Wikimu - bisa-bisanya kita

Panjikristo

Kitab Suci Di Atas Meja

Kamis, 18-09-2008 09:56:15 oleh: Panjikristo
Kanal: Sastra

Mengapa Kitab Suci itu ada di sini? Pak Krisna bertanya dalam hatinya. Kitab Suci itu ada di meja ruang tamu. Siapa yang telah membacanya?

Sudah lama keluarga ini tidak pernah menyentuhnya. Membiarkan Kitab itu teronggok dan berdebu di rak buku. Kitab itu sepertinya cuma petunjuk bahwa penghuni rumah itu seorang yang beriman, karena memiliki Kitab Suci yang terpampang dengan megahnya di rak buku.

Kitab itu ada di meja. Seperti baru dibuka dan dibaca. Ia melihat sisipan kertas yang mengintip keluar dari halaman kitab. Kertas apa itu?

Tiba-tiba sang istri sudah berada di dekatnya.

"Tidak biasanya kitab suci itu ada di meja, bu" tanyanya.

"Tadi ada tamu. Ibu Susan."

Nama itu baru didengarnya. Setahunya di lingkungan tidak ada yang bernama ibu Susan. Biasanya mereka dipanggil dengan nama sang suami seperti, bu Budi, bu Supri, bu Karjo dan lain sebagainya.

"Ia kebetulan lewat sini, lalu mampir, " Istrinya menjelaskan. "Katanya ia senang berbincang-bincang dengan keluarga Kristen, karena mereka hidup dalam damai."

"Hati-hati, bu!" ujarnya sambil meluruskan kaki di kursi. "Sekarang ini banyak penipuan dengan berbagai macam cara."

Istrinya diam sejenak, lalu katanya, "Ibu itu sudah cukup umur, dan tampaknya baik."

Penasaran dengan kertas yang mengintip dari kitab itu. Pak Krisna membuka Kitab Suci itu. Rupanya sisipan buku, bergambar Yesus yang sedang membuka tangannya, mengundang kita untuk datang kepada-Nya.

"Gambar itu dari ibu Susan..." sahut istrinya. "Tadi kami ngobrol panjang lebar tentang ayat kitab suci dan ia memberikan gambar itu sebelum pulang."

"Ibu Susan bersedia datang lagi, untuk membahas kitab suci, jika kita mau..." lanjut istrinya. "Tidak ada salahnya, kan? Selama ini kita tidak pernah menyisihkan waktu untuk kitab suci."

Istrinya benar. Selama ini mereka memang tidak pernah punya waktu untuk itu. Begitu pula warga di lingkungan mereka. Jika di lingkungan mengadakan pendalaman kitab suci, maka yang datang bisa dihitung dengan jari. Mungkin mereka berpikiran, membaca dan mendengarkan kitab suci cukup seminggu sekali. Pada saat misa di gereja.

Tiba-tiba ia berkata. "Jangan-jangan ibu Susan itu pengikut sekte yang ramai dibicarakan itu? Hati-hati lho! Mereka bisa menyesatkan kita." Pak Krisna lalu menyebutkan nama sekte tersebut

Sebenarnya pak Krisna ia tidak begitu paham sekse yang dimaksud. Ia pernah mendengar bahwa mereka bisa menyesatkan. Namun jika memang sekte ini sesat mengapa gereja tidak memberikan pengarahan kepada umatnya bagaimana menghadapinya. Mengapa umatnya dibiarkan menghadapi sendiri? Atau mungkin saja gereja telah melakukan hal tersebut tapi ia tidak mengetahuinya.

"Tapi ibu tadi baik. Dan kalau tidak salah, mereka itu memiliki kitab suci terjemahan sendiri," ternyata istrinya lebih mengetahui tentang sekte itu. "...sedangkan kitab suci yang tadi dibaca, adalah kitab suci milik kita."

Tiba-tiba perut pak Krisna berbunyi. Pikirannya beralih ke tempat lain. Ada yang harus di dahulukan. "Masak apa hari ini, bu?"

"Jadi bagaimana?" sang istri tidak menjawab pertanyaannya. "Apakah ibu Susan boleh kemari lagi?"

"Terserah ibu saja." Pak Krisna menuju ke dapur.

***

Waktu terus berjalan. Ia tahu sang istri sering kedatangan ibu Susan, karena setiap kali ia melihat Kitab Suci itu di atas meja. Pada beberapa kesempatan istrinya bercerita bahwa bisa memahami kitab suci yang sebelumnya tampak sulit dimengerti. Pak Krisna senang mendengarnya karena kedatangan ibu Susan sangat berguna.

Pada suatu hari putrinya menunjukkan Kitab Suci bergambar dan berwarna yang diterima dari ibu Susan. Harganya pasti mahal sekali. Mungkin ia akan sayang mengeluarkan sejumlah uang untuk buku itu mengingat keadaan ekonomi dan kebutuhan lainnya.

Hari Minggu itu pak Krisna di rumah. Ibu Susan datang seperti biasa dan ternyata ia ditemani rekannya yang lebih muda. Ia ingin tahu, seperti apakah ibu Susan itu. Tapi ia tidak mau menemuinya. Ia hanya mengintip dan berusaha mendengarkan dari dalam kamar depan.

Istrinya menemani mereka ngobrol. Percakapan mereka terdengar dari dalam. Tak lama putrinya keluar membawakan minum dan ikut duduk disana.

Mereka berbincang tentang kitab suci. Dan dari perbincangan tersebut ia tidak menemukan suatu yang janggal. Mengapa aku harus khawatir? Pikirnya. Biarlah istrinya mendalami Kitab Suci dari mereka.

Ia memang tidak mendengarkan suatu yang janggal? Namun mengapa hatinya tidak tenang. Pikirannya kembali tertuju pada sekte itu. Ia harus berbuat sesuatu. Ia harus mengetahui dengan jelas siapa mereka.

***

Dari beberapa referensi yang diperoleh, ia membaca bahwa sekte tersebut melakukan kegiatannya dengan cara mengunjungi keluarga, memberikan buku-buku atau brosur yang selama ini dilakukan terhadap keluarganya. Mengapa selama ini ia tidak pernah memperhatikannya.

Sekte itu tidak mempercayai Yesus sebagai yang Ilahi, termasuk Tritunggal, serta beberapa ajaran lainnya yang bertentangan dengan ajaran Katolik yang selama ini diketahuinya. Dan bahkan seringkali gagal meramalkan kedatangan Yesus yang kedua.

Pak Krisna seperti kebakaran jenggot. Sekte itu tidak boleh mengambil keluarganya.

Bagaimana caranya ia mengingatkan istri dan anaknya. Mereka sudah terlanjur akrab dan saling menyukai. Ia harus mencari cara yang tepat. Jangan sampai menjadi bumerang baginya.

Dalam suatu kesempatan ia mengingatkan sang istri perihal sekte itu. Dan setiap kali ia dibuat kesal.

Saat pulang kantor, seringkali ia melihat Kitab Suci itu ada di atas meja.

**

Minggu itu ia berada di rumah. Istrinya sedang menyetrika baju. Tiba-tiba ibu Susan bersama rekannya datang.

"Pak, tolong katakan, ibu tidak ada. Bilang saja sedang ke gereja. Pendalaman Kitab Suci."

Pak Krisna heran mendengarkan permintaan istrinya. Namun ia menyampaikan pesan tersebut pada kedua tamunya.

Setelah ibu Susan pergi, ia bertanya pada istrinya.

Istrinya menceritakan bahwa pada suatu kesempatan mereka memaksakan suatu konsep penyebutan nama Allah berdasarkan ayat dalam kitab suci yang mereka bawa. Istrinya keberatan dan tidak mau menerimanya. Sejak itu ia enggan untuk menemui mereka.

Pak Krisna takjub sekaligus gembira. Ternyata Roh Kudus bekerja dengan cara yang tidak diduga sebelumnya.

Setelah beberapa kali tidak bisa menemui Ibu Krisna, rupanya ibu Susan dan rekannya tidak pernah datang lagi. Ketika istrinya menceritakan hal tersebut, ia senang mendengarnya.

Namun kini ia merasa kehilangan.

Ia tidak pernah melihat Kitab Suci diatas meja, di ruang tamunya.

Kitab Suci itu telah kembali ke rak bukunya.

***

panjikristo, Medio April 2008

***

Note:

Cerpen ini dimuat di majalah HIDUP No.36, 7 September 2008; hlm 44-45

4 komentar pada warta ini
Kamis, 18-09-2008 11:21:51 oleh: Oktovianus Pogau

Biarpun kitab suci diatas meja telah tiada, tapi yang terpentinga adalah kitab suci dihati kita masih ada.

semoga kita yang membaca cerpen ini, masih menyimpan dan melakukan beberapa perintah kitab suci yang telahy ada dalam hati kita.


Kamis, 18-09-2008 12:02:47 oleh: panjikristo

Harapan saya adalah, semoga kita semua, apapun agamanya jangan lagi menelantarkan Kitab Sucinya masing-masing. Ambil dan bacalah sebagai santapan rohani kita masing-masing
Tuhan memberkati


Minggu, 21-09-2008 16:42:30 oleh: Singodimejo

Seringkali kitab suci hanya dijadikan pajangan, tidak pernah dibuka, tidak pernah dibaca. Padahal Tuhan kerapkali menyapa kita lewat SabdaNya yg tertuang di kitab suci


Selasa, 23-09-2008 13:28:22 oleh: panjikristo

Seringkali kita memang kurang peka,
padahal Tuhan selalu mengetuk hati kita, senantiasa.



Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY