Wikimu - bisa-bisanya kita

Duto Sri Cahyono

Bapakku Guru, Tetapi Bukan Awaludin Korompot...

Kamis, 11-12-2008 10:49:51 oleh: Duto Sri Cahyono
Kanal: Gaya Hidup

Entah sosok guru mana yang digambarkan Iwan Fals dalam lagu Guru Oemar Bakri. Namun bagi saya, lagu tersebut bukan sekadar stereotip kondisi guru pada akhir dekade 1970 ketika lagu itu dirilis. Sebab, setiap mendengar Oemar Bakri, maka sebuah gambar hidup bergerak perlahan di ingatan saya. Itulah gambar seorang laki-laki yang kini berusia 80 tahun, pensiunan guru, yang selama ini saya panggil “bapak”.

Untuk orang dengan usia hampir mendekati sepuluh windu, bapak masih jauh dari pantas untuk disebut lelaki renta. Orang bisa saja mengatakan sudah sewajarnya kalau bapak hidup dengan dikelilingi anak, cucu, atau cicit yang akan selalu mengawasi dan menjaganya. Tetapi tidak demikian dengan beliau. Hidup berdua bersama ibu yang setia mendampinginya, kondisi kesehatan bapak masih lebih dari cukup kalau hanya untuk menjaga diri. Tujuh orang anaknya, termasuk saya, mencari penghidupan masing-masing jauh terpisah di tempat lain.

Di sebuah pelosok desa di lereng timur Gunung Sindoro, tepatnya di Desa Muntung, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, bapak menapaki hari tua dengan menyimpan ribuan kenangan hidup. Bagi orang lain, kenangan hidup bapak akan terdengar sebagai kenangan hidup biasa saja. Tetapi entah mengapa, ketika lelaki tua itu bertutur dengan runtut tentang kenangan hidupnya, maka yang terdengar di telinga saya adalah biografi seorang lelaki luar biasa.

***

Hampir sama dengan Oemar Bakri-nya Iwan Fals yang menjadi “guru jujur berbakti” selama 40 tahun, bapak pun menjalani 39 tahun hidupnya sebagai seorang guru. Tahun 1949, dari sekolah rakyat (SR) di sebuah desa bernama Cilungkrang, beliau mengawali karir. Dimulai dari pelosok desa yang berhawa dingin di Wonosobo itu, bapak berpindah-pindah tugas. Sempat mengajar 16 tahun di sejumlah SR di Kota Magelang, bapak kemudian berpindah-pindah mengajar dari satu desa terpencil ke desa terpencil lainnya di lereng kaki Sindoro.

Bukan hanya jauh dari rambahan angkutan umum, akses ke tempat tugas bapak adalah jalanan sempit berkelokan. Jalanan yang penuh lubang isi comberan di kala musim penghujan, dan berbedak debu coklat setinggi mata kaki saat datang kemarau panjang. Dibandingkan bapak, Oemar Bakri lebih beruntung karena masih punya sepeda kumbang. Alat angkutan andalan bapak hanyalah sepeda angin, atau di Jawa Tengah lebih populer dengan sebutan pit onthel yang memang harus di-onthel atau dikayuh untuk menjalankannya.

Sepeda bapak bukanlah sepeda sembarangan. Paling tidak, dengan bersepeda onthel sejak 1949, membuat bapak masih terlihat bugar dalam usianya yang ke-80 pada tahun ini. Dengan mengayuh sepeda, bapak pernah menempuh jarak 180 km pergi-pulang dari Muntung ke Jogjakarta untuk mengantar uang saku kuliah saya. Masih terekam jelas di ingatan saya, bagaimana bapak datang dengan peluh bersimbah di bajunya, tetapi senyum bahagia terkembang di bibirnya.

Sama seperti dalam keseharian menyusuri jalanan pergi-pulang dari rumah ke tempat beliau mengajar, bapak hanya memberikan senyum menanggapi tatap mata belas kasihan dari orang-orang yang melihat muka, badan dan bajunya selalu basah kuyup oleh keringat akibat meng-onthel sepeda.

Kalau bapak bangga dengan sepedanya, barangkali sepeda itu juga merasa bangga dengan cara bapak merawatnya. Meski puluhan tahun menapaki ribuan kilometer jalanan berlubang atau bercomberan, juga bermanuver di jalan-jalan bebatuan, tak pernah sepeda bapak gembos di jalan. Ya, puluhan tahun bersepeda, tak pernah bapak mengalami gembos ban!

“Itulah pentingnya sedia payung sebelum hujan. Apa saja. Sama seperti merawat sepeda, maka bapak pun merawat dan menyiapkan diri agar tetap bugar dan sehat setiap saat. Bukan hanya raga, tetapi juga jiwa. Jika hal itu sudah dilakukan, maka selanjutnya kita hanya berserah kepadaNya,” kata bapak yang tetap suka meng-onthel sepeda belasan kilometer, sebanyak tiga kali dalam sepekan, demi menjaga kebugaran fisiknya.

Tuturan bapak memang terdengar bersahaja. Hanya saja, di telinga saya, tertangkap sebuah pesan yang sedemikian dalam maknanya.

***

Kalau gaji guru seperti Oemar Bakri menurut Iwan Fals selalu dikebiri, maka hal itu adalah rahasia umum di keluarga kami. Tetapi kalau murid Oemar Bakri suka berkelahi, tidak demikian dengan murid-murid bapak. Paling tidak, itulah cerita yang pernah saya dengar dari beliau. Di bawah asuhan bapak, pada awal dekade 1960, bahkan murid-murid SR 6 Tidar Magelang adalah jawara-jawara kasti yang sangat disegani lawan.

Dengan demikian, beda sekali dengan Awaludin Korompot, guru SMK N 3 Gorontalo, yang suka memukuli anak didiknya, bapak “menampar” murid-muridnya dengan pompaan semangat. Bapak “memukul” siswanya dengan suntikan motivasi.

Dari para murid yang demikian itu, bapak juga mengaku tidak seperti Oemar Bakri, yang menurut Iwan Fals “sial benar nasib lu!”. Singkat kata, profesi guru tidak pernah membuat bapak merasa sedih ataupun berkecil hati melakoni kehidupan ini. “Rumangsaku seneng terus (Rasa-rasanya bahagia selalu), kata beliau soal suka duka menjadi guru.

Juga tidak seperti halnya Oemar Bakri, bapak tidak banyak menciptakan menteri, profesor, doktor, ataupun insinyur. Bagaimana mungkin bapak bisa menciptakan orang-orang semacam itu kalau sebagian besar murid beliau bahkan tidak pernah melanjutkan sekolah selepas SR ataupun SD? Bagaimana mungkin bapak bisa membuat otak orang seperti otak Habibie kalau murid-murid beliau banyak yang kekurangan gizi karena hanya makan sekali dalam sehari?

Meskipun tidak satupun murid bapak yang menjadi menteri, tak berarti bapak adalah guru yang tidak bermakna. Pastilah bapak bukanlah manusia yang tiada guna. Paling tidak, meski harus bersepeda menyusuri jalan yang bersisikan tebing-tebing tinggi, atau merambat di antara dua jurang yang dalam, bapak telah berusaha menyampaikan sejumput warta. Warta bagi penduduk lereng gunung tentang ilmu dan peradaban lain di luar desa mereka.

Kalau pun sosok bapak sebagai guru dinilai tak bermakna bagi kehidupan di sekelilingnya, maka sosok beliau tetaplah teramat bermakna bagi kami; anak-anak, para cucu dan cicitnya. Sebab kami meyakini bahwa seseorang akan menjadi bermakna bukan karena jabatan atau profesinya. Seseorang akan menjadi sangat bermakna karena dia bisa melakoni fitrahnya sebagai manusia.

Lebih dari sekadar bisa menjalankan profesi sebagai guru, bapak menjadi sangat luar biasa bermakna karena dia benar-benar telah berhasil menjadikan dirinya sebagai seorang bapak. Bapak telah pensiun dari profesi guru, tetapi dia tidak pernah pensiun dari menjadi seorang bapak. Lelaki yang membesarkan kami dengan kucuran keringatnya. Lelaki yang membimbing kami dengan limpahan kasih sayangnya.

Bapakku, menjadi lelaki luar biasa, justru karena dia telah rela menjadi seorang bapak....

 

1 komentar pada warta ini
Kamis, 11-12-2008 15:22:55 oleh: Ray Kurnia

Tulisan yang berkesan dan sarat makna. Saatnya masyarakat bisa melepaskan stereotip guru yang cenderung negatif. Hindari juga segala stigmatisasi...



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY