Habasiah Syafri

Perjalanan ke Lombok ke Pulau Impian

Rabu, 01-06-2011 10:16:54 oleh: Habasiah Syafri
Kanal: Wisata

Perjalanan ke Lombok ke Pulau Impian

Selaparang, Mataram Kota dan Pantai Senggigi

Rencana ke Lombok sudah lebih setahun terpendam, tetapi baru terwujud pada bulan ini.  Dengan mendapatkan harga promo dari Lion Air bulan Maret  sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan.  Kalau dipikir perjalanan yang kami lakukan, saya dan dua orang kawan Iin dan Ades laksana melakukan travel on the spot serta modal nekat.  Awalnya dengan janji surga seorang kawan bahwa kami dapat bermalam di rumahnya agar bisa mengalihkan dana penginapan untuk kegiatan yang lain.  Tetapi akhirnya karena ketidakjelasan teman tsb akhirnya kami harus mencari penginapan yang  sama sekali tidak diketahui lokasinya. 

Untungnya sewaktu di bandara kami mengambil leaflet ataupun brosur yang ada, salah satunya adalah informasi mengenai wisma Nusantara.  Sebelumnya kami sempat singgah ke rumah teman tsb dengan membawa semua barang tetapi rumah terkunci rapat serta telfon yang sama sekali tidak bisa dihubungi.  Teman perjalananku hingga menggodaku bahwa diriku menggeret koper laksana mengikuti salah satu acara televisi yang harus tereliminasi, hihihihi…Hingga detik di saat saya menulis tentang perjalanan ini telfon genggamnya tidak juga aktif alias mati total.  Sami mawon dengan facebooknya.

Akhir cerita walaupun tidak mendapatkan tempat menginap gratis, tidak membuat sampai liburan kami menjadi tidak menyenangkan.  Terima kasih Tuhan, menginap di Wisma Nusantara dengan fasilitas yang bagus berlokasi di tengah kota dengan harga yang masuk akal yaitu Rp.175.000/hari.  Sayangnya kamar dengan kapasitas 3 buah tempat tidur tidak dilengkapi dengan selimut.  Siang hari setelah menaruh tas,  istirahat dan makan siang.  Di sepanjang jalan Pejanggik terdapat RM Taliwang H.Murad.  Menunggu masakan hingga hampir satu jam lamanya kurang sebanding dengan rasanya.  Kami sebelumnya tidak mengetahui bahwa kalau memesan ayam taliwang itu satu porsi isinya adalah satu buah ayam kampung utuh.  Sewaktu saya memesan 2 buah paha dan satu buah dada, pelayan sama sekali tidak menginformasikan bahwa ayam tsb tidak hanya berupa 2 buah paha dan satu buah dada tetapi berserta 2 buah sayap dan satu ekor kepala lengkap dengan leher jenjangnya, hihihi…Rasanya lumayan lelah juga harus menghabiskan satu ekor ayam.

Siang hari setelah makan dan bertanya kepada Mbak Fatimah, salah seorang staf hotel yang ramah dan baik hati.  Saya ucapkan banyak terima kasih untuk beliau yang dengan sabar menjelaskan kepadaku cara menuju ke Senggigi, Sekotong, Bangsal menuju ke Gili trawangan, dll.   Setelah mendapatkan informasi yang cukup, langsunglah kami menuju ke pantai Senggigi.  Sangat mudah untuk mencapai ke pantai Senggigi.  Jalan menuju perempatan setelah jalan Nakula menuju ke Pasar kebun Roek, kemudian lanjut lagi naik angkot menuju ke Senggigi. 

 

Sade (Desa Tradisional Sasak), Pantai Kuta dan Tanjung Aan

Pada hari kedua, kami mencoba untuk bisa mencapai Pantai Kuta dan Tanjung Aan bermodalkan peta yang kami ambil di airport.  Di peta tsb dituliskan beautiful beach pantai Kuta.  Siapa yang tidak penasaran dengan tulisan promo seperti itu? Di peta, jalur yang akan kami lalui adalah Sade yaitu desa tradisional suku Sasak.  Jadilah kami menuju ketiga tempat tersebut.  Cara menuju ke sana adalah dari Pasar Mandalika-Bertais menuju ke Praya (Rp.7000) kemudian naik angkutan umum ke Sade Rp. 3000. 

 

Di sade kita dapat melihat secara langsung cara menenun kain ikat serta kita dapat pula membeli kain hasil tenunan mereka.  Memang harus jago menawar untuk mendapatkan harga sebuah selendang, taplak meja ataupun sarung yang masuk akal tapi juga tidak menjadi raja tega.  Di saat akhir perjalanan di Sade berposelah kami di depan sebuah rumah Sasak yang agak tinggi dibandingkan rumah sasak lainnya.  Berfoto-foto sampai berebutan dengan pengunjung lainnya yang sewaktu kami mengobrol mereka juga berasal dari Jakarta.  Awalnya saya menggoda seorang bapak dan seorang cowok muda yang berpose dengan gaya mata tidak melihat kamera alias jenis-jenis foto pre wedding.  Berguraulah saya kalau mereka sedang melakukan foto pre wedding.  Ada seseorang yang memang bertugas mengambil foto bapak tersebut.  Kami meminta untuk membantu kami berfoto berdua (saya dan Iin).  Sewaktu ngobrol dengan fotografer tersebut, dia berkata bahwa bapak yang saya goda barusan adalah dari pemda DKI Jakarta dan jabatannya adalah Setda.  Ya ampyuuuuunnn…maaf ya pak Setda atas gurauan saya yang amat sangat kurang ajar, hehehe…

Dari Sade menuju ke pantai Kuta dengan menaiki angkot satu kali dengan membayar Rp.3000.   Makan siang di pinggir pantai sambil menunggu kawan seorang yang harus mengerjakan tugas kantor di saat lagi liburan.  Di warung murah meriah yang banyak dikunjungi turis mancanegara alias bule lah yang membuat kami ingin mencicipi masakan di warung tersebut.  Salah satu moto yang harus selalu diberlakukan walaupun belum tentu tidak keliru adalah bila mencari makanan yang kita tidak ketahui dan berharap rasanya enak maka carilah rumah makan atau warung yang banyak dikunjungi orang.  Syukurlah rasa nasi campurnya menggoyang lidah walaupun tidak sampai menggoyang pantat. 

Salah satu yang kurang mengenakkan di pantai ini adalah para pedagang kain, gelang maupun kaos seperti memaksa agar kami membeli barang dagangannya.

Walaupun berkali-kali menolak tetapi kami diikuti hingga ke pantai dan terus saja memaksa.  Sampai salah seorang anak kecil yang menjual gelang berkata bahwa dia akan pergi dari samping saya bila telah memberinya uang seribu rupiah.  Lho ini pedagang atau peminta-minta sih? Langsung saya jabanin untuk menemani hingga sore hari.  Kalau satu orang saja mungkin saya akan memberi, tetapi begitu banyak pedagang dengan gaya seperti itu membuatku malas meladeni pedagang-pedagang tersebut.

Pantai Kuta adalah salah satu pantai terindah yang penah kulihat dalam hidup.  Pantai pasir putih dengan gradasi warna air laut antara hijau dan biru tua yang sangat pas dengan warna langit biru muda disertai awan putih yang tidak terlalu bergerombol.  Pasir di pantai Kuta berbutir dan terasa begitu sempurna butirannya. 

Kami menghabiskan waktu hingga satu jam lebih kemudian memutuskan untuk ke Tanjung Aan.  Naik kendaraan umum dengan membayar Rp.5000 sampailah kami di Tanjung Aan.    Bentuk pantai yang indah dengan adanya batu karang besar dengan pasir campuran berbutir dan halus.  Di Tanjung Aan ini bila kita menapak pasir maka akan tenggelamlah kaki kita.  Bukan karena berat badan yang lumayan berat tetapi memang pasir tersebut seperti itu.  Tapi terus terang hal itulah yang membuat kami tertawa senang merasakan bagaimana kaki tenggelam di dalam pasir lembut.  Hingga waktu menunjuk pukul 4 lebih kami memutuskan harus kembali karena informasi yang kami peroleh angkutan umum hanya sampai jam 5 sore.  Hingga lebih 15 menit menunggu, akhirnya kami memutuskan untuk naik ojek hingga di Pantai Kuta.  Setelah itu kami harus kembali menunggu kendaraan umum untuk ke Praya.  Tetapi karena dikatakan bahwa jarang kendaraan umum hingga ke pantai maka kami harus berjalan kaki di perempatan.  Kami mendapat angkutan menuju ke Praya tetapi karena sudah melewati maghrib maka angkutan dikatakan tidak ada.  Untunglah ada taksi yang habis mengantar penumpang ke gerupug.

 

Gerupug adalah ujung dari tanjung Aan yang terkenal dengan ombak besar.  Sehingga Gerupug lebih diminati oleh para peselancar.  Turun di Praya kami menunggu lagi angkutan ke Mandalika-Bertais.  Tetapi hingga hampir 20 menit tidak ada tanda-tanda kemunculan angkutan kota kami menyerah untuk naik taksi lagi.  Informasi yang kami peroleh dari salah seorang tukang bengkel bahwa di perempatan dekat lampu merah biasanya mangkal supir taksi Blue Bird.  Katanya sih kalau naik taksi kisarannya mencapai 60 ribu sampai di Mall Mataram.  Tetapi tiba-tiba ada angkutan yang mengajak kami karena angkutan tersebut sekaligus ingin ke arah kota alias melewati Mall Mataram.  Jadilah kami bermodalkan 10 ribu/orang sampai ke Mall.  Lumayanlah mengirit 10 ribu/orang.

 

Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Menok

Hari ketiga kami memutuskan untuk ke Gili Trawangan.  Menuju ke Bangsal sebenarnya ada angkutan Colt L300 langsung yang ke arah Tanjung tetapi waktunya tidak tentu.  Maka kami memutuskan untuk mencoba angkutan model naik turun.  Awalnya menuju pasar Kebon Roek kemudian menuju ke lapangan Rembiga dengan menggunakan angkot yang menuju ke Airport.   Dari lapangan Rembiga langsung naik angkot Rp.10.000 turun di pertigaan. Sebelumnya terjadi adu mulut dengan salah seorang sopir angkot karena memaksa mengantar kami dengan meminta ongkos borongan Rp.200 ribu dari pasar Kebon Roek hingga ke Bangsal.   Sewaktu perjalanan mengelilingi gunung, anehnya, saat melihat monyet berkeliaran langsung teringat hari ulang tahun kawan sekantor yang sama dengan kawan seperjalanan saya yaitu tanggal 20 Mei.  Perjalanan menuju ke bangsal berkelok-kelok persis kelok 44 di Padang yang juga melewati hutan monyet Sampai di pasar hanya ada dua pilihan yaitu ojek atau cidomo.  Dikarenakan belum pernah merasakan naik Cidomo maka diputuskanlah untuk mencoba Cidomo.  Cidomo sejenis delman yaitu angkutan kayu yang ditarik oleh seekor kuda.  Biaya ke tempat penyebrangan naik Cidomo sekitar 10 – 15 ribu.

 

Tujuan utama adalah ke gili Trawangan, dengan hanya membayar 10 ribu menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit menggunakan perahu umum.  Perahu yang sarat muatan tidak hanya penuh orang tetapi juga penuh barang seperti air bersih atau air mineral di galon, tabung gas ukuran besar berwarna biru, pisang bertandan-tandan, makanan ringan, telur berkilo-kilo, dsb.  Sehingga sangat sulit untuk masuk dan keluar perahu.Saya sempat bergurau karena begitu banyak makanan maka biaya tersebut sudah termasuk dengan snack dan pisang sepuas hati.  Seorang ibu yang membawa dagangan tersebut juga membalas gurauan sekalian aja sama telur mentahnya, hehehe….Kebayang dech andai saja ada kompor bisa buat telur dadar berpiring-piring dech. Cukuplah membuat kenyang penumpang satu perahu, hehehe...  Bila malas menggunakan perahu umum, terdapat perahu yang bisa disewa secara private seharga 100 ribu/kapal hanya mengantar saja.  Perahu umum setiap saat berangkat bila penumpang sudah mencapai 25 orang.  Terakhir keberangkatan kapal jam 5 sore.   Sampai di gili Trawangan jam 11:30 hanya terlambat satu jam untuk mengikuti tur menggunakan glassbottom boat mengelilingi 3 gili yaitu Gili Trawangan (ini jelas), Gili Air dan Gili Menok.

Akhirnya terpaksa kami memutuskan perjalanan tur  dilakukan besok hari.  Setelah mencari penginapan di Trawangan Cottages seharga Rp 250.000 dilengkapi dengan pendingin udara dan tidak ada televisi.  Kamarnya cukup bersih tetapi sayangnya air untuk mandi tidak menggunakan air tawar tetapi air asin.  Setelah istirahat sebentar kami langsung mencari makan.  Dikarenakan salah seorang kawan yang telah berjanji pada dirinya bahwa selama di Lombok hanya memakan makanan khas Lombok maka berusahalah kami mencari itu.

Akhirnya setelah menyusuri tiga lorong maka sampailah kami di sebuah warung makan yaitu warung Dewi dekat dari pasar yang katanya menyediakan makanan khas Lombok.  Makanannya yaitu ayam taliwang dan kangkung plecing.  Tetapi sayangnya ayam taliwang yang disediakan tidak sama dengan ayam taliwang yang telah kami coba di Mataram kota.  Ibu penjual warung tersebut ngotot bahwa ayam yang disediakan adalah ayam kampong sampai mau memperlihatkan kepala ayam tersebut.  Padahal walaupun kami orang kota kami juga tidak goblok-goblok amat sampai tidak bisa membedakan ayam kampong atau bukan.  Penjual warung sewaktu menghitung makanan sembarangan sehingga harga yang disampaikan ke kami setelah makan sangat tidak masuk akal.  Dengan hanya potongan ayam 4 buah dianggap sama dengan satu ekor ayam.  Kangkung plecingnyapun tidak disertai dengan kacang tanah dan rasa yang hambar.  Tapi akhirnya saya menyimpulkan bahwa mungkin harga mahal karena berada di pulau. 

Tetapi berbeda pada malam hari kami mencari makan yang hanya menyusuri  lorong dekat penginapan dengan harga yang terjangkau dan rasa yang lumayan enak, serta penjual yang sangat ramah.  Walaupun salah minuman dari yang dipesan tetapi hal ini tidak menjadi masalah buat kami karena pemilik warungnya yang begitu ramah.  Bahkan sewaktu sedang menyantap makanan sambil menonton tv acara kongres PSSI untuk penentuan ketua umum pemilik warung menanyakan kepada kami siapa calon yang kami pilih. Bla..bla..bla..terjadilah perbincangan ringan diantara kami.  Setelah makanpun beliau menemani kami sampai di luar warung dan mengingatkan kami untuk kembali ke warungnya bila hendak makan.

Sebelum makan malam hari waktu kami beristirahat tidak sampai satu jam, karena setelah makan siang hingga sore menjelang maghrib kami bertiga mengelilingi pulau di gili trawangan.  Awalnya kami ingin menyewa cidomo untuk keliling pulau tetapi harga yang ditawarkan sangat mahal yaitu 150 ribu.  Kupikir sayang juga, mending keliling santai sambil berjalan kaki.  Sewaktu mengelilingi serasa tidak sampai ke tempat terakhir kita mulai berjalan.  Tanpa dirasa kaki sudah mulai rasa pegal, tapi niat untuk berkeliling tidak mudah surut.  Di pinggir pulau itu kita dapat melihat pasir saja, pasir penuh sampah, pohon bakau, café yang sudah tidak dipergunakan lagi, dsb. 

Kami dapat melihat penginapan yang model rumah sasak, modern yang telah dilengkap dengan kolam renang, arsitektur bali, western yang hotelnya dikelilingi rumput hijau yang indah atau bahkan hotel yang dikelilingi pasir putih bahkan adapula penginapan yang untuk mencapai ke kamar harus melalui rawa-rawa.  Beberapa kali berhenti untuk istirahat menyantaikan kaki kemudian lanjut perjalanan kembali.  Setelah sampai di cottages salah seorang kawan penasaran berapa luas keliling gili trawangan tsb.  Karena kami berjalan hampir 4 jam lamanya.  Minta bantuanlah kepada mbah Google dan diperoleh angka 348 hektar are alias 34,8 km.  Bayangkan hampir 35 km saya dapat berjalan dengan senang hati.  Kalau diingat-ingat rasanya enggak kebayang bisa berjalan dengan jarak sejauh itu apalagi bila dilakukan di Jakarta.  Yah..maaf..maaf saja…

Malam hari setelah makan tanpa ba…bi..bu saya langsung tidur pulas dan berkata bahwa tidak akan ikut bila mereka mau party di café yang jaraknya sangat dekat dengan penginapan kami.  Bangun di pagi hari menanyakan bagaimana suasana party apakah ketemu kecengan? Apa jawab temanku mereka semua tertidur.

Hari kedua saat mengelilingi Gili Trawangan, menok dan air kerjaanku di kapal menggoda para awak kapal.  Dengan body ala sixpack, perut rata kulit hitam legam terbakar matahari memang terkesan sangat macho (macho di sini bukan mantan chopet!).  Bukannya melakukan skorkeling tetapi lebih banyak hanya bersandar ke badan perahu atau bersandar ke badan awak kapal tersebut, huahahahaha...

Sebelum ke Gili Air kami melakukan snorkeling yang lokasinya dapat melihat penyu.  Candaan salah seorang awak kapal yang berperan menjadi tour guide, bahwa memang di lokasi tersebut dapat melihat penyu, tetapi jangan marah atau menyalahkannya bila tidak bisa menemukan penyu seekorpun.  Karena penyu-penyu tidak memberikan no yang bisa dikontak.  Seru rasanya bersama dengan mereka tetapi akhirnya setelah makan siang di Gili Air, kami memutuskan untuk langsung kembali ke bangsal karena mengejar jadwal keberangkatan ke Sumbawa.

 

Pulau Maluk-Sumbawa

 

Bertabur bintang di langit, kupikir itu hanya akan selalu menjadi khayalan.  Tapi hal itu benar kulihat di pulau Maluk di Sumbawa NTB.  Keindahan pulau Maluk ini kudapat dari seseorang yang bersama-sama menggunakan jasa angkutan umum dari pasar kebon Roek ke pantai Senggigi.  Ke Sumbawa merupakan perjalanan yang memang tidak terencana.  Kami bertiga, saya dan dua orang kawan saya Iin dan Ades sama sekali tidak merancang rencana perjalanan.  Kami hanya melakukan perjalanan dengan modal bertanya kanan kiri dan tentu saja menggunakan jasa om Google.

Pantai Maluk dengan butiran pasir dari yang seperti biji lada (lebih kecil lagi) hingga halus, dari yang berkarang besar hingga pecahan karang dan kerang.  Pantai Maluk yang kualami terbenamnya matahari membuat suasana menjadi begitu indah.  Saat sore hari banyak orang memancing dari pinggir pantai, jogging, berenang bahkan hanya menyusuri pantai sambil berfoto dan selalu mengucapkan begitu indahnya negeri kita tercinta ini.

Cara mencapai pantai Maluk ini kurasakan cukup perjuangan, karena mengejar waktu jam 9 malam menggunakan Damri.  Kami memutuskan untuk berangkat jam 9 karena mengejar waktu  setelah ke Gili Trawangan, Gili air dan gili  Menok  tanpa mengetahui akan bermalam di mana.  Sampai di Maluk tengah malam jam 2 lewat 30 dan disarankan oleh kondektur Damri untuk bermalam di penginapan Kiwi.  Diantarlah kami ke penginapan Kiwi oleh Damri, tetapi sungguh sayang malam itu kamar sudah penuh.  Pihak Kiwi menganjurkan kami untuk ke penginapan Baku Dapa, tetapi apa dinyana pompa air rusak sehingga tidak ada air.  Kemudian kami diarahkan untuk ke penginapan sinar Balong yang lokasinya persis di Jalan Raya Maluk.  Puji Tuhan, masih ada kamar satu buah yang tersisa walaupun hanya menggunakan kipas angin dengan harga Rp.100.000/malam.

Tepat jam 3 subuh kami sampai di kamar yang hanya memiliki 2 buah tempat tidur dan tanpa basa-basi setelah malalui proses bersih-bersih diri kami langsung tertidur pulas.  Hingga terbangun pukul delapan lewat, mencari makan pagi yang sangat mudah didapat di sepanjang jalan raya Maluk dan langsung mencari pantai yang sudah kami incar.  Pantai Maluk di siang hari dimana matahari sangat begitu bersinar membuat kulit semakin menggelap.  Dengan modal sunscreen hasil meminta dari teman dengan jumlah yang sudah sangat terbatas otomatis tidak mampu menahan sengatan matahari yang begitu menyengat.

Karena matahari telah berada diatas kepala, kami memutuskan untuk istirahat sebentar di hotel sambil menunggu waktu cek out jam 2 siang dan berjanji akan kembali lagi ke pantai siang hari menjelang sore.  Di pinggir pantai banyak terdapat warung makan yang menjual makanan berbagai macam dari jual ikan bakar, coto Makassar, nasi goring, mie goring, dsb.  Awalnya ngiler juga merasakan makan ikan di pinggir pantai, sayangnya ikan yang dijual kurang segar.  Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba coto Makassar yang rasanya lumayanlah mengobati rasa rindu. 

Setelah makan kemudian membayar di warung, saya melihat buah alpukat dengan ukuran jumbo yang ukurannya 2,5 kali lebih besar dari alpukat biasa.  Buah tsb dengan warna hijau mengkilap sangat membuat rasa ketertarikan apakah rasanya enak karena bentuk dan warnanya yang begitu menggairahkan.  Saya bertanya apakah alpukat itu dapat dibeli? Tetapi penjual mengatakan bahwa alpukat tsb hanya dijual dalam bentuk juice.  Bentuk komprominya adalah kami berjanji sore hari setelah dari menyusuri pantai akan kembali dan memesan juice alpukat dan wanti-wanti ke penjual untuk menyimpan alpukat yang ukurannya paling besar dan warna kulitnya yang paling indah.

 

Menyusuri kembali pantai Maluk hingga matahari terbenam masih juga terasa kurang puas hati ini, tapi apa daya kami harus kembali ke Mataram jam 9 malam.  Sebelum makan malam kami mencoba terlebih dahulu juice alpukat yang rasanya sama saja dengan alpukat biasa.  Tapi setidaknya terpuaskanlah rasa hati yang sangat penasaran ini, hehehehe…

Kembalilah kami ke Mataram pukul 2:30 yang telah memesan kamar di penginapan di tengah kota di daerah Cakra, Jl. Beo.    Sampai di Wisma, penunggu sebanyak 3 orang tidak ada yang bangun.  Jadilah kami kreatif agar dapat masuk ke dalam kamar tanpa mengganggu penghuni wisma yang lain.  Saya sampai tidak habis mikir kenapa ada orang tertidur sangat pulas tidak bisa terbangun walaupun kami sudah mengetuk pintu berkali-kali, menelepon berkali-kali bahkan masuk dan memanggil-manggil juga tidak mampu membangunkan mereka. 

Hingga mereka juga kaget bagaimana kami bisa masuk ke dalam kamar, tetapi itu menjadi rahasia kami saja.  Setelah dari Maluk dengan waktu tersisa hanya satu hari saja kami berencana untuk dapat melihat Gili Nanggu dan Gili di sekitarnya.  Awalnya yang kami peroleh informasi adalah daerah Sekotong yang katanya masih belum terjamah dibandingkan dengan gili trawangan dan sekitarnya.  Informasi tsb kami peroleh dari kenalan yang bersama-sama menaiki bemo menuju ke Pasar Kebon Roek tetapi akhirnya diantar hingga di depan penginapan.

 

Gili Nanggu, Gili Tangklong, Gili Sudak dan Gili Honeymoon

 

Untuk mencapai Sekotong sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi karena kami pencinta angkot sejati maka harus melakukan turun naik angkot hingga 4 kali.  Dari Cakra bisa naik angkot warna kuning (jurusan pasar kebon Roek-Pasar Mandalika, Bertais) menuju ke Pasar Mandalika-Bertais dengan modal Rp.3000/orang.  Kemudian naik angkot jenis Colt L300 menuju Lembar.  Ongkos yang harusnya dibayar menurut penumpang adalah Rp.8000/orang tetapi karena sang sopir mengetahui kami bertiga adalah pendatang alias wisatawan maka harga digetok menjadi Rp.15.000/orang.  Dari Lembar kami harus mengganti angkot hingga ke Sekotong dengan biaya Rp.5000/orang.  Tidak hanya sampai di Sekotong perjalanan kami, tetapi untuk bisa mencapai Gili Nanggu kami harus ke Tawun.  Dari Sekotong pindah angkot lagi dengan membayar Rp.5000/orang.  Untuk ke Gili Nanggu dan sekitarnya kami harus menyewa secara private satu buah boat yang telah ada harga resminya yaitu sekitar 200-230 ribu.  Untuk menyewa life jacket dan alat snorkeling (tidak termasuk fin) biayanya sekitar Rp.30-50 ribu.

Perjalanan boat yang kita sepakati adalah ke 4 gili, yang utama adalah Gili Nanggu.  Gili Nanggu adalah pulau yang pertama kita jelajahi.  Kami bertiga begitu terpesona dengan keindahan gili ini.  Warna langit yang begitu serasi dan kontras dengan warna laut yang bergradasi diselimuti dengan pasir putih bersih.  Langsung saja tanpa berfikir panjang berenang hingga tanpa sadar menghabiskan waktu hampir 2 jam. 

Di Gili Nanggu yang merupakan private beach dilengkapi akomodasi dengan model rumah Sasak yang terbuat dari kayu dan beratap rumbai seharga Rp240.000/rumah.  Rumah yang dapat diisi maksimal 3 orang  berupa 2 buah kamar tidur yang terletak di atas dan kamar mandi di bawah.  Terdapat penangkaran penyu yang kurang terpelihara.  Walaupun rasanya kurang puas mengeksplore gili Nanggu  tetapi kami memutuskan harus segera menjelajahi gili-gili yang lain.  Hal ini karena kekhawatiran kami untuk bisa kembali ke darat sebelum jam 5 sore karena terbatasnya angkutan umum yang kembali ke Lembar.

Gili berikutnya adalah Gili Tangklong yang berpenghuni 15 KK yang hanya ditugaskan untuk menjaga tanah di gili tersebut.  Pas jam makan siang dan untungnya ada warung makan di gili itu.  Setelah berhari-hari selalu diisi dengan ayam taliwang dan kangklung plecing maka di gili inilah kami merasakan ikan bakar baronang dengan sambal segar.  Kami memesan 3 buah kelapa muda.  Kelapa pertama wah cukup membuat kami terperangah karena ukurannnya super besar.  Kemudian datang kembali kelapa kedua yang ukurannya 11-12 dengan kelapa pertama.  Saya langsung menyodorkan kedua kelapa  kepada teman saya dengan harapan pastinya kelapa ketiga tidak akan beda jauh ukurannya dengan kelapa kesatu dan kedua.  Tetapi alamak kelapa ketiga datang dengan ukuran lebih kecil, 1/3 dari kelapa 1 dan dua, huahahaha… tapi akhirnya kelapa ketiga diambil oleh teman saya karena katanya dia lebih senang rasa kelapa yang sudah agak tua karena mirip rasa sprite.  Setelah kenyang dan meilihat-lihat pantai sebentar, kami menuju ke gili ketiga yaitu Gili Sudak.  Di Gili ini kami hanya berenang-berenang sebentar.  Pinggir pantainya hampir sama dengan Gili Nanggu tetapi lebih banyak pecahan karang dan kerang serta beberapa buah sampah palstik yang sangat mengganggu pemandangan indah.

Gili honeymoon (entah betul atau salah ejaan tulisan ini), merupakan pulau kecil yang sangat indah dengan pasir putir yang terlihat berkilauan tertimpa sinar matahari.  Terus berucap mengagumi keindahan pulau kecil ini yang sama sekali tidak berpenghuni.  Begitu indahnya perpaduan antara langit, air laut dan butiran pasir ini sehingga sangat sulit untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat dalam memuja ciptaan Yang Maha Kuasa.  Sehingga tercetus dalam hati bahwa suatu saat aku kan kembali untuk menikmati indahnya gili-gili di Lombok ini.  Insya Allah…

Bookmark and Share

Tag/Label jalan, lombok, ntb, sumbawa, pulau maluk, gili trawangan, gili nanggu, gili tangklong, gili sudak, gili honeymoon, gili air, gili menok, sasak, tanjung aan, selaparang, pantai senggigi, pantai kuta, mataram
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
3 komentar pada warta ini
Selasa, 07-06-2011 10:59:41 oleh: eygran quido

ehm..jd pengen k lombok neh. Seru bgt deh gaya backpaker. Btw, kalo boleh tau seorang habis berapa duit ya ?



Rabu, 08-06-2011 15:34:07 oleh: Habasiah

Hei Eygran,
Kalo dihitung-hitung kurang dari 2 juta itu sudah dengan makan setiap hari dan oleh-oleh makanan kering, hehehe...
Tiket pesawat Rp.1000.000 (lion Air, pas promo)
Hotel dibagi bertiga masing-masing kurang dari 234rb (Hotel di Mataram Rp.175.000/malam, saya bermalam 4 hari)
Hotel gili trawangan Rp250/mlm, jadi Rp 84.000/org
Hotel di Sumbawa Rp.100.000/hari jadi masing-masing 30 ribuan
tiket damri Mataram-Sumbawa 140.000 (PP)
sewa boat (sekotong ke 4 gili)230/hari dibagi 3= 77.000
sewa alat snorkeling di sekotong Rp.35.000/orang
sewa life jacket di gili trawangan Rp.15.000/orang
perahu umum dari bangsal-trawangan (PP)Rp.20.000
Transport taxi airport Rp. 20.000/org (PP)
transport angkot kurang dari Rp.50.000

Cari makanan disesuaikan dengan budget kantong saja. Di pondok puyung sudah menu plecing kangkung, ayam bakar plecing, sate, juice jeruk Rp.64.000, dibagi 3 yah jadinya 21 ribuan

Makan pagi beli nasi uduk atau nasi kuning di sekitan hotel sekitar Rp.4000-5000/porsi.

Hayu jangan ragu2 ke Lombok;p...





Selasa, 20-03-2012 15:59:18 oleh: arpad

Wah terima kasih banyak mau sharing. Infonya sangat lengkap. Sangat membantu krn nanti April depan mau survey buat anakku.
aku ke Gili Trawangan 3X tp 10 15 thn yg lalu !
Waktu itu msh sepi n alamnya msh asli. Saat snorkeling kuhitung ada 25 jenis ikan lebih di sekitarku n tiap 5 meter msh bnyk jenis lg. Di pinggir pantai dgn air laut hanya 40 cm ikan warna/i bertebaran
It was paradise before your eyes ...
Moga2 msh ada alam nan indah yg tersisa.
Jangan bosan2 menulis spt ini utk destinasi wisata manapun ya krn pasti ada yg terbantu.Aku salah satunya ! Salam Arpad




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY