Wikimu - bisa-bisanya kita

WIDODO JUDArwanto

PENCEGAHAN ASMA SEJAK DINI

Senin, 01-01-0001 00:00:00 oleh: WIDODO JUDArwanto
Kanal: Lain - lain

 

PENCEGAHAN ASMA SEJAK DINI

 

Dr Widodo Judarwanto SpA

            Angka kejadian alergi dan asma terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Salah satu menifestasi penyakit alergi yang tidak ringan adalah asma. Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1996, penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan sesak napas seperti bronchitis, emfisema, dan asma merupakan penyebab kematian ketujuh di Indonesia. Berdasarkan SO2RS tahun 1999, penyakit-penyakit tersebut menempati urutan pertama penyebab kematian.

            Asma adalah penyakit yang mempunyai banyak faktor penyebab. Yang paling sering karena factor atopi atau alergi. Penyakit ini sangat berkaitan dengan penyakit keturunan. Bila salah satu atau kedua orang tua,  kakek atau nenek anak menderita astma bisa diturunkan ke anak.  Faktor-faktor penyebab dan pemicu asma antara lain debu rumah dengan tungaunya, bulu binatang, asap rokok, asap obat nyamuk, dan lain-lain.  Beberapa makanan penyebab alergi makanan seperti susu sapi, ikan laut, buah-buahan, kacang juga dianggap berpernanan penyebab asma. Polusi lingkungan berupa peningkatan penetrasi ozon, sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksid (NOX), partikel buangan diesel, partikel asal polusi (PM10) dihasilkan oleh industri dan kendaraan bermotor.  Makanan produk industri dengan pewarna buatan (misalnya tartazine), pengawet (metabisulfit), dan vetsin (monosodium glutamat-MSG) juga bisa memicu asma. Kondisi lain yang dapat memicu timbulnya asma adalah aktifitas, penyakit infeksi, emosi atau stres.

 

PERMASALAHAN PENDERITA ASMA

Penderita asma beresiko mengalami terjadi reaksi anafilaksis akibat alergi makanan fatal yang dapat mengancam jiwa. Makanan yang terutama sering mengakibatkan reaksi yang fatal tersebut adalah kacang, ikan laut dan telor. Setelah mengkonsumsi makanan tertentu timbul reaksi sesak, mengi, pingsan dan gangguan kesadaran. Bila tidak segera tertolong dapat mengancam jiwa.  Di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 150 anak meninggal karena reaksi alergi makanan yang fatal ini.

Penderita asma juga sering disertai gangguan alergi pada organ tubuh yang lain seperti sering pilek, sinusitis, gangguan kulit (eksim), mata gatal, gangguan saluran cerna, sering sakit kepala, migrain, gangguan hormonal, nyeri otot dan tulang dan berbagai gangguan lainnya.

Asma yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu kualitas hidup anak berupa hambatan aktivitas 30 persen, dibanding 5 persen pada anak non-asma. Asma menyebabkan kehilangan 16 persen hari sekolah pada anak-anak di Asia, 34 persen di Eropa, dan 40 persen di Amerika Serikat. Banyak penelitian juga menyebutkan gangguan perilaku seperti gangguan emosi, agresif, gangguan tidur dan gangguan perilaku buruk lainnya sering menyertai penderita asma pada usia anak. Belum lagi besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat bagi penderita asma, karena angka kekambuhan dan resiko terjadi infeksi saluran napas pada anak asma sangat tinggi.

Melihat demikian besarnya gangguan yang dapat ditimbulkan maka pencegahan adalah tindakan yang harus segera dilakukan. Alergi dan asma dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan tumbuh dan kembang anak secara optimal . Resiko dan tanda alergi atau asma  dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan sejak dalam kandunganpun mungkin sudah dapat terdeteksi..

 

PENCEGAHAN ASMA

Bila terdapat riwayat keluarga baik saudara kandung, orangtua, kakek, nenek atau saudara dekat lainnya  yang alergi atau asma. Atau bila anak sudah terdapat ciri-ciri  alergi sejak lahir atau bahkan bila mungkin deteksi sejak kehamilan maka harus dilakukan pencegahan sejak dini. Beberapa laporan ilmiah menunjukkan beberapa faktor resiko yang bisa dikenali sejak lahir adalah gangguan sesak saat lahir (transient Tachypnea of the newborn), bayi lahir sangat rendah (prematur) atau bronkopulmunar displasia.  
Kontak dengan antigen harus dihindari selama periode rentan pada bulan-bulan awal kehidupan termasuk di dalam kandungan. Saat limfosit  T belum matang dan mukosa usus kecil dapat ditembus oleh protein makanan. Ada beberapa upaya pencegahan  yang perlu diperhatikan supaya anak terhindar dari keluhan alergi yang lebih berat dan berkepanjangan. Resiko alergi atau asma pada anak dikemudian hari dapat dihindarkan bila kita dapat mendeteksi dan mencegah sejak dini. Pencegahan alergi terbagi menjadi 3 tahap, yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier.
Pencegahan Primer , bertujuan menghambat sesitisasi imunologi oleh makanan terutama mencegah terbentuknya Imunoglobulin E (IgE). Pencegahan ini dilakukan sebelum terjadi sensitisasi atau terpapar dengan penyebab alergi. Hal ini dapat dilakukan sejak saat kehamilan. Hindari atau minimalkan penyebab alergi sejak dalam kandungan, dalam hal ini oleh ibu. Masalahnya resiko dan manifetsasi alergi pada janin masih belum iddeteksi dengan jelas. Namun beberapa ahli melaporkan petunjuk alergi pada janin adalah  gerakan atau tendangan janin yang keras, disertai rasa sakit ujung hati pada ibu disertai gerakan denyutan keras (hiccups/cegukan) terutama malam hari. Dalam keadaan resiko tinggi asma maka sebaiknya ibu harus mulai menghindari penyebab alergi sedini mungkin. Dalam keadaan seperti ini Committes on Nutrition American Academy of pediatric (AAP) menganjurkan eliminasi diet jenis kacang-kacangan. Kontak dengan paparan asap rokok baik secara aktif dan pasif harus dihindarkan. Maternal asma (asma saa kehamulan) dan asap rokok adalah faktor resiko terjadinya sesak bayi saat lahir atau  Transient Tachypnea of the Newborn. Kasus bayi dengan keadaan sesak saat baru lahir ini tampaknya terjadi pengkatan yang tinggi dalam waktu terakhir ini.  Penderita dengan gangguan tersebut mempunyai resiko asma sangat tinggi sebelum usia prasekolah.
Pencegahan sekunder, bertujuan untuk mensupresi (menekan) timbulnya penyakit setelah sensitisasi. Pencegahan ini dilakukan setelah terjadi sensitisasi tetapi manifestasi penyakit alergi belum muncul. Keadaan sensitisasi diketahui dengan cara pemeriksaan IgE spesifik dalam serum darah, darah tali pusat atau uji kulit. Saat tindakan yang optimal adalah usia 0 hingga 3 tahun. Bila bayi minum ASI, ibu juga hindari makanan penyebab alergi. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu dapat masuk ke bayi melalui ASI. Terutama kacang-kacangan, dan dipertimbangkan menunda telur,  susu sapi dan ikan. Meskipun masih terdapat beberapa penelitian yang bertolak belakang tentang hal ini. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat mencegah resiko alergi pada bayi . Pemberian makanan padat dini dapat meningkatkan resiko timbulnya alergi. Bayi yang mendapat makanan pada usia 6 bulan mempunyai angka kejadian dermatitis alergi yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang mulai mendapat makanan tambahan pada usia 3 bulan. Pemberian probiotik pada usia 6 bulan dapat mengurangi resiko alergi pada anak. Bila ASI tidak memungkinkan atau kalau perlu kurang gunakan susu hipoalergenik formula untuk pencegahan terutama usia di bawah 6 bulan
Pencegahan tersier, bertujuan untuk mencegah dampak lanjutan setelah timbulnya alergi. Dilakukan pada anak yang sudah mengalami sensitisasi dan menunjukkan manifestasi penyakit yang masih dini tetapi belum menunjukkan gejala penyakit alergi yang lebih berat. Saat tindakan yang optimal adalah usia 6 bulan hingga 4 tahun.  Bila dicurigai alergi terhadap susu sapi bisa menggunakan susu protein hidrolisat. Penggunaan susu soya harus tetap diwaspadai karena 30 - 50% bayi masih mengalami alergi terhadap soya. Hindari paparan debu di lingkungan seperti pemakaian karpet, korden tebal, kasur kapuk, tumpukan baju atau buku. Hindari pencetus binatang diantaranya bulu binatang piaraan kucing, kecoak, tungau pada kasur kapuk. Meskpun pendapat ini masih kontroversial karena ada penelitian yang justru mengungkapkan dengan paparan binatang kucing sejak dini maka perjalan reaksi alergi atau asma dapat diminimalkan. Tunda pemberian makanan penyebab alergi, seperti ayam di atas 1 tahun, telor, kacang tanah di atas usia 2 tahun dan ikan laut di atas usia 3 tahun. Bila membeli makanan dibiasakan untuk mengetahui komposisi makanan atau membaca label komposisi di produk makanan tersebut. Bila timbul gejala alergi, identifikasi pencetusnya dan hindari. Pencegahan dengan pemberian obat-obatan anti alergi (zaditen atau antihistamin lainnya) dan pemberian nutrisi Calsium dan mineral lainnya  sudah terbukti  tidak efektif untuk pencegahan asma dan mulai ditinggalkan. Pemberian imunoterapi untuk pencegahan asma masih kontroversi dan perlu penelitian lebih jauh.

 

 

Daftar Pustaka

 

•1.       Barnes PJ: Inhaled glucocorticoids: new developments relevant to updating of the asthma management guidelines. Respir Med 1996 Aug; 90(7): 379-84.

•2.      Colver AF, Nevantaus H, Macdougall CF, Cant AJ. Severe food-allergic reactions in children across the UK and Ireland, 1998-2000. Acta Paediatr. 2005 Jun;94(6):689-95

•3.       Kramer MS, Kakuma R. 2004. Maternal dietary antigen avoidance during pregnancy and/or lactation for preventing or treating atopic disease in the child (Cochrane Review). In: The Cochrane Library, Issue 1, 2004. Chichester, UK: John Wiley & Sons, Ltd.

•4.       Larsen GL: Asthma in children. N Engl J Med 1992 Jun 4; 326(23): 1540-5.

•5.       Stores G, Ellis AJ, Wiggs L, Crawford C, Thomson A Sleep and psychological disturbance in nocturnal asthma. Arch Dis Child 1998; 78:413-9.

•6.       Reichenberg K, Broberg AG. Emotional and behavioural problems in Swedish 7- to 9-year olds with asthma. Chron Respir Dis 2004; 1:183-9.

•7.       Oddy WH, Peat JK, De Klerk NH. Maternal asthma, infant feeding, and the risk of asthma in childhood. J Allergy Clin Immunol 2002;110(1):65-7

•8.       National Asthma Education and Prevention Program: Expert Panel Report II: Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma. Bethesda, Md: NHLBI, NIH; 1997: 1-50.

•9.       National Asthma Education and Prevention Program: National Asthma Education and Prevention Program. Expert Panel Report: Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma Update on Selected Topics. J Allergy Clin Immunol 2002 Nov; 110 (5 Suppl): S141-219.

•10.   Gdalevich M, Mimouni D, Mimouni M. Breast-feeding and the risk of bronchial asthma in childhood: a systematic review with meta-analysis of prospective studies. J Pediatr 2001;139(2):261-6.

•11.   Custovic A, Simpson BM, Simpson A, Kissen P, Woodcock A. Effect of environmental manipulation in pregnancy and early life on respiratory symptoms and atopy during first year of life: a randomised trial. Lancet 2001; 358(9277):188-93.

•12.   Sears MR, Greene J, Flannery EM, Herbison GP. Early childhood exposure to pets in the home, sensitization and risk of asthma. Eur Respir J 2000;16(suppl 31S):555s

 

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY