl. Pajagalan No. 18 Banjaran Kab. Bandung; Telp: 022-5945253

-         Puskesmas Cicalengka; Jl Raya Cicalengka o.321 Kab.Bandung; Telp: 022-7949217

 

Kabupaten Sumedang

-          Puskesmas Jatinangor; Jl. Raya Jatinangor No. 234, Sumedang; Telp: 022-7796143

Kota Tasikmalaya

-         Puskesmas Cihideung; Jl. Paseh No.207 Kota Tasikmalaya; Telp: 0265-326340

-         Puskesmas Tawang; Jl.RAA Wiratanuningrat No.18 Kota Tasikmalaya; Telp: 0265-331840

-         Puskesmas Kahuripan; Jl Raya Siliwangi Tasikmalaya

-         Puskesmas Cipedes: Jl. Martadinata No.53 Tasikmalaya 46133; Telp:0265-331176

-         Puskesmas Kawalu : Jl. Perintis Kemerdekaan Tasikmalaya

Kabupaten Tasikmalaya

-         Puskesmas Tinewati; Jl. Raya Baraty No.1 Sinbgaparna Kab.Tasikmalaya; Telp: 0265-545067

-         Puskesmas Manonjaya; Jl. Tangsi 6 Kec. Manonjaya Kab.tasikmalaya; Telp: 0265-381109

Kota Bekasi

-         Puskesmas Aren Jaya; Jl. Pulau Jawa Raya No.1 Aren Jaya, Bekasi Timur, Telp:021-88347036

-         Puskesmas Pejuang; Jl. Kali Abang Bungur Kec. Medan Satria Bekasi Telp: 021-88975352

-         Puskesmas Rawa Tembaga; Jl. Komodo Raya No.1 Kel Kayu Ringin Bekasi Selatan; Telp: 021-9126638

-         Puskesmas Kaliabang Tengah; Jl. Pondok Ungu Permai II no. 11

-         Puskesmas Jati Asih; Jl Swatantra no 4 Bekasi

-         Puskesmas Pondok Gede; Jl. Raya Pondok Gede Bekasi

-         Puskesmas Rawa Lumbu; Trisatya Perum Bumi Bekasi

-         Puskesmas Bintara Jaya

Kabupaten Bekasi

-         Puskesmas Tambun Selatan ; Jl. Sultan Hasanuddin No. 5 Kab.Bekasi 17510

-         PKM Cikarang Utara; Jl. KH Dewabtara No.24 Cikarang Utara Bekasi; Telp: 021-89105705

Kota Cirebon:

-         Puskesmas Drajat Jl. Lapang Bola V No.0 Kesambi Dalam Cireebon; Telp: 0231-210180

-         Puskesmas Si Topeng; Jl. Pramuka Argapura, kec.Harjamukti

Kabupaten Cirebon

-         Puskesmas Plumbon: Jl. Raya Plumbon Cirebon; Telp: 0231-321632

-         Puskesmas Kedawung: Jl Ir. H.Juanda No. 268 Kec. Kedawung Kab. Cirebon; Telp: 0231-487795

Kota Sukabumi

-         Puskesmas Sukabumi; Jl. Ciaul Baru No. 87 Sukabumi; Telp: 0266-213939

-         Puskesmas Selabatu; Jl. Surya Kencana No.45 Kota Sukabumi; Telp: 0266-229944

Kabupaten Cianjur:

-         Puskesmas Cipendawa; Jl. Wijaya Kusuma Kec. Pacet, Telp: 0263-512135

-         Puskesmas Muka; Jl.Dr Muwardi Kab.Cianjur; Telp: 0263-269596

Kota Bogor

-         Puskesmas Kedung Badak; Jl. Penataran No.1 Cimanggu Permai Bogor; Telp: 0251-336541

-         Puskesmas Bogor Tmur: Jl. Pakuan No.6 Bogor; Telp: 0251-358271

Cimahi

-         Puskemas Cimahi Tengah; Jl Pasar Atas No.5 Koya Cimahi; Telp: 022-6630213

-         Puskesmas Cimahi Utara; Jl Serut No. 12

Depok

-         Puskesmas Kemiri Muka; Jl. Juanda RT02/03 Pipa Gas Pertamina Kota Depok; Telp: 021-78883835

-         Puskesmas Sukmajaya; Jl. Arjuna Raya No. 1 Depok II Tengah; Telp: 021-77824908

 

2.      KIE (komunikasi, informasi dan edukasi)

Komunikasi, Informasi dan Edukasi yang biasanya berupa informasi media cetak (poster, leaflet, sticker, buku, dll) ataupun informasi melalui media massa (cetak dan elektonik). Media cetak melalui surat kabar dan majalah sedangkan media elektronik memalui radio dan televisi. Beberapa bentuk tayangan di televisi adalah iklan masyarakat, talkshow yang membahas isu mengenai program HR.

3.      Care Support and Treatment (CST)

Care, Support dan and Treatment adalah perawatan dukungan dan pengobatan khususnya untuk penasun yang telah terinfeksi HIV. Bentuk dukungannya adalah bagaimana sesama penasun saling berbagi perasaan mengenai status maupun segala hal terkait dengan status HIVnya sehingga dapat saling menguatkan. Biasanya terbentuk kelompok dukungan sebaya (KDS) di beberapa tempat. Terdapat beberapa RS rujukan untuk layanan CST, khususnya pengobatan Anti Retroviral (ART) untuk orang yang telah masuk tahap AIDS.

4.      Sustitusi oral (methadone)

Susbtitusi oral adalah adanya perubahan perilaku yang diharapkan terjadi di dalam program, HR. Perubahan itu adalah salah satunya dengan tidak menggunakan jarum suntik dalam penggunaan napza. Methadone adalah pengganti opioid yang efeknya hampir sama tetapi berbentuk cairan yang dicampur dengan sirop. Kelebihan methadone adalah dapat bertahan hingga 36 jam. Methadone ini telah ada di layanan baik itu Rumah Sakit maupun puskesmas yang ditunjuk dari Dinkes setempat dan atas keputusan Menteri Kesehatan.

Program Terapi Rumatan Methadone yang berdasarkan SK Menkes adalah:

1.      RSHS (Hasan Sadikin), Bandung

2.      RSUD Tasikmalaya

3.      RSUD Sukabumi

4.      RSUD Bekasi

5.      Puskesmas Bogor Timur

6.      Rumah Tahanan Bandung

7.      Lembaga Pemasyarakatan Banceuy

Menyusul 3 Puskesmas yang akan aktivasi program Methadone adalah:

1.      Puskesmas Pondok Gede, Kota Bekasi

2.      Puskesmas Sukmajaya, Kota Depok

3.      Puskesmas Selabatuy, Kota Sukabumi

Bila program HR ini bisa berjalan dengan baik dan dukungan penuh dari keluarga penasun atau bahkan dari masyarakat, maka akan lebih mudahlah untuk memutus mata rantai penularan HIV baik itu ke sesama penasun atau ke pasangan dan ke masyarakat yang berisiko rendah.

 

13 Juni 2010

Siang hari di saat matahari terik-teriknya,

1 komentar pada warta ini
Selasa, 15-06-2010 01:00:54 oleh: Anisah Wheatley

Very informative, sis! Nulis teruss!



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY