Wikimu - bisa-bisanya kita

wawan

KAIN KAFAN DARI TURIN, KISAH SENGSARA YESUS DAN KUASA ILAHI

Senin, 01-01-0001 00:00:00 oleh: wawan
Kanal: Lain - lain

KAIN KAFAN DARI TURIN, KISAH SENGSARA YESUS DAN KUASA ILAHI

Kain kafan dari Turin merupakan salah satu misteri besar yang belum 100% terpecahkan oleh ilmu pengetahuan modern. Kain kafan ini merupakan salah satu peninggalan Yesus yang masih terawat.

 

 

Penelitain Ilmiah

Kain kafan dari Turin merupakan salah satu misteri dunia yang sampai saat ini belum terpecahkan. Sudah banyak penelitian yang dilakukan, meliputi sekitar 30 cabang ilmu pengetahuan. Dari 30 cabang bidang penelitian hanya satu bidang, yaitu uji Carbon-14, yang gagal membuktikan bahwa kain kafan dari Turin berasal dari jaman hidup Yesus. Namun dalam penelitian uji Carbon-14 kedua, kain kafan dari Turin mampu dibuktikan berasal dari jaman kehidupan Yesus. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana proses ilmiah yang terjadi sehingga gambar kain kafan dari Turin bisa tercipta.

Menurut penelitian-penelitian tersebut gambar dalam kain kafan dari Turin diduga terkait erat dengan proses pemakaman Yesus. Menurut tradisi Yahudi, sebelum dimakamkan, jasad seseorang harus dimandikan tujuh kali, dicukur seluruh rambut yang ada pada tubuhnya, kemudian dalam makam jasad tersebut ditaburi rempah-rempah dalam jumlah banyak. Namun tradisi ini tak bisa dijalankan karena Yesus wafat hari Jumat 7 April tahun 30 Masehi jam 3 sore. Dan menurut perhitungan Yahudi, Jumat sore selepas jam 6 sudah dihitung sebagai hari Sabat. Dan jika mayat seseorang disimpan pada hari Sabat, diangap sebagai kenajisan. Rempah-rempah, keringat dan darah Yesus inilah yang diduga menyebabkan gambar dalam kain kafan dari Turin.

Setelah Yesus bangkit, Petrus dan Yakobus mendapati kain kafan dalam keadaan kosong. Posisi kain kafan tersebut masih sama dengan ketika Yesus dimakamkan. (Tidak seperti yang dinyatakan dalam kisah Jalan Salib bahwa kain kafan terlipat.) Kesaksian ini menunjukkan bahwa kain kafan yang menutupi bagian atas tubuh Yesus turun mengempis menembus tubuh Yesus. Tiadanya tanda-tanda pengelupasan pada permukaan kain kafan mendukung hipotesis ini. Demikian juga dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada bercak darah yang terlacak pada permukaan kain kafan. Bulu-bulu kain pada permukaan kain kafan juga ditemukan kehilangan kadar air. Tidak diketahui apa yang menyebabkannya. Tiadanya jejak-jejak proses pembusukan pada permukaan kain kafan menunjukkan bahwa manusia kain kafan bangkit kurang dari 40 jam setelah wafat.

Hanya ada satu kemungkinan penyebab terbentuknya gambar dalam kain kafan ini, yaitu dengan bantuan cahaya. Yang menjadi persoalan di dalam makam Yesus tidak ada cahaya yang bisa masuk. Para ahli menduga bahwa cahaya ini berasal dari tubuh Yesus sendiri. Cahaya ini dikaitkan dengan Yesus yang menerima kembali kemuliaan-Nya. Dipercaya bahwa sebelum dan sesudah kebangkitan Yesus, hanya ada satu peristiwa sejenis yang terjadi, yaitu peristiwa di Gunung Tabor.

Siapa yang pertama kali mengambil kain kafan dari kubur Yesus, hingga saat ini belum terungkap. Kerahasiaan ini bisa dipahami karena menurut adat-istiadat mereka, yang menyimpan benda-benda dari kubur dianggap najis sehingga harus dihukum mati. Selain itu musuh-musuh pengikut Kristus juga ingin menghancurkan. Sehingga kain kafan ini harus berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan lain. Kain kafan ini juga mengalami pemendekan sekitar satu meter karena banyak raja yang menginginkan relikwi Yesus.

Menurut asalnya ada dua macam gambar yang terdapat pada kain kafan dari Turin. Pertama, gambar dari noda darah yang melekat pada kain kafan. Dan kedua, gambar yang tidak diketahui cara terbentuknya. Kedua gambar ini terpisah, tidak menyatu. Para ahli menduga noda darah menyebabkan kedua gambar tidak menyatu karena noda tersebut menghalangi cahaya yang diperkirakan sebagai penyebab terbentuknya gambar kedua.

Penelitian pada kain kafan menunjukkan bahwa ada dua macam darah yang menodai kain tersebut. Keduanya adalah darah hidup (darah segar yang langsung menodai kain kafan) dan darah mati (darah beku yang menempel pada kain kafan sehingga bernoda). Pada penelitian terhadap komposisi darah tersebut ditemukan bahwa ada darah yang berasal dari pembuluh arteri dan dari pembuluh vena. Sedang temuan golongan darah AB, merupakan petunjuk kuat bahwa kain kafan tersebut pernah digunakan oleh Yesus karena sebagian besar orang Yahudi bergolongan darah AB.

Dari gambar yang terdapat pada kain kafan dari Turin bisa dilacak jenis-jenis luka yang diderita oleh manusia kain kafan. Pertama, luka cambuk (flagrum taxillatum). Luka cambuk berukuran kecil berujud luka memar, luka iris dan luka cabik. Berdasarkan penelitian, terdapat 121 luka cambuk pada gambar kain kafan tersebut. Jumlah ini jauh lebih besar dari angka 40 yang ditetapkan oleh hukum Roma. Luka-luka ini diarahkan pada bagian-bagian yang tepat sehingga tidak akan menyebabkan terhukum mati secara langsung. Karena jika terhukum terbukti mati oleh cambukan, maka algojo yang mengeksekusi akan dihukum mati. Menurut hukum Roma, ada tiga bentuk hukuman, yaitu hukum mati dengan cambukan, hukum mati dengan penyaliban dimana didahului dengan pencambukkan sebanyak 20 kali, dan hukum cambuk sebagai pelajaran agar jera. Pilatus menyatakan bahwa ia hanya akan mencambuki Yesus sebagai pelajaran, setelah itu dilepaskan. Temuan-temuan ini memperkuat dugaan konspirasi untuk membunuh manusia kain kafan.

Kedua, luka pemahkotaan duri. Pemahkotaan duri tidak dikenal dalam tradisi Roma. Diduga kuat pemahkotaan ini adalah budaya Timur Tengah, karena saat itu tentara Roma adalah tentara bayaran, kecuali untuk perwira-perwiranya. Tentara yang ditempatkan di Palestina berasal dari orang-orang Arab. Dan di Arab, tradisi pemhakotaan duri memang ada. Duri-duri yang dianyam sehingga menutupi seluruh kepala ini sangat tajam, mudah patah dan getahnya mengandung racun. Sehingga jika duri ini ditancapkan pada kepala sampai patah, akan terasa sakit sekali. Dari gambar pada kain kafan, terhitung ada lebih dari 50 luka di kepala. Ketiga, kata-kata “Ecce homo.” Pilatus hanya mengatakan demikian tentang Yesus karena Yesus kelihatan sangat menjijikkan.

Keempat, manusia kain kafan memanggul kayu palang (bukan salib seperti terjemahan Injil di Indonesia) yang sangat kasar. Kayu ini diikatkan pada tangan (supaya yang bersangkutan tidak membuangnya) dengan posisi sisi kanan lebih tinggi dari sisi kiri. Posisi ini disebabkan oleh dua hal, yaitu jalan yang sempit dan karena ujung kayu palang sisi kiri diikatkan dengan kaki kiri. Pengikatan pada kaki ini diperlukan agar yang bersangkutan tidak lari. Dalam hukum Roma, jika vonis telah dijatuhkan, maka proses peradilan telah selesai. Jika terpidana mampu meloloskan diri, ia bebas dari hukuman dan tak bisa diadili kembali (nebis in idem). Jika terpidana mampu meloloskan diri, maka prajurit yang bertugas harus mempertanggungjawakannya dengan hukuman. Oleh karena itu semua penjahat yang telah dipidana dibuat supaya tak mampu meloloskan diri.

Ketika itu Yesus disalibkan bersama dua penjahat lain. Yesus berjalan pada posisi paling belakang di mana kayu palang ujung kanan diikatkan pada kayu palang penjahat lain. Jika salah satu penjahat jatuh, maka lainnya juga akan terjatuh. Akibatnya, pada kain kafan terlihat wajah yang penuh luka. Karena Yesus kelihatan kepayahan, maka tentara memaksa Simon membantu memanggulkan kayu palang Yesus. Simon sebenarnya tidak mau, karena menolong penjahat oleh adat setempat dianggap sama jahatnya. Saat itu jarak mereka dengan Golgota (Golgota adalah bukit kecil dengan tinggi sekitar 20 meter, bukan gunung seperti dalam Injil terjemahan bahasa Indonesia), sekitar 50 meter dari 500 meter jarak keseluruhan Golgota-rumah Pilatus. Karena terlihat kepayahan, Yesus kemudian dipapah (berbeda dengan Injil terjemahan bahasa Indonesia: Yesus masih mampu berjalan sendiri).

Di Golgota, pergelangan tangan (bukan telapak tangan) dan kakinya dipaku pada kayu palang dan dinaikkan pada salib (hanya palangnya yang dinaikkan, bukan mendirikan seluruh salib seperti gambar-gambar jalan salib) yang tingginya hanya dua meter (berbeda dengan gambar-gambar jalan salib: salib tinggi sekali). Dalam posisi tergantung dengan tangan lurus serong ke atas, seseorang akan sulit bernafas sehingga ia harus mendorong badannya ke atas condong kanan (karena jika condong ke kiri jantung akan tertekan). Dalam posisi seperti ini orang akan cepat mati. Setelah wafat, dada kanan manusia kain kafan ditusuk dengan tombak sehingga terluka dengan ukuran 5 cm x 1,5 cm. Tusukan ini menembus sesuatu (diduga rongga kantong jantung) sehingga darah dan air kemudian menyembur (bukan mengalir) dari luka tersebut. Kantong jantung (pericardium) Yesus penuh air dan darah diduga karena jantung Yesus pecah dan juga pendarahan dalam ketika Yesus jatuh dan tertimpa kayu palang.

Menurut penelitian medis, diduga manuisia kain kafan wafat lebih cepat bukan karena disalibkan, namun karena proses penyiksaan yang dialami sebelum penyaliban. Para ilmuwan sependapat bahwa Yesus mati karena jantungya pecah. Sesaat sebelum meninggal Yesus berteriak dengan suara nyaring. Teriakan ini diduga disebabkan oleh rasa amat sangat sakit yang karena jantung-Nya pecah. Yesus kemudian menundukkan kepala untuk menyerahkan rohnya kepada Bapa. Proses ini menunjukkan bahwa Yesus masih sadar sampai kematian datang.

Jalan Salib sendiri muncul saat Perang Salib. Saat itu orang-orang Katholik Eropa tak mampu datang ke tanah suci. Mereka kemudian membuat Jalan Salib sendiri di Eropa berdasar devosi-devosi. Akibatnya, perhentian-perhentian pada Jalan Salib tidak berdasar ilmu namun berdasar Devosi.

 

 

Kajian Teologis

Seluruh hidup Yesus sebenarnya merupakan kisah sengsara. Karena sebenarnya ada empat level sengsara, yaitu sengsara sakramental, sengsara moral/spiritual, sengsara fisik dan sengsara aktual. Melalui Ekaresti Yesus rela dimakan dimanapun dan kapanpun. Kerelaan ini disebabkan oleh cinta Yesus kepada manusia. Sengsara sakramental ini masih berlangsung sampai sekarang. Sengsara moral/spiritual merupakan kesengsaraan yang paling berat. Dalam sengsara moral/spiritual Yesus difitnah, diserahkan dengan ciuman murid-Nya, ditolak oleh rakyat, ditelanjangi dan dianggap sebagai penjahat. Melalui kain kafan kita bisa melihat seberapa jauh manusia bisa melakukan penyiksaan fisik. Dan Yesus tidak membalasnya. Sedang melalui kesengsaraan aktual kita diajak memahami bahwa kesengsaraan yang kita ciptakan kepada sesama akan membuat Kristus menderita.

Mengapa Yesus sengsara? Apakah karena ciuman Yudas, apakah karena persekongkolan imam kepala, apakah karena pilatus? Tidak. Yesus sengsara karena dikehendaki oleh Allah. Jika ada orang yang terlibat secara negatif, itu merupakan persoalan lain. Yesus sengsara karena Allah lebih mencintai manusia dari pada Putra-Nya. Dalam kisah sengsara menurut Injil, Yesus diserahkan untuk menderita. Namun Yesus juga rela menyerahkan dirinya karena cinta yang besar kepada manusia. Melalui jalan kesengsaraan inilah Yesus mencapai kemuliaan. Pesan yang ingin disampaikan Yesus adalah siapa yang ingin mulia harus sengsara. Sengsara adalah jalan satu-satunya menuju kemuliaan ini. Kita diajak untuk terlibat dalam kesengsaraan ini.

Namun penderitaan ini tak perlu dicari. Karena penderitaan ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Penderitaan hadir ketika manusia ambil bagian dalam keselamatan sesamanya. Kita juga bisa menjadi silih bagi orang lain. Melalui silih ini manusia membantu sesamanya mencapai keselamatan. Tuhan telah mencintai kita. Maka sudah menjadi tugas kita untuk mencintai sesama. Caranya dengan berkorban demi keselamatan orang berdosa. Dengan memurnikan hidup kita, maka kita akan jauh dari dosa.

Paulus dari Salib, pendiri Kongregasi Pasionis, menyatakan bahwa sengsara Yesus tak bisa dihilangkan dari iman manusia. Dengan merenungkan, meresapi, menghayati dan mewartakan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus, hidup moral orang Kristen tetap terjaga. Melalui proses ini kita akan sampai pada pemahaman bahwa sengsara Yesus merupakan karya terbesar Tuhan, karena membutuhkan pengorbanan. Dalam sengsara, akan timbul pasio, yaitu sebuah keinginan besar yang tak bisa lagi dibendung. Oleh karena itu, melalui sengsara Yesus manusia diajak untuk bersikap memoria, yaitu menghadirkan cinta-Nya dalam hidup manusia.

 

Selamat Paskah


Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY