Sudah lama diberitakan bahwa makanan di Medan enak-enak. Tergantung selera, tinggal sebut kita bisa dapatkan segala jenis makanan di berbagai tempat di Medan.
Hebatnya lagi kota Medan memang seolah menegaskan kekuatannya di wisata kuliner. Banyak tempat makan yang tersebar di pelosok kota mulai dari kelas café, restaurant, maupun yang kelas kaki lima namun bersih. Beberapa di antaranya sangat mirip dengan negara Singapura dan Malaysia. Tidak heran mengingat posisi mereka yang sangat berdekatan. Naik pesawat cuma lebih kurang 1 jam saja.
Salah satu tempat yang saya singgahi adalah Jalan Semarang. Siang hari sisi kiri dan kanan adalah ruko-ruko dengan segala macam bisnis baik ritel maupun grosir tetapi begitu malam jalan ini menjadi pusat makanan dari ujung jalan ke ujung berikutnya. Lampu-lampu hemat energi putih warna putih terang menyinari sepanjang jalan yang sudah ditebari meja kursi plastik, gerobak penjual makanan aneka rupa.
Saya berhenti di suatu titik. Begitu turun dari kendaraan langsung diserbu oelh para penjual yang ada di sekitar kami menjajakan apa pun yang mereka punya.
Pada jarak setiap 100 meter ada seorang penjual minuman eksklusif. Pedagang lain tidak boleh menjual minuman. Ini satu bentuk monopoli di jalan Semarang ini. Tetapi tampaknya ini tidak terlalu dipermasalahkan pedagang lain. Bentuk toleransi di antara mereka sehingga mereka bisa hidup berdampingan.
Kami dengan mudah mencari tempat duduk karena hari baru menunjukkan pukul 06.30 malam. Belum terlalu padat pengunjung.

Mata saya tertuju pada gerobak yang menjual Bak Kut Teh, sup iga babi dalam claypot. Makanan ini agak jarang bisa diperoleh di Jakarta bahkan di daerah Kota sekalipun. Di Singapura relatif gampang mendapatkan makanan ini.
Teman saya memesan Kodok Goreng Madu dan menikmati Nasi Ayam Medan yang gurih dan renyah.
Chau Lo (Siput masak bumbu pedas)
Kemudian kami memesan makanan yang saya incar sejak awal yaitu Chao(u) Lo. Bentuknya mirip siput yang kerap disebut siput untuk masakan Kol Nenek di beberapa warung ala Sunda di Jakarta tetapi berwarna hitam dan cangkangnya tidak bergerigi serta berwarna hitam pekat.
Masih belum kenyang kami memesan Kepiting Lada Hitam namun kali ini kami agak kecele karena rasanya kurang OK.
Tidak jauh dari kami ada gerobak Sate Padang. Lagi-lagi perut masih bisa diajak kompromi. Bumbu kental nan lezat disertai kepulan asap dari kuah sate membuat kami segera menyikat sate Padang tersebut.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam berbarengan turunnya hujan, kami pun bergegas meninggalkan Jl.Semarang sambil masih merasakan nikmatnya makan di udara terbuka dengan masakan aneka rupa. Para pedagang tampak sibuk memasang tenda. Kalau hujan bisnis kuliner di udara terbuka ini akan langsung kena dampaknya.