Wikimu - bisa-bisanya kita

Mira Tj

Mengaudit Mall di Jakarta

Jumat, 30-01-2009 15:55:41 oleh: Mira Tj
Kanal: Layanan Publik

Tadinya malah mikir… bagus juga kali ya kalau dibuat buku. Mungkin judulnya “Jakarta Mall Review”. Keren. Kebayang saya musti jalan setiap wiken mengunjungi satu per satu mall di Jakarta. Kebayang saya musti minta adek nyetirin ke mall-mall ini, me-review semua tempat parkir di mall-mall tersebut. Kebayang, tiap kali ke mall, musti nyobain WC-nya, nyobain musholla atau mesjidnya, dan kepala mesti sering-sering ndangak cari papan petunjuk mall.

Bab pertama buku tersebut akan berisi definisi dari mall itu sendiri. Pasar seperti apakah mall itu, pasar seperti apa yang saya periksa. Saya mungkin tidak akan me-review pasar tradisional, karena… emangnya masih ada? Mhueheheheehhhh.

Eniwei, setelah saya pikir dalam-dalam… ndak jadi ah bikin buku begituan. Pertama: too much work. Bikin hidupku ndak fokus. Kedua: nanti saya bisa dimusuhi mall-mall se-Jakarta. Di setiap pintu masuk akan ditempel foto saya seukuran A3: “Cewe yang ini dilarang masuk !” Bahaya ituuuuu.

Jadi sekarang saya beraninya cuma nulis di Wikimu. Itu juga ngga pakai nyebut-nyebut mall mana yang jelek-jelek itu. Insya Allah, tulisan saya bisa membawa manfaat baik buat banyak orang dan tentunya saya sendiri (mall-nya makin enak gitu, kan jadi enak belanjanya).

Kebanyakan pengusaha properti, jika berinvestasi dalam hal mendirikan mall, hanya memikirkan tiga hal:

1. location

2. location

3. location

Jadi asal lokasinya baik, tentunya para pedagang jadi tertarik untuk menyewa kios di sana, kemudian akan banyak orang datang berbelanja karena strategis dan asik-asik toko/restonya.

Padahal ada tiga hal penting yang sering dilupakan oleh banyak mall management, yaitu:

1. safety

2. access

3. comfort

 

SAFETY

Safety di banyak mall biasanya hanya diterjemahkan dengan banyaknya jumlah security (dan pemeriksaan tas) yang berarti ngga bakal ada copet dan teroris di dalam mall. Bener sih. Tapi safety itu sebenarnya jauh lebih luas dari masalah copet. Sementara kalau masalah teroris… sebenarnya cakupan yang harus ditangani adalah jauh lebih luas daripada sekedar pemeriksaan tas dan bagasi. Tindakan yang dilakukan hanya bersifat precaution agar masalah teroris tidak terjadi.

Bagaimana jika terorisnya sudah kadung masuk, dan terjadi ancaman bom. Atau terjadi kebakaran. Atau terjadi gempa. Apa yang sudah dipersiapkan oleh mall-mall ini jika terjadi kepanikan menyeluruh pada pengunjung dan pedagang? Ada berapa juta pengunjung memenuhi sebuah mall pada akhir minggu di siang hari? Bagaimana jika semuanya panik mencari jalan keluar dari mall? Bagaimana jika terjadi situasi seperti terowongan Mina di mall-mall?

Belum lama ini saya berbelanja di sebuah mall baru yang memiliki underground passage dengan mall yang lama. Saya tanya salah satu sales di toko yang saya kunjungi, dimana underground passage ke mall yang lama. “Ha? Emang ada?” itu jawabnya. Lha, yang kerja di situ saja tidak tahu.

Papan petunjuk mall adalah hal yang sangat-sangat-sangat kurang di mall-mall di Jakarta. Saya pernah mengikuti panah-panah EXIT yang tertancap di langit-langit sebuah mall di Jakarta Pusat, hendak mencari jalan keluar. Yang ada, saya di-direct oleh panah-panah tersebut kembali ke papan bertuliskan kata EXIT yang tadi. So cute.

Papan petunjuk mall juga banyak tertutup oleh papan reklame toko. Tidak ada peraturan bagi pemilik toko dalam memasang papan reklame toko. Papan petunjuk yang tumbang atau sudah kadaluarsa (tata toko sudah berganti) tidak di-update. Peta lokasi sangat sedikit jumlahnya, atau malah… tidak ada.

Pintu keluar dari mall tidak jelas berada di lantai mana, karena pengunjung yang ingin keluar dari mall harus dihalangi, supaya belanja terus. Peta lokasi, kalaupun ada, hanya menggambarkan lantai itu saja secara horizontal. Tidak ada peta vertikal yang jelas menunjukkan berada di lantai mana Anda dan seberapa jauh Anda dari pintu keluar gedung. Bagi saya, sungguh sangat menakutkan berada di mall-mall dimana saya tidak bisa keluar dari situ. Bagaimana dengan Anda?

 ACCESS

Akses di sini berlaku bagi semua orang yang datang ke mall tersebut:

1. pemilik dan pekerja di mall

2. pekerja bangunan di mall (renovasi atau membuat layout toko baru)

3. pengunjung mall dewasa

4. pengunjung mall anak-anak

5. pemilik kendaraan roda 4

6. pemilik kendaraan bak

7. pemilik motor

8. pejalan kaki dan penikmat kendaraan umum

9. mereka yang suka naik lift

10. mereka yang suka naik eskalator

11. mereka yang suka naik tangga

Yang tidak adil di banyak mall-mall adalah, ruang untuk parkir mobil disediakan segede-gede gaban. Sementara untuk motor? Cekak. Ngga liat apa kondisi di jalanan? Banyakan motor atau mobil sekarang? Orang juga sudah malas naik kendaraan umum karena naik motor lebih hemat. Orang mendadak malas bawa mobil karena kalau jalanan macet…jadi susah.

Jalanan untuk mobil pun dibuat lancar dan enak di kawasan mall tersebut. Sementara jalanan untuk pejalan kaki? Silakan nebeng di jalanan mobil. Padahal, dengan menyediakan jalanan untuk pejalan kaki yang mencakup berbagai lokasi di mall tersebut, membuat baik pejalan kaki maupun pengendara mobil dan motor jadi merasa aman. Tidak ada pejalan kaki yang mendadak muncul di depan mata, mengurangi resiko tabrakan. Kudos for Plaza Senayan, yang menyediakan areal pejalan kaki dari Ratu Plaza menuju pintu masuk gedung Plaza Senayan terdekat. Mereka sangat-sangat memperhatikan kebutuhan semua pihak yang bekerja atau berkunjung di arealnya.

Sebagian besar orang yang mengunjungi mall, tidak suka naik tangga, ini semua tau. Cape bo. Keringatan. Habis nafas. Tapi bagaimana dengan mereka yang gamang ketinggian atau kebetulan sedang dizzy atau vertigo? Naik dan turun eskalator dapat menjadi pengalaman yang amat mengerikan bagi mereka. Lebih baik ngga ke mall sekalian. Lift? One word: claustrophobia.

Sebuah mall tua yang saya lupa namanya, memasang papan petunjuk yang ramah di setiap eskalator, bagi yang ingin naik tangga harap menghubungi security. Tapi seingat saya, tulisan itu sudah tidak ada lagi sekarang (mall-nya mungkin juga sudah dihancurkan untuk dibangun jadi mall lain). Karena semua pengunjung mall dianggap sudah cukup modern, dan pasti bisa menggunakan eskalator. Sayang sekali.

COMFORT

Comfort di sini saya terjemahkan kemudahan-kemudahan di beberapa hal:

1. Tempat parkir

2. Tempat makan

3. Tempat ibadah

4. WC

Poin pertama, kemudahan di tempat parkir ada hubungannya dengan bagian Access tadi. Tempat parkir yang diimpikan banyak pengguna kendaraan adalah yang memiliki:

1. keamanan total di areal parkir

2. petunjuk parkir yang jelas

3. alur jalan kendaraan yang tidak memusingkan

4. penerangan dan exhaust fan yang cukup

5. ramp turun yang tidak menakutkan bagi supir pemula

6. jasa valet parkir yang mencukupi, terutama pada jam sibuk

Coba ingat-ingat, ada ngga areal parkir yang memenuhi keenam poin di atas, terutama yang nomor satu? Coba ingat-ingat, ada ngga areal parkir yang mencantumkan: management menanggung semua kehilangan yang terjadi di areal parkir. Mimpi kaleeeeeee?

Tempat makan di sini, bukan tempat makan bagi pengunjung mall, namun tempat makan bagi pekerja mall. Sebuah mall yang baru beberapa bulan beroperasi mengalami kesulitan harus melakukan pembersihan pedagang makanan kaki lima yang memenuhi trotoarnya setiap jam makan tiba. Biasanya konsumennya adalah para pekerja mall itu sendiri. Mengapa pekerja mall sampai harus jalan keluar pagar untuk cari makan? Mungkin tidak bisa makan di dalam ya? Mengapa tidak mau makan di dalam mall? Apa fasilitas makan di mall kurang? Jadi salah siapa kaki lima pada mangkal di situ?

Again, kudos for Plaza Senayan, yang menyediakan musholla yang asik punya. Bikin teman-teman yang ngantor di Sentral Senayan malas mempergunakan musholla sendiri, mending shalat di mall. Keren ngga? Sorry, saya jadi banyak muji Plaza Senayan. Secara saya tiap hari pasti melewati mall cukup tua ini, saya jadi mengikuti perubahannya dari hari ke hari.

Sementara di sebuah mall di jantung kota Jakarta, saya mendapati para pekerjanya menggunakan areal-areal di toko yang kosong, untuk shalat. Musholla-nya jauh kah? Nempel dengan WC umum, sehingga bau? Mukena-nya sudah jamuran dan menjijikkan kondisinya? Hafal kan dengan kondisi seperti ini?

Sebuah mall di jantung sebuah kota metropolitan di luar pulau Jawa sangat menarik perhatian saya. Kalau ndak salah, mushollanya sempit memanjang. Tapi view-nya itu BO. Gile, musholla with beach view. Berasa kayak kamar VIP di hotel-hotel. Secara toko-toko biasanya ditutup seluruh dindingnya, sehingga tidak memerlukan a space with a view, sungguh bijak management mall tersebut, memilihkan a space with a view buat mushollanya. Bikin suasana jadi nyaman, shalat jadi khusuk, kunjungan ke mall tersebut menjadi “sesuatu yang bisa diulang, dan diulang, dan diulang”.

Dan yang paling akhir, yang paling penting: WC.

Mungkin jumlah WC untuk wanita harus dua kali lipat WC pria. Karena pengunjung mall memang kebanyakan adalah wanita. Karena pengunjung mall yang membawa anak-anak, kebanyakan adalah wanita. Karena pengunjung mall kanak-kanak, biasanya dibawa ibunya untuk menggunakan WC wanita.

Tingginya peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi WCnya, entah siapa yang ngomong. Bersihnya suatu rumah tangga, bisa ditengok dari kondisi kamar mandinya, katanya lho. Jangan tergila-gila dengan WC kering total. Memang sih, kelihatannya lebih bersih daripada WC basah. Cek dulu, beneran ada tissue-nya ndak? Di sebuah mall raksasa di sebuah kota di pulau Jawa, saya mendadak harus mengunjungi kloset, karena satu dan lain hal harus buang air besar. Mall nya masih baru. Kinclong lah. Setelah selesai buang hajat, baru saya sadar, ngga ada tissue sama sekali ! Kalau saat itu saya tidak membawa segepok tissue kering dan tissue basah, mungkin saat ini saya masih mengunci diri di WC tersebut, ngga bisa nulis ini.

9 komentar pada warta ini
Jumat, 30-01-2009 23:49:09 oleh: Retty N. Hakim

Ide yang menarik...bukan hanya mall, banyak bangunan bertingkat yang "emergency exit"nya terkunci...buat apa dong ada pintu keluar darurat...sekedar untuk perizinan? Ada lagi yang menjadikannya gudang, kalau gempa? ya silahkan ngumpet di bawah kolong meja (yang lebih aman)...kalau ada meja!

Soal kenyamanan sekarang makin banyak mall yang menyediakan ruang untuk menyusui dan ganti popok bayi. Sangat membantu bagi program ASI ibu...

Ada juga fasilitas baru yang lain di mall yaitu ruang merokok...entah apakah yang satu ini akan bertahan atau nantinya dihilangkan.

Masalah utilitas seperti penerangan dan sirkulasi udara juga sering kurang diperhatikan...yang terakhir ini sering saya rasakan sebagai orang yang sensitif terhadap tipisnya O2...terasa sesak nafas kalau terlalu lama berada di dalam sebuah mall yang sirkulasi udaranya jelek.


Sabtu, 31-01-2009 16:38:33 oleh: muh nahdohdin

pernah lho seorang sekuriti di mall terkemuka di jakarta malah tidak tahu dimana "EMERGENCY EXIT" nya wahhh parah kan???


Sabtu, 31-01-2009 16:43:41 oleh: muh nahdohdin

bagaimana dengan limbahnya?yg perlu di perhatikan bukan hanya kenyamanan ,keamanan pengunjung mall, tapi tidak kalah penting adalah bagaimana pihak mall membuang limbahnya?


Senin, 02-02-2009 13:01:28 oleh: Ajeng Tiara

jadi inget dulu pertama kali ke Plaza Senayan bukan mau belanja. Tapi cuma mau sholat di musholah yang sempet dapat penghargaan mushola terbaik no.3 di Jakarta untuk kategori pusat perbelanjaan. gak tau no 1 dan 2 yang mana.


Selasa, 03-02-2009 13:27:22 oleh: Mira Tj

Mbak Retty,

Wa bener banget tu mengenai sirkulasi udara. Ini satu hal yang tidak terlihat mata, tapi efeknya langsung banget terhadap kesehatan.

Sebenarnya ada ngga sih PerDa mengenai sirkulasi udara di bangunan-bangunan tinggi di ibukota? Misalnya, kalau ukuran sekian meter persegi, dengan ketinggian dari pintu keluar berapa lantai, dan rata-rata dikunjungi/ditempati manusia berapa banyak dan berapa lama ... maka suatu bangunan harus mempunyai minimal ...berapa buah filter udara.

Ada ngga?


Selasa, 03-02-2009 13:29:14 oleh: Mira Tj

Ajeng, serius? No. 3? Tempat wudhu-nya enak. Tinggi. Jadi ngga bongkok. Ngga nyiprat-nyiprat pula. Great design.


Rabu, 04-02-2009 14:02:38 oleh: Retty N. Hakim

Ada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, tapi seharusnya tanpa Perda sudah harus diperhitungkan untuk kenyamanan dan keamanan pengunjung.

Saya masih ingat dosen Utilitas saya Bp. Simbolon (alm) ngomel karena mata kuliah utilitas disingkat dari 4 semester jadi tinggal 2 semester. Ketika tabloid Rumah mengadakan seminar, saya baru tahu kalau kuliah arsitektur sekarang tinggal 4 tahun (termasuk tugas akhir)...jangan-jangan kuliah utilitas terpangkas lagi...he..he..he...


Senin, 03-08-2009 08:57:00 oleh: Drs. Semuel A. Mamangkey Bsc.

Tulisan ini sangat baik dan idenya brilliant,kebetulan dalam waktu dekat saya akan meluncurkan sebuah buku khusus membahas tentang potret dan prospek Mal kita di Indonesia.Benar-benar akan saya jadikan acuan tulisan ini supaya dibukakan jalan agar keinginan Anda bisa terwujud.
Saya tahu persis dasar pemikiran seperti ini
sangat produktif bagi mereka yang memahami dunia Mal.


Jumat, 16-10-2009 14:43:36 oleh: Mira Tj

Thanks' pak Semuel.
Ketika saya taruh tulisan saya ini di media lainnya, ada teman yang menambahkan. Ruang untuk menyusui & ganti popok. Itu juga seringkali dilupakan. Makanya ibu-ibu menyusui jadi males belanja... atau berhenti menyusui sekalian...biar bisa ke mall. Yang jelas, secara mall itu pengunjungnya lebih banyak perempuannya daripada laki-lakinya... kok yaaaaa ngga "women-friendly" gitu.



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY