Wikimu - bisa-bisanya kita

Meidy

Museum Kota di Makassar, Siapa Wajib Memelihara ?

Rabu, 24-12-2008 10:40:28 oleh: Meidy
Kanal: Layanan Publik

Badan Kerjasama Museum Internasional (Internatioanal Council of Museum/ICOM) bersama dengan UNESCO menyepakati : “ Museum adalah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, terbuka untuk umum, melayani masyarakat, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperoleh benda-benda yang bernilai tinggi, merawat, memamerkan dan mengkomunikasikan kepada masyarakat untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan di mana benda-benda itu sebagai pembuktian kehebatan manusia dan lingkungannya”.

Demikian kalimat-kalimat itu yang saya baca ketika memasuki Museum Kota yang terletak di jalan Balaikota No 11A, Makassar.

Saya baru tahu bahwa ada Museum Kota waktu ke Makassar pada bulan Oktober 2008, saat lewat di depannya. Waktu itu museum tutup dan ketika saya bertanya pada teman-teman saya di Makassar, malahan ada yang tidak tahu bahwa di sana ada museum. Mungkin mereka pikir gedung yang ada di sana hanya sebuah gedung tua yang dulunya adalah kantor Balaikota. Saya lalu mencari tahu tentang Museum tersebut di internet dan ternyata sudah ada beberapa tulisan. Dari foto-foto yang saya lihat kelihatannya menarik untuk dikunjungi.

Awal bulan Desember 2008 saya ke Makassar lagi. Untung kali ini saya bisa ke sana walaupun cuma sebentar. Gedung Museum ini dulunya dikenal sebagai Balaikota atau tempat walikota berkantor. Dulu setahu saya di sini juga berfungsi sebagai kantor catatan sipil (ayah dan ibu saya menikah di sana).

Begitu memasuki gedung tersebut terlihat kesan agak kurang perawatan… bisa terlihat dan terasa betapa dingin suasana di sana. Saya melihat tanda larangan memotret tapi akhirnya setelah saya minta ijin pada seorang Ibu yang mungkin punya andil yang besar dengan keberadaan museum tersebut. Awalnya saya malahan mengira si Ibu ini pemandu wisata… (hmmm jadi malu…ternyata bukan).

Museum itu sepi… gak ada pengunjung lain selain saya, tapi pada buku tamu ada beberapa nama …jadi lumayanlah. Jadi saya pun ikutan mengisi buku tamu. Saya mencantumkan ‘Wikimu.com’ pada kolom alamat tapi saya bilang pada si Ibu bahwa saya bukan reporter. Saya kadang-kadang saja nulis di Wikimu.com. Rupanya si Ibu juga gak gaptek lho… buktinya dia menyebut salah satu situs yang reporternya pernah menulis tentang Museum tersebut.

Ruangan-ruangan yang berisi benda-benda kenangan atau berharga… kesannya kurang terawatt… maaf…kaca-kaca lemari pajangan rada berdebu… tidak ada cahaya lampu yang menghidupkan ruangan tersebut. Kesan dingin dan kurang perawatan malahan ada yang dinding temboknya ada bekas rembesan air hujan alias bocor.

Saya sih tidak tahu ya… kalo museum itu dana pemeliharaannya dari mana. Satu-satunya ruangan yang menurut saya lumayan bagus dan terawat adalah ruangan yang dibuat oleh Maula Art. Maaf ya kalo saya tidak menjelaskan secara detail apa saja yang ada pada museum ini karena saya tidak membawa catatan jadi yang bisa saya tuliskan hanya yang sempat terekam oleh kemampuan daya ingat saya yang terbatas.

Ada ruangan yang berisi contoh-contoh batu dari yang didapatkan pada Benteng Somba Opu, ada beberapa koleksi mata uang, ada patung (yang mungkin dari perunggu ?) dari Ratu Wilhelmina, ada ruangan memori PDAM jaman dulu… yang berisi peralatan yang dulu dipakai, ada juga koleksi mesin ketik tua yang berjejer begitu saja di lantai , ada komputer pertama, printer pertama, mesin hitung pertama, proyektor, brankas, dan lain-lain. Saya kurang jelas apakah benda-benda itu merupakan benda pertama yang dimiliki kantor Walikota atau PDAM.

Ada juga ruangan khusus yang berisi baju-baju jabatan yang dipakai oleh para Walikota pada jaman pemerintahan beliau-beliau. Tidak ketinggalan juga dibuatin khusus yang berisikan benda-benda kenangan jaman pemerintahan Walikota yang menurut saya seperti Bang Ali Sadikin-nya Jakarta yaitu Daeng Patompo. Di ruangan yang ada foto-foto mantan Walikota ada 3 orang yang saya kenal yaitu Pak Patompo, Pak Achmad Dara Syahruddin (rumah beliau dibeli oleh ayah saya) dan Pak Ilham Arief Sirajuddin (beliau ini adalah lebih muda satu angkatan saya di Fakultas Pertanian UNHAS).

Saya tidak memasuki semua ruangan karena saya agak takut, berhubung cuma saya sendiri pengunjungnya. Akhirnya ketika saya memasuki sebuah ruangan di mana di dalamnya terdapat pintu yang merupakan pintu kluis atau brankas besar (seperti ruang khasanah di bank untuk menyimpan uang atau ruang menyimpan surat-surat penting). Tertulis di depan pintu bahwa brankas tempat menyimpan dokumen dan surat-surat resmi masa pemerintahan Belanda J.H Damrink (1918-1928)

Menurut si Ibu, yang akhirnya menemani saya… pintu kluis itu tidak bisa dibuka. Tidak ada yang mengetahui nomer-nomer rahasia untuk membukanya. Jadi apakah masih berisi surat-surat atau sudah kosong…. tidak seorangpun yang tahu.

Memasuki ruang lain saya melihat sebuah sepeda tua. Saya kira milik salah satu pegawai yang ada di sana tapi ternyata bukan. Dulu katanya ada seorang tua yang datang membawa sepeda itu dan sekarang lagi diusahakan dicari tahu ada cerita apa dibalik sepeda tua itu.

Akhirnya saya tiba lagi di ruang depan Museum di mana ada sebuah piano tua tepatnya Grand Piano. Katanya itu piano dari dari jaman Ratu Wilhelmina. Saya minta ijin untuk membuka dan mencoba memainkan. Tapi akhirnya tidak termainkan sebuah lagu yang utuh karena sudah ada beberapa tuts piano yang sudah tidak berdenting dan saya juga tidak terlalu mahir bermain piano…hanya sekedar do re mi fa sol. Ketika saya bertanya… kenapa tidak dicariin orang yang bisa nyetem piano tersebut, soalnya sayang kalo dibiarkan begitu saja apalagi merknya terkenal Steinway & Sons. Dilihat dari tuts piano yang masih warna putih saya cukup takjub juga karena biasanya tuts apalagi kalo sudah itu biasanya berubah menjadi kekuningan, juga rangkanya yang masih mengkilap. Sayang seribu sayang kalo tidak mendapat perawatan yang layak. Si Ibu lagi-lagi tersenyum dan mengatakan itulah kendalanya… biaya perawatan. Apalagi di langit-langit di atas piano itu ada yang bocor jadi kalo hujan, terpaksa piano tersebut didorong pindah tempat untuk sementara. Hehehe... piano saya saja yang tidak jelas merknya memakai lampu supaya tidak lembab. Saya masih penasaran dengan piano tersebut. Nanti kalo saya ke Makassar lagi saya akan bawa teman saya yang jago main piano untuk memainkan piano tersebut.

Sebelum pamit pulang saya melihat di ruang depan ada 2 buah cermin untuk berkaca dan ada gantungannya… saya becanda..mengatakan pada si Ibu bahwa ini mungkin dulu digunakan untuk menggantung jas/mantel, topi, payung sebelum masuk plus ngerapiin sisiran rambut sebelum masuk ke ruang kantor masing-masing.

Demikian selayang pandang cerita saya mengunjungi Museum Kota yang ternyata tidak seindah yang saya bayangkan kalau membaca cerita-cerita tentang Museum itu di dunia internet. Sayang saya juga belum mampu menghimpun dana untuk Museum tersebut. Siapakah yang seharusnya memikirkan itu ? Saya kembalikan pada pernyataan paling atas. Moga-moga sih pernyataan tersebut di atas bukan hanya sekedar pajangan penghias dinding museum.

2 komentar pada warta ini
Rabu, 24-12-2008 18:04:33 oleh: Tonny Sutedja

Artikel yang menarik, Meidy. Saya tinggal di Makassar tetapi malah belum pernah ke museum kota. Trims ya atas liputan langsungmu.
Tonny


Rabu, 07-12-2011 08:17:20 oleh: LoLie_Mars

artikelnya menarik sekali,saya sendiri juga pernah mendatangi museum tersebut untuk keperluan tugas sejarah.sebenarnya museum tsb sangat menarik,namun sayang sekali perawatannya sangat kurang,di mana-mana banyak debu dan ruangan yang agak gelap membuat museum tsb sedikit membuat saya takut.



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY