Wikimu - bisa-bisanya kita

Retty N. Hakim

Adi Wastra Nusantara, Kemilau Tekstil dan Perhiasan Nusantara

Sabtu, 18-04-2009 09:39:52 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Peristiwa

Dari tanggal 15 sampai 19 April 2009, di Hall A-B Balai Sidang Jakarta berlangsung Pameran Kain Tradisional Unggulan dan Seni Kriya Wastra. Tema yang diusung kali ini, “Wastra Adati Menunjang Ekspresi Kreativitas Seni Kriya”. Tampaknya pantia penyalenggara pameran, Wastraprema (Himpunan Pencinta Kain Adati Indonesia), mencoba mengusung gemerlap kekayaan budaya dari masa lampau, membawanya menelusuri masa kini dan bersiap menyongsong masa yang akan datang.

Memasuki ruang pameran maka pengunjung diajak untuk melihat bagaimana rumitnya proses kriya tekstil tradisional Indonesia. Pesona keindahan tenun pandai sikek, kain yang lebih dikenal umum dengan sebutan songket Minangkabau, tampak ditenun dengan seksama. Satu demi satu benang emas diloloskan mengikuti pola tradisional yang dicontoh sang pengrajin hanya dengan melihat kain contohnya. Tidak jauh dari pengrajin ini terlihat pula kesabaran para ibu pembatik melukiskan malam di atas kain membentuk titik-titik yang merangkai desain batik yang mereka kerjakan.

Di seberang ruangan tampak koleksi gaun modern yang menggunakan paduan kain batik atau kain tradisional lain, karya dari para siswa ESMOD. Karya mereka juga mengiringi langkah pengunjung memasuki pameran aneka penutup kepala tradisional Nusantara. Tampak berbagai koleksi menarik baik dari khazanah emas di seluruh Nusantara, maupun hiasan kepala bermahkotakan burung enggang yang khas Kalimantan. Dalam siraman cahaya pameran keindahan mereka sungguh tak terjabarkan. Sayang sekali baru mulai mengambil foto saya sudah diberi peringatan untuk tidak memotret obyek pamer.

Di ruang lain, program Studi Kriya dari FSRD-ITB juga tampil memukau dengan penjelajahan mereka terhadap berbagai serat dari bahan alam. Penjelajahan mereka terhadap tekstur dan desain produk tampil mempesona. Di ruangan ini, kreativitas yang ditampilkan bukan sekedar dari pengolahan tekstur, warna, dan bentuk, tetapi bahkan merambah ke dalam bidang ICT seperti yang ditampilkan oleh dalam batik Fractal melalui jBatik, sebuah software dalam platform java yang dikembangkan oleh Pixel People Project Research and Design. Seni, sains, dan teknologi merupakan tiga hal yang terangkum disini, dimana pola batik diterjemahkan dalam matematika dan diterapkan ke dalam software guna menciptakan desain-desain baru.

Kreativitas rasanya menjadi kata kunci di dalam pameran ini. Desainer Oscar Lawalata yang  memenangkan The International Young Creative Entrepeneur Award (IYCE) 2009 dari British Council, tampak menuangkan kreativitasnya dalam brosur yang dibagikannya dalam lipatan unik serupa baju. Setiap brosur yang menempatkan sepotong contoh kain yang berbeda, memperkenalkan empat merek yang diusungnya, The Bodo, Ikat, Lok Chan, dan katunkatunku.

Sebuah teknik menjahit yang tampak rumit, dan juga terlihat di gerai Oscar Lawalata, terlihat dominan di stand “dina midiani”. Menurut Stefanie Lim yang saya temui disana, teknik itu sudah lama mereka gunakan, yaitu teknik ‘brush out’. Sebuah teknik yang menggunakan sikat untuk mengeluarkan serat-serat kain dan menimbulkan aksen khas dari pakaian tersebut. Kalau sebelumnya mereka lebih banyak melayani pembelian dari luar negeri terutama dari Korea Selatan, maka sekarang mereka mulai mencoba untuk menipiskan layer yang digunakan dalam membuat pakaian agar sesuai dengan cuaca di Indonesia. Perpaduan dalam desain ‘brush out’ dengan tambahan kain tradisional Indonesia  sebagai aksen (tanpa teknik brush out) tampak menjadikan salah satu pakaian yang mereka pajang memiliki nuansa etnik modern.

Tekstil dan seni kriya sebagai sumber pendapatan daerah sepertinya disadari sebagai salah satu jalan keluar dalam menghadapi krisis keuangan. Potensi pasar lokal yang besar menjadi lirikan produsen yang mulai merasakan dampak krisis ekonomi global. Demikian pula potensi lokal sebagai produsen terasa semakin perlu dibina dan dikembangkan sebagai basis kebangkitan ekonomi rakyat. Hal ini tampaknya yang ingin ditampilkan oleh Kabupaten Sidoarjo yang mengusung topik “Ekonomi kerakyatan, jiwa dan nafas Sidoarjo bangkit membangun masa depan” . Dalam kesempatan kali ini kabupaten Sidoarjo memperkenalkan batik Sidoarjo, serta kerajinan border dan sulam pita. Mereka juga menginformasikan keberadaan kampung batik Jetis yang sudah eksis sejak tahun 1675. Bahkan dalam Katalog Kerajinan Sidoarjo diperkenalkan juga produksi lainnya seperti gitar, ukiran kaca , maupun miniatur kapal. Walaupun barang yang dipamerkan fokus ke seni batik, border, dan sulam pita, tampaknya Kabupaten Sidoarjo tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk promosi hasil karya seni kriya lainnya dalam usaha meningkatkan prospek masa depan pengrajin Sidoarjo yang saat ini lebih terkenal karena permasalahan Lumpur Lapindo. Menurut Ir. Nurul Huda dari gerai ini, walaupun hanya tiga desa yang terkena lumpur tetapi dampak kesulitan sarana transportasi serta jatuhnya kepercayaan bank dalam jaminan tanah bagi penerbitan garansi LC cukup memukul para pengrajin Sidoarjo. Karena itu kesempatan ini juga mereka gunakan untuk menginformasikan eksistensi pengrajin dari kabupaten ini.

Sejarah merupakan suatu bagian yang tampaknya ingin pula diungkapkan tanpa beban politik, karena itu tidak heran kalau wajah almarhumah Ibu Tien Soeharto ikut menyapa di salah satu sudut ruang. Itulah pojok yang menampilkan koleksi dari Museum Purna Bhakti Pertiwi. Museum yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah ini memang memiliki koleksi cinderamata dari berbagai pelosok dunia yang diberikan oleh para tamu Negara RI, sahabat, ataupun kenalan presiden kedua RI Soeharto. Ibu Tien Soeharto memang banyak berperan dalam menggagas berdirinya museum ini serta keberadaan Taman Mini Indonesia Indah. Bersebelahan dengan stand ini tampak pula stand Negara tetangga seperti Filipina dan Thailand.

Bukan hanya koleksi museum yang ditampilkan dalam pameran ini. Koleksi pribadi maupun koleksi galeri, baik berupa kain kuno maupun perangkat interior tampaknya ikut serta mengisi ruang pamer. Terlihat antara lain koleksi batik kuno Mariana Sutandi, yang sebagian mengingatkan saya pada koleksi kain sarung oma saya, atau koleksi Mila House yang menarik saya dengan batik bergaya Belanda yang mengingatkan pada koleksi batik museum nasional.

Secara umum pameran yang mematok karcis tanda masuk Rp. 10.000,- ini sangat menarik untuk dikunjungi. Bukan hanya menawarkan pengetahuan akan kekayaan masa lalu bangsa, melainkan juga memicu timbulnya ide-ide kreatif baru yang bisa digunakan di masa mendatang. Khusus bagi warga senior yang sudah berusia di atas 60 tahun, ada keistimewaan yaitu bebas dari keharusan membeli karcis tanda masuk. Tentunya untuk kunjungan di akhir pekan harus lebih berhati-hati karena kemungkinan jumlah pengunjung lebih banyak dan sirkulasi pengunjung di dalam arena pameran menjadi padat dan kurang nyaman.

1 komentar pada warta ini
Minggu, 19-04-2009 15:18:32 oleh: biliater situngkir

maksudnya tiga batu spesial ditungku tradisonal itu, yang mana...?
apa yang kakak maksud dalihan na tolu ya..?



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY