Bobby Savero

Demonstrasi: Perjuangan Kontekstual

Senin, 26-05-2008 15:37:43 oleh: Bobby Savero
Kanal: Opini

Sebuah memori berputar kembali ke dalam kepala penulis, ketika menonton sebuah film yang berjudul Jakarta 1998, yang mengangkat tragedi sosial politik dalam kurun waktu Mei-Desember 1998, periode dimana proses sebuah rezim korup, yang telah tiga dasawarsa lebih berkuasa, digulingkan oleh rakyat. Korban material dan jiwa turut menyertai peristiwa yang menjadi salah satu tonggak dimulainya reformasi multiaspek di Indonesia.

 

Kini sepuluh tahun sudah tragedi itu berlalu. Artinya telah sepuluh tahun pula reformasi bergulir. Demonstrasi masih menjadi pilihan beberapa pihak untuk menyuarakan kepentingan, ide, dan kritiknya. Demonstrasi sengketa hasil Pilkada, demonstrasi mahasiswa, aksi jahit mulut, hingga demonstrasi buruh terus mewarnai kehidupan demokrasi di negara ini. Yang terbaru tentu saja demonstrasi terhadap kenaikan (lagi) harga BBM. Tapi apa lacur, cita-cita mulia reformasi, yang konon masyarakat adil dan makmur, tampaknya belum juga tercapai. BBM juga toh tetap mahal-mahal saja. Demonstrasi pun telah menjadi semakin anarkis, tak berarah, dan impoten. Skeptisisme baru telah muncul, demonstrasi telah kehilangan essensi dan menjadi perjuangan mandul tak berarti.

Apa sebenarnya demonstrasi? Mari kita lihat dari definisi demonstrasi itu sendiri, sebagai pijakan analisis. Demonstrasi adalah tindakan untuk menyampaikan penolakan, kritik, ketidakberpihakan, mengajari hal-hal yang dianggap sebuah penyimpangan. Maka dalam hal ini, sebenarnya secara bahasa demonstrasi tidak sesempit, melakukan long-march, berteriak-teriak, membakar ban, aksi teatrikal, merusak pagar, atau tindakan-tindakan yang selama ini melekat pada kata demonstrasi. Seharusnya demonstrasi juga “mendemonstrasikan” apa yang seharusnya dilakukan oleh pihak yang menjadi objek protes. Sedikit bukti, bahwa dalam pengertiannya saja telah muncul, meminjam terminologi Jaya Suprana, kelirumologi. Bagaimana dengan implementasinya? Kita akan kaji bersama.

Agar analisis ini tepat sasaran, maka penulis dengan sengaja akan mempersempit pengertian demonstrasi menjadi unjuk rasa turun ke jalan seperti yang selama ini menyatu pada persepsi masyarakat. Ada baiknya memulai analisis ini dari pertanyaan, bagaimana relevansi demonstrasi saat ini?

Tanpa bermaksud mengecilkan apa yang dikorbankan untuk demonstrasi, tapi penulis melihat bahwa demonstrasi telah kehilangan relevansinya. Aksi-aksi mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, serikat buruh, massa tak dikenal dan lain-lain yang mengklaim sebagai pejuang masyarakat atau korban otoritas tirani kini tampaknya hanya menjadi angin lalu. Bahkan aksi-aksi demonstrasi saat ini, telah mengundang cemoohan akibat kerugian kolektif secara material atau moril bagi masyarakat luas. Ban-ban yang dibakar, pagar-pagar yang diruntuhkan, pendopo-pendopo Pemda yang dibakar, mulut-mulut yang dijahit, serta korban-korban yang berjatuhan akibat aksi anarki telah menjadi kenyataan menyedihkan yang berujung tanpa solusi. Aksi-aksi ini mungkin akan mengundang wartawan media, tapi tidak membuat keputusan-keputusan publik berubah. Nihil adalah hasil yang riil.

Pemerintah, yang biasanya menjadi objek demonstrasi, pun telah menjadi kebal terhadap aksi protes ini. Mungkin masih terngiang dalam ingatan kita, statement Presiden yang mengatakan akan tetap ngotot menaikkan harga BBM walau masyarakat berniat mengadakan demonstrasi. Frekuensi demonstrasi yang menjadi sering juga membuat aksi ini kehilangan aura semangatnya. Otoritas telah menjadi tuli akan bentuk protes anarkistis seperti ini (entah ada hubungannya atau tidak dengan jumlah dokter THT yang hanya 700 di negeri ini, sumber: data yang disajikan Republik BBM Indosiar 8 Mei 2006).

Lalu apakah demonstrasi memang telah kehilangan makna dan kekuatan perjuangan? Apakah demonstrasi telah kehilangan relevansinya sama sekali? Apakah demonstrasi telah terjebak dalam impotensi yang nyata? Di sinilah penulis memandang bahwa demonstrasi masih memiliki relevansi, hanya saja telah menjadi bentuk perjuangan yang sangat kontekstual. Untuk memahaminya, marilah kita membuka sejarah untuk menyingkap tabir demonstrasi.

Tragedi Tiananmen di Cina, Revolusi Prancis, Revolusi Amerika Serikat, perjuangan-perjuangan kemerdekaan di seantero dunia, Peristiwa People Power di Filipina, revolusi di Rusia, hingga Peristiwa 1966 dan 1998 di Indonesia telah menjadi contoh nyata bagi kita bahwa demonstrasi dan aksi rakyat telah menjadi bagian dari sejarah penting bagi negara maju dan berkembang. Semua menjadi bukti bahwa demonstrasi adalah proses yang wajar dan bahkan kontributif bagi perkembangan dan perbaikan suatu bangsa. Akan tetapi ada benang merah yang dapat ditarik dari kejadian-kejadian demonstrasi dan mass movement di atas.

Semua gerakan dan perjuangan yang saya sebut tadi, hampir kesemuanya terjadi akibat kepemimpinan pemerintahan yang telah menganut diktatorisme dan atau otoriterian. Pemerintahan diktator di Cina, Rusia, Prancis, dan Indonesia. Pemerintahan penjajah. Sistem negara yng lalim. Kesemuanya telah menjadi pemantik atas terbakarnya semangat berjuang dan perubahan dalam diri masyarakat, sehingga muncul semangat people power.

Itu pula yang terjadi di Indonesia tahun 1966. Apa yang dituturkan Soe Hok Gie dalam catatan hariannya mengenai kediktatoran Soekarno adalah hal nyata. Soekarno yang sangat berjasa dalam memproklamasikan kemerdekaan RI sekaligus presiden pertama, kemudian menjadi terlalu sentralistis. Orang-orang di sekitarnya telah menutup Soekarno dalam hubungannya yang murni dengan masyarakat kemudian membiusnya dengan wanita-wanita cantik di sekelilingnya. Kemudian muncul pernyataan presiden seumur hidup yang makin menegaskan absolutisme kepemimpinannya. Sebagaimana yang dikatakan Lord Acton, sejarawan Inggris abad 19, “Power tend to corrupt. Absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang mutlak adalah korupsi yang nyata. Itulah yang kemudian terjadi. Kepercayaan masyarakat pun hilang. Rezim seperti ini memang harus segera ditegur atau bahkan dijatuhkan, maka demonstrasi massa adalah pilihan.

Tahun 1998, bisa dibilang adalah sejarah yang berulang. Soeharto yang telah puluhan tahun memimpin rezim Orde Baru dan menjadi bapak pembangunan juga sangat berjasa. Tapi kemudian kroni-kroninya telah memanfaatkan dan membatasinya dengan publik. Tragedi Tanjung Priok, Daerah Operasi Militer di Aceh, hilangnya para aktivis, petrus, atau tragedi Trisakti dan Semanggi seakan semakin mengukuhkan betapa mutlaknya kekuatan dan kekuasaan Orde Baru menjadi seperti apa yang digambarkan Lord Acton. Ketika itu korupsi, kolusi dan nepotisme (sebenarnya sekarang pun masih terjadi), menjadi semacam hal yang ditolerir dalam melanggengkan dan melaksanakan kekuasaan. Ekonomi berbasis utang juga merupakan biang ketidakpercayaan. Saat itu apa yang ditulis oleh novelis Rusia, Alexander Solzhontsyn, dalam artikelnya di The Observer, mengenai negaranya menjadi kenyataan yag relevan di Indonesia, “In our country the lie has become not just a moral category but a pillar of the state!” Di negara kita, kebohongan telah menjadi tak hanya kategori moral tapi pilar negara. Keadaan menyedihkan itu telah menarik rakyat dan mahasiswa untuk turun ke jalan dan menyuarakan kebenaran.

Bagaimana dengan kini? Pasca 1998, cita-cita mulia reformasi mungkin belum tercapai. Namun satu hal, harga mahal yang bahkan berupa nyawa telah dikorbankan oleh para pejuang 1998 telah menghasilkan kebebasan dan perubahan bertahap. Pers yang bebas, ruang kritik yang terbuka lebar, amandemen UUD 1945, lahirnya lembaga-lembaga negara seperti: Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi, dan lain-lain telah menjadi sinyalemen terhadap perubahan di negara ini, terlepas cita-cita murninya belum tercapai.

Justru itulah fokus generasi masa kini. Bagaimana caranya memanfaatkan apa yang telah ditebus pejuang 1998 untuk meneruskan perjuangan mencapai cita-cita Indonesia yang adil dan makmur bisa tercapai. Dalam hal inilah konsep perjuangan yang tepat harus dikedepankan. Kondisi yang dihadapi bukan lagi pemerintahan yang diktator, lalim, otoriter, dan dikelilingi tembok kekuasaan. Tetapi yang dihadapi saat ini mungkin hanya kebijakan yang timpang, pejabat publik yang tidak kompeten, kekurangan pengetahuan pemerintah mengenai masyarakat, kemiskinan, kebodohan, korupsi, kolusi, atau nepotisme.

Maka kesadaraan akan konteks perjuangan menjadi penting. Ini bukan saatnya mahasiswa dan masyarakat “meruntuhkan tembok”, tapi mengisi ruang kosong yang merupakan sisa-sisa keruntuhan tembok kelaliman. Mengisi ruang publik adalah area perjuangan yang lebih relevan. Menjadi pejabat publik yang amanah, menjadi legislator yang memperjuangkan kepentingan rakyat, menjadi pengusaha yang membuka lapangan kerja, menjadi pegawai negeri yang mau melayani masyarakat, menjadi pegawai swasta yang taat pajak, menjadi aktivis LSM yang tulus memperjuangkan rakyat, menjadi insan pers yang kritis, konstruktif, dan tanggung jawab, menjadi oposan yang ikhlas atau bahkan menjadi pengengguran yang santun adalah posisi dalam ruang publik yang terbuka lebar pasca Orde Baru demi tercapainya cita-cita mulia.

Ini saatnya menyikapi perjuangan dengan lebih cerdas. Bukan sekedar demonstrasi, teriak dan bakar-bakar ban yang anarki, karena demonstrasi nyata-nyata adalah perjuangan yang kontekstual. Disadari atau tidak, masih ada pihak-pihak yang terus menginginkan Indonesia yang penuh dengan kerusuhan dan terpecah belah. Sebagai pencinta dan loyalis bangsa ini, kita harus lebih wapada untuk menghindari berulangnya sejarah kelam Indonesia seperti yang pernah digambarkan G. W. F. Hegel, salah satu filsuf dan idelis Jerman terbesar, “History teaches us that people have never learnt anything from history”Sejarah mengajari kita bahwa manusia tidak pernah belajar apa pun dari sejarah. Semoga kita lebih cerdas dalam menyikapi sejarah. Amin.
Bookmark and Share

Tag/Label opini, demonstrasi
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
8 komentar pada warta ini
Minggu, 15-06-2008 09:25:32 oleh: agatha uni asmarani

terima kasih artikelnya bobby, saya jadi tahu arti demonstrasi sebenarnya, yaitu untuk mendemonstrasikan jalan keluar (bukan cuma protes2 gak keruan) ke objek yg diprotes. pengertian ini membuka pikiran saya ttg bagaimana demo itu seharusnya. terima kasih sekali lagi.





Minggu, 15-06-2008 10:08:58 oleh: Retty N. Hakim

Hei, baru kebaca nih...bagus, berguna...sering-sering nulis ya! Terima kasih sudah berbagi pikiran dan juga "quotes" yang bagus-bagus.



Rabu, 08-10-2008 17:32:40 oleh: jerry

mantap lah bang .horas



Sabtu, 09-01-2010 19:35:21 oleh: UMI HIDAYATI

Terima kasih artikelnya telah membantu dalam tugas kuliah saya



Rabu, 10-02-2010 11:39:08 oleh: Dita

thanx yua..ngebantu bgt bwt tgs kuliah..jadi lebih tahu arti demonstrasi yg sesungguhnya..



Rabu, 28-04-2010 19:07:48 oleh: Syamsir, SH

thanks atas artikelnya,saya mau minta izin untuk mencopynya...



Senin, 02-05-2011 15:27:34 oleh: fre"

Akhirnya ada juga yang bisa ngasih pencerahan tentang makna demonstrasi yang sebenar-benarnya
Mahasiswa seharusnya menjadi penggagas dan pencipta solusi bukan hanya jadi penuntut solusi seperti selama ini sering terjadi.




Kamis, 19-04-2012 11:14:18 oleh: GUZTIE Y.S.N

copy'nan thowwww bozt...????



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY