Wikimu - bisa-bisanya kita

Mediansyah

Mengenang Setahun Bencana Ekologis Tawangmangu

Jumat, 26-12-2008 12:32:34 oleh: Mediansyah
Kanal: Peristiwa

Mengenang Setahun Bencana Ekologis Tawangmangu

Setahun silam, tanggal 26 Desember 2007 telah terjadi bencana ekologis di Kabupaten Karanganyar Jateng, khususnya di wilayah Kecamatan Tawangmangu. Waktu itu, curah hujan sebesar 196mm, menyebabkan longsor yang menjadi sebab 74 orang meninggal, 5 luka berat, 70 luka ringan, 21 jembatan rusak, 1.579 rumah rusak.

Seperti hendak mengenang tragedi itu, selama dua hari (23-24 Desember 2008) aku menelusuri beberapa bukit di kecamatan Tawangmangu dan kecamatan tetangganya Ngargoyoso. Kedua kecamatan ini telah “menyumbang nyawa” pada tragedi ekologis setahun lalu.

Di lereng barat Gunung Lawu ini, ternyata masih banyak kutemukan adanya longsor besar dan kecil sporadik di banyak tempat. Khususnya longsoran di lereng perbukitan dan bantaran anak sungai. Di wilayah yang terletak 40 Km di timur Kota Solo ini, selama dua hari berkeliling, aku menemukan tidak kurang dari 37 longsoran baru di tebing dan bukit, yang mengeser tanah sebesar 6m2 hingga 15m2.

Tawangmangu dan Ngargoyoso, memang terletak di wilayah perbukitan di kaki Gunung Lawu. Secara geo-morphology, daerah ini memiliki relief bergelombang hingga berbukit dengan tingkat kemiringan 300. Jenis tanah di wilayah ini adalah lapukan batuan vulkanik dengan campuran bongkahan batu besar dan kecil. Kondisi tanah berupa batuan vulkanik lapuk ini, tentu makin labil seiring makin rusaknya hutan di lereng gunung.

Aku menyaksikan, banyak bukit-bukit kecil di sebelah atas Kecamatan Tawangmangu, ditanami petani dengan palawija dan sayuran hingga sampai ke puncal bukitnya. Tidak ada tanaman yang cukup besar selain tanaman palawija dan sayuran itu. Dan yang membuat aku ngeri, banyak bukit-bukit yang menjadi lahan pertanian itu, sama sekali tidak dibuat terasering yang memadai, sehingga sangat rawan longsor.

Seorang penduduk, bernama Sri Hartono menuturkan kepadaku, bahwa penanganan yang dilakukan oleh berbagai pihak, terkait bencana lingkungan di Tawangmangu dan sekitarnya itu, sebatas emergensi respon pada saat terjadi bencana, belum memakai pendekatan lingkungan dan sosial secara jangka panjang.

Menurut Warga Kelurahan Blumbang Tawangmangu ini, bahwa dalam kasus longsor Desember 2007, pemerintah menawarkan kepada penduduk setempat untuk relokasi ke wilayah lain. Namun tawaran pemerintah lokal ini ditolak masyarakat dengan alasan ekonomi, sejarah dan budaya. Hingga saat ini, belum ada penanganan lingkungan partisipatif, yang memungkinkan penciptaan keseimbangan (natural dan sosial) bekelanjutan.

Aku sendiri menyaksikan, bahwa segala perubahan alam yang ada, tampak belum difahami dengan baik oleh masyarakat. Belum ada pemahaman dan kepedulian lingkungan yang cukup, terlihat pada beberapa tindakan yang disadari atau tidak, telah ikut andil dalam mempercepat degradasi lingkungan. Salah satunya terlihat dari cara bertani masyarakat di lereng bukit, tanpa terasering yang layak.

Juga beberapa tindakan lain yang tidak respek pada kelestarian hutan, lahan, dan tata air. Seperti menebangi pohon hasil program penghijauan beberapa tahun lalu. Hal lain, belum ada organisasi berbasis masyarakat (lokal) yang berperan aktif dalam persoalan lingkungan di daerah ini.

“Beberapa pihak pernah melakukan penghijauan. Saat menanam mereka mengajak penduduk lokal juga, tapi dari segi pemeliharaan dan program lingkungan jangka panjang belum ada atau belum jelas,” kata Sri Hartono yang juga anggota Kelompok Tani Mekar Tawangmangu ini.

Dikatakan Hartono, belajar dari bencana alam yang pernah dirasakan oleh masyarakat, telah ada kesadaran untuk mulai berbuat sesuatu untuk melestarikan lingkungan. Sebagai contoh, di Desa Sepanjang Kecamatan Tawangmangu warga secara individu menanam pohon di lahan kritis pada/dekat lahan pertanian masing-masing. Demikian juga, di Desa Margosantan Kecamatan Tawangmangu, warga secara gotongroyong menanam pohon di bekas tahan longsor di lereng bukit. “Tentu saja, hal-hal seperti ini perlu dukungan, terutama dari segi untuk menambah pengetahuan masyarakat, termasuk untuk membuat perencanaan dan pengoganisasian yang lebih baik,” harap Sri Hartono.

Keterangan foto: Masyarakat Tawangmangu bertani di perbukitan dengan sistem terasering yang tidak memadai (tidak cukup kuat, tidak ditanami pohon penguat), lihat juga betapa telah terjadi proses hilangnya hutan di atas bukit itu.

 

7 komentar pada warta ini
Minggu, 28-12-2008 14:52:44 oleh: ferdi

apa beda sih bencana ekologis dgn bencana alam..?


Jumat, 02-01-2009 07:37:13 oleh: mediansyah

Kalau menurut referensi yang saya baca sih, "bencana ekologis" adalah bencana alam juga TAPI ada unsur "katalis" dari tingkah manusia. Itulah sebabnya saya memakai istilah bencana ekologis pada kejadian tawangmangu setahun silam. Bukan bencana alam.


Selasa, 06-01-2009 13:34:53 oleh: triyono

maaf mas sebelumnya kebetulan saya berasal dari desa blumbang,tempat yang saudara tulis di atas,mema
ng benar bahwa kebanyakan warga di sna bertani tanpa tera siring yang memadai,tapi bila ditinjau lebih dalam warga sebenarnya telah mengembangkan sis
tem pengairan yang sedemikian rupa sehingga petak2 ladang yang sudah terbentuk tidak longsor"jadel"dalam bahasa masyarakat setempat,lagi pula lapisan tanah yang ada tidak seperti yang saudara gambarkan,memang permukaan tanah terlihat gembur,namun tanah gembur tersebut tidak seberapa tebal dibawahnya ada lapisn tanah padas.Tanah gembur berwarna coklat kehitaman tersebut adalah akumulasi pupuk kompos dan pupuk kandang yang dalam pemakaianya selalu dibanyakan(pada jaman dulu tanah disitu masih padas dan sangat sulit ditanami). Mengenai relokasi,saya rasa itu adalah ide paling konyol yang pernah saya dengar,saya rasa terlalu panjang bila saya tulis disini.pengenai perusakan lingkungan saya rasa anda perlu melihat bagai mana cara bertani masyarakat setempat,jangan hanya dengan melihat anda bisa menarik kesimpulan . terima kasih


Rabu, 07-01-2009 23:27:03 oleh: mediansyah

1. Karakter tanah Tawangmangu (dan umumnya lereng Lawu) adalah tanah lapukan vulkanik dengan campuran baru besar dan kecil. Juga tidak benar ada "pondasi" di bawahnya berupa batu padas yang stabil. Menurut penelitian IPB sesudah longsor tahun lalu, tanah di sini memang labil.
2. Selain kejadian longsor besar setahun yg lalu, telah banyak kejadian longsor lebih "kecil" .
3. Relokasi yang merupakan ide Pemda Karanganyar memang tidak efektif. Yang diperlukan (menurut saya) adalah pembangunan pro-lingkungan yg tidak bersifat sesaat (tapi berkelanjutan).
4. Sekarangpun, banyak ditemukan longsor kecil dan sedang, yang harus diwaspadai dan disikapi bijak oleh warga dan pemerintah lokal.


Kamis, 08-01-2009 00:28:51 oleh: aguswahyono

Ditambah sekitar 400 hektare hutan pegunungan di atas tawangmangu memang masih dikategorikan kritis. Maka tanah tawangmangu akan kesulitan menyerap air jika hujan lebat lebih dari 100mm/jam.


Jumat, 23-01-2009 13:50:33 oleh: setiyono

Hutan di daerah pegunungan Tawangmangu Jateng merupakan barometer kerawanan lingkungan. Aspek aktifitas demi "kepentingan manusia" menjadi dasar terjadinya bencana Tanah Longsor di Tawangmangu dan banjir di DAS Bengawan Solo, meskipun faktor iklim juga berperan sebagai Triger Sekunder (pemicu) setelah faktor HUMAN ERROR tersebut.

Human error tsb terjadi mulai dari lini Pengambil Kebijakan sampai pada tingkat terendah di pengelola lingkungan sehari-hari.


Kamis, 14-05-2009 15:02:25 oleh: gani

Menyalahkan masyarakat sepenuhnya juga kurang benar menurut saya, kebutuhan akan makan



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY