Wendie Razif Soetikno, S.si.,

SAS, Belenggu Lain dari Otonomi Sekolah

Selasa, 10-06-2008 09:39:39 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,
Kanal: Layanan Publik

 

Melalui Peraturan Mendiknas (Permen) No. 22, 23 dan 24 tahun 2006, Pemerintah telah menyerahkan sepenuhnya kewenangan untuk menyusun kurikulum pada masing-masing unit pendidikan (sekolah) yang kita kenal sebagai KTSP (Kurikulum Tngkat Satuan Pendidikan). Dengan demikian, Pemerintah telah menggaris-bawahi amanat tut wuri handayani yang mensyaratkan otonomi sekolah dan otonomi guru pada porsi yang tepat. Hal ini telah saya singgung secara panjang lebar pada tiga tulisan terdahulu (yang di-posting di www.kabarindonesia.com dan www.sukainternet.com) : Yang Terlewatkan dari KTSP, Sehabis KTSP lalu apa? SKS! dan Manajemen Kurikulum atau Manajemen Sekolah?.

Maka agak aneh bila Pemerintah Provinsi DKI Jkt melalui Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dinas Dikmenti) cq Subdin SMA, memaksakan penyeragaman sistim pelaporan hasil pembelajaran (bukan proses pemelajaran) menurut versi mereka yang disosialisasikan sebagai SAS (Sistim Administrasi Sekolah) tanpa memberi alternatif lain bagi pengembangan otonomi sekolah dan guru. Sementara BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) dan Puskur (Pusat Kurikulum) menghindari segala bentuk penyeragaman, justru Dinas Dikmenti Prov. DKI Jkt sangat menggebu-gebu dalam memonolitikkan proses kreatif pemelajaran termasuk sistim pelaporannya yang variatif.

Sebenarnya gejala ketidak-sinkronan kebijakan Pemda dan Pemerintah Pusat sudah terlihat pada saat Dinas Dikmenti Prov. DKI Jkt mengabaikan sosialisasi ke-15 langkah penyusunan KTSP sehingga menimbulkan kerancuan cara pandang dan cara pemahaman orang terhadap KTSP. KTSP lalu dipandang sebagai sekedar urusan administrasi guru dan BUKAN proses kreatif dalam tataran filosofi pendidikan.

Apa tolok ukurnya? Maraknya penjualan Silabus dan pencantuman Silabus di buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah Jakarta, padahal seharusnya Silabus disusun sendiri oleh guru pada langkah ke-12 dari rangkaian 15 langkah penyusunan KTSP. Atau masih digunakannya Silabus dari hasil penataran KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) 2004 di Puncak (Jawa Barat) yang konsepnya sudah jauh berbeda dengan KTSP. Silabus versi KBK 2004 itu tidak mencantumkan kolom : PENGALAMAN BELAJAR, yang hanya dapat diperoleh bila guru sudah melakukan : Analisis Esensi Materi (langkah ke-6 dari penyusunan KTSP).

Pengisian kolom Pengalaman Belajar ini tak bisa direkayasa, karena harus melewati 5 langkah berurut sebelum sampai ke langkah ke-6 itu. Tolok ukur yang lain adalah permintaan Dinas Dikmenti Prov DKI Jkt agar KTSP dari semua SMA dikumpulkan pada bulan Mei 2007 (padahal buku panduan KTSP yang disusun oleh BSNP baru turun bulan Agustus 2006) sehingga komunitas pendidikan tidak mempunyai kesempatan untuk memahami hakekat dan filosofi dari KTSP, yaitu adanya perubahan paradigma dari kegiatan belajar-mengajar menjadi proses pemelajaran (yang diwujudkan dalam langkah ke-4 dan ke-5 dari proses penyusunan KTSP , yaitu Penyusunan Indikator Pemelajaran holistik yang meliputi keenam aspek kognitif, kelima aspek afektif, ketujuh aspek psikomotor, keenam aspek kecakapan hidup dan Pemetaan Taksonomi Bloom) serta perubahan diagnosis dari menghakimi siswa menjadi menghargai siswa (yang diejawantahkan dalam langkah ke-14 (Penilaian Berbasis Kelas) dan langkah ke-15 (Catatan Kompetensi). Akibatnya, semua SMA mengumpulkan KTSP menurut versi masing-masing, bukan versi BSNP-Puskur-Ditjen Mandikdasmen, yang mensyaratkan pembuatan Dokumen I KTSP (Isi Pendidikan, yaitu penjabaran Visi dan Misi sekolah dalam kegiatan operasional sehari-hari, strategi untuk mewujudkan Visi dan Misi sekolah itu, serta upaya untuk mengatasi kendala yang timbul) dan Dokumen II KTSP (Struktur Kurikulum, Proses Pemelajaran, Evaluasi dan Keunggulan Lokal) - lihat website Depdiknas : www.depdiknas.go.id lalu klik Mandikdasmen terus klik KTSP.

Anehnya, sekolah yang tidak mengumpulkan KTSP tidak mendapat sanksi apa-apa dari Dinas Dikmenti Prov. DKI Jkt cq Subdin SMA, dan sekolah yang sudah memasukkan KTSP-nya juga hanya mendapat masukan atau umpan balik sekedarnya dari Dinas Dikmenti (bukan HOT (Higher Order of Thinking) dari Taksonomi Bloom), sehingga perbaikan signifikan (dari KBK menuju ke KTSP) tidak terjadi. Business as usual. Sekolah berjalan menurut irama dan pola yang lama.

Kalau Dinas Dikmenti berkilah, tidak ada format baku KTSP (mengingat adanya otonomi sekolah dan otonomi guru), lalu untuk apa Dinas Dikmenti mensosialisasikan SAS dan memaksa agar pihak sekolah mengadopsi SAS? Dinas Dikmenti itu Dinas Pendidikan atau Dinas Persekolahan? Kalau kepanjangan Dinas Dikmenti itu adalah Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi, lalu untuk apa Dinas Dikmenti itu terjun mengurusi administrasi sekolah? Dan kekuatiran itu terbukti sekarang, KTSP dianggap sama dengan SAS dan karena itu perumusan kurikulum dianggap hanya sebagai tugas administrasi saja, sebab evaluasi HOT tak dikenal sebagai rangkaian akhir dari KTSP. Akibatnya Dokumen I dan Dokumen II KTSP kehilangan maknanya. Kompetensi guru (yang diuji melalui program sertifikasi guru) juga kehilangan rohnya. UAN yang dimaksudkan untuk audit kinerja guru dan sekolah juga kehilangan relevansinya dengan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah).

Mengapa harus SAS?

UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional pasal 38 ayat 2 mengemukakan azas otonomi sekolah dan guru dalam melaksanakan tugas administrasi, pengelolaan, pengembangan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan. Ayat 2 mengemukakan wewenang guru dalam merencanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran.

Dengan demikian, otonomi sekolah dan otonomi guru dijamin oleh UU dan tak boleh dilanggar oleh Pemda dan Dinas Dikmenti Prov. DKI Jkt. Apalagi bila mengacu pada Kep.Mendiknas No. 125/U/2002 psal 1 disebut bahwa Dinas Provinsi adalah Dinas yang menangani bidang pendidikan di Provinsi (bukan bidang persekolahan). Pasal 10 ayat 1 menyebutkan bahwa ulangan harian dan ulangan umum merupakan tugas dan tanggungjawab guru yang diselenggarakan oleh sekolah (tidak ada satu katapun yang menyebutkan bahwa proses dan hasil evaluasi harus dimasukkan dalam bank data Dinas Provinsi melalui SAS).

Hal kedua yang menjadikan SAS amat mengacaukan hakekat dari KTSP adalah ketidak-sinkronannya dengan proses pembuatan KTSP. Bila disadari bahwa sekolah dan guru berhak menyusun kurikulumnya sendiri, maka sebagai data base, SAS sama sekali tidak berguna, karena setiap guru akan menyusun Indikator Pemelajaran, KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), Silabus serta item-item dalam PBK (Penilaian Berbasis Kelas) yang berbeda - dengan perbedaan signifikan ini, apakah data base dapat dianalisa? Kalau SAS sudah behasil dikumpulkan di data base Dinas Dikmenti Prov. Jkt, so what gitu lho? Bukankah KTSP dari begitu banyak sekolah yang sudah dikumpulkan sejak Mei 2007 di Dinas Dikmenti Prov. DKI Jkt, juga tidak diproses lebih lanjut ke tingkat HOT?

Kalau tujuan dari SAS adalah untuk pemetaan sekolah, maka hal ini juga merupakan pemborosan karena pihak Depdiknas (Pemerintah Pusat) juga sudah melakukan pemetaan sekolah di seluruh Indonesia, yang dapat diakses melalui website Depdiknas : www.depdiknas.go.id lalu klik : Peringkat Sekolah dan Direktori Sekolah.

Kalau tujuan dari SAS adalah untuk membuat proses pemelajaran menjadi transparan, dimana orang tua dan masyarakat dapat memantau kemajuan peserta didik, maka alasan ini juga kurang dapat diterima, mengingat ada begitu banyak sarana-prasarana pendidikan di dunia maya yang dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu otonomi sekolah dan otonomi guru. Misalnya :Dinas Dikmenti Prov DKI Jkt dapat lebih memberdayakan website sekolah, atau mengoptimalkan jalannya Sekolah On-line Indonesia yang disponsori PT Telkom, atau mendorong keaktifan sekolah-sekolah yang tergabung dalam website sch.id yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Kominfo, atau menjalin kerjasama dengan situs pendidikan yang dikelola oleh Oracle Education Foundation yaitu www.think.com - komunitas pembelajar maya dimana publik dapat mengakses situs sekolah di manapun di seluruh dunia tanpa memerlukan password. Semua situs itu sifatnya gratis, tidak seperti SAS, dimana sekolah dibebani biaya membership.

Kalau tujuan dari SAS adalah membuat proses kreatif pemelajaran dan evaluasi menjadi inter-aktif, maka masih banyak pilihan untuk itu, misalnya SMS (Sistim Manajemen Sekolah) yang diperkenalkan oleh MXL Australia (Maximizing eXellence in Learning), atau SKS (Sistim Kredit Semester), atau membuat website Dinas Dikmenti Prov DKI Jkt sendiri menjadi inter-aktif. Dengan demikian, pihak-pihak yang berkepentingan dengan SAS di Dinas Dikmenti Prov.DKI Jkt tidak mematikan proses demokrasi di jantungnya sendiri. Biarlah sekolah memilih apa yang terbaik menurut mereka sendiri. Segala bentuk otoritarian harus ditentang di jaman reformasi ini.

Apa yang harus dilakukan?

Sebaiknya Dinas Dikmenti Prov. DKI Jkt kembali ke jati dirinya sebagai Dinas Pendidikan dan bukan Dinas Persekolahan. Sebagai Dinas Pendidikan, fungsinya adalah mendorong terwujudnya MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) dan Sekolah Mandiri. MBS ini dikukuhkan dengan Permen no. 19 bulan Mei tahun 2007, tapi sampai sekarang tak pernah disosialisasikan. Prinsip dari MBS adalah audit kinerja sekolah, yang dewasa ini justru terabaikan, bukan hanya karena adanya ketertutupan pengelolaan keuangan dan adanya ketertutupan dalam proses inter-aksi guru dan siswa di kelas, tapi juga adanya ketertutupan dalam proses evaluasi, sehingga output atau kualitas pendidikan tak teraudit, akibatnya bimbel (bimbingan belajar) dan les privat makin marak saja di negara kita ini.

MBS juga mengukur kinerja guru sehingga guru termotivasi untuk berprestasi dan terus berinovasi karena semua stakeholders akan mencapai pencapaian targetnya. Akibatnya tidak ada guru yang mnerapkan metode drill dalam menghadapi UAN atau mengontrakkan bulan-bulan terakhir dari kelas XII (kelas III SMA) kepada bimbel untuk mengejar nilai tinggi dalam UAN, karena cara-cara ini merupakan pengkhianatan terhadap proses memanusiakan manusia muda (proses karbitan itu hanya akan menciptakan manusia-manusia yang ingin mencapai hasil secara instant dan mengabaikan proses) (Prf.Dr.N. Driyarkara SJ dalam Pendidikan Nilai-nilai Hidup)

Sekolah Mandiri bukan hanya mendorong sekolah supaya mandiri secara finansial tetapi juga mewujudkan otonomi sekolah dan otonomi guru dalam arti yang seluas-luasnya. Sehingga sekolah dapat didorong untuk mendirikan unit litbang, mempunyai bank soal dan kemampuan menganalisis soal, mempunyai bank data sendiri (mampu mengelola data base sendiri), dan merealisir website sekolah yag inter-aktif. Dengan demikian, Dinas Dikmenti Prov. DKI Jakarta tidak perlu bersusah payah mengorganisir bank data atau data base sekolah melalui SAS (yang mahal dan lambat itu)

Jadi mengutip Dr.Mochtar Buchori dalam Temu Darat Forum Pembaca Kompas, tanggal 1 September 2007 yang lalu, sebaiknya Dinas Dikmenti Prov.DKI Jkt berkonsentrasi mengurus difokuskannya kurikulum (KTSP) pada 6 wilayah makna yaitu : simbolika, empirika, estetika, sinnoetika, etika dan sinoptis sehingga KTSP tidak direduksi menjadi sekedar masalah administrasi (SAS). Dengan demikian, mengacu pada Questiner BAS (Badan Akreditasi Sekolah) dalam butir no. 54 dari Evaluasi Diri, sekolah dapat menyebutkan berbagai alternatif penyampaian hasil pemelajaran ke masyarakat, tidak hanya melalui SAS, tetapi juga melalui website-nya sendiri atau melalui media on-line yang lain. Sekali lagi, penyampaian hasil pemelajaran ke masyarakat bukan monopoli Dinas Dikmenti Prov. DKI Jakarta dan data base sekolah yang sudah dipunyai Depdiknas hendaknya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kekacauan yang ditimbulkan oleh SAS tidak cukup diredam dengan memutasikan pejabat yang bersangkutan, lalu meralatnya menjadi sekedar langkah awal menuju pada e-education , tapi lebih baik bila grand design Depdiknas (Pemerintah Pusat) dipahami secara benar oleh Pemda dan pihak Komite Sekolah/Yayasan. Apa wujud grand design itu?

Memahami grand design pendidikan kita

- Penerapan otonomi sekolah dan otonomi guru yang diwujudkan dalam kemandirian guru dalam menyusun kurikulum yang kita kenal sebagai KTSP. Bila mengacu pada Bloom, maka ada 15 langkah penyusunan KTSP yang akan menghasilkan HOT (Higher Order of Thinking) sesuai dengan taksonomi Bloom.

- Untuk dapat menyusun kurikulum yang dapat dipertanggungjawabkan (bukan silabus yang asal contek dari buku-buku Penerbit Yudhistira atau Grasindo), maka guru harus benar-benar profesional (guru harus lulus program sertifikasi guru), sehingga berhak mendapat tunjangan profesi. Selama ini guru hanya mendapat tunjangan fungsional (itupun tidak semua sekolah memberikannya) dan Kepsek/Wakepsek/Wali Kelas hanya mendapat tunjangan jabatan.

- Program sertifikasi guru hendaknya tidak dipahami sebagai sekedar ujian profesi, tapi lebih dalam dari itu, yaitu uji kemampuan guru untuk mmenuhi tuntutan "keharusan belajar secara terus menerus (long life education). Banyak guru sekarang ini mandeg secara akademis.

- KTSP adalah perencanaan guru menuju HOT, bukan sekedar persiapan mengajar guru di kelas. Oleh sebab itumanajemen sekolah harus dibenahi melalui MBS, karena KTSP menuntut perubahan paradigma seperti yang telah saya uraikan dalam tiga tulisan terdahulu : Yang Terlewatkan dari KTSP, Sehabis KTSP lalu Apa? SKS! dan Manajemen Kurikulum atau Manajemen Sekolah?

- Audit kinerja guru diukur melalui UAN (national exam) dan audit kinerja sekolah dinilai melalui akreditasi sekolah. Jadi jangan takut dengan UAN karena menurut Permen no. 19 tahun 2005 tentang Sistim Pendidikan Nasional, menyatakan yang diuji adalah batas minimal dari target pencapaian kurikulum (bukankah kita telah menjalaninya secara mulus pada kurikulum '75 dulu, yang juga mengujikan banyak mata pelajaran?) dan jangan tergopoh-gopoh bila mau diakreditasi, karena sebenarnya 184 isian Evaluasi Diri dari BAS yang dipergunakan sebagai acuan dalam akrediatasi sekolah adalah pendokumentasian kegiatan sehari-hari di sekolah dan bila MBS dijalankan secara benar, maka sekolah akan mudah memenuhi kriteria SSN (Sekolah Standar Nasional).

- Sekolah-sekolah yang gurunya telah lulus program sertifikasi guru dan berhasil membuat KTSP sampai ke tingkat pemahaman HOT, serta telah menerapkan MBS,dapat memulai dengan moving class, yang selanjutnya menuju pada penerapan SKS (sistim kredit semester). Apakah ada contoh untuk hal ini? Ada. JIS (Jakarta International School) di Narogong, Jakarta Selatan. Tapi itu kan sekolah internasional. Apa ada contoh dari dalam negeri? Ada. TK Kepompong di Kemang, Jakarta Selatan atau SD Mangunan di Yogya dan Sekolah Citra Berkat di Surabaya.

Berdasarkan pengalaman ini, lain kali pihak yayasan/Komite Sekolah harus secara tegas menolak hal apapun yang bertentangan dengan KTSP. SAS memang telah diendapkan, pejabat yang bersangkutan telah dimutasi, tetapi kerancuan yang timbul mungkin tak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Lebih baik yayasan/Komite Sekolah berkonsentrasi menghadapi persaingan global dengan makin menjamurnya sekolah-sekolah internasional dimana-mana (termasuk sekolah negeri yang bertaraf internasional (SBI) untuk persiangan di tingkat elite dan bertumbuhnya sekolah semacam Citra Berkat di tingkat kelas menengah.

 

 

Bookmark and Share

Tag/Label sas, sekolah menengah, dinas pendidikan, jakarta
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
80 komentar pada warta ini
Selasa, 10-06-2008 11:05:33 oleh: Silvi Anhar

akhirnya ada juga guru SMA yang menulis tentang SAS... terima kasih pak.. kalau di madrasah namanya SAM.. walaupun masih offline, bukan online seperti SMA, jujur, saya bersama tim, juga kalang kabut.. apalagi, sistem yg diberikan pada madrasah, selalu ada yang eror dan selalu hrs diupdate.. sehingga guru-guru yang seharusnya nyaman dalam KBM, jadi buyar konsentrasinya karena harus ekstra mengerjakan SAM ini...




Selasa, 10-06-2008 11:39:50 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Kalau KTSP bertujuan mengangkat harkat guru agar sama dengan dosen (sesuai amanat UU Guru dan Dosen), dimana guru berperan sebagai inisiator, planner dan programmer, serta think tank untuk ilmu-ilmu dasar, maka SAS dan SAM telah melecehkan profesi guru. Guru diturunkan martabatnya menjadi administrator, bahkan lebih jelek lagi sebagai petugas data entry. Lawan SAS dan SAM !!!! Bau komisi dan gratifikasi dari vendor ICT-nya kentara sekali. Hallo KPK??? Tolong periksa proyek amburadul ini!!! Buat anak kok coba-coba !!!!



Selasa, 10-06-2008 11:55:15 oleh: Silvi Anhar

hehehehe, wah pak wendie.. tenang jangan marah2... bener pak.. karena dimadrasah dibentuk tim, wah habis deh pak kami yang tim di omeli guru2 hehehe kata mereka kok begini? lah yg salahkan programnya yg eror mulu..
saya kira SAS krn online sudah lebih bagus.. ternyata sama juga ya pak..




Selasa, 10-06-2008 16:35:25 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Aneh bin ajaib. Pemerintah Pusat (Depdiknas) menargetkan semua SMA harus sudah mengimplementasikan KTSP (Dok.I dan II, termasuk 15 langkah penyusunan KTSP yang menjadi bagian dari Dok. II) pada tahun 2009 dan semua SMA harus sudah mengadopsi SKS (sistim kredit semester) pada tahun 2013. Lha kok, Dinas Dikmenti Prov DKI Jkt cq Subdin SMA malah bikin SAS (sistim amburadul sekali) yang ga jelas tujuannya mau kemana. Saat pengumpulan KTSP dari semua SMA di DKI di bulan Mei 2007 yang lalu, ketahuan bahwa mereka tidak tahu sama sekali apa itu KTSP (dikira KBK 2004 dengan baju baru) Capeee deh !!! Bikin proyeknya (SAS) kasar dan katrok



Rabu, 11-06-2008 07:17:46 oleh: rationalthinking

Untuk masalah yg kontroversial dan diangap tidak efisien dan mungkin pula tidak efektip, bagus untuk di debatkan. 'Debat Rasional'
Pendidikan adalah kepentingan umum,harus terbuka, dan menerima kritik, berubah atau dipertahankan berdasarkan kuatnya argumen.
Silahkan buat panitia dan kami bantu mengatur jalannya debat. 'Debat bukan Bertengkar'
www.djohansjahmarzoeki-rationalthinking.com




Rabu, 11-06-2008 07:26:24 oleh: rationalthinking

Untuk issue yang kontroversial dan ada yang menganggap tidak efisien begini, sangat bagus untuk didebatkan. 'Debat Rasional' . Pendidikan adalah kepentingan publik, karena itu harus terbuka dan bisa menerima kritik. Bisa berubah atau dipertahankan berdasarkan kuatnya argumentasi. Silahkan buat panitia, kami bantu jalannya debat."Debat bukan Bertengkar'
www.djohansjahmarzoeki-rationalthinking.com




Selasa, 17-06-2008 14:37:57 oleh: Lolita

Kami sangat salut dan mendukung bapak. Benar itulah yang terjadi. SAS tidak menyebabkan peserta didik cerdas, karena gurunya sibuk sebagai tukang entry data. Kalau sekolah banyak komputernya, kalau tidak? Bagaimana dampak SAS terhadap psikologi guru, yang dalam kondisi tertentu, datang peringatan entry nilai SAS akan ditutup. Guru panik, sambil ngajar sambil entry data. Pikiran guru mendua, tidak fokus, peserta didik terabaikan. KTSP yang menuntut kreatifitas dan inovasi guru tidak tercermin dalam SAS. LHBS itu rahasia, tapi dengan SAS, umum dapat memantau nilai orang lain. Cappeek dehhh... Sediihh deh... Pendidikan di DKI harus lebih maju, tapi tidak dengan cara ini.



Selasa, 17-06-2008 15:48:55 oleh: nina

dari awal saya sangat tidak setuju dengan SAS, sebuah sisitem yang sangat mengganggu kerja guru sebagai pendidik, dan menjadikan guru sebagai pengetik nilai.



Selasa, 17-06-2008 16:26:03 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Bravo, akhirnya ada juga yang mau bersuara. Bravo untuk SMA Kanisius, SMA Santa Ursula, SMA N 13 Jkt, yang menolak penggunaan SAS. Kalau KTSP bertujuan mengangkat harkat guru agar sama dengan dosen (sesuai amanat UU Guru dan Dosen): guru bisa membuat kurikulum sendiri, jadi guru berperan sebagai inisiator, planner dan programmer, serta think tank untuk ilmu-ilmu dasar, maka SAS dan SAM telah melecehkan profesi guru. Guru diturunkan martabatnya menjadi administrator, bahkan lebih jelek lagi sebagai petugas data entry (dibawah TU saja) Lalu apa tugas TU? Jadi calon Kepala Dikmenti Prov.DKI Jkt? Capee deh



Kamis, 26-06-2008 21:29:48 oleh: pras

semua konsentrasi guru terpusat pd sas, siang malam, ngerjin sas, pada saat mau prin rapor semingguan begadang ngerjain sas, pdahl waktu yg berharga seyogyanya digunakan guru untuk mencari variasi metode pembelajaran yg menyenangkan atau untuk penelitian tindakan kelas. Guru2 DKI mari bersatu bubarkan SAS !!!



Jumat, 27-06-2008 07:19:59 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

Ayo, kita laporkan ke KPK. Unsur gratifikasi dari vendor ICT-nya nampak jelas sekali. Pemaksaan penggunaan SAS nampak dari ancaman-ancaman yang beredar lewat SMS : "Sekolah yang tidak mau menggunakan SAS akan dikeluarkan dari sistim", "Sekolah yang tidak mau menggunakan SAs tidak boleh ikut UAN", dll - ancaman-ancaman ini adalah bentuk premanisme dalam dunia pendidikan - pasti ada unsur sogok,suap dan korupsi dalam proyek SAS ini - kalau tidak kenapa begitu ngotot? Ayo bergabung bersama SMA Kanisius, SMA Santa Ursula dan SMA N 13 Jkt yang dari awal tidak mau sekolahnya dijadikan proyek cari duit dari Dikmenti Prov. DKI Jkt. Lawan premanisme dan banditisme dalam dunia pendidikan. Provinsi lain ga macem-macem kok, mereka fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan guru, bukan mikirin kesejahteraan pegawai Diknas-nya saja



Senin, 30-06-2008 10:16:04 oleh: Bravo

Pak wendie... sok tau bener tentang SAS...!! Emang sekolah bapak pakai SAS ??

Pak Wendie komentar tentang SAS hanya berdasarkan pengamatan bukan pengalaman, dan kebetulan yang diamati hanya sekolah2 yang gagal menggunakan SAS. Itu tidak fair !!

SAS hanya sistem Administrasi bukan KTSP, kalo sekolah dimana bapak ga bisa menjalankan SAS itu karena SDMnya. Kesalahan terbesar mereka adalah mereka belum mengerti pemahaman evaluasi model KTSP, jadi ketika menggunakan SAS kacau balau

Justru dengan SAS kita bisa dengan jelas melihat mana sekolah dan guru yang benar2 mengerti KTSP.

komentar bapak :"Sekolah yang tidak mau menggunakan SAS akan dikeluarkan dari sistim", "Sekolah yang tidak mau menggunakan SAs tidak boleh ikut UAN", dll - ancaman-ancaman ini adalah bentuk premanisme dalam dunia pendidikan - pasti ada unsur sogok,suap dan korupsi dalam proyek SAS ini - kalau tidak kenapa begitu ngotot? ".

Bener-bener tidak mencerminkan kualitas seorang pendidik ! Emang itu ada bukti atau sekedar rumor saja ?




Senin, 30-06-2008 20:54:38 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.Si.

Bravo-sayang anda ga mau pakai nama anda.Pertama saya tanggapi komentar terakhir :"Emang ada bukti atau sekedar rumor saja" - anda bisa menghubungi Ketua MKS (Musyawarah Kepala Sekolah) Ibu Clara - bukti SMS masih disimpan.Ancaman ini juga keluar pada saat para Kepala Sekolah berkumpul untuk belajar KTSP di Wisma Kinasih Agustus 2007 dengan mengundang pembicara dari BPG Jawa Barat (dengan contoh kasus SMAN XI Bandung yang sudah melaksanakan 15 langkah pembuatan KTSP menurut Bloom).Saya juga bicara langsung pada saat Seminar para guru yang dihadiri Pak Budiana di Univ Binus, September 2007.
Hal kedua yang perlu saya tanggapi, "Justru dengan SAS kita bisa dengan jelas melihat mana sekolah dan guru yang benar2 mengerti KTSP" - rupanya anda tidak baca dengan cermat tulisan terdahulu,di DKI ini tidak ada yang mengerti KTSP (masih dikira KBK dengan baju baru).KTSP itu terdiri dari 2 Dokumen (Dokumen I : I A : Visi dan Misi sekolah dan operasionalisasinya,lalu I B : Struktur kurikulum dan MBS - Dokummen II : II A : PTK dan II B : 15 langkah pembuatan KTSP).Untuk para Kepala Sekolah,disamping kami mengundang Tim dari BPG Bandung,juga sudah diundang Tim dari Yayasan Ciputra (Sekolah Citra Berkat Surabaya) yang sudah membuat KTSP dan mengembangkannya ke tingkat HOT.Anda dimana waktu itu?Sudah ada pihak yang mau mensponsori perdebatan (lihat posting di atas),anda mau maju? Mari kita berdebat,saya belajar khusus tentang curriculum design di luar negeri karena tak satupun IKIP mempunyai jurusan ini (sudah 32 th kurikulum selalu dibuatkan oleh Pemerintah,jadi sekolah dan guru tak biasa membuat kurikulum sendiri).KALAU ANDA MENGANGGAP SAS COMPATIBLE DENGAN KTSP,MAKA ANDA TAK TAHU APA ITU KTSP.Pada pertemuan para Kepala Sekolah di Puncak, Februari 2008,Ditjen Dikdasmen juga menyesalkan adanya SAS ini yang merusak seluruh pengertian tentang KTSP.Sekali lagi ini bukan soal komputerisasi,tapi SAS ini tak cocok dengan SKS yang akan diterapkan th 2013 (menyongsong A




Selasa, 01-07-2008 09:31:07 oleh: Bravo

Mohon maaf, saya bukan orang yang harus dikenal. Terus terang saya telah lama mengikuti tulisan bapak tentang SAS. Saya mengkritisi karena merasa penilaian bapak tidak berimbang :
1. Bapak tidak pernah mengoperasikan SAS sendiri
2. Bapak hanya mengamati sekolah-sekolah yang gagal menggunakan SAS (Absis, Recis)
Masalah ancaman dalam sms, saya masih meragukan tulisan itu ditulis oleh Kadis Kurikulum DKI Jakarta Bapak Budiyana.
Saya sependapat dengan bapak SAS bukan KTSP, tetapi untuk menyimpulkan SAS menghambat atau mendukung KTSP tidak mudah. Perlu ada penelitian. Saya juga sependapat bahwa guru-guru kita belum bisa menjabarkan sebuah KD menjadi beberapa indikator yang bergradasi dan hirarkis sesuai dengan ranah Bloom.
Yang jelas sekolah yang belum berhasil menggunakan SAS kebanyakan karena :
1. SDM kurang mengerti IT
2. Tidak disiplin kerja dan tidak konsisten
Saya juga tidak perlu kemana-mana untuk tahu bahwa sekolah Citra (milik Ciputra) sudah mengintregasikan Entrepreunership dalam kurikulumnya.
Pesan saya, bapak pelajari SAS dahulu baru baru bapak komentar tentang SAS. Itu benar-benar mencerminkan S-2 lulusan luar negeri




Kamis, 03-07-2008 09:25:04 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.Si.,

Bagus,ada dua hal kontradiktif dalam pernyataan Bravo (1) Ada sekolah yang gagal dalam melaksanakan SAS ? -Siapa yang harus disalahkan? Bukankah ini tanggungjawab Dikmenti? Sosialisasi tidak berhasil kok sudah dimassalkan.Pelatihan dan membership SAS itu tidak gratis lho! (2) Kesalahan terletak pada SDM, yang tidak mengerti IT,tidak disiplin dan tidak konsisten? - Bukannya pada program (software SAS), kemampuan server (termasuk band width) dan kecepatan akses internet?-kenapa tidak diuji coba dulu dalam skala kecil,jumlah SMA di DKI itu 424,jumlah siswa sekitar 250.000 dikalikan 12 mata pelajaran di SMA.Berapa band width-nya dan kecepatan akses internetnya?Ini bukan program gratisan lho! Mana tanggungjawabnya kalau data menjadi simpang siur?
Dan last but not least, Pak Budiana bukan Kadis Kurikulum,tapi Kasubdin SMA.Sekarang ke inti masalah (1) SAS itu tabulasi hasil,sedangkan KTSP itu proses.Karena itu tak ada tempat dalam SAS untuk perubahan strategi pemelajaran,analisis Delphy dan PBK. (2) SAS menganggap KD itu sama semua, padahal Permen 22,23,24 menyatakan standar isi,standar kompetensi dll yang ditentukan itu adalah standar MINIMAL.Sekolah didorong untuk membuatnya menjadi maksimal.Kalau KD-nya tak sama,lalu Indikator tidak sama,KKM tidak sama-lalu buat apa SAS? Nilai 8 di SMAN 78 kan tidak sama bobotnya dengan nilai 8 di SMA Tarsisius (meskipun satu rayon)
Mau diseragamkan? Siapa yang akan membuat bank soal yang valid? MASALAHNYA TIDAK SEKEDAR KOMPUTERISASI,TAPI KITA MENUJU PADA AFTA dan APEC,menurut klausul WTO,pendidikan terbuka untuk modal asing dan harus dibuka th. 2013-padahal semua sekolah di luar negeri pakai SKS.Kalau kita pakai SAS,apa nyambung dengan SKS? Dalam SKS, guru harus bisa membuat kurikulum sendiri (KTSP),menilai proses belajar(bukan hasil), dan merancang strategi pemelajaran yang relevan. Waktu tinggal 5 tahun lagi, kok kita masih sibuk dengan proyek cari duit yg tak bermutu seperti SAS???




Kamis, 03-07-2008 09:38:53 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.Si.,

Bagus,ada dua hal kontradiktif dlm pernyataan Bravo (1)Ada sekolah yg gagal dlm melaksanakan SAS?-Siapa yang harus disalahkan? Bukankah ini tanggungjawab Dikmenti?Sosialisasi tidak berhasil kok sudah dimassalkan.Pelatihan dan membership SAS itu tidak gratis lho!(2)Kesalahan terletak pada SDM,yg tidak mengerti IT,tidak disiplin dan tidak konsisten? -Bukannya pada program (software SAS), kemampuan server (termasuk band width) dan kecepatan akses internet?-kenapa tidak diuji coba dulu dalam skala kecil,jumlah SMA di DKI itu 424,jumlah siswa sekitar 250.000 dikalikan 12 mata pelajaran di SMA.Berapa band width-nya dan kecepatan akses internetnya?Ini bukan program gratisan lho! Mana tanggungjawabnya kalau data menjadi simpang siur?Dan last but not least,Pak Budiana bukan Kadis Kurikulum,tapi Kasubdin SMA dan Sekolah Ciputra adalah salah satu sekolah yg berhasil menyusun Dok I KTSP (Struktur Kurikulum) bukan entrepreneurshipnya lho!Sekarang ke inti masalah (1) SAS itu tabulasi hasil,sedangkan KTSP itu proses.Karena itu tak ada tempat dalam SAS untuk perubahan strategi pemelajaran,analisis Delphy dan PBK. (2)SAS menganggap KD itu sama semua, padahal Permen 22,23,24 menyatakan standar isi,standar kompetensi dll yang ditentukan itu adalah standar MINIMAL.Sekolah didorong untuk membuatnya menjadi maksimal.Kalau KD-nya tak sama,lalu Indikator tidak sama,KKM tidak sama-lalu buat apa SAS? Nilai 8 di SMAN 78 kan tidak sama bobotnya dengan nilai 8 di SMA Tarsisius (meskipun satu rayon)
Mau diseragamkan? Siapa yang akan membuat bank soal yang valid? MASALAHNYA TIDAK SEKEDAR KOMPUTERISASI,TAPI KITA MENUJU PADA AFTA dan APEC,menurut klausul WTO,pendidikan terbuka untuk modal asing dan harus dibuka th.2013-padahal semua sekolah di luar negeri pakai SKS.Kalau kita pakai SAS,apa nyambung dengan SKS? Dlm SKS, guru harus bisa membuat kurikulum sendiri (KTSP),menilai proses belajar(bukan hasil),dan merancang strategi pemelajaran yang relevan.Waktu tinggal 5 tahun lagi




Kamis, 03-07-2008 10:16:50 oleh: Bravo

SAS sudah berjalan 4 tahun, coba bapak tanya sekolah-sekolah yang gagal tersebut (Absis dan Recis) apakah mereka dahulu mengikuti pelatihan SAS (0ffline dan Online) disanggar membayar ?

Membership SAS ? apa itu pak ? menggunakan SAS tidak ada biaya sama sekali semua gratis, yang dibayar hanya speedy unlimited(IGOS) itu saja cuma 450 ribu rupiah sebulan.

Masalah pelatihan, kalau ikut disanggar gratis malah dikasih uang transport lagi.
Bapak coba studi banding ke sekolah-sekolah yang berhasil menjalankan SAS, bagaimana pola kerja mereka ? maslajhh bandwich dapat diatasi dengan agenda kerja yang jelas dari masing2 admin.

Untuk sekolah Ciputra memang harus dicontoh, tetapi perlu diketahui mereka punya litbang yang bagus. Bagaimana sekolah bapak (recis), Kanisius, Ursula dan Sang Timur sudah berhasilkah ? Harusnya sudah , kan tidak pakai SAS hehehehehe

Benar sekali, SAS itu tabulasi hasil,sedangkan KTSP itu proses. SAS adalah program tumbuh kembang, sementara ini SK dan KD adalah SK-KD minimal, seandainya semua sekolah berhasil menjalankan SAS program ini akan berkembang, bahkan akan mendukung sistem SKS. Sampai saat ini SAS baru launching modul 1 (rencana 9 modul) yaitu modul pelaporan hasil belajar.

SAS gratis pak !
Saya bicara begini karena sudah 4 tahun memakai SAS.

Mungkin sudah karakter orang Indonesia ya, jika ada sesuatu yang baru pasti defend dahulu. Seharusnya mempelajari dahulu kemudian memberi masukan biar lebih bagus.





Kamis, 03-07-2008 12:40:27 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.Si

(1)SAS sudah berjalan 4 th,padahal KTSP baru selesai dirancang BSNP,Agustus 2006.Bagaimana bisa dikatakan,SAS nyambung dgn KTSP? (2)SAS gratis? Bravo sudah menjawabnya sendiri(Rp.450.000/bln) sedangkan Think.com gratis-tis,XML Rp. 2 jt/th (Rp. 250.000/bln),SIMDIKDU Rp.1 jt/th (Rp. 125.000/bln)(3)Masalah bandwich (maksudnya band width?) dapat diatasi oleh masing2 admin, lalu masalah kecepatan akses internet bagaimana, kan providernya beda2? (4)Sekolah2 yg Bravo sebut BUKAN sekolah yg gagal,lihat nilai akreditasi dan UAN-nya.SMA St.Ursula adalah sekolah yg ditunjuk Pemerintah Pusat untuk melaksanakan uji coba SKS.(5)SAS setelah 4 th baru ada 1 modul pelaporan HASIL belajar (itupun hanya mencakup aspek kognitif saja),sedangkan KTSP dilengkapi dengan 2 modul (Modul 1 PBK= Penilaian PROSES belajar, Modul 2 Catatan Kompetensi = penilaian HASIL belajar yg mencakup aspek kognitif,afektif,psikomotor dan kecakapan hidup).(6)Orang pandai membuat hal yg sukar menjadi sederhana, bukan malah merencanakan ada 9 modul lagi. (7) Coba berkunjung ke JIS di Narogong,BIS di Bintaro,GMS di Kemayoran,jangan kita jadi tertawaan orang asing. Ingat waktu kita 5 th lagi.Menurut WTO, AFTA dan APEC, sekolah dan guru asing nanti tidak perlu ijin lagi bila beroperasi di RI dan mereka semua pakai SKS.Pemakaian SAS juga melanggar Panduan EVALUASI DIRI no.54 yg dikeluarkan oleh BAS.Ingat arahnya ke SKS.Dari segi istilah, SAS sudah salah,yg ditangani dalam administrasi sekolah BUKAN hanya masalah pelaporan hasil belajar, tapi juga masalah keuangan,kinerja sekolah,manajemen kelas dll - pakai KTSP, semua hal itu sudah tercakup (lihat website Depdiknas www.depdiknas.go.id lalu klik KTSP (ada Dok I dan Dok II, sedangkan SAS itu hanya sebagian kecil dari Dok II B KTSP). Ikuti provinsi lain yg konsentrasi ke SKS (mereka berpacu mendirikan SBI).Lalu kalimat terakhir Bravo:JIKA ADA SESUATU YG BARU,PASTI DEFEND DULU -katanya sudah 4 th?Bukannya Bravo tak mau belajar KTSP dan tak mau SKS?



Kamis, 03-07-2008 14:32:03 oleh: Bravo

Wah..., ternyata ada salah persepsi.
Saya jelaskan, mudah-mudahan paham.
1. SAS mulai dirancang bersamaan dengan KTSP, dahulu masih offline (2004-2006). Setelah KTSP selesai SAS mulai menjadi online (2006). SAS selalu tumbuh dan berkembang seperti KTSP.
2. SAS gratis !! SAS bersifat online sehingga untuk aksesnya dibutuhkan internet. Kita direkomendasikan memakai Speedy Unlimited. Bayangkan dipakai selama 24 jam nonstop hanya membayar 450 rbu/bln. Murahkan ! Dengan speedy itu kita bisa ngesas seklaigus browsing, chattingg dll.
3. Pakai speedy saja murah dan cukup cepat.
4. Gagal dalam artian gagal menggunakan program SAS
5. Modul SAS bukan Modul KTSP, Kedepannya SAS akan menfasilitasi Administrasi perpus, Lab, Kepegawaian, Keuangan dll. SAS akan menjadi sistem administrasi sekolah yang terpadu. Bapak belum lihat rapor versi SAS ya ? Coba pinjam milik SMA Recis, ntar kita diskusi lagi.
6. Modul yang lain adalah memadukan semua administrasi sekolah menjadi lebih simpel dan terpadu
7. Walaupun tidak pinter, saya pernah studi banding ke sekolah citra surabaya, SMA 3 denpasar, ikut konferensi guru, pelatihan, dan seminar. Kami tidak mengarah Ke SBI tapi mencoba menjadi Sekolah Berwawasan International. Dengan SDM lokal mengintregasikan nilai dan kebijakan lokal dan international dengan berbasis ICT. Kami sedng fokus pada metode pembelajaran, Kami fokus agar belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat langsung serta dapat merubah karakter




Kamis, 03-07-2008 14:49:04 oleh: Bravo

Sekarang saya bisa memastikan bahwa bapak belum paham SAS. Baik itu secara teknis(program online) maupun essensi materinya. Tidak ada salahnya bapak rendah hati melihat rapor SAS.

Kemudian bapak juga berasumsi bahwa SAS merupakan proyek pencari keuntungan.

SAS program gratis, kalaupun bayar internet itu bayarnya ke telkom. Dengan Fasilitas Internet kita bisa ngesas, browsing materi belajar, diskusi dalam forum seperti ini, ikut milis, chatting dengan almnus yang diluar negeri, bikin blog, bikin web dll. Hanya dengan 450rbu/bln dan bisa disharing ke 30 komputer.
Program-program XML dan SIMDIKDU itu bayar.Mahal lagi.
www.think.com itu bukan program, itu sperti web gratis untuk sarana promosi, tapi terima kasih atas infonya kami akan coba.
Terlepas dari semua hal di atas, kami sekarang melihat rekan-rekan mulai bisa komputer, internet dan itu berawal dari SAS. Dan mereka sekarang sudah mulai paham menjabarkan KD menjadi indikator dengan gradasi dan hirarkis.Jadi ga ada lagi indikator copy-paste

Bagi kami SAS masalah kecil..., kami sekarang fokus dalam mteode pembelajaran, kami sedang menumbuh kembangkan budaya PTK




Kamis, 03-07-2008 22:22:14 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si.

(1)Sudah pernah ikut pelatihan www.think.com? Bukan sarana promosi lho! Di Singapore dan India, itu ekskul wajib -programnya bagus.Namanya Project Based Learning (PBL)-gratis.JIS,BIS dan GMS pakai PBL.(2)SAS dirancang bersama KTSP? KTSP itu dibuat oleh BSNP -program administrasinya disebut Jardiknas (BUKAN SAS yg dikarang DKI)Mungkin yang Bravo maksud SAS dirancang bersama KBK dan KTSP itu sama sekali lain dengan KBK.(3)Rapor SAS? Coba lihat rapor dari Provinsi lain, misalnya rapor dari SMAN XI Bandung.Aduh,rapor SAS ga ada apa-apanya.Malu saya.Sekali lagi,Bravo sudah mengakui,SAS itu tabulasi HASIL belajar,sedangkan rapor KTSP itu merupakan dokumentasi PROSES pemelajaran.Makanya ada PBK (langkah ke 14 dari KTSP,sedangkan rapor adalah langkah ke 15 dari KTSP).(4)Baru mau akan mengembangkan Metode belajar (strategi belajar dan model belajarnya kapan?) (itu semua ada di langkah ke 4 KTSP : Taksonomi Bloom).(5)PTK itu adalah bagian Dokumen II A KTSP (Dok II B adalah 15 langkah penyusunan KTSP.(6)Guru bisa komputer karena dituntut dalam uji sertifikasi yg diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen,bukan karena SAS.Sertifikasi guru TK saja menuntut guru menguasai computer basic,padahal di TK kan tidak ada SAS.(7)Bagaimana Dikmenti (dengan SAS) bisa tahu,kalau guru menyusun silabus sendiri dan bukan copy dari penerbit Yudhistira atau dari penataran KBK di Puncak th 2005 lalu? Kalau pakai KTSP akan ketahuan.Silabus (langkah ke 12 KTSP tak bisa disusun tanpa melewati analisis Delphy).(8) Dari jawaban Bravo, nampak jelas KTSP dipahami sebagai KBK dengan baju baru. Lain.Di KBK dari Indikator langsung ke Silabus (10 langkah KTSP dilewati).(9)KTSP pasangannya dengan MBS (MBS dasar hukumnya Permen no.19 bulan Mei 2007)Baru meningkat ke moving class.Jadi KTSP (Dok I dan Dok II - bukan 15 langkah penyusunan KTSP saja),tapi KTSP yg dikembangkan sampai ketingkat HOT+MBS+moving class = SKS yg akan menjadikan sekolah RI sederajat dengan sekolah lain di luar negeri th.2013



Kamis, 03-07-2008 22:49:35 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si

SAS memang kecil,tidak sebesar Jardiknas.Yg jadi masalah,dengan SAS,orang bisa kehilangan arah.Orang tidak tahu,ada WTO,AFTA dan APEC di depan mata.Th. 2013 (tinggal lima tahun lagi), sekolah dan guru asing tidak perlu ijin kalau beroperasi di wilayah RI.Semua sekolah di luar negeri pakai SKS dan manajemen ISO. Untuk mencapai SKS dan ISO, ada tahap-tahapnya.Mulai dari guru harus bisa membuat kurikulum sendiri (KTSP) sehingga guru akan dihargai setara dengan dosen (Diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen),lalu manajemen sekolah harus diperbaiki melalui MBS (Permen no. 19 bln Mei 2007),lalu infrastruktur harus disesuaikan dengan filosofi moving class. Dalam tahap-tahap itu ada perubahan paradigma yg harus dijalani,tak bisa diterabas.Baru kita sampai pada SKS dan ISO -sekolah kita disebut SBI.Boleh saja mengarang sendiri jadi SWI,tapi saingan kita ada di depan mata.Sekarang saja kita tak ada harganya di depan JIS,BIS dan GMS-jauh, baik dari segi kurikulum maupun dari segi manajemen. Boleh saja berkeras dengan SAS dan SWI, tapi sekolah yg seperti JIS akan makin banyak (di Yogya saja sudah ada Sampoerna International School) dan orang Malaysia akan makin menyepelekan kita ... ah orang Indon... Ayo DKI,lihat provinsi lain.Belajar dari jaman Orba, sekolah Unggulan ternyata cuma cap, isinya pepesan kosong.... Oh ya Rationalethinking mau sponsori debat terbuka tentang SAS ini, ada BSNP (yg merancang KTSP), PKLN (yg membuat Jardiknas), Puskur, Ditjen Dikdasmen (yg berkepentingan dengan Renstra th.2013 dan MDGs th.2015). Dari DKI, Bravo mau maju???




Jumat, 04-07-2008 12:02:03 oleh: Bravo


1. Apa PBL harus dengan think.com ?, PBL kan salah satu metode belajar, nih rujukannya http://yudipurnawan.wordpress.com/category/project-based-learning/.
2. Karena bapak belum pakai SAS maka percuma saya bahas.
3. Silahkan kirim contoh rapor SMA XI bandung, saya jadi pengin tahu kenapa bapak jadi malu .
4. Saya sudah browsing 15 langkah menyusun KTSP :
1. Filosofi KTSP > tidak ada format kerja
2. Analisa Kurikulum
3. Bahan Materi Ajar > berupa pedoman
4. Perumusan Indikator > digabung aja pada langkah 1
5. Pemetaan Bahan Ajar
6. ?
7. Strategi Penyelesaian Masalah
8. SKBM-KKM
9. Pengalokasian waktu Belajar
10. Program tahunan _Analisis Delphi > ini bagus
11. Program Semester
12. Rancangan penilaian
13. Silabus Pembelajaran
14. Kontrak Agenda Belajar
15. RPP
Kesan saya : bagus tetapi kurang simple format-formatnya. Terima kasih atas info dari pak Wendie, saya akan pelajari dan akan saya buat simple format kerjanya. Nanti saya akan komentari lebih lanjut.
5. Terima kasih atas infonya.
6. Dengan SAS rekan kami jadi tahu komputer.
7. Apakah bapak yakin KTSP yang dikumpulkan itu dikoreksi ? Kami membikin KTSP bukan karena tuntutan tapi karena kebutuhan, jadi kami evaluasi bersama jangan sampai KTSP kami Cuma copy paste
8. Apakah 15 langkah KTSP tersebut sudah paten ?, secara essensi saya setuju tapi secara format kerja saya tidak, kurang simple.
9. Kami punya keterbatasan, baik SDM maupun finansial. Kami mencoba walau dengam lambat. Bagaimana dengan sekolah binaan bapak ?




Sabtu, 05-07-2008 10:44:24 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

1.Coba buka dulu Think.com (komunitas sekolah,guru,orang tua seluruh dunia)- PBL itu melekat pada Think.com karena merupakan bagian dari 21st Century Learning, saya salah satu peserta trainingnya di Singapore.Bisa saja PBL dibuat diluar Think.com tapi interkoneksinya dengan sekolah,guru dan orang tua diseluruh dunia menjadi sulit
2.Bravo sudah mengakui bahwa SAS itu adalah tabulasi HASIL belajar,itupun hanya dilihat aspek kognitif saja,masalahnya PROSES pemelajaran tidak terpantau dan itu menyalahi psikologi pendidikan.Misalnya anak kandung Bravo mau jadi pemusik,dengan SAS,anaknya pasti tidak naik,karena nilai Matematika dan Ekonomi/Akuntansinya merah.
3.Silahkan kirim contoh rapor SMA XI Bdg,..kemana?Bravo sembunyikan alamat dan identitas
4.Browsing KTSP dimana?Baca tulisan saya,lihatnya di website Depdiknas -dan itu dibuat oleh BNSP-mengacu pada Renstra Diknas-jangan sombong.Nampaknya Bravo tidak pernah bicara dengan Dewan Pendidikan DKI dan BPG DKI di Pasar Minggu.Hati-hati lho,kalau bicara diluar wewenang Bravo.Lalu Bravo keliru di sub (4)Penentuan Indikator,Bravo katakan bisa digabung dengan langkah 1-SALAH.Ini kuncinya,penyusunan Indikator harus pakai KKO dan itu menentukan seluruh mutu dan kualitas kurikulum-kalau sembarangan,pada langkah ke-6 kolom Pengalaman Belajar akan kosong (tak bisa diisi),berarti siswa tak belajar apa-apa sebenarnya.Ini harus diantisipasi sebelum kita ke kelas ..lalu pernyataan Bravo,NANTI SAYA KOMENTARI LEBIH LANJUT...hebat,mengomentari pekerjaan BSNP,padahal Bravo bukan lulusan Curriculum Design
6.Guru tahu komputer karena dituntut dalam uji sertifikasi guru,bukan karena SAS -rupanya Bravo belum maju uji sertifikasi guru
7.Pertanyaan ini harusnya dialamatkan ke Kasubdin SMA Bp.Budiana- instruksi mengumpulkan KTSP Bulan Mei 2007 itu dari beliau
8.Curriculum Design disusun oleh ahli-ahli kurikulum-15 langkah KTSP ini diadopsi dari Prof.J.Bloom-Carnegie Melon
9.Fokuskan saja pada KTSP,MBS lalu moving class=SKS,waktu 5th




Sabtu, 05-07-2008 11:22:54 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Kontroversi soal SAS itu sebenarnya mengulang kontroversi soal RANKING dulu.Apa inti masalahnya?
1.SAS itu tabulasi HASIL belajar,itupun hanya aspek KOGNITIF yg dinilai,hal ini SALAH secara psikologis.Misalnya siswa yg berminat mau jadi sutradara film,bisa tidak naik kalau SMA-nya pakai SAS,karena nilai Matematika,Ekonomi/Akuntansi,Geografi bisa merah (tak cocok dengan bakat dan minatnya).Sedangkan KTSP merekam PROSES pemelajaran-jadi siswa yg berminat jadi penari tetap bisa naik di SMA karena semua aspek dinilai (Kognitif,afektif,psikomotor,kecakapan hidup)Jadi kalau gagal dalam kognitif,itu hanya seperempat dari nilai rapor (tak ada pengaruh pada kenaikan kelas)
2.SAS melanggar azas otonomi guru,karena dgn tabulasi HASIL itu,nasib siswa sudah ditentukan.Angka yg bicara-rapat guru tidak diperlukan lagi (data sudah terbuka)Hal ini akan fatal pada penjurusan,karena siswa yg sebenarnya bisa ke IPA,karena yg dilihat hanya nilai Mat,Fis,Kim,Bio-bisa terlempar ke IPS.Saya punya banyak murid (DR.Ir.Adhi Sudadi,DR.Claudia,DR.Baby Ahnan dll) yg nilai SMA-nya dulu tidak bagus,mereka baru berkembang di PTN.Dengan SAS,mereka bisa salah jurusan dan tidak jadi apa-apa kelak
3.Dengan tabulasi hasil belajar,guru adalah pemegang kendali pendidikan (teacher-centered)-guru yg menentukan nilai(penghakiman siswa),padahal sekolah di seluruh dunia sudah berubah jadi student-centered,mendampingi bakat dan minat siswa.Siswa yg tidak bisa Mat,Fis,Kim,Bio tetap dihargai,mereka bukan bodoh,hanya bakatnya lain.Dengan SAS,mereka akan tampak bodoh,nilai rapornya merah semua.Pakai KTSP,nilai kognitif mereka hanya seperempat dari penilaian,masih banyak aspek lain yg dinilai.Dengan KTSP,siswa yg mau jadi pemusik,tetap bisa jadi pemusik meskipun duduk di IPA dan tidak dibuang ke IPS (kalau siswa itu maunya di IPA)
4.Semua policy di era otonomi daerah harus dibicarakan dengan Dewan Pendidikan Provinsi dan BPG Provinsi,tidak seperti jaman Orba,Dinas Pendidikan jalan sendiri (UU Sisdiknas)




Sabtu, 05-07-2008 13:18:15 oleh: Bravo

Pak, ini alamat email saya yes.bravo@yahoo.com

Saya berpikir diskusi kita lanjutkan lewat email saja. Karena di sini hanya kita berdua saja.

TQ




Sabtu, 05-07-2008 16:11:38 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Sebenarnya diskusi ini bukan antar kita berdua, karena dipantau oleh :
1.Pihak yang mau mensponsori debat SAS yaitu Rational Thinking yang dimotori oleh Prof.Dr.Djohansjah Marzoeki dari FK UNAIR Surabaya
2.Teman-teman dari PKLN Depdiknas yang membuat JARDIKNAS, karena saya sudah mengemukakan masalah SAS ini tahun lalu dalam pertemuan ICT di Hotel Atlet Century Senayan
3.Teman-teman MKS (Musyawarah Kepala Sekolah), Majalah EDUCARE, Kompas Forum, Koran On-line : www.kabarindonesia.com dan komunitas pendidikan Bogor : www.sukainternet.com Masalah SAS juga pernah dimuat di : www.forumpendidikan.com dan www.duniaguru.com dan sudah tentu para Wikimuers
4. Intinya, SAS itu dibuat pada jaman KBK (4 th yang lalu - th. 2004) sedangkan kita sekarang sudah ganti jaman, jaman KTSP dengan JARDIKNAS (di tingkat nasional) dan MBS (di tingkat lokal)
5.Kita terus bertanya-tanya, kenapa Dewan Pendidikan Prov. DKI dan BPG Prov DKI tidak diikutsertakan dalam pembicaraan mengenai SAS oleh Dinas Dikmenti Prov DKI. Terlalu banyak peraturan yang ditabrak dalam penyusunan SAS ini (lihat tulisan utama saya di atas)
5.Pemerintah Pusat sudah menunjuk SMA Santa Ursula dan SMA N 78 untuk melaksanakan uji coba SKS dan program SKS tidak bisa pakai SAS.Kacau nanti, SKS = KTSP sampai ke tingkat HOT + MBS + Moving class
6. Posting Bravo tentang KTSP itu salah, KTSP terdiri dari dua dokumen (ada Dok I dan Dok II KTSP) lihat website Depdiknas : www.depdiknas.go.id - 15 langkah KTSP yang Bravo tulis itu salah urutan dan substansinya dan 15 langkah KTSP hanya bagian Dokumen II B KTSP, masih ada II a dan Dokumen I A dan I B. Tidak gampang lho, itu sebabnya gaji guru asing di RI jauh lebih tinggi dari guru lokal, karena kemampuannya membuat kurikulum sendiri (sedangkan kita selama 32 tahun,kurikulum dibuatkan atau didrop oleh Pemerintah)
7.Untuk komunikasi pribadi lewat e-mail, ya monggo, karena diskusi ini bukan untuk permusuhan atau perseteruan, tapi untuk saling mencerahkan




Selasa, 08-07-2008 09:31:42 oleh: Bravo

Saya masih menunggu kiriman rapor SMA XI bandung.

Forum diskusi ?
lha kenapa ada komentar seperti ini "mengomentari pekerjaan BSNP,padahal Bravo bukan lulusan Curriculum Design"

Sekarang era demokrasi siapa saja bebas komentar kan ?

Saya duduk dulu, sambil menunggu komentar yang lain.

"15 langkah KTSP yang Bravo tulis itu salah urutan dan substansinya", oh ya, padahal saya copy paste dari bahan pelatihan yang diberi oleh SMA XI bandung.





Rabu, 09-07-2008 08:46:23 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.Si.,

1.Sekarang era demokrasi atau democrazy? -Itulah yang perlu diluruskan terutama dalam dunia pendidikan kita -ngomong harus ada dasar teorinya,nggak asal komentar -itu yang membedakan sekolah lokal dan sekolah internasional di RI -yaitu kemampuan analisis yang rendah,selalu pakai argumen "pokoknya" -kemampuan analisis harus diasah terus menerus.Saya sebagai Pembimbing Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) selama 30 tahun dan sampai sekarang masih mencetak para juara -sedih melihat kemampuan analisis Bravo
2.Saya adalah salah satu tutor waktu pelatihan yang diberikan oleh Tim BPG Prov Jabar di Wisma Kinasih tahun lalu -mana PBK (penilaian berbasis kelasnya?) -langkah ke 6 kok kosong? Kalau Bravo bisa copy paste,tentu Bravo bisa dapat contoh rapornya -waktu itu ditayangkan di Wisma Kinasih
3.Sekedar Bravo tahu,kalau di Prov lain,Tim BPG adalah para guru yang masih aktif (bukan birokrat) -Jadi Tim BPG Prov Jabar yang diundang ke Wisma Kinasih waktu itu adalah para guru yang masih aktif mengajar di SMAN XI Bdg.Mengapa bukan para guru dari SMAN 3 Bdg yang lebih ngetop?Waktunya tidak cocok dan mereka sudah lebih jauh bergerak dalam implementasi KTSP (sudah sampai ke tingkat HOT)-agak sukar bagi para pemula KTSP di Jakarta untuk mengikutinya - apalagi DKI masih dibelenggu SAS yang paradigmanya berbeda jauh dengan HOT
4.Kreativitas itu yang terpasung dalam SAS.Saya sudah memberi contoh,kalau anak yang mau jadi pemusik (lihat contoh di posting atas) atau siswa yang nilai Mat,Fis,Kim,Bio-nya rata-rata 6, sedangkan nilai Sej,Geo,Ek/AK-nya rata-rata 7, maka dengan SAS,siswa ini akan otomatis masuk ke IPS.Belum tentu lho!Sebagai guru selama 30 tahun, saya selalu berhati-hati dalam penjurusan,dipertimbangkan dari segala sisi. Banyak siswa yang nampak bodoh dalam Mat,Fis,Kim,Bio di SMA ternyata menjadi brillian di PT,contohnya adlah murid saya DR.Ir.Robert Manurung,Dr.Ir.Adhi Soedadi,DR.Claudia (ITB), DR.Baby Ahnan (UI)dll Siapa yg tanggung jawab kalau siswa salah jurusan?




Rabu, 09-07-2008 09:11:55 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.Si.,

Sekali lagi, kreativitas itu yg terpasung dalam SAS, nasib siswa jadi taruhannya (lihat posting2 saya di atas). Untuk melihat apa dampak kalau kreativitas terpasung datanglah pada International Seminar Arte Polis 2 dengan thema Creative Communities
and the Making of Place: Sharing Creative Experiences - di ITB tg 6-7 Agustus nanti,saya adalah salah satu pembicara di sana (bukan peserta) dengan kode paper 081-E18 : Entrepreneurship through experimental design

Saya juga pembicara pada Seminar Internasional di Hawaii bulan Mei yang lalu : lihat situs ini :[PDF] Welcome to the Seventh Annual Hawaii International Conference on Social ...
582k - Adobe PDF - View as HTML
event offers a rare opportunity for academics and other professionals from ... Soetikno, Wendie Razif –— Keluarga Bunda Foundation ...
www.hicsocial.org/2008 Soc Final Program.pdf

Pada kedua seminar Internasional itu, saya berbicara mengenai kreativitas dan bahayanya kalau kreativitas terpasung

Untuk komunikasi lewat e-mail, saya akan lakukan bila Bravo membuka identitasnya - jangan sampai Wikimuers mencap Bravo pengecut -karena terlalu banyak aturan yg dilanggar dalam SAS, termasuk tidak melibatkan Dewan Pendidikan Prov DKI dan BPG Prov DKI - ikuti saja pedoman dari Pemerintah Pusat, sebelum Bravo kena sanksi pelanggaran displin pegawai (UU Sisdiknas)




Rabu, 09-07-2008 11:08:42 oleh: Retty N. Hakim

Diskusinya menarik sekali...

Saya tertarik pada ucapan bapak: "Siswa yg tidak bisa Mat,Fis,Kim,Bio tetap dihargai,mereka bukan bodoh,hanya bakatnya lain.Dengan SAS,mereka akan tampak bodoh,nilai rapornya merah semua.Pakai KTSP,nilai kognitif mereka hanya seperempat dari penilaian,masih banyak aspek lain yg dinilai.Dengan KTSP,siswa yg mau jadi pemusik,tetap bisa jadi pemusik meskipun duduk di IPA dan tidak dibuang ke IPS (kalau siswa itu maunya di IPA)"

Saya sendiri terus terang bertekuk lutut pada mata pelajaran Kimia...tapi kalau saya tidak lulus Kimia (waktu itu, mungkin sekarang sistem berbeda) maka saya tidak bisa lulus SMA dan masuk jurusan arsitektur (karena hanya menerima lulusan IPA). Nilai Ujian Negara kimia saya bagus karena hasil drilling bimbingan tes, terus terang lepas SMA tidak ada lagi yang nempel di kepala...

Dalam satu kelas biasanya tingkat penangkapan murid juga tidak selalu sama, ketertarikan juga berbeda-beda. Kemudian beda angkatan juga bisa jadi terjadi beda kemampuan. Pendidik yang bijaksana seharusnya memperhatikan kebutuhan murid-murid secara keseluruhan, baik yang cepat menangkap pelajaran (sudah terisi dari lingkungan belajar lain) maupun yang kurang cepat menangkap pelajaran. Membuat kurikulum yang mampu tetap menggugah semangat belajar semua siswa tidak mudah. Dan ini yang membuat UAN menjadi momok, karena target guru hanya kelulusan UAN, bukan hasil yang benar-benar dimengerti dan dipahami anak.

Saya kurang mengerti mengerti SAS dan KTSP, jadi komentar ini sekedar masukan buat bapak-bapak semua.




Rabu, 09-07-2008 12:01:51 oleh: Bravo

Sebenarnya saya hanya mengkritisi komentar pak wendie tentang SAS. Saya juga tidak mengganggap SAS sebagai perwujudan dari KTSP. Saya hanya melihat bapak terlalu "pongah" dalam memberikan penilaian.

1. SAS ada membership (bayar)
2. SAS hanya mengolah nilai kognitif saja
3. SAS menghambat/memasung kreativitas guru
4. SAS menurunkan derajat guru (hanya sebagai)
penginput data

Dari sini saya menyimpulkan kalau pak Wendie sebenarnya tidak tahu persis tentang program SAS.

"ngomong harus ada dasar teorinya,nggak asal komentar"

Refleksi buat bapak itu ! Kalau bapak memang tahu bener sistem SAS coba katakan urutan langkah2 kerjanya !

"Saya juga pembicara pada Seminar Internasional di Hawaii bulan Mei yang lalu"

so what gitu lho ! Nggak ngefek.

terus terang saya bukan apa-apa bukan seperti bapak.

"Sebagai guru selama 30 tahun, saya selalu berhati-hati dalam penjurusan,dipertimbangkan dari segala sisi."

Emang yang tidak ?

"contohnya adlah murid saya DR.Ir.Robert Manurung,Dr.Ir.Adhi Soedadi,DR.Claudia (ITB), DR.Baby Ahnan (UI)dll Siapa yg tanggung jawab kalau siswa salah jurusan?"

Memang dulu gurunya hanya pak wendi saja ya ?

@ Ibu Retty Hakim : Itulah kelemahan sistem pendidikan di Indonesia.Parahnya lagi mereka pintar2 tapi nuraninya ?

Lihat murid-murid (generasi pak Wendie mungkin hehehehe) Akbar Tanjung (lulusan kanisius), para Jaksa Agung dll pinter2 kan.

Sebenarnya yang dibutuhkan bangsa ini adalah living value dan pendidikan Multikultural




Rabu, 09-07-2008 16:38:28 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

1.Buka identitas Bravo.Kenapa mesti takut? Saya bahkan pakai foto saya. E-mail : yes.bravo@yahoo.com tak berarti apa-apa untuk kita
2.Nampaknya Bravo bukan guru,karena tak tahu perkembangan dunia pendidikan. SAS dibuat th.2004 pada jaman KBK.Sekarang RI pakai KTSP dan program administrasinya adalah Jardiknas
3.Nampaknya Bravo juga masih muda,belum punya anak, sehingga tidak memahami kerumitan penjurusan dan kenaikan kelas yg bisa fatal kalau pakai SAS.
4.Sebenarnya kalau Bravo adalah seorang guru, tentu masih ingat perdebatan tentang sistim ranking dan SSCI (Sistim Sekolah Cerdas Indonesia) 10 tahun yg lalu.Cukup lama kita berjuang agar sistim ranking dan SSCI dihapus
5.Sekali lagi SAS itu compatible dengan KBK, tapi sama sekali berseberangan dengan KTSP.Pemerintah sudah menggariskan rambu-rambu melalui berbagai peraturan supaya SSCI dan sistim ranking tidak terulang lagi.Justru rambu-rambu itu yg ditabrak oleh penggagas SAS (lihat tulisan utama di atas)
6.Nampaknya Bravo bukan seorang guru,karena Pak Budiana,Kasubdin SMA tidak berani omong banyak tentang SAS (dan Bravo salah menyebut jabatan pak Budiana, padahal seluruh guru SMA di DKI tahu siapa beliau-bukan Kadis Kurikulum seperti yg ditulis Bravo)
7.Kenapa mati-matian bertahan dengan SAS padahal jaman sudah berubah? Ada udang dibalik rempeyek?
8.Ikuti saja semua provinsi lain,atau DKI terjebak dalam pola "Sekolah Unggulan" yg populer pada jaman Orba dulu,yg ternyata adalah pepesan kosong
9.Kalau bukan guru (terlihat dari argumen yg melompat-lompat -sekarang malah pindah ke living value,yg saya ikuti di Paris th 1987),tolong jangan ngotot -jaman sudah berubah.Nasib siswa jadi taruhan
10.Bahan-bahan perdebatan di atas akan di print out untuk bahan debat yg sesungguhnya yg akan disponsori Rational Thinking. Bravo mau maju?




Kamis, 10-07-2008 11:31:34 oleh: Bravo

1. Apa arti sebuah nama
2. Kalaupun saya bukan guru dan belum punya anak apa ada yang salah, apa pak wendie juga punya anak ?
Apa bapak tidak menangkap essensi kritikan saya ?
Di majalah pak wendie bilang:
SAS tidak gratis (ini kesimpulan darimana ?)
Kemudian di sini bapak bilang :
SAS hanya mengolah nilai kognitif saja (apa sudah pernah menggunakan sistem SAS ?
3. "Nampaknya Bravo juga masih muda,belum punya anak, sehingga tidak memahami kerumitan penjurusan dan kenaikan kelas yg bisa fatal kalau pakai SAS" Saya mengajar dan saya menggunakan SAS untuk penjurusan(pelajari sistem penjurusan di SAS). Bapak belajar SAS dulu deh nanti baru komentar. Bapak sudah terlalu tua sehingga susah untuk merendahkan diri belajar dari yang muda.
4. SAS tidak sama dengan KBK ataupun KTSP. SAS adalah sistem administrasi sekolah. Saat ini yang dikeluarkan baru model pencetakan rapor baik dari hasil maupun proses.

5. Untuk materi yang lain saya tidak mendebat. Intinya saya mengkritisi "bahwa bapak berani membuat penilaian tentang SAS Padahal Bapak samasekali tidak mengerti tentang SAS" itu saja.

Bapak mengomentari hal yang bapak tidak tahu persis apa itu SAS, Lucu sekali !




Kamis, 10-07-2008 12:04:44 oleh: Bravo

ralat :Bapak sudah terlalu tua sehingga susah untuk merendahkan diri belajar dari yang muda.
seharusnya : Bapak sudah terlalu tua sehingga susah untuk merendahkan hati belajar dari yang muda




Jumat, 11-07-2008 09:27:11 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

1.Hanya pengecut yg berani berkoar-koar.Pendidik (bukan pengajar lho!) akan buka identitasnya. Karena setiap pernyataannya harus dipertanggungjawabkan secara akademis. Pertanyaannya,kenapa takut kalau tidak bersalah?
2.Kalau bukan guru tetapi hanya tenaga IT, wewenangnya dibatasi UU Guru dan Dosen.Kalau mau contoh lain,lihat di dunia perbankan,meskipun IT penting,tapi tidak boleh menentukan policy.Policy tetap dipegang para manajer keuangan
3.SAS itu tidak gratis,karena user diwajibkan pakai speedy dan bayar Rp.450.000/bln,itupun hanya bisa di-share untuk 30 komputer -banyak sekolah mempunyai lebih dari 30 guru dan ratusan siswa itu harus diberi akses ke internet juga, tak bisa dimonopoli oleh SAS atau sekolah mesti membayar lagi,khusus untuk akses internet siswa - bagaimana kalau sekolah sudah pakai cbn,dnet,indosat atau provider lain? Kan tetap harus bayar? Yang disebut gratis kalau Bravo pakai provider apa saja tetap bisa akses gratis, seperti akses dan mengunduh e-book Depdiknas,atau Kompas digital,atau Jardiknas.Jangan menipu masyarakat.Berbahaya!Itu mungkin sebabnya Bravo tidak berani buka identitas
4.Coba baca Kompas,Jumat tg 11 Juli halaman 42, tentang SKS
5.Kenapa mesti diralat ; Pernyataan Bravo yg no.5
Siapa yg arogan? Kalau yakin dengan pendapat Bravo,datanglah pada debat terbuka nanti
6.Pelatihan SAS lewat sanggar-SALAH,sanggar bukan tempat pelatihan,itu tempat guru-guru MGMP berkumpul,jangan dikotori.Ada dasar dan aturan yg mendasari pendirian sanggar.Pelatihan harus dikoordinasikan dengan BPG Provinsi.Pelatihan itu wewenang BPG Provinsi di Pasar Minggu-jangan dilangkahi,panjang urusannya nanti.
7.Di Jakarta sudah ada sekolah yg pakai SKS dan banyak juga sekolah-sekolah internasional.Rapor SAS jadi tak terpakai.Cobalah konsultasi dengan Pustekom Depdiknas dan lihat Provinsi lain
8.Jangan sekali-sekali mengatur guru apalagi mengancam guru-banyak guru jauh lebih pandai secara akademik dan otonominya dijamin oleh UU Guru dan Dosen




Jumat, 11-07-2008 10:04:08 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

1.Posting bravo tg 3-7-2008 :pernah studi banding,ikut konferensi guru,pelatihan & seminar ...kami sedang fokus pada metode pembelajaran ...SEKEDAR BRAVO TAHU,KATA PEMBELAJARAN SUDAH TIDAK DIPAKAI,SEKARANG PAKAI KATA PEMELAJARAN..ada perubahan paradigma besar dibalik kata-kata itu....Disamping metode,masih ada Model Pendekatan dan Strategi Pemelajaran..itu tak tersentuh.Ikuti saja KTSP
2.Posting tg 30-6-2008 Bravo menyalahkan SDM, bukan program,akses internet dan band width server.Jangan sekali-sekali menyalahkan guru, belum tentu guru kalah pandai dari anda dan otonominya dijamin UU Guru dan Dosen
3.Posting tg 3-7-2008 pelatihan dilakukan di sanggar -sudah saya jawab di atas, JUGA TENTANG TIDAK GRATISNYA SAS.Tidak benar itu
4.Posting tg 4-7-2008 KTSP kurang simple format-formatnya- sudah saya jawab-BNSP mengadopsi dari Prof J.Bloom -Carnegie Mellon. Ada kaidah dan etika akademis,kalau kita bukan ahlinya,jangan kasih komentar.Itu melanggar etika akademis.Analoginya adalah IT di perbankan,dia tidak boleh mengomentari policy para manajer keuangan,apalagi mengomentari teori-teori ekonomi kelas dunia.Siapa kita? Ingat posting Bravo dibaca banyak orang
5.Tahun depan,Pemerintah Pusat akan menambah jumlah sekolah yg pakai SKS dan jumlah sekolah yg berstatus SBI.Anggaran Depdiknas tahun depan sudah disetujui DPR adalah Rp.100 trilyun.Tetaplah berkukuh pakai SAS dan jaman baru akan melindas anda.Kita akan bekerja terus di Prov lain
6.Baca Kompas Jumat tg 11 Juli 2008 halaman 42 tentang SKS. Dunia berderap maju
7.Banyak aturan ditabrak dalam SAS - Dewan Pendidikan dan BPG Prov DKI juga sama sekali tidak dilibatkan-Gubernur DR.Fauzi Bowo (beliau Ketua Alumni Kanisius,yg anda lecehkan itu) sebagai atasan langsung Dikmenti,juga tidak tahu.Padahal 4 th yg lalu (saat SAS digagas),beliau Wagub
8.Berhenti melecehkan guru dan mengancam guru (saya masih menyimpan SMS ancaman itu).Banyak guru lebih handal secara akademis
9.Studi banding ke JIS saja,jauh-jauh ke Denpasar




Jumat, 11-07-2008 12:09:01 oleh: Bravo

Kelihatannya ini menjadi tidak fokus pembahasannya.

Saya mulai dari kalimat ini "Karena setiap pernyataannya harus dipertanggungjawabkan secara akademis" sekarang lihat pernyataan bapak " www.think.com - komunitas pembelajar maya dimana publik dapat mengakses situs sekolah di manapun di seluruh dunia tanpa memerlukan password. Semua situs itu sifatnya gratis, tidak seperti SAS, dimana sekolah dibebani biaya membership" dari kalimat ini saya simpulkan SAS bayar dan www.think.com gratis. Mari kita analisa
a. Sekarang saya lagi buka program SAS online menggunakan internet dengan fasilitas speedy unlimited perbulan membayar 450ribu.
b. Disaat bersamaan saya membuka www.think.com, www.google.com, www.wikimu.com menggunakan internet dengan fasilitas speedy unlimited perbulan membayar 450ribu.
Kesimpulan apa yang kita dapat dari dua pernyataan di atas. Bahwa SAS (http://sas.subdis-smu-jkt.or.id), www.think.com, www.wikimu.com adalah program online dimana kita tidak perlu bayar alias gratis.

Saya tertawa membaca ini "SAS itu tidak gratis,karena user diwajibkan pakai speedy dan bayar Rp.450.000/bln,itupun hanya bisa di-share untuk 30 komputer -banyak sekolah mempunyai lebih dari 30 guru dan ratusan siswa itu harus diberi akses ke internet juga, tak bisa dimonopoli oleh SAS atau sekolah mesti membayar lagi,khusus untuk akses internet siswa - bagaimana kalau sekolah sudah pakai cbn,dnet,indosat atau provider lain? Kan tetap harus bayar? Yang disebut gratis kalau Bravo pakai provider apa saja tetap bisa akses gratis, seperti akses dan mengunduh e-book Depdiknas,atau Kompas digital,atau Jardiknas.Jangan menipu masyarakat"

Pak, siapa bilang SAS harus pakai speedy, bapak kewarnet saja bisa buka SAS online. Ternyata yang saya katakan benar bapak tidak tahu sama sekali tentas SAS. bagaimana dengan pertanggungjawaban kalimat ini "Karena setiap pernyataannya harus dipertanggungjawabkan secara akademis ?" hal inilah yang saya kritis d




Jumat, 11-07-2008 12:21:37 oleh: Bravo

sekarang saya jadi paham...., ternyata persepsi bapak keliru. Bapak pikir SAS adalah program peer to peer. SAS adalah program online bisa diakses dimana saja seperti www.wikimu.com, coba bapak buka alamat ini http://sas.subdis-smu-jkt.or.id. Cuma bapak ga bisa login karena bapak belum mendaftar (daftar tidak bayar kok).

Kenapa disarankan speedy dari telkomnet, karena untuk sekolah ada diskon 50% (IGOS),untuk akses ke SAS online bisa pakai provider apa saja buktikan saja.

Kalau kita buka program SAS online kita masih bisa akses yang lain, (saya saja buka 10 ini, 1. SAS,2. YM, 3. Yahoo, 4. detik.com, 5. wikimu.com, 6. think.com, 7. bhinneka.com, 8. wordpress.com, 9. jardiknas, 10. google.com) secara bersamaan.

Kenapa hanya 30 komputer, ini hanya rekomendasi biar akses tetap lancar bukan berarti tidak bisa lebih dari 30 komputer. kami saja bisa sampai 40 komputer.

Mohon ditanggapi yang ini dulu.




Jumat, 11-07-2008 17:49:20 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

1.Aha ada pernyatan kontradiktif,katanya gratis,tapi disarankan (atau dipaksa) pakai speedy dan bayar Rp.450.000 per bulan. Itupun kata bravo sudah didiscount 50 %. Muahal lha yauw. Begini saja,buka Kompas hari ini Jumat,tg 11 Juli 2008 halaman 42 tentang SKS di SMA N 78 Jakarta. Jadul ah!
2.Katanya sering ikut seminar,konferensi guru dll(posting Bravo tg 03-07-2008) -ayo kita ketemu di Konferensi Guru di Samarinda nanti (diundang kan? Katanya sering ikut), saya traktir ke SMPN 3 Bunyu di Kaltim,yg menggunakan Sistim Informasi Unfrozensoft GA -program ini jauh lebih canggih dari SAS dan jauh lebih murah (ga discount lho).Kalau ga diundang,pergi saja ke Sekolah Stella Maris BSD, salah satu sekolah yg berhasil mendapat ISO 9000 (untuk dapat sertifikat manajemen ISO 9000,ga bisa pakai SAS, jadul) Jangan meremehkan para guru apalagi pakai tipu-tipu dan ancaman. SMS ancaman masih saya simpan dan banyak Kepsek SMA mau jadi saksi kalau diancam-ancam harus pakai SAS
3.Silahkan ngotot dengan SAS,kami jalan terus ke SKS = (KTSP + MBS + moving class). Disamping SMAN 78 Jakarta dan SMA Santa Ursula masih ada 40 SMA lain di 12 provinsi yg melaksanakan uji coba SKS. Tahun depan kita tambah 50 SMA lagi. Selamat ngesas




Sabtu, 12-07-2008 07:59:32 oleh: Bravo

1. kontradiktif?, apa bukan bapak yang salah mengerti. sekarang saya tanya adakah provider penyedia jasa internet lain yang menawarkan program unlimited(saya harap bapak mengerti maksud "unlimited") lebih murah dari 450 ribu ?
tidak ada kalimat saya yang bernada memaksa "memakai speedy", pernah dengar IGOS(internet go to school) ?. Sayang bapak masih belum mengerti juga tentang internet.
Jika memakai asumsi bapak berarti www.think.com juga bayar dong !
2. SMA 78 dan SMA Stella Maris juga pakai SAS lihat daftar sekolah pengguna SAS di http://sas.subdis-smu-jkt.or.id
3. Sering bukan berarti selalu, saya tidak sehebat dan sekaya pak wendie jadi kemungkinan besar saya tidak hadir karena biaya.
4. kami juga akan menuju SKS dengan SAS, mari berkompetisi.




Sabtu, 12-07-2008 09:37:25 oleh: Wiladi

Menarik mengikuti perdebatan soal SAS di forum ini. Menurut saya, ini kan soal pilihan menggunakan program. Mungkin SAS punya banyak kelebihan dan kelemahan. Dan masih ada alternatif lain untuk menggunakan program yang sama dengan SAS.

Masalahnya adalah : tidak benar kalo ada nada pemaksaan dari institusi tertentu kepada sekolah, agar menggunakan program administrasi tertentu. Biarkan saja produsen SAS berkompetisi dengan produsen software yang lain. Jangan dipaksa-paksa oleh negara (dalam hal ini Dinas Pendidikan Jakarta). Karena kalau diwajibkan, bau-baunya ada kolusi.

Ini kan mirip kejadian beberapa tahun lalu, seperti soal mewajibkan sekolah2 agar menggunakan buku pelajaran dari penerbit tertentu.

Saya tidak tahu siapa (atau perusahaan) yang membuat program SAS ini? Kalau itu buatan anak dalam negeri ini, patut didukung. Kalau masih ada kelemahan dalam program SAS, tolong segera diperbaiki. Tapi janganlah memaksakan/mewajibkan sekolah2 itu menggunakan. Kalau bagus, pasti akan dipakai.

Saran itu Pak Wendie dan Pak Bravo, terima kasih sudah memberikan pencerahan informatif. Tapi sebaiknya gunakan kata-kata yang santun, tidak perlu saling melecehkan satu dengan yang lain. Mari kita membangun bangsa ini dengan perilaku yang santun.




Sabtu, 12-07-2008 13:55:17 oleh: Bravo

@ Pak Wiladi: salam kenal...

tq atas saran dan komentarnya, menyejukan.

lihat di http://sas.subdis-smu-jkt.or.id
program ini dibuat oleh subdis dki jakarta, ini hanya program administrasi online. Bukan KTSP atau SKS
dari sana kita bisa lihat sekolah mana yang ikut dan tidak.

masalah pemaksaan lewat SMS apakah bisa dijadikan patokan bahwa yang SMS pihak subdis SMA DKI Jakarta ? ataukah hanya oknum saja ?




Minggu, 13-07-2008 12:11:58 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

1.SAS dipaksakan,bukti untuk itu banyak.
2.Penyeragaman mematikan demokrasi (bertentangan dgn posting Bravo tg 08-07-2008) dan kreativitas
3.Analog dgn dunia perbankan,IT penting,tapi policy tetap pada para manajer keuangan.Juga di pendidikan,IT penting,tapi TIDAK BOLEH mencampuri policy,apalagi sampai menyentuh pembuatan rapor.Dewan Pendidikan dan BPG Prov. harus dilibatkan.Tidak bisa Dinas Dikmenti Prov DKI jalan sendiri.Ini amanat UU Sisdiknas lho
4.Berkali-kali Bravo mengatakan saya tidak paham SAS.Rupanya tulisan utama tidak dibaca.Sekarang saya beri cotoh konkrit.Langkah I SAS : menganggap SK dan KD itu sama.SALAH BESAR,karena:
a)Permen No.22,23,24 menyatakan semuanya itu MINIMAL,sekolah didorong untuk membuat lebih baik dari itu
b)Standar sekolah berbeda : jenjang I :Akreditasi A atau B,jenjang II : SSN,jenjang III : National Plus dan jenjang IV : SBI (bukan SWI seperti posting Bravo tg.3-7-2008),maka SK dan KD akan berbeda,tidak boleh disama-ratakan
5.langkah ke 2 :Penentuan Indikator.Tanpa panduan KKO,padahal Indikator menentukan soal dan sistim penilaian.Contoh konkrit : Fisika :Siswa dapat menjelaskan mengapa air laut berwarna biru.Kata MENJELASKAN dalam kognitif berarti siswa menguraikan apa yg diketahuinya mengenai teori cahaya dan optik yg menyebabkan laut jadi biru.Ini taraf C4.Taraf C5,siswa dapat menjelaskan bahwa warnanya bisa biru muda dan biru tua,karena... Dalam Afektif,kata MENJELASKAN itu berarti siswa dapat menguraikan bahwa air laut juga bisa berwarna hijau dan biru dengan gradasinya,karena....Ini lebih sulit dari kognitif.Dalam Psikomotor,kata MENJELASKAN itu berarti siswa dapat membuat percobaan atau simulasi yg menunjukkan kapan air laut berwarna hijau dan kapan biru.Ini lebih sulit dari Afektif.
Dan dalam Kecakapan Hidup kata MENJELASKAN itu berarti siswa dapat membuktikan melalui serangkaian penelitian sederhana bahwa air laut juga bisa berwarna hitam atau merah bila ditambahkan ....Ini yg tersulit.Pada SAS,hal ini disamakan




Minggu, 13-07-2008 12:48:34 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

6.Kalau SK dan KD tidak sama,maka Indikator juga tidak sama,(Indikator yg sama saja bisa bekerja pada ranah berbeda-beda -lihat contoh Fisika di atas) lalu bagaimana kita memaknai soal yg berbeda,KKM yg berbeda dan sistim penilaian yg berbeda dari setiap guru dan setiap sekolah.TAK BISA DIGEBYAH UYAH.DISATUKAN dalam satu program SAS.Keliru
7.Kalau guru bekerja di ranah kognitif saja, ada rentang yg begitu besar,dari C1 sampai C6.Apalagi guru selalu didorong untuk bekerja dalam ranah Afektif dan Psikomotor yg lebih sulit dari C6.Tak bisa diseragamkan dalam satu sistim perhitungan nilai seperti yg ditulis dalam makalah Ibu Aida itu
8.Langkah penentuan SK,KD dan Indikator ini luar biasa penting,karena pada langkah ke-6 KTSP (Perubahan Strategi Pemelajaran),kekeliruan langkah ini bisa dicek dalam kolom PENGALAMAN BELAJAR: bisa kosong,kalau ranah C6,Afektif,Psikomotor dan Kecakapan Hidup tak tersentuh (guru hanya bekerja di ranah C1 sampai C5).Artinya guru capai-capai mengajar,sebenarnya siswa tidak belajar apa-apa (lihat Posting dari Ibu Retty N.Hakim tg 9-7-2008 atau bisa dilihat dari menjamurnya Bimbel dewasa ini-siswa tidak mendapat apa-apa dikelas)ITU SEBABNYA SAYA KATAKAN : SAS TIDAK COMPATIBLE DENGAN KTSP
9.Kalau langkah 1 dan ke-2 salah,jangan sekali-kali masuk ke rapor.Lihat contoh Fisika di atas. Sekali lagi,rapor sudah jauh masuk kewilayah policy pendidikan,Dewan Pendidikan Prov dan BPG Prov.harus dilibatkan.Sekedar Bravo tahu, pak Margani selama ini mengira semuanya smooth saja, padahal begitu banyak aturan dilanggar dalam SAS ini.Laporan ke atas baik-baik saja,dikira sinkron dengan kebijakan Pemerintah Pusat.Hati-hati lho
10.Tentang SMAN 78 yg terpaksa ikut SAS,saya akan buktikan bahwa Kepsek dipaksa dan banyak Kepsek lain juga dipaksa.Lihat dalam debat Rational Thinking nanti
11.Kenapa sih takut buka identitas? Claim anda mau mengomentari KTSP buatan para ahli dan menganggap SDM(guru) itu lemah,tak etis secara akademis-sudah pernah bikin skripsi kan




Minggu, 13-07-2008 13:27:10 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

12.Sekolah Stella Maris BSD (yg lolos sertifikasi ISO 9000) ada di wilayah Prov.Banten.Mereka tidak ikut SAS,karena BSD itu lain provinsi.Hati-hati pernyataannya.
13.Kalau tidak diwajibkan,kreativitas akan berkembang.Di pelosok Kaltim,SMPN 3 Bunyu pakai Sistim Informasi Sekolah Unfrozensoft GA. Di Bekasi,sekolah Mahanaim (yg menggratiskan seluruh siswanya dari TK sampai SMA) menggunakan ACT
14.Mudah-mudahan dengan contoh konkrit Fisika di atas,Bravo bisa mengerti betapa rumitnya kenaikan kelas dan penjurusan itu.Tidak bisa angka nilai bicara,lalu nasib siswa diputuskan
15.Oh ya, kalau guru memberi tugas,penilaiannya lebih rumit.Harus pakai rubrics -penilaian proses dalam rubrics ini tak diakomodasi dalam SAS
16.Sekali lagi,jangan memaksa guru dan mengatur sekolah. Otonomi guru dan otonomi sekolah dilindungi UU Sisdiknas dan UU Guru dan Dosen.Coba bicara dengan ibu Clara,ketua Musyawarah Kepala Sekolah (MKS).Beliau bisa bicara banyak tentang pemaksaan disertai bukti-buktinya. Itu mungkin sebabnya,Bravo tidak berani buka identitas,pasti diserang habis banyak guru, apalagi Bravo bilang SDM (guru) itu lemah (posting tg 1-7-2008)
17.Posting tg 1-7-2008 :Perlu penelitian kalau SAS tidak compatible dengan KTSP -saya mau meneliti itu di sekolah tempat Bravo mengajar -jangan-jangan semua guru menggerutu,karena waktunya habis untuk SAS (seperti posting beberapa guru di atas).Hati-hati lho,terutama untuk guru yg waktunya tersita sehingga tidak bisa memberi les atau mengajar bimbel.Bisa dikeroyok Bravo (kalau Bravo buka identitas)




Senin, 14-07-2008 09:45:48 oleh: Bravo

Saya berani menyimpulkan bapak tidak mengerti SAS karena tulisan bapak bahwa : SAS tidak gratis sementara www.think.com gratis (kesimpulan yang salah). Selain itu karena sekolah bapak tidak ikut SAS maka bapak pasti tidak tahu prosedur kerja SAS. Saya yakin bapak membuat kesimpulan tentang SAS bukan dari pengalaman sendiri tetapi hanya mendengar pengalaman orang lain (ini terlihat dari cara bapak mengulas SAS).
Tentang SK/KD di dalam SAS itu memang minimal, apakah bapak mengerti bahwa untuk sekolah-sekolah yang ingin mengembangkannya juga diperbolehkan ? (ada prosedur/caranya)
Penjabaran KD menjadi indikator tidak di atur didalam SAS, itu murni kebijakan sekolah(KTSP). Di dalam SAS indikator dibagi menjadi 3: Kognitif, Psikomotorik dan Afektif. Masalah apakah KD ingin dikembangankan menjadi indikator seperti apa, itu adalah kreativitas guru/sekolah ybs. Setelah membuat indikator langkah selanjutnya menentukan KKM masing-masing Indikator (formatnya ada) kemudian menentukan skore maksimal masing-masing Indikator. Yang menentukan KKM atau skore maksimal adalah guru ybs dengan melalui analisa.
Sulit menjelaskan disini tentang semua prosedur SAS disini, apalagi bapak samasekali belum pernah mengoperasikan SAS. Yang jelas gambaran bapak tentang SAS itu salah. SAS adalah program terbuka, yang ditetapkan di SAS hanya SK/KD minimal untuk hal lain penjabaran indikator, penentuan KKM, sistem penilaian itu kreativitas guru ybs. Kekhawatiran bapak bahwa SAS mengekang kreativitasan guru membuat indikator itu dasarnya apa ?
Mungkin bapak belum paham, oleh sebab itu silahkan pelajari cara kerja SAS online. Ini adalah produk buatan Indonesia silahkan dikritisi, berikan masukan yang berimbang agar program ini dapat dipakai oleh semua sekolah (jenjang I,II, III, dan IV).
Hal-hal lain seperti : penjurusan dan kenaikan itu juga ada prosedurnya, ada penentuan batas nilai minimal(berarti ada rapat) kemudian pra cetak, rapat final baru cetak terakhir. Oleh sebab itu, jangan berpikir n




Senin, 14-07-2008 09:48:28 oleh: Bravo

Oleh sebab itu, jangan berpikir negatif dahulu.
“Claim anda mau mengomentari KTSP buatan para ahli dan menganggap SDM(guru) itu lemah,tak etis secara akademis-sudah pernah bikin skripsi kan

Saya tidak pernah mengatakan akan mengomentari KTSP ? saya hanya mengatakan akan mengomentari format-format kerja 15 langkah (kenapa pakai word tidak excell saja begitu). Sementara bapak berani komentar tentang SAS tanpa pernah melakukan mencoba dan meniliti. Etiskah ? Saya sangat senang jika bapak bersedia membuat penelitian ilmiah tentang SAS.
“apalagi Bravo bilang SDM (guru) itu lemah” bapak hanya sepenggal dalam mencerna tulisan saya, saya mengatakan itu dalam konteks apa ? Apakah untuk semua guru ?
“Sekolah Stella Maris BSD (yg lolos sertifikasi ISO 9000) ada di wilayah Prov.Banten” lalu sekolah Stella Maris yang terdaftar di SAS itu dimana ?




Senin, 14-07-2008 17:14:49 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

1.Saya mulai dari yg terakhir - Lho,letak SMA Stella Maris yg ikut SAS saja kacau,masak ga bisa ditelusur dgn sistim SAS ini-sekolah itu adanya di Pluit.Lain Yayasan dgn SMA Stella Maris BSD. Ada banyak sekolah yg namanya sama.Bisa kacau semua data itu,misalnya SMA Don Bosco ada di Pondok Indah dan ada di Pulo Mas,lain Yayasan-kacau nanti
2.Rupanya Bravo tidak mengerti meskipun saya posting berkali-kali-ada Indikator yg hilang yaitu Kecakapan Hidup (untuk ke SKS perlu Indikator ini).Dan Indikator Afektif dalam SAS lain maknanya dgn Afektif menurut orang kurikulum (lihat contoh Fisika di atas).Afektif harus terukur,bukan kualitatif dan Psikomotor bukan berarti pengerjaan tugas
3.Indikator memang disusun oleh para guru,tapi rambu-rambunya harus jelas.Kalau tidak,bisa kemana-mana dan data menjadi kemana-mana pula,tak ada artinya.Ingat,Indikator ini menentukan bentuk soal,sistim penilaian dan strategi pemelajarannya.Saya ambil contoh lain (karena contoh Fisika itu nampaknya sukar untuk anda) Contoh matematika - persamaan kuadrat.Indikator yg dibuat guru :Siswa dapat MEMAHAMI persamaan kuadrat.Kata MEMAHAMI dalam Kognitif bisa berarti siswa dapat menyelesaikan persamaan kuadrat dgn satu parameter(C3) Soalnya misalnya 4 x2=26, atau siswa dapat menyelesaikan persamaan kuadrat dgn dua parameter (C4) Soalnya misalnya 5 x2 + 2 y2 = 15. Nilai 6 yg diperoleh dari C3 akan berbeda maknanya dgn nilai 6 dari C4. Tanpa rambu-rambu akan kacau RAPORnya nanti.Tidak bisa dilepas begitu saja.KACAU TAK ADA STANDAR,LALU BUAT APA SAS? Selanjutnya,kata MEMAHAMI dalam Afektif itu berarti :Siswa dapat membedakan apa itu deret ukur dan apa itu perhitungan luas.Soalnya misalnya : urutan angka berikut 1/3,3,1/9,....,....(A3) atau Tunjukkan luas lingkaran dgn jari-jari 5 (A4)-Sekali lagi nilai 6 di A3 lain dgn nilai 6 di A4. Selanjutnya,kata MEMAHAMI dalam Psikomotor berarti siswa dapat membuat kerucut,trapezium dll dan menghitung luas benda yg dibuatnya.




Senin, 14-07-2008 17:48:29 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

Aspek Psikomotor yg tertinggi (P7) misalnya buatlah kerucut yg luasnya 100 cm2.Ini jauh lebih sulit dari sekedar menyelesaikan persamaan kuadrat (ranah C).Siswa yg dapat nilai 4 di ranah P7 akan sangat berbeda dgn siswa yg dapat nilai 9 di ranah C4.Kalau tidak diantisipasi dalam SAS,bisa jadi siswa yg dapat nilai 4 di ranah P7 akan tetap tertulis nilai 4 di rapornya dan siswa yg dapat nilai 9 diranah C4 akan tetap tertulis nilai 9 dirapornya.Kacau.MUDAH-MUDAHAN CONTOH INI JELAS.Lalu kembali ke kata MEMAHAMI dalam Kecakapan hidup itu misalnya Siswa dapat menghitung luas area hutan/HPH (tingkat KH 4).Ini yg tersulit,butuh studi pustaka,riset pustaka,analisis dll (Ini diperlukan untuk menuju ke SKS) -justru bagian ini yg tidak ada di SAS.Siswa yg mendapat nilai 5 di ranah KH 4 tidak bodoh,maknanya tetap lebih tinggi dari nilai 8 di ranah C4.Jadi meskipun Indikator disusun oleh guru (dan memang harus disusun oleh guru) tapi rambu-rambunya harus jelas.HARUS PAKAI KKO.Kalau tidak,langkah berikutnya,penentuan KKM jadi kacau.Misalnya KKM untuk persamaan kuadrat ditentukan = 6,maka siswa yg dapat 4 tidak harus diremedial karena dia bekerja diranah KH4 dan rapornya tidak boleh menjadi merah.PERUMUSAN INDIKATOR ADALAH BAGIAN PALING KRITIS DARI KURIKULUM dan ini dianggap sepele dalam SAS.Saya sudah kemukakan hal ini langsung kepada ibu Aida dan Pak Budiana dan beliau2 menyatakan SAS sedang dalam proses.Kok Bravo mengatakan hal yg lain.SAS barang jadi yg bagus yg tak boleh ditawar.
4.KTSP disusun dalam Excell dan yg bagus dari KTSP ciptaan Prof Bloom ini adalah ada portal perhentian untuk mengecek kebenaran dari langkah-langkah yg sudah dibuat.Portal itu ada di langkah ke 4 (Taksonomi Bloom),ada di langkah ke 6 (Strategi Penyelesaian Masalah),ada di langkah ke 8 (Analisis Delphi).Misalnya guru ternyata hanya menyusun Indikator di ranah kognitif (C1-C6) akan ketahuan dgn gamblang di Taksonomi Bloom.Ada banyak kolom yg kosong.Jadi harus mulai lagi dari awal (Analisis Kur.)




Senin, 14-07-2008 18:21:12 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

5.Hal lain yg tak diantisipasi dalam SAS adalah bila guru tak mau pakai SK dan KD yg ada.Misalnya contoh dari bidang Bravo : TIK.Setelah guru melakukan analisa kurikulum,dia menyatakan bahwa SK dan KD TIK di SMA harus dibuang dan diganti baru,karena di SMA,siswa tak boleh diajar lagi tentang Word,Excell,Power Point,Internet (sudah ada di SD dan SMP).Lalu guru itu memutuskan untuk mulai mengajar bahasa pemrograman :Pascal,Java dll.Dia buat SK dan KD yg sama sekali lain- dan dia mendapati tak cocok dgn format dan langkah-langkah SAS,karena pemrograman perlu memberi banyak tugas kepada siswa (tidak bisa pakai KKM -harus pakai rubrics dan tidak bisa bekerja di ranah C (kognitif)dan A (afektif),HARUS di P (psikomotor) dan KH (Kecakapan Hidup)-dua hal yg tak terakomodasi dlm SAS. Masalah ini bukan hanya muncul di TIK, tapi juga di matematika (ketika guru mau mengajar Ilmu Ukur Melukis (BM) dan Ilmu Ukur Analitika) atau di Kimia (ketika guru mau mengajar penggaraman dan Kimia Analitik) atau di Fisika (ketika guru mau mengajar Ilmu Pesawat)- maka seluruh struktur kurikulum yg ada harus dibongkar total. Hal ini tak dimungkinkan dlm SAS (karena dlm formatnya tak ada KH (Kecakapan Hidup) dan rubrics-disamping masalah nilai seperti yg saya uraikan di no.3 di atas
6.Bravo optimis bisa maju dgn SKS. SALAH,karena SAS tidak mempunyai ranah Kecakapan Hidup dan rubrics.Untuk sampai ke SKS ada perubahan paradigma besar dari kognitivisme menuju ke behaviorisme (ada perubahan tingkah laku,menjadi lebih senang membaca (studi pustaka),senang meneliti dan terpola untuk selalu melakukan analisis (mempertanyakan segala sesuatu).Ini ada tekniknya -itu sebabnya saya anjurkan untuk studi banding ke JIS
7.Saya mohon maaf karena pada saat SAS ini mulai digagas 4 th yg lalu,saya sedang bekerja dikantor Uni Eropa - Support to Community Health Services -tahu-tahu sudah jadi SAS begini tanpa melibatkan orang-orang diluar IT (Dewan Pendidikan,BPG,MKS).Semoga jadi jelas apa yg dipermasalahkan




Selasa, 15-07-2008 07:47:01 oleh: Bravo

Setelah membaca tulisan di atas saya menilai bapak terlalu "under estimated" terhadap :
1. Sistem SAS padahal ini buatan dalam negeri
2. Saya pribadi, sampai-sampai bapak menulis hal yang tidak pernah saya katakan "Kok Bravo mengatakan hal yg lain.SAS barang jadi yg bagus yg tak boleh ditawar" padahal sejak awal saya mengatakan SAS adalah program tumbuh-kembang.

Masalah penjabaran indikator saya juga sudah tahu, tapi terima kasih atas uraiannya.
Ini kontradiksi dengan kalimat "Saya mohon maaf karena pada saat SAS ini mulai digagas 4 th yg lalu,saya sedang bekerja dikantor Uni Eropa - Support to Community Health Services -tahu-tahu sudah jadi SAS begini tanpa melibatkan orang-orang diluar IT (Dewan Pendidikan,BPG,MKS)"
Saya tidak tahu sepinter apa bapak, tetapi dari kalimat itu saya menangkap kesan bahwa bapak perlu/harus dilibatkan dalam pembuatan SAS, karena bapak lulusan S-2 luar negeri. Saya juga tidak mengerti mengapa bapak harus mengatakan hal-hal yang tidak perlu (lulusan S2, kerja di Uni Eropa)apakah ada maksud ?

Yang jelas saya sudah mendapat jawabannya, Bahwa bapak keliru dalam menilai SAS entah diakui atau tidak (SAS gratis !)ini berarti bapak tidak tahu persis SAS

SAS adalah program komputer, prosedur penjabaran indikator dan yang lain itu di atur di KTSP.

Terakhir saya bukan guru TIK, saya tahu komputer otodidak. cukup belajar dari internet. silahkan belajar di www.ilmukomputer.com gratis ga perlu mendapat ijasah atau gelar yang penting skill.

Saya pikir sudah cukup, saya meminta maaf apabila kata-kata saya menyakitkan, terima kasih.




Selasa, 15-07-2008 10:16:40 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

1.Hal-hal yg menyangkut policy,apalagi kalau sudah masuk pada bentuk rapor,harus dibicarakan dgn Dewan Pendidikan.Kalau menyangkut guru dan sistim penilaian,maka harus memberi tahu Ditjen PPMTK dan BPG Prov di Pasar Minggu.Hal ini diatur dalam UU dan berbagai peraturan Menteri.Tidak bisa Dinas Dikmenti jalan sendiri seperti pada jaman Orba dulu.Saya sudah posting hal ini dan bisa juga dilihat di tulisan utama di atas.
2.Komentar Bravo : ...bapak mengatakan hal-hal yg tidak perlu .... Hal itu untuk menanggapi posting Bravo yg sangat melecehkan profesi guru,mulai dari judgment : SDM Lemah,sampai posting Bravo tg.12-07-2008 malahan posting Bravo tg 10-07-2008 sangat tidak etis
3.Kalau Bravo seorang guru biasa (bukan guru TIK),maka mestinya tahu,bahwa indikator adalah hal yg paling krusial dalam penyusunan kurikulum.Mulai dari kurikulum 1975 (yg masih pakai TIU dan TIK) sampai sekarang (KTSP)-justru hal ini yg diabaikan dlm SAS
4.Apa buktinya? SAS tidak bisa melacak,apakah guru bekerja di ranah C4 atau KH5, meskipun sama-sama menggunakan indikator yg sama : Siswa dapat menjelaskan ....(lihat contoh Fisika dan Matematika di atas)
5.Hal ini bukan ngga ngefek (Istilah Bravo pada posting tg. 09-07-2008).Efeknya besar.Siswa yg dapat nilai 4 tapi bekerja di ranah KH5 bisa dianggap bodoh dan siswa yg dapat nilai 8 tapi bekerja di ranah C4 bisa dianggap pandai.Celaka kalau siswa yg dapat nilai 4 (diranah KH5) itu dirapornya tertulis 4 dan siswa yg dapat nilai 8 (diranah C4) itu dirapornya tertulis 8
6.SAS ini mengacaukan pemahaman guru tentang KTSP (lihat posting Bravo tg 04-07-2008).Mereka yg datang ke Training KTSP di Wisma Kinasih itu adalah para Kepsek dan Wakakur dan dilatih selama 4 hari 3 malam,pemahamannya kacau karena bingung dgn SAS (lihat posting Bravo tg 04-07-2008) : urutan no.6 KTSP kan kosong.Malahan setengah hari pernah terbuang,karena peserta bingung antara SAS dan KTSP
7.Kalau mau memperbaiki SAS,perbaiki pengertian afektif dan psikomotor,masukkan KH




Selasa, 15-07-2008 12:52:27 oleh: Bravo

Saya akan lanjutkan diskusi apabila pertanyaan ini dijawab : Apakah bapak pernah mengoperasikan SAS online?

-mulai entry indikator sampai tahapan cetak rapor-

Oh ya, apabila berkenan. Dari sekolah-sekolah yang ikut penataran di wisma kinasih, menurut bapak sekolah mana yang sudah menjalankan hasil penataran tersebut (menerapkan 15 langkah KTSP). Saya akan dengan antusias akan datang langsung ke sekolah yang bersangkutan.




Selasa, 15-07-2008 13:50:06 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

1.Akibat mengoperasikan SAS on-line itu,sekolah kami malah baru dapat membagi rapor kelas X tg 30 Juni 2008 -Yayasan menjadi kesulitan,mau dihitung lembur atau tidak?Karena guru terus masuk selama liburan
2.Untuk sekolah-sekolah Jakarta, memang tak dimungkinkan untuk menerapkan KTSP -semua terbelenggu dgn SAS.Itu yg jadi masalah dan selama ini kita perdebatkan kan.Paksaan untuk harus pakai SAS.Kalau mau mencari kreativitas,sekolah yg bisa menerapkan KTSP sambil berlari menuju SKS,saya sudah sebutkan di posting : SMA Stella Maris BSD, SMA Mahanaim Bekasi (sekolah ini malah menggratiskan biaya sekolah, seragam dan buku -gedungnya bagus-di Jakarta ya nggak mungkinlah yauw,kreativitas terpasung) bahkan dipelosok : SMPN 3 Bunyu.Ada juga SMA Madania di Parung.Partner sekolah Microsoft banyak (PIL) dan partner IBM juga banyak (EXCITE)
Kalau mau sekolah internasional ya banyak, JIS,BIS,GMS itu semua pakai KTSP sampai ke tingkat HOT dan sangat bagus.Semua indikator sampai ke tingkat KH (sudah saya posting kan)
Oh,ya,untuk menyiasati paksaan SAS ini, banyak sekolah hanya mendaftarkan keikutsertaannya untuk siswa kelas X saja (seperti sekolah kami,kelas XI dan XII pakai SMS (sistim manajemen sekolah).Problemnya adalah kalau siswa ini naik ke kelas XI dan tahun depan siswa kelas X tetap harus pakai SAS -makin banyak siswa dan guru yg terlibat - Bravo bisa tangani kalau keluhan makin banyak? Kalau Bravo guru,mestinya juga memikirkan teman-teman yg begadang sampai malam,hilang kesempatan memberi les atau mengajar bimbel,bahkan sampai tidak libur (lihat posting para guru di atas).Ibu Aida setelah dipindah ke Jakarta Selatan tidak berani bicara banyak tentang SAS ini,karena melihat kondisi lapangan tidak sesuai dengan teori,apalagi kita sekarang sedang menghadapi krisis litrik.Bayangkan bila guru sedang ngesas,tiba-tiba listrik mati
3.Membuat kurikulum itu tidak mudah,hal itu yg membedakan besarnya gaji guru asing dibandingkan guru lokal -kemampuan menyusun kurikulum




Selasa, 15-07-2008 16:22:37 oleh: Bravo

1.pertanyaan saya belum dijawab dengan jelas: Apakah Bapak (pak wendie pribadi) pernah mengoperasikan SAS ?(dari entri nilai sampai cetak rapor). Bapak mengatakan "sekolah kami" ,sekolah regina pacis jakarta ya ? Kenapa bisa tertunda bagi rapornya padahal sekolah BHK, Tarsi 2,SMA PL dll tidak mengalami kesulitan. Problem terletak di mana ? Kalau sistemnya, kenapa sekolah yang lain bisa.

2. Jadi sekolah-sekolah MPK jakarta yang ikut pelatihan di Wisma Kinasih tidak ada yang melaksanakan penerapan 15 langkah KTSP ?
lalu apakah SMA Stella Maris BSD, SMA Manahain Bekasi termasuk sekolah yang ikut pelatihan di wisma kinasih ?

Fokus saya : apakah pelatihan di wisma kinasih itu diterapkan di masing-masing sekolah yang ikut ?, jadi saya tidak perlu melihat JIS dll.

3. Saya tidak tahu seberapa dekatnya bapak mengenal ibu Aida tetapi saya tergelitik dengan kalimat "Ibu Aida setelah dipindah ke Jakarta Selatan tidak berani bicara banyak tentang SAS ini,karena melihat kondisi lapangan tidak sesuai dengan teori". Kesimpulan ini diperoleh dari mana ? Apakah sudah dilakukan analisa ?

4. Nah...! ketemu sudah masalahnya. "Oh,ya,untuk menyiasati paksaan SAS ini, banyak sekolah hanya mendaftarkan keikutsertaannya untuk siswa kelas X saja (seperti sekolah kami,kelas XI dan XII pakai SMS (sistim manajemen sekolah).Problemnya adalah kalau siswa ini naik ke kelas XI dan tahun depan siswa kelas X tetap harus pakai SAS"

Sesuatu yang dilakukan setengah-setengah pasti tidak matang hasilnya.

Sekolah kami dulu sebelum bergabung, mempelajari SAS offline, jadi begitu mengambil keputusan ikut SAS online langsung total dengan segala konsekuensinya. Kami lembur2 hanya diawal-awal (yang lembur kebanyakan TIM SAS, guru lain kerja normal)dan kebetulan ditempat kami Yayasan dan kepala sekolah support full sehingga lembur mendapat imbalan. Semester kedua kami sudah paham dan kami buat agenda kerja berdasarkan pengalaman sehingga tidak lagi lembur-lembur u




Selasa, 15-07-2008 16:51:34 oleh: Bravo

Out Of TopiC sekedar sharing, mohon maaf jika tidak berkenan.

Secara pribadi saya juga memberi les private, ini terpaksa saya lakukan karena penghasilan guru swasta sangat minim. Teman-teman saya dari sekolah Katholik (MKS)juga sering mengeluh kenapa gajinya selisih jauh dengan sekolah-sekolah kristen (IPEKA, PENABUR). Sebagai perbandingan gaji awal guru honor di Sekolah MPK berkisar 1,5jt-2jt rupiah sementara di IPEKA gaji guru baru 3,3 jt. Informasi dari guru IPEKA, di IPEKA guru terima gaji 15 kali, 12 kali gaji bulanan, gaji ke 13 (1 kali gaji) untuk THR, gaji ke 14 (1 kali gaji) dibagikan sebagai bonus tutup tahun ajaran, gaji ke 15 akan diberikan kepada guru-guru yang berprestasi. Saya punya banyak teman (yang berkualitas) yang pindah dari Sekolah MPK ke Sekolah Ipeka hanya karena Gaji.Hal inilah yang menyebabkab sekolah kristen berkembang sangat cepat dibandingkan sekolah katholik (contoh IPEKA dan PENABUR)mohon maaf saya tidak bermaksud SARA.

Alangkah lebih baik jika pembenahan kualitas sekolah juga langsung dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru.

Sekali lagi saya tidak bermaksud apa-apa, mohon jangan ditafsirkan macam-macam. Sebenarnya problem terbesar adalah Profesi guru kurang mendapat penghargaan sehingga profesi ini tidak diminati anakp-anak muda karena tidak menjamin kesejahteraan hidup.




Rabu, 16-07-2008 10:11:49 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

1.Pertanyaan Bravo mesti dialamatkan ke admin SAS,kenapa ada sekolah yg tepat waktu pembagian rapornya,ada yg lambat sekali.Dalam sistim paksaan begini,tidak ada hak sekolah untuk macam-macam kan.Pokoknya ...
2.Sekolah-sekolah yg ikut pelatihan KTSP tidak menerapkannya karena sibuk dgn SAS -makanya kalau ada claim SAS compatible dgn KTSP,banyak Kepsek akan membantahnya
3.Sekolah Stella Maris BSD dan Sekolah Mahanaim Bekasi,langsung masuk ke KTSP tingkat HOT,sedangkan DKI baru pada taraf pemula,itu saja sudah dihambat dgn SAS
3.Kalau Bravo pernah kuliah,selalu ada hal-hal yg tak tertulis di buku,apa lagi untuk Ilmu Komputer dimana kita hanya user.Oleh sebab itu selalu ada penelitian sains,mencari kenapa sesuatu menyimpang atau adakah hal-hal yg belum dikupas di buku (ini hakekat dari penelitian kan)
4.Jawaban no.4 membuat saya heran,yg menyiasati SAS (hanya mendaftar untuk kelas X saja itu banyak),termasuk SMAN 78 tidak mendaftarkan semua siswanya untuk ikut SAS.Masak hal ini tak bisa dimonitor? Wah,makin banyak yg harus diperbaiki (nama sekolah yg sama,populasi siswa,pendegradasian indikator (KKO),KKM harus menurut KKO,rapor dll)
5.Bukan dilakukan setengah-setengah,tapi orang harus menghitung waktu,tinggal 5 th lagi untuk menerapkan SKS atau sekolah kita akan kelihatan jadul dan tak diminati lagi.Contoh yg bagus untuk hal ini adalah nasib sekolah Taman Siswa,kenapa sekarang ditinggalkan orang?
6.Ini bukan soal komputerisasi,tapi soal visi dan misi sekolah,mau kemana? Salah melangkah,nasibnya pasti.Banyak juga lho,sekolah Katolik yg terpaksa ditutup karena kelihatan jadul.Contoh mutakhir adalah ditutupnya sekolah Mardi Waluya II di Sukabumi atau Sekolah Budhaya di Matraman
7.Kenapa saya ngotot?Karena SAS bisa menjerumuskan banyak sekolah dalam jurang.Jangan ditunggu 5 th lagi.Terlambat.SAS tidak compatible dgn SKS.Untuk melihat ini,lihatlah di Perguruan Tinggi (semuanya pakai SKS)Tidak ada satupun provider yg ingin menyatukan sistim administrasi PT





Rabu, 16-07-2008 10:38:22 oleh: Bravo

1. Maksudnya "Admin SAS" itu Administrator SAS Sekolah yang bersangkutan atau Owner SAS (pembuat Program SAS).SAS adalah program terbuka dan berlaku untuk semua sekolah, jadi kalau ada sekolah yang berhasil mencetak rapor tepat waktu berarti sistemnya sudah benar. Problem terletak di sekolah yang bersangkutan jika terjadi keterlambatan cetak rapor
2. Wah sayang, dari 15 langkah KTSP yang belum pernah saya peroleh hanya analisis delphi, saya pribadi sekarang menggunakan analisis delphi untuk membuat prota dan prosem. selain itu format taksonomi bloom bagus, yang lain (analisis indikator dll) saya menggunakan yang dari SAS.
4. SMA 78 memiliki 3 jalur, reguler, akselerasi dan international. Yang ikut SAS hanya yang reguler. Saya tidak memiliki kepentingan mengecek keberadaan sekolah-sekolah yang ikut SAS. Bapak coba buka http://sas.subdis-smu-jkt.or.id pasti semua termonitor.
5. Mungkin Sikap awal kita berbeda, kami menggunakan SAS dengan mempelajari dahulu, melihat kekurangan dan kelebihannya. Kemudian kita adopsi hal-hal lain yang lebih bagus untuk kita kombinasikan dalam SAS.
6. Pernahkah bapak berpikir bahwa sekolah-sekolah yang stagnan atau tutup tersebut karena tidak ada regenerasi SDM yang diakibatkan Yayasan/sekolah tersebut kurang menyejahterakan guru-gurunya.
7. SAS adalah sebuah sistem tumbuh kembang, saya juga yakin developer SAS juga sedang mengarah ke SKS. Kami tidak berpikir negatif terhadap SAS. Sekolah kami tidak kuat kalau harus membeli program SMS, dengan 450 ribu/bulan Lab komputer kami sudah internet (40 unit komputer)saat tidak digunakan pembelajaran guru-guru bisa menggunakan untuk ngesas, browsing dll.




Rabu, 16-07-2008 12:41:03 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

1.Provider SAS-nya kacau
2.Sekali lagi Analisis Kurikulum (contoh dari mata pelajaran TIK,posting saya tg 14-07-2008) dan penyusunan Indikator (contoh dari mata pelajaran Fisika dan Matematika di atas) ADALAH KUNCI dari penyusunan kurikulum.Tak bisa masuk langsung ke Analisis Delphy tanpa melewati INDIKATOR dan langkah ke4 Taksonomi Bloom (semacam peta sebelum kita tersesat)lalu langkah ke5 Analisis Esensi Materi (karena nilai 0 dan 1 dalam Analisis Delphy itu dikaji dari Taksonomi Bloom dan Analisis Esensi Materi)
3.Posting Bravo tg 12-07-2008 mau menuju ke SKS ..? Sekali lagi,untuk SKS,studi bandingnya ke PT karena semua PT pakai SKS dan tak ada provider yg mau menyatukan adminitrasi SKS,karena dgn silabus yg sama,belum tentu pengajar bekerja dalam ranah yg sama (sama-sama menggunakan indikator : mahasiswa dapat MENJELASKAN ... tapi seorang dosen bisa bekerja di ranah C4,tapi dosen lain ternyata bekerja di ranah KH5 ...makanya SKS tak bisa disatukan,meskipun silabusnya sama.Akibatnya apa? Nilai A di UI tidak sama dgn nilai A di Untar.Dan itu tidak apa-apa,tidak usah distandarisir.Jadi nilai 6 di JIS memang berbeda (dan lebih tinggi) dgn nilai 8 di SMA Tarki.Tidak apa-apa.Jangan disatukan dlm satu sistim SAS.Kacau nanti
4.Meskipun Bravo bisa mengunduh silabus dari SJI (sekolah no.1 di Singapore),hasil pemelajarannya tidak akan sama -kendalanya adalah guru bekerja di ranah mana?
5.Jadi karena ranah yg disentuh berbeda,hasil analisis Delphy-nya akan berbeda jauh.
6.Kurikulum itu sulit.Coba cek berapa gaji Academic Development di sekolah-sekolah internasional itu (yg selalu dijabat orang asing).Kita tak terbiasa membuat kurikulum (32 th jaman Orba dulu,kurikulum dibuatkan Pemerintah) dan tidak ada satupun FKIP di RI ini yg punya Jurusan Curriculum design
7.Sekali lagi meskipun Bravo dapat IP 3,98 di Untar, dan Bravi dapat IP 2,50 di UI-tidak ngefek-Bravo tidak bisa claim lebih pandai dari Bravi, dan jangan dicoba distandarisir atau admin-nya disatukan.Kacau




Rabu, 16-07-2008 13:35:06 oleh: Bravo

1. Saya menggunakan analis delphi setelah menganalisis indikator (cuma format analisis saya tidak harus seperti materi di wisma kinasih kan ?)

2. Saat ini saja dengan SAS, silabus sekolah kami berbeda dengan sekolah bapak kok, dan siapa bilang SAS membuat standarisasi nilai ?

3. Seandainya gaji guru minimal 10jt rupiah saya pikir semua akan berlomba-lomba menjadi guru. Makanya jika ingin memajukan pendidikan naikkan dahulu gaji guru. Fenomena guru memberi les private adalah fenomena kegagalan pendidikan Indonesia. Guru bukan profesi yang menjanjikan !
Seandainya bisa meniru Kaisar Hirohito. Saat berdiri setelah tiarap gara-gara di bom atom amerika, pertama kali yang beliau tanyakan pada perdana menterinya adalah : "BERAPA GURU YANG MASIH HIDUP ?"

4. Saya berpikir positif, SKS adalah sebuah sistem kurikulum logikanya pasti akan dapat dibuat programnya. Dan pasti modelnya tidak akan seperti SAS saat ini, bagi kami selama ada program freeshare/freeware kenapa tidak dicoba. Yang penting program itu mempermudah proses pengerjaan administrasi. Di Indonesia banyak orang penting. design curriculum adalah sebuah ilmu jadi bisa dipelajari. Tetapi siswa-siswa saya tidak ada yang satupun yang tertarik mempelajarinya, kenapa ? karena lapangan kerja terbatas dan gajinya lebih rendah dibandingkan profesi yang lain. Coba bapak cek, setelah 30 tahun mengajar ada berapa siswa bapak yang menjadi guru ? 100 ?

5. SKS saja belum jalan dan programnya untuk SMA masih digodok, jadi tidak ada salahnya saat ini trial and error.




Rabu, 16-07-2008 16:14:33 oleh: Wendie Razif Soetikno, S.si.,

1.Salah.Tidak boleh comot sana comot sini.Ingat,kurikulum menyangkut nasib ribuan anak.Di luar negeri,kalau salah,kriminal,masuk bui.Bidang Curriculum design adalah program S-2 (prasyarat lulus S-1 Pendidikan (jadi menguasai paedagogi,lalu lulus S-1 bidang kelimuan,misalnya S-1 Kimia Murni-jadi kelak bisa menyusun kurikulum Kimia secara benar).Kesulitan lain:harus dapat bea siswa karena bidang ini harus diambil di luar negeri (tak ada IKIP yg punya jurusan ini,selama 32 th kurikulum dibuatkan Pemerintah)Tidak usah tunggu 5 th lagi,sekarang saja sudah banyak guru asing di Jkt,jadi bikin kurikulum tidak boleh salah
2.Kenapa sukar menangkap soal nilai? Nilai 6 di SMAN I atau nilai 4 di SMAN 3,tak punya arti apa-apa kalau tidak disatukan dalam satu data base (SAS).Begitu disatukan,akan timbul masalah.Anak yg dapat nilai 4 itu bisa dianggap bodoh karena on-line kemana-mana,padahal LHBS itu selama ini kan sifatnya rahasia (rapor itu sifatnya pribadi)
3.Tentang gaji,coba lihat karangan utama di atas.SKS itu pakai merit system,langkahnya sudah disiapkan Pemerintah,mulai dari UU Guru dan Dosen (yg penting untuk pertama kali selama 63 th RI merdeka,guru dapat tunjangan profesi)lalu sertifikasi guru (untuk mengukur kompetensi guru)dan otonomi guru (guru bisa membuat kurikulum sendiri (KTSP) sampai ke SKS (kemampuan guru untuk memberi bobot mata pelajaran dan transparansi proses penilaian).Untuk itu tak bisa pakai sistim penggajian PGPS (Pinter goblok penghasilan sama),tapi pakai merit system (prestasi dan karier tidak ditentukan DP3)
3.Jadi guru di SBI itu gajinya tinggi tapi guru lokal paling-paling hanya jadi teacher assistant,tidak bisa jadi teacher,apalagi jadi senior teacher.Kenapa?Kemampuan membuat kurikulum rendah.Curriculum design masih langka,sama dgn bidang IT th.1980 (waktu itu semua orang ingin jadi dokter).Analog dgn itu adalah bioteknologi,sekarang sedikit peminat,tapi 5 th lagi?
4.Untuk SKS perlu perubahan paradigma dari pembelajaran menjadi pemelajaran




Minggu, 14-09-2008 11:38:59 oleh: Mr. Wong

Wah...
Terimakasih nich...ada diskusi yang cukup terbuka tentang SAS dan blak-blakan...
Pak Windie..suarakan kebenaran....argumen Bpk. cukup "pas" untuk menyuarakan keluhan tentang SAS....

Untuk Bavo...kalo memang Anda bagian dari SAS, mestinya lebih arif melihat dan mendengar realita...di lapangan (sekolah-red) yang memakai SAS..jujur sajalah....saya merasakan sendiri kok..

Saya berharap SAS diperbaiki .....demi pendidikan di DKI, bukankah kritikan adalah masukan juga, ambil positifnya....
SAS kan bikinan manusia juga, kalau gak sempurna ya..mari diperbaiki...
OK, makasih semuanya, semoga diskusi ini membawa perubahan pada SAS.., itu kan manfaat mau membuka diri..saya di lapangan menunggu perbaikan SAS...





Senin, 15-09-2008 09:02:40 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Ada keluhan dari SMA St.Lukas. Siswanya dinyatakan naik dalam rapat guru, tapi begitu nilainya dimasukkan dalam SAS, jadinya siswa itu tidak naik kelas. Tapi Dikmenti terlanjur tuli!!! Diajak debat tidak merespons tuh!!! Padahal dulu ikut menggoblok-goblokkan Mbak Mega waktu menolak debat Capres !!! Jeruk makan jeruk nih !!!!



Senin, 15-09-2008 10:17:04 oleh: Bravo

Jika ada perbedaan antara rapat guru dengan hasil SAS, berarti :

1. Pihak sekolah (admin)belum mengerti
perhitungan nilai versi SAS
2. Admin tidak tahu cara memperbaiki (remedial)
nilai sehingga nilai tetap tidak tuntas





Selasa, 16-09-2008 08:02:22 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Kacian deh nasib guru!!! Kalau ada success story, dibilang program Diknas bagus (lihat claim Diknas atas keberhasilan pelajar Indonesia meraih emas di fora internasional) - tapi kalau ada kegagalan, yang goblok gurunya!!! Dalam kasus SAS, tidak pernah dilihat : APAKAH SERVERNYA MEMADAI MENAMPUNG SEBEGITU BANYAK DATA, APAKAH PROVIDERNYA MEMPUNYAI BAND WIDTH YANG CUKUP BESAR, APAKAH KECEPATAN AKSES INTERNETNYA MENCUKUPI ...... Capeee deh!!! Oh, ya, di Metro TV, Minggu tanggal 14 September 2008 pk. 10.00 - 11.00 ditayangkan SMS Pendidikan ... bagus, tapi program Dikmenti lho!!! Dari siswa terlambat masuk kelas, tidak membuat PR, sampai bukunya ketinggalan, nilai ulangannya berapa - semuanya termonitor dan langsung dilaporkan ke orang tua ....Orang tua juga bisa langsung berhubungan dengan pihak sekolah .... tapi bukan program Dikmenti lho !!!!



Sabtu, 13-12-2008 05:06:20 oleh: martini

Maaf saya mau ikut nimbrug sedikit.Kalau disekolah kami dengan adanya sas rapor siswa banyak ditemukan kesalahan, terutama kesalahan penulisn data pribadi (halaman paling depan),prosentase pencapaian, penulisan nilai kegiatan ekstra kurikuler, sebagai contoh: siswa ikut sepak bola muncul basket menurut saya itu masih mendingan, tapi siswa ikut sepak bola yang muncul rohkris, sementara siswa yang bersangkutan beragama Islam, amat disayangkan................. kami rasa disekolah lain pasti ada masalah seperti ini......... saya merasa kasihan pada siswa/siswi yang megalami hal ini, dan kami kewalahan pada saat menangani PMDK untuk kelas XII,dimanakah letak kesalahannya ?????????



Senin, 15-12-2008 08:37:09 oleh: subagyo

Pada dasarnya SAS baik tetapi Dinas Pendidikan tidak melihat sarana dan prasarana, lambatnya akses dan loading sangat sangat sangat lambat. Guru dipaksa melotot tot tot tot di depan monitor sampai mata pedas das das das!!!!. Sebaiknya lihat dan tiru bank, begitu atm dan bertransaski dalam hitungan detik langsung diolah dan oke ke ke ke ke, cepat dan sukses ses ses ses. Parabola, sateli, server memadai i i i i i i.



Selasa, 16-12-2008 08:32:35 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Saran saya : BACK TO KTSP - sehingga secara kualitas, guru lokal akan setara dengan guru-guru internasional (kemampuan membuat dan menyusun kurikulum akan terasah), bukan hanya jadi robot atau pembeo seperti guru-guru pengikut SAS.
Guru akan dikembalikan ke jati dirinya : insiator, think tank dan designer pendidikan.
SALUT UNTUK SMA KANISIUS, SMA SANTA URSULA, SMA N 13 YANG DARI AWAL TIDAK MAU PAKAI SAS, atau SMA SBI dan SRBI yang terus melaju tanpa memperdulikan SAS (SMA-SMA ini hanya mendaftarkan 2 atau 3 kelas untuk ikut SAS, sisanya ikut SBI atau SRBI, misalnya SMA N 78)




Rabu, 31-12-2008 13:15:01 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Syukur alhamdulilah... hari ini kita mendapat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jaya yang baru .. selamat bertugas Pak Taufik ... ikuti saja semua provinsi yang lain, yang menggunakan KTSP sehingga mampu meningkatkan kemampuan guru dalam merancang dan mendisain kurikulum yang handal dan kontekstual (cocok dengan situasi dan kondisi sekolah masing-masing) sehingga mampu bersaing dengan guru-guru asing yang mulai membanjir di berbagai kota besar di Indonesia ini.
Ingat yang membedakan gaji guru lokal dan guru asing adalah beda kemampuan dalam merancang dan mendisain kurikulum ini




Jumat, 23-01-2009 11:52:00 oleh: oji

Masih banyak sekolah yang mengerjakan sasnya seadanya sehingga bingung ketika masalah sudah menumpuk, utamanya ketika siswa ybs mau ikut seleksi ptn lewat jalur pmdk atau memperoleh beasiswa ke luarnegeri.
mau tahu solusinya. hubungi oji di
oji241087@yahoo.com
sekarang ini saya sering membantu beberapa teman di sekolah saya (selain ngajar tentunya) untuk menentri data (enggak banyak kok cuma sepuluhan) mulai dari yang tagihannya banyak (bhs ind, agama, samapai yang tagihannya dikit (sosiologi), walaupun saya bukan admin. saya lebih tertarik menjadi operator saja.
sas lebih tept dikerjakan oleh seorang guru muda kreatif yang mengerti sedikit IT , mengerti banyak materi kuliahan evaluasi belajar, dan orangnya sabar serta tidak sombong.
salam sas




Sabtu, 24-01-2009 15:49:36 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Pak Oji yth. Itulah yang jadi pokok permasalahan : Derajat guru sebagai inisiator,think tank, program designer dan agen perubahan dalam KTSP (setara dengan dosen di Perguruan Tinggi - sesuai amanat UU Guru dan Dosen) lalu secara semena-mena DITURUNKAN derajatnya menjadi sekedar petugas data entry (setara dengan pegawai Tata Usaha) oleh Dikmenti Prov. DKI. Untunglah sekarang Dikmenti diturunkan derajatnya (sekarang ada dibawah Dinas Pendidikan Prov. DKI Jaya) sehingga tidak boleh lagi membuat policy - terbukti policy-nya amburadul. Banyak guru yang baru melek IT terkecoh, dikira makin maju, padahal sebenarnya adalah pengebirian profesi guru (yang mau ditingkatkan setara dengan dosen di Perguruan Tinggi seturut amanat UU Guru dan Dosen) - Guru yang bisa SAS tetap menjadi "tukang mengajar" dan tidak beranjak menjadi inisiator, think tank, program designer dan agen perubahan seperti yang dituntut oleh KTSP. Guru-guru semacam ini akan terpinggirkan dalam era UU BHP sekarang ini, yang sangat menuntut profesionalitas guru. Jangan termakan proyek!!! Lihat provinsi lain, atau lihat SMA Kanisius, St.Ursula, SMAN 13 yang dari awal menolak SAS atau semua SMA BPK Penabur yang tetap mendaftar, mengikuti trainingnya, membeli programnya lalu membuangnya ke tempat sampah (tidak menggunakan SAS dalam operasional sehari-hari)



Senin, 31-08-2009 13:33:32 oleh: juki

eta mah bingung sas ataw KTSP yang lebih penting ya...... tapi ada sekolah swasta yang mewajibkan guru-guru nya membuat KTSP sampai ada langkah-langkah han lo....(sampai langkah tegap maju jalan hehehehe..)ada juga yang harus menjalankan sas....jd yang lebih penting yang mana dongggggg.....



Senin, 31-08-2009 16:04:19 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Pelajaran penting ! Kalau mau mengambil keputusan lihat dasar hukumnya !

1. Otonomi sekolah dijamin oleh UU (UU Sisdiknas) - jangan mau disuruh-suruh oleh Pengawas atau Kepala Dinas

2. KTSP - dasar hukumnya Permen (Peraturan Mendiknas) no. 22, no. 23 dan no. 24 tahun 2006 dan diberlakukan secara nasional, sedangkan SAS hanya diputuskan oleh Dikmenti Prov DKI Jakarta (hanya berlaku untuk SMA di DKI saja).

Jadi dasar hukum dari SAS itu lemah sekali (lihat artikel utama di atas)

3. Secara hukum, Dikmenti Prov. DKI Jakarta sudah tidak ada lagi - Dikmenti Prov DKI Jakarta dan Dikdas Prov DKI Jakarta sudah digabung menjadi Dinas Pendidikan Prov DKI Jakarta - jadi semua keputusan yang mangatas namakan Dikmenti Prov DKI Jakarta gugur secara hukum

Oleh sebab itu banyak sekolah sekarang meninggalkan SAS (termasuk semua SMA yang tergabung dalam Yayasan BPK Penabur)




Kamis, 10-09-2009 10:15:58 oleh: juki saki

KTSP - dasar hukumnya Permen (Peraturan Mendiknas) no. 22, no. 23 dan no. 24 tahun 2006, Otonomi sekolah dijamin oleh UU (UU Sisdiknas) - jangan mau disuruh-suruh oleh Pengawas atau Kepala Dinas,(kutip)

Tapi pak kenyataannya akreditasi ditentukan oleh pengawas kan...pak? dan juga apa harus KTSP itu dilaksanakan sampai langkah ke 16 itu? begitu akreditasi yang ditanya ya yang clasik pak silabus, prota, prosem n rpp. yang lainnya gak ada yang ditanyain? jadinya.....




Jumat, 11-09-2009 08:44:56 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si,MDM

Pemerintah memberi batas waktu untuk penerapan KTSP secara penuh 3 th. (terhitung sejak Permen no. 22,23 dan 24 th. 2006 dikeluarkan) - Jadi batas waktu untuk "belajar lagi" tahun ini sudah terlampaui - kalau kita melihat form akreditasi yang baru (Buku Penilian Diri), maka KTSP terlihat akan diterapkan secara "full speed" (tidak ada tawar menawar lagi) - Coba simak lembar 1 (Standar Isi) dan Lembar 2 (Standar Proses) : kedua lembar ini yang mencakup kurang lebih 90 isian ini, TIDAK AKAN DAPAT DIISI bila sekolah tidak menerapkan KTSP secara penuh.

Hal lain adalah soal 16 langkah KTSP - apakah harus ? Ya, kalau mau tahu logikanya, ya itulah jalan terpendek.

1. Bagaimana menentukan jumlah jam per topik bahasan bila tidak melewati Analisis Delphi ?
2. Bagaimana menyusun program remedial dan program pengayaan bila tidak melewati Strategi Penyelesaian Masalah ?
3. Atau yang paling sederhana - bagaimana bisa menentukan KKM bila tidak melewati Analisis Materi ?
dll. dll

Bisa sih 16 langkah penyusunan KTSP itu diterabas, tapi akan kelihatan pada PTK, bahwa PTK tidak nyambung dengan situasi konkrit di kelas yang tercermin dalam Penilaian Berbasis Kelas (PBK)

Oh ya dalam ketentuan baru : Dokumen I KTSP harus disahkan oleh Kepala Dinas ...padahal untuk dapat menyusun Dokumen I harus dilalui dengan menyusun Dokumen II (16 langkah + program remedial & pengayaan + PTK) .... nah lho !!

Mau terus bengong (menjadi "tukang mengajar") atau mau secanggih guru-guru asing yang mahir membuat desain kurikulum ?

Ingat lho, guru-guru sekolah negeri terus berpacu mengasah ilmu (targetnya jelas, sekolah negeri itu akan dipacu menjadi SRBI = sekolah rintisan bertaraf internasional) - sedangkan guru-guru sekolah swasta kebanyakan terus berkeluh kesah aja

SAS tidak menolong kita untuk dapat membuat Program remedial + pengayaan atau PTK ... apalagi Dokumen I (yang harus disahkan Kepala Dinas itu)




Senin, 02-11-2009 13:20:33 oleh: ridman

Pak, perkenalkan saya hanya salah seorang pengurus komite sekolah negri di jkt, dan mohon masukan dari bapak2 yang lebih paham dengan SAS.

1. Kami komite sekolah skrg harus menyediakan dana (cukup besar, puluhan) untuk pengadaan buffer SAS (blum tau apa isinya, minimal hard ware) sekolah, dan dana ini pasti akan kami ambil dari iuran masyarakat (peserta didik), mohon pencerahan kenapa buffer SAS dibutuhkan ???

2. Apa artinya SAS gratis ??? padahal saya denger bahwa sekolah lainnya juga sudah mengapplikasikan buffer SAS, makanya sekolah kami mau meniru (nih kata guru2nya).

3. Karena butuh buffer SAS maka saya coba nyari info ke kawan2, dan katanya kemunkinan SAS Buffer yang provide hanya satu vendor yaitu MANOS. Sedang mungkin perusahaan lain bertindak sebagai implementor (yang menginstalasi dan mengadakan pelatihan SAS Buffer).

4. Terkait no.3 diatas, mohon info bapak2 kalu tau vendor lainnya, karena para guru bersikukuh utk realisasikan, walaupun pada kenyataannya mereka mengeluh dengan SAS, apa karena diwajibkan yaaa.

4. Karena SAS ini juga akhirnya kami harus siapkan biaya tambahan, katanya utk input data, dll. utamanya utk cek ulang. Saya bingung kok urusan data bisa berubah2, lain hal kalu ada virus??
Dan jangan lupa biaya lainnya masih menghadang, misal dibutuhkan printer berwarna yg mahal (karena butuh kecepatan) karena kata operator/guru bhw window utk meng print sangat singkat dan channel sering terganggu, kalau tidak cept maka pembagian raport mundur (tdk sesuai jadwal).

Finally, mohon maaf kalu pertanyaan diatas agak sedikit stupid, dan skali lagi mohon masukannya pak.

Wassalam,




Selasa, 03-11-2009 11:16:26 oleh: Wendie Razif Soetikno,S.Si.,MD

SAS adalah proyek (monopoli sistim penilaian) oleh Subbag SMA Dinas Pendidikan Prov.DKI (dulu namanya Subdin SMA Dinas Dikmenti Prov.DKI).Namanya proyek,jelas tidak gratis

1. Buffer SAS itu diperlukan supaya para guru di suatu SMA tertentu dapat bekerja off line - karena kalau bekerja langsung on-line maka servernya tidak cukup canggih untuk menampung ribuan data siswa dan puluhan ribu nilai siswa (1 siswa dinilai untuk 12 mata pelajaran)

2. Tidak gratis,kalau mau gratis ya ..... letoy dah ... lambat sekaleeee

3. Itu bukti adanya monopoli pak, terbuka dan tanpa malu-malu. Makanya KPK digembosi supaya tidak menyidik kasus SAS ini juga

4. Ada banyak vendor lain pak, IBM ada, atau kalau benar-benar gratis, pakai acuan dari Depdiknas pusat, yaitu PBK (Penilaian Berbvasis Kelas) dan Catatan Kompetensi

5. Pakai SAS jelas boros pak. Bilang saja ke guru-guru, lalau fungsi TU SMA itu apa ??
Guru mau jadi TU juga ???




Senin, 05-07-2010 14:19:37 oleh: barus

Sas emng bkin psing n g jlas indikator ny banyak ya nilainy yng di msukin bnyak ahkirny guru2 hny ngerjain sas aj,blum lg klo udh dead line tgl.sekian hrus selesai ya udh g ush remed d tuntasin aj smua,jd guru2 hny mkrin sas,kgk mkrin mtode ngjar ,shrusny guru2 tu bnyak mmbaca,cari metode bru gmn biar ngajar lbih attractive bkan sbuk ngesas mlulu,.kykny sas ni g ad gnany,tlong pk.WENDIE klo kt pngin konsultasi dngan bpk,kmn ya kt hbungi bpk,thx



Senin, 05-07-2010 14:53:17 oleh: barus

Sas gratis........!!!!!!!!!!????????? buang angin gratis yng gratis ya itu tdi lemooooooooooooottttttttt,akhirny disuruh tmbh buffer,apa nmany tu kt jg g ngerti byar mhal lg brp juta tu,akhirny skolah beli tp gliran abis ulangan pd mo ngisi smua guru ad 80 orng lemoooooooot lgi,akhirny terbuang lh wktu berjam2 cma mlototi komputer apa lgi mo kt bka 4 tmbh lemot,pkokny tdk effisien n bkin repot,klo repotny sbanding dngan manfaatny sih g pp,tp ya t



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY