Wikimu - bisa-bisanya kita

Bayu

Solusi Barbar Pemberantasan Korupsi

Senin, 15-06-2009 15:50:43 oleh: Bayu sudi gunawan
Kanal: Opini

Satu hal menarik yang saya temukan di posting pak Das (begitu saja saya menyebutnya supaya mudah) adalah, walaupun masih dalam perenungan beliau, tawaran solusi temannya berupa pemenggalan satu atau dua generasi untuk mengatasi masalah-masalah yang ada (gampangnya, sebut saja korupsi) di negeri ini.

Memenggal satu atau dua generasi untuk mendapatkan generasi yang murni dan tidak terkontaminasi oleh pemerintahan-pemerintahan sebelumnya sungguh merupakan usulan yang sangat berani walaupun bisa disebut juga sebagai usulan “kelewatan”. Pada satu sisi, usulan semacam ini sangat idealis bahkan cenderung utopis serta menyederhanakan masalah. Sah memang untuk diusulkan dan tidak ada yang melarang. But, semudah itukah dan apakah ada jaminan bahwa setelah memenggal satu atau dua generasi dengan otomatis akan diperoleh generasi baru yang “bersih”. Tidak juga. Paling tidak itu yang saya yakini. Tidak semudah itu.

Ada beberapa persoalan yang perlu dipertanyakan untuk menanggapi usulan tersebut, baik masalah/persoalan etis dan atau praktis. Dari sisi etis, persoalannya adalah siapa yang pantas atau berhak melakukan pemenggalan ini? Memenggal satu atau dua generasi bukan hal yang main-main. Masalah etis selanjutnya adalah, apa dan bagaimana kriteria eksekutor yang pantas dan sah untuk melakukan tindakan ini? Manusiakah dia atau Tuhankah Dia yang harus melakukan hal ini? Ini persoalan yang sangat sederhana yang harus dijawab oleh orang yang mengajukan saran seperti ini.

Untuk memudahkan pemahaman saya akan memakai analogi tikus, rumah, pemilik rumah dan kampung. Kita katakan saja korupsi dsb dan yang sebangsanya sebagai tikus. Kita tahu tikus itu memang ada walaupun bersembunyi dan hampir tidak kelihatan. Mungkin kita pernah “digigit” oknum tikus dan merasakan sakit yang luar biasa karena berdarah-darah dan keluar banyak biaya untuk pengobatan. Tikus ada, korbannyapun ada.

Tikus-tikus itu ternyata hidup di sebuah rumah di dalam sebuah perkampungan padat penduduk. Kita umpamakan rumah sebagai sebuah institusi-apapun nama dan bentuknya bukan hanya institusi pemerintahan. Rumah itu ada di sebuah perkampungan padat penduduk yang kita umpamakan dengan negara kita tercinta Indonesia. Dan satu lagi, ada pemilik rumah yang saya analogikan sebagai pemerintah dan perangkatnya walaupun sesungguhnya pemilik rumah adalah rakyat. Tapi dalam analogi ini, untuk memudahkan dan karena mereka yang pegang kendali, pemerintahlah yang kita sebut pemilik rumah.

Sekarang kita jejerkan kasusnya. Ada orang digigit tikus. Tikusnya sembunyi di sebuah rumah besar. Rumah itu ada di sebuah perkampungan padat penduduk. Pemilik rumah tahu kalau tikus yang sembunyi di rumahnya sudah menggigit orang. Seperti ini urutannya. Dengan mengacu kepada kronologi diatas, tiba-tiba ada orang yang mengusulkan bakar saja kampungnya supaya nanti tidak ada tikus lagi. Bukan cuma kampungnya yang dibakar habis tetapi penduduk kampungnya juga hanya karena ada orang digigit oleh satu atau beberapa ekor tikus. Adilkah? Apakah kita juga cukup, memiliki keberanian atau percaya diri untuk mengatakan hal seperti itu? Kalaupun kita cukup memilikinya, apa alasannya? Kenapa juga penduduk kampung yang jelas-jelas bukan tikus harus ikut dibinasakan supaya dapat tikus baru yang lebih bersih.

Di sini saya melihat adanya ketidakadilan dan kesewang-wenangan. Usulan memenggal satu atau dua generasi memang “diawang-awang” bisa dipikirkan tetapi sulit diaplikasikan di tataran praktis. Kalau dirasa memenggal satu atau dua generasi dirasa mampu untuk mengatasi persoalan yang saat ini ada, bagi saya hal itu kelihatan sangat dipaksakan. Kalaupun dipaksakan, bukan hanya manusia-manusia tertentu atau generasi tertentu yang harus dipenggal. Semuanya saja—ya manusianya, ya tempat hidupnya dan kemudian diciptakan manusia-manusia baru dan bumi baru. Atau yang paling sederhana, ciptakan robot-robot yang tidak mempunyai kehendak dan keinginan yang didalamnya sudah ditanamkan program tertentu.

Inilah masalahnya, dipenggal macam apapun dan berapa generasipun, tetap saja potensi untuk berbuat curang atau hal yang tidak benar tetap ada. Jangan terlalu mengkhawatirkan dan selalu menuding “virus” dari luar sebagai kambing hitam untuk kebobrokan yang terjadi. Faktanya, “virus” yang paling ganas dan mematikan adalah virus yang ada di dalam diri setiap kita. Keserakahan, kesombongan dan kelaliman itulah hal yang harus kita waspadai. Virus luar boleh diwaspadai dan dicurigai tetapi yang di dalam inilah yang harus lebih di waspadai.

Intinya adalah, memenggal satu atau dua generasi bukan upaya yang baik dan pas untuk menyelesaikan masalah seperti korupsi dan kebobrokan mental. Hal semacam itu hanya akan menimbulkan persoalan baru lagi yang lebih berat. Kejahatan tidak bisa dilawan dengan menghilangkan banyak manusia karena kejahatan akan tetap ada dan terus ada selama manusia ada.


Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY