Wikimu - bisa-bisanya kita

Retty N. Hakim

Pelajaran Dari Balik Ceria Warna Sulaman Tangan Korea Selatan Di Museum Nasional

Kamis, 15-10-2009 10:56:26 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Peristiwa

Dari tanggal 13 Oktober 2009 sampai tanggal 18 Oktober 2009, di Museum Nasional, Jakarta, dipamerkan karya sulaman dari Korea Selatan dalam Pameran "Koran Embroidery Exhibition". Pameran ini adalah sebagian dari rangkaian acara Pekan Budaya Korea Selatan yang diadakan di Jakarta.

Kurator pameran adalah Han Sang-soo, seorang seniman sulam Korea Selatan, yang juga mendirikan sebuah museum khusus sulam "The Hang Sang Soo Embroidery Museum" di Seoul. Seniman ini mendapatkan gelar kehormatan sebagai aset penting dalam pengembangan budaya non bendawi (Important Intangible Cultural assets) karena jasanya mencari dan mengembangkan kembali teknik sulam yang hampir punah. Hal ini menjawab tanda tanya yang terbersit di benak melihat profil yang mencantumkan "Important Intangible Cultural assets no. 80 Master of Embroidery (Jasujang)".

Dalam pembukaan pameran, perempuan yang dilahirkan tahun 1934 itu terlihat lincah dan ramah menerangkan koleksi yang dipamerkan, serta menjawab pertanyaan wartawan. Salah satu jawabannya yang sempat saya dengar diterjemahkan oleh penerjemah bagi seorang wartawati dari stasiun televisi adalah pujian bagi pemerintah Korea Selatan yang selalu mendukung upaya mengangkat warisan kekayaan budaya berupa sulaman itu.

Menelusuri internet, saya membaca betapa pemerintah Korea Selatan sejak tahun 1964 sudah berusaha untuk mendata dan memelihara kekayaan budaya non bendawi mereka. Dari situs UNESCO terbaca bagaimana pemerintah Korea Selatan memberikan hak-hak dan kewajiban bagi mereka yang terpilih untuk menjadi aset nasional seperti Han Sang-Soo. Salah satu kewajiban itu adalah menurunkan ilmu yang mereka miliki kepada generasi penerus. Kelalaian dalam menurunkan ilmu ini akan mengakibatkan dicabutnya gelar istimewa tersebut. Berbagai kemudahan dan bantuan menjadi bagian dari hak para seniman tersebut, yang memungkinkan mereka berkonsentrasi pada penelitian dan pengembangan karya seni yang mereka geluti.

Seni sulam mulai dikenal di Korea sejak zaman dinasti Goryeo (918-1392). Teknik sulam yang berasal dari Persia ini melintasi India dan China sebelum tiba dan kemudian juga berkembang di Korea. Kebanyakan karya yang berhasil ditemukan berasal dari dinasti Joseon (1392-1910), dan seni sulam yang indah itu pada awalnya lebih dikenal sebagai karya sulam dalam lingkup istana.

Keindahan seni sulam ini katanya berasal dari impian dan harapan para wanita Korea yang tidak diperkenankan keluar rumah, dan mereka mematrikan impian dan harapan mereka melalui setiap tusukan jarum sulamnya. Ibu yang menyiapkan gaun pengantin bagi putrinya juga mematrikan harapan bagi masa depan putrinya dengan menyulamkan lambang-lambang yang mengandung makna kekayaan dan kemakmuran hidup. Di antara benda pamer simbol-simbol itu beserta simbol panjang umur tampak cukup sering tampil.

Saya jadi teringat akan seni membatik dari Indonesia yang baru saja mendapat pengakuan sebagai kekayaan budaya non bendawi dari UNESCO. Perlambang dari kesabaran serta ketekunan dalam menggambarkan motif, serta proses memberi malam, mewarnai dan mengeringkan, mewarna lagi, hingga akhirnya tercipta sebuah kain yang indah. Tampaknya hal itu  merupakan buah kesabaran dan ketekunan yang sama dengan kesabaran dan ketekunan para penyulam dari Korea Selatan itu. Demikian pula dengan ketekunan para penenun tradisional kita yang juga menenunkan perlambang akan kekayaan, kesehatan, ataupun kesuburan dalam lembaran kain yang ditenunnya. 

Kain adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga ia juga menjadi bagian dari kebudayaan yang sangat erat hubungannya dengan filosofi dan adat istiadat suatu bangsa. Dalam brosur tipis yang dibagikan dalam pembukaan pameran dikatakan bahwa bukan keindahan hasil akhir yang terpajang yang merupakan inti dari kesenian sulam Korea ini, melainkan dalam proses terciptanya sebuah kreasi. Tidak ada hasil indah yang bisa dijadikan bila tidak disertai pengorbanan waktu, usaha, dan devosi terhadap pekerjaan tersebut. Dalam zaman serba cepat, dimana kecepatan bagaikan "dewa" yang diburu manusia, maka ketekunan dan kesabaran dalam merangkaikan warna-warni indah dalam tekstur tebal tipis khas Korea itu merupakan suatu dimensi yang mengembalikan kembali manusia ke masa sebelum mesin menjadi "raja".

Dalam pameran ini ada juga demo pengerjaan sulaman oleh murid-murid Han Sang-soo, satu diantaranya masih tampak sangat belia. Dari demo tersebut bisa terbayangkan berapa lama sebuah karya sulam dikerjakan, dan bagaimana ketenangan dan ketelitian menjadi sangat penting dalam proses kreatif ini.

Dari sekitar seratus benda pamer dari koleksi Han Sang-soo yang berasal dari berbagai tempat selama 30 tahun, serta koleksi hasil karyanya sendiri selama 40 tahun, kita bisa menatap warna warni Korea Selatan sembari diingatkan betapa pentingnya regenerasi sumber daya manusia untuk menjaga dan mengembangkan karya tradisional, kekayaan budaya non bendawi yang sudah berasal dari abad-abad yang silam.

2 komentar pada warta ini
Minggu, 18-10-2009 21:53:16 oleh: kathryn

beritanya akan lebih "wah" kalo yg pake busana korsel itu elo Ret ....:)


Senin, 19-10-2009 08:27:34 oleh: Retty

Hehehe...belum pernah tuh nyobain "hanbok". Malahan baju bodo dari Makassar juga belum pernah pakai...soalnya sarungnya pakai sutra, aku alergi sutra. Tapi yang paling penting, kebaya atau baju kurung kelihatan lebih langsing hehehehe....



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY