Tindak kekerasan pada orang lain tidak selalu berupa kekerasan yang mengakibatkan seseorang terluka ataupun mati, namun kekerasan dibagi menjadi dua, yatu : kekerasan secara fisik dan kekerasan secara batin (mental). Kekerasan secara fisik misalnya: memukul, pemaksaan, dan membunuh. Sedangkan kekerasan secara batin (mental) misalnya: penghinaan, perselingkuhan, dan juga penggunaan baby sitter. Seperti yang kita ketahui, baby sitter terdiri dari dua kata berbahasa Inggris. Baby yang artinya bayi (anak-anak berusia 0 - 5 tahun), sitter yang artinya pengasuh. Jadi baby sitter diartikan sebagai pengasuh bayi. Biasanya orang tua menggunakan jasa baby sitter dikarenakan kesibukannya dalam berkarier, kesibukan rumah tangga, dan lain-lain.
Kekerasan batin/mental lebih berbahaya dibandingkan kekerasan secara fisik, karena kekerasan batin dapat menghantui korbannya hingga mereka mati. Sedangkan kekerasan fisik hanya melukai mereka dan nantinya dapat disembuhkan, bahkan kekerasan fisik yang menyebabkan korbannya hingga mati tidak sebanding sakitnya dengan kekerasan secara batin. Hal ini dikarenakan apabila seseorang meninggal akibat kekerasan secara fisik berlangsung sangat cepat dan pada hari itu juga, namun kekerasan batin dapat membunuh sang korban secara perlahan dan rasa sakitnya lebih terasa.
Seseorang yang semasa kecilnya menggunakan jasa baby sitter akan memberikan pengaruh negatif terhadap pola tingkah laku anak. Untuk anak perempuan akan cenderung menjadi lebih manja dan sulit untuk menjadi anak yang dewasa, sedangkan bagi anak laki-laki yang menggunakan baby sitter untuk menjadi pengasuhnya, mayoritas anak-anak tersebut menjadi lembek atau disebut banci. Apabila ini semua dilakukan hingga mereka besar akan memberikan dampak negatif kepada orang tua, karena ketergantungan anak kepada baby sitternya bukan kepada ibunya sendiri yang telah melahirkannya. Akhir-akhir ini ditemukan kasus baby sitter membawa lari anak orang dengan modus menculiknya dengan meminta sejumlah uang. Hal inilah yang menjadi acuan penulis untuk menulis karya tulis ini.
Mengapa penggunaan baby sitter merupakan tindakan kekerasan?
Memang tidak memberikan dampak yang secara langsung, namun secara tidak langsungnya orang tua telah merampas kebahagian anak untuk mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya bukan dari pengasuhnya. Hal ini dapat membuat anak menjadi depresi bahkan tidak mau mempedulikan kedua orang tuanya, karena mereka merasa kedua orang tuanya juga tidak mempedulikan dirinya. Setelah mereka menjadi anak yang sudah tahu apa artinya cinta, mereka pasti berfikir bahwa sebenarnya orang tua mereka tidak mencintai mereka, yang mereka tahu hanya uang dan karier saja. Pemikiran tersebut dapat merangsang anak untuk jarang berada dirumah dan hal inilah yang dapat merangsang anak terhadap pergaulan bebas maupun pengguanaan obat-obatan terlarang. Itu berarti penggunaan baby sitter termasuk kekerasan secara batin atau kekerasan mental.
Untuk mendapatkan data yang akurat, penulis melakukan riset kecil dengan mewawancarai 5 orang tua dan 5 anak-anak yang menggunakan jasa baby sitter, termasuk mewawancarai sang baby sitter. Dengan 1 pertanyaan yang sama kepada masing-masing narasumber. Pertama kali yang dilakukan penulis yaitu dengan mewawancarai orang tua yang menggunakan jasa baby sitter untuk menjadi pengasuh anaknya. Kedua, menanyakan kepada sang anak yang diasuh oleh baby sitter, kemudian juga kepada baby sitter tersebut.
Pertanyaan yang diberikan untuk orang tua pengguna jasa tersebut, yaitu : "Apa alasan anda menggunakan jasa pengasuh bayi atau baby sitter untuk anak anda?" Pertanyaan ini pertama-tama diberikan kepada ibu AN, lalu ia menjawab "Ya, karena saya percaya dengan baby sitter ini. Yang saya tahu dia berpengalaman sekali menjadi baby sitter, dengan alasan agar anak saya menjadi anak yang pintar dan mandiri." Pertanyaan kedua kepada ibu RS, jawabannya yaitu "Karena saya sibuk dengan pekerjaan saya, apalagi saya baru saja naik pangkat. He..he..." Ketiga kepada ibu UP, ibu itu menjawab "Sorry mas, gak ada waktu tuh (gak ada waktu untuk mengurusi anaknya)." Lalu pertanyaan kepada ibu AMdijawab:"Saya terpaksa karena pekerjaan saya tersita di kantor, saya pergi pagi-pagi dan pulang hingga larut malam." Dan pertanyaan yang terakhir kepada ibu NC memperoleh jawaban: "Saya banyak kerjaan dikantor, jadi gak sempet ngerawat anak saya."
Berdasarkan jawaban para ibu-ibu tersebut didapatkan hasil bahwa orang tua yang memiliki alasan karena faktor pekerjaan mereka adalah 80% dari total nara sumber. Itu berarti alasan mengapa orang tua menggunakan jasa baby sitter dikarenakan alasan job atau pekerjaan. Artinya orang tua rela mengorbankan anaknya demi pekerjaan yang mereka lakoni. Bahkan salah satu nara sumber mengatakan bahwa dirinya tidak ada waktu untuk anaknya, itu berarti dia tidak mempedulikan nasib anaknya. Saat itu juga saya merasa kasihan kepada anaknya.
Kemudian pertanyaan yang diberikan kepada sang anak (9-17 tahun) yang diasuh oleh baby sitter,"Apa yang anda rasakan saat anda diasuh oleh baby sitter?" Pertanyaan ini pertama-tama diberikan kepada anak yang berinisial RN yang berumur 10 tahun, lalu dia menjawab "Ehm, biasa-biasa aja kak. Waktu itu saya berumur 5-9 tahun gitu, saya seneng banget diasuh sama dia. Tapi aku lebih seneng diasuh sama orang tua aku." Kemudian kepada anak yang berinisiak CN (11 tahun), "Gak tau, tapi baby sitter saya baik banget. Tapi ibu saya jarang ada dirumah, jadi maennya sama mbak itu." Setelah itu saya bertanya kepada GR yang berumur 16 tahun (2 SMP), "Ehm, gw sedih banget coz gw jarang banget dapet perhatian dari bonyok gw. Gak tau kenapa? Tapi yang jelas saya gak bisa ngerasain apa yang orang lain rasakan." Yang ketiga saya mewawancarain anak bernama EG (12 tahun), "E,e,e,eE,e" ternyata anak itu memiliki gangguan dengan bicaranya. Namun anak itu menulis di kertas, "Saya sedih banget kak, saya jarang dapet perhatian dari ibu dan ayah saya. Tapi saya senang dengan mbak TT (nama baby sitternya)." Yang terakhir kepada EC (17 tahun), "Males banget diasuh sama baby sitter ntuh, jadi gw jarang banget diperhatiin sama kedua orang tua gw."
Begitulah jawaban-jawaban yang terlontar dari mulut masing-masing nara sumber, hasilnya ternyata mereka semua tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Walaupun mereka mengatakan senang dengan baby sitter mereka masing-masing, namun di raut wajah mereka saya melihat kesediahan yang mereka alami.
Kemudian penulis mewawancarai kelima baby sitter yang sudah berpengalaman dalam mengasuh anak. Penulis menanyakan hal yang sama kepada kelima baby sitter tersebut: "?Bagaimana perilaku anak terhadap anda?". Pertanyaan ini pertama-tama diberikan kepada seorang baby sitter berinisial NN, dia menjawab "Biasa aja, anak asuhan saya senang-senang aja sama saya. Malahan dia pengen sama saya terus." Setelah itu saya bertanya kepada SN, "Menurut saya, selama saya mengasuh dia, dianya seneng-seneng aja sama saya. Gak ada yang aneh tuh." Lalu yang ketiga kepada MI, "Disini saya seneng-seneng aja, tapi yang gak senengnya waktu dia nangis-nangis gitu. Anak yang saya asuh ini gak aktif banget, sering diem-diem aja." Setelah itu penulis bertanya kepada TT, "Ehm, anak ini memang gak bisa ngomong. Tapi saya tau kalo anak ini kayaknya menderita banget saya asuh, mungkin karena ortunya kali ya." Dan yang terakhir bertanya kepada YN, "Gimana yach? Yang jelas anak itu lebih nyaman dengan saya dibanding dengan orang tuanya sendiri."
Sesuai dengan hasil wawancara dengan baby sitter, penulis beranggapan bahwa mereka hanya tahu kalau anak yang mereka asuh senang dan sayang dengan mereka. Namun mereka tidak tahu tekanan batin yang anak itu rasakan.
Jadi, kesimpulannya adalah penggunaan baby sitter sebenanrnya dapat merubah pola tingkah laku anak dan juga dapat memutuskan hubungan antara orang tua dengan anaknya sendiri. Hal tersebut dapat berdampak kepada masa depan anak itu sendiri. Dengan begitu penulis beranggapan bahwa penggunaan baby sitter termasuk kedalam kekerasan yang secara tidak sadar orang tua lakukan.
Penulis seorang siswa SMU