Kawah Gunung Merapi hanya berjarak kurang 3,5 KM dari dusun Penthongan, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Untuk kesekian kalinya dalam sebulan terakhir saya hadir di dusun yang pada malam hari dikurung kabut dan penduduknya didekap suhu dingin setara suhu kulkas. Dusun Penthongan berada diketinggian lebih dari 1500 meter dari permukaan laut, dan merupakan titik awal pemberangkatan untuk pendakian gunung merapi dari sisi timur laut.
Hampir setiap sore, saya berangkat dari Kota Yogyakarta keliling Kedu - Surakarta - dan Yogyakarta untuk bertemu para petani guna memberikan penyuluhan tentang pertanian. Didusun Penthongan itu, saya sempat ngobrol dengan Pak Sarindi, petani wortel yang mengaku hanyalah lulusan SMP.
Pak Sarindi bercerita bahwa sudah lebih dari 4 tahun terakhir dia tak pernah berlama-lama nonton Televisi karena muak dengan isi tayangannya yang tidak bermutu, mulai infotainment, Ajang adu bakat, hingga sinetron murahan yang takbisa diambil manfaatnya. Paling dia dan sebagaian besar masyarakat didusun tersebut menyempatkan diri nonton Televisi pada waktu acara berita.
Beberapa hari sebelumnya, saya memberikan penyuluhan yang sama disebuah dusun yang berada dipesisir pantai Samas, Sanden, Bantul Yogyakarta. Para petani yang hadir dalam penyuluhan malam itu, juga saat saya ajak bicara tentang Televisi, ternyata merekapun mengaku sangat jarang menonton tayangan hiburan di Televisi, karena mereka menganggap tidak bermutu. Dan merekapun seperti petani dikawasan Selo, Boyolali, juga hanya menonton Televisi saat acara berita atau tayangan dokumenter.
Didaerah Sukoharjo, didaerah, Kulon Progo, maupun di kawasan Sleman serta Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, realita seperti itupun saya temukan.
Para petani lebih mengandalkan Radio Komunitas ataupun Radio Siaran Swasta yang menyajikan informasi pertanian, menyajikan lagu-lagu dhangdut serta lagu campursari sebagai hiburan mereka sepanjang hari.
Selera rendah yang dicekok-kan oleh Televisi Swasta, ternyata tidak berhasil menembus kesantunan para petani yang tinggal dikawasan pedesaan, pelosok.
Adakah realita ini ditangkap oleh para penentu tayangan, para programmer di Televisi swasta Indonesia? Ataukah mereka masihtetap yakin dengan kekuatan Angka Ratting hasil survay lembaga pemeringkat kelas wahid itu?
Benak saya jadi ngelantur, teringat saat pesawat - pesawat dan kapal canggih Amerika dikerahkan mencari lokasi jatuhnya pesawat Adam Air, ternyata yang menemukan serpihan pesawat Adam Air justru nelayan lugu, dengan peralatan jaring ikan sederhana.....
www.nov1mber.blogspot.com