Anwariansyah

Suami-suami Takut Istri, Tayangan Tidak Mendidik

Senin, 12-05-2008 13:56:24 oleh: Anwariansyah
Kanal: Suara Konsumen

Suami-suami Takut Istri, Tayangan Tidak Mendidik

Sinetron komedi situasi berjudul Suami-suami Takut Istri yang ditayangkan oleh stasiun Trans TV setiap hari Senin sampai dengan Kamis pada pukul 18.00 WIB memang terlihat lucu bagi sebagian orang. Sinetron yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat sebuah komplek perumahan ini, mengangkat cerita tentang suami-suami di komplek perumahan tersebut yang selalu takut kepada istrinya masing-masing, dalam hal ini takut bila ketahuan menggoda janda seksi di komplek mereka.

Tapi pernahkan Anda memperhatikan dengan seksama bahwa tayangan tersebut sangat tidak mendidik dan membahayakan perkembangan kejiwaan dan budi pekerti anak-anak kita yang ikut-ikutan menonton tayangan tersebut ? Mungkin kita akan berdalih bahwa cerita itu lucu dan hanya merupakan cerita rekaan atau fiksi dan tidak benar-benar terjadi. Tapi apakah Anda bisa memberikan alasan tersebut kepada anak-anak yang ikut menyaksikan sinetron itu, dan yakin bahwa anak-anak itu tidak akan mencontoh beberapa adegan yang sangat tidak sesuai dengan norma-norma pendidikan budi pekerti ?

 

Adegan beraroma sex

Kebiasaan para suami di dalam tayangan sinetron tersebut yang suka menggoda - sering kali dengan menyerempet-nyerempet "wilayah berbahaya" - si janda muda cantik dan cara berbusana si janda yang sexy, bukanlah penampilan tayangan yang mendidik buat anak-anak. Kesimpulan yang diambil seorang anak adalah bahwa ayah-ayah mereka juga bertabiat yang sama dengan yang ditampilkan di sinetron tersebut. Sehingga rasa hormat mereka kepada orang tua akan berkurang karena asumsi buruk (prasangka jelek) sudah terbangun di dalam pikiran mereka.

 

Istri-istri dan anak-anak yang berani kepada suami dan ayahnya

Ada lagi adegan sangat - sangat - tidak mendidik, yaitu adegan para istri yang marah kepada suaminya karena ketahuan para suami itu sedang asyik menggoda si janda muda, lalu masing-masing istri tersebut ada yang menjewer, mencubit perut, menarik leher baju, bahkan ada yang menjambak rambut suaminya sambil menarik pulang ke rumah. Yang lebih parah lagi ditambahkan adegan si anak ikut menarik ayahnya bersama-sama dengan ibunya. Bila si istri menarik baju suaminya, si anak juga menarik baju ayahnya. Bila si istri mencubit perut suaminya, si anak juga mencubit perut ayahnya. Yang lebih parah lagi adalah adegan si istri memaki-maki suaminya diikuti oleh anaknya. Apa tidak ada lagi adegan lucu yang bisa ditampilkan, sampai harus menampilkan keburukan akhlak seperti ini ? Apa anak-anak kita akan dijadikan anak durhaka semua ?

Mungkin beberapa pihak berdalih bahwa kalau tidak mau nonton, ya ganti aja kanalnya. Itu bukan jawaban yang bermuatan niat baik, tetapi tidak lebih dari pada jawaban mau menang sendiri. Apakah Trans TV ingin ikut andil dalam penghancuran moral bangsa ?

Bookmark and Share

Tag/Label televisi, trans tv, tayangan, acara, programa, sinetron, komedi, suami, istri, anak-anak, pendidikan, moral, akhlak, etika, anwar, anwariansyah
Penilaian anda

Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
64 komentar pada warta ini
Senin, 12-05-2008 14:51:16 oleh: Wahjoe Witjaksono

Harusnya jam tayangnya digeser ke jam yang lebih malam (jam tayang dewasa), Kalau saya sendiri suka, hanya nontonnya harus sendiri atau sama istri, kalau sama anak mendingan nonton acara anak-anak.



Senin, 12-05-2008 18:58:58 oleh: GUS WAI

Sebagian besar acara TV kita memang tayangan tak bermutu. Sinetron yang mengumbar penderitaan, perselingkuhan. Menjauhkan bangsa ini dari upaya untuk mencapai hal-hal yang lebih berguna.
Infotainmen yang hanya membicarakan keborokan orang lain. Membiasakan bangsa ini bicara tentang keburukan orang lain.
KPI diam saja? Tak berdaya menghadapi pemilik media yang adalah orang-orang kuat.




Senin, 12-05-2008 21:54:33 oleh: Anwariansyah

@GUS WAI

Benar 10000 persen Gus




Selasa, 13-05-2008 06:43:23 oleh: Kickey Vania

Memeng tayangan sinetron di televisi sekarang ini gak bermutu semua, kadang-kadang gak masuk akal, bukannya mendidik malah mengajarkan yang gak bener kepada anak-anak muda, persaingan, penindasan, orang yang sudah menderita makin ditindas, kejahatan banyak sekali lah.kasian generasi sekarang. mau dibawa kemana mereka karena mereka selalu dikasih contoh yang gak bener. saya sekarang kalau nonton tv cuma berita doang, habis selain itu gak ada yang menarik.



Selasa, 13-05-2008 08:12:21 oleh: Anwariansyah

@Kickey Vania

Benar 10000 persen juga Kickey





Selasa, 13-05-2008 08:29:16 oleh: Wahjoe Witjaksono

Masih ada nggak Televisi Pendidikan Indonesia? Kalau ada, laku nggak yaa? Untung di Bandung ada MQTV, sebagai tontonan alternatif yang super-super mendidik.



Selasa, 13-05-2008 08:34:47 oleh: Dani Ampriyanto

TPI maksudnya..
kalo gak dangdutan ya si entong. capee deh..




Selasa, 13-05-2008 08:48:59 oleh: bajoe

Setuju kalo tayangan ini berubah jam tayang.

Tapi aku mau luruskan dulu persepsi soal KPI. KPI bukanlah lembaga super yang bisa langsung menghukum lembaga penyiaran. KPI bukannya diam. Baru-baru ini mereka mengeluarkan peringatan pada 10 program siaran yang dianggap tidak pantas, salah satunya Extravaganza, Mamamia. Dulu KPI juga pernah memperingatkan Empat Mata. Tetapi di wikimu, para komentator ramai-ramai membela, KPI dianggap mengganggu kesenangan orang. Padahal yang dikritik adalah ucapan-ucapan Tukul yang cenderung abuse baik pada perempuan maupun soal seks.

Namun KPI bukan lembaga seperti KPK di soal korupsi atau KPU di pemilu, yang bisa langsung perintah, komando. KPI mungkin lebih mirip Dewan Pers, Komnas HAM, yang lebih berfungsi memperingatkan, rekomendasi, mediasi.

Dulu KPI masih punya power, karena adalah peraturan, lembaga penyiaran mesti mengajukan ijin ke KPI. Tetapi di masa Menteri Sofyan D, wewenang KPI dipangkas. Wewenang itu diambil alih oleh Depkominfo. Jadi sebenarnya kalo mo kritik, tujukan saja ke Depkominfo yang bisa mencabut ijin siaran. Pasti para insan televisi itu akan nurut.

Persepsi yang salah pada KPI ini mirip apa yang terjadi pada YLKI. Kalau ada orang yang kecewa dengan produk atau jasa tertentu, lalu berteriak : gimana nih YLKI? Mereka ngapain aja?! Padahal kalo mau cerdas dikit, baca-baca koran, YLKI hanyalah LSM biasa, yang tidak punya power / kekuatan hukum untuk mengatur perusahaan dagang.




Selasa, 13-05-2008 09:11:01 oleh: Agus Mardhika

Kalau dibilang tayangan kurang bermutu atau kurang mendidik saya setuju..!!

Tapi sebenarnya adegan dalam sinetron komedi tersebut ada benarnya juga. seperti lelaki yang matanya "suka jajan", anak-anak yang terkadang melawan orang tuanya.

Namun harus diingat bahwa adegan tersebut sudah dieksploitasi sedemikian rupa, setiap tayang hanya itu-itu saja adegan yang ditonjolkan, sehingga sedikit meleset dari kenyataan yang ada. karena lebih mementingkan sisi humornya daripada kenyataan yang ada dilapangan.

Dan yang harus ingat oleh "penikmat TV", sebenarnya sinetron itu lebih cocok ditayangkan untuk siapa sih, materinya apa sih, pesannya apa sih.? masuk akal ga sih ? dibuat-buat ga sih.. dll..dll.dll..

Sebagai orang yang berhadapan langsung dengan TV, jangan mengharapkan YLKI,KPI,DEPKOMINFO ataupun badan-badan lainnya untuk menjadi penyaring acara sejenis, Anda yang pegang remote TV, anda yang berkuasa,

Nungguin badan-badan yang lain, mpe kapaaaannn..?? pencet aja remote nya, selesai deh.. singkat dan cepat,







Selasa, 13-05-2008 10:14:23 oleh: Anwariansyah

@Agus Mardhika

Ganti kanal, matikan TV atau menjual TV-nya sekalian adalah cara praktis, tapi sangat berjangka pendek dan tidak menyentuh hal yang mendasar, yaitu aturan dan etika stasiun televisi dalam membuat dan menayangkan acara.

Pengaruh acara TV yang sudah sangat meluas sudah berlangsung hampir 4 dekade ini dan berhasil mencerdaskan tapi juga merusak moral bangsa ini. Anak-anak dan generasi muda adalah yang paling mudah terpengaruh dan menjadi korban, nah kita-kita ini adalah contoh generasi korban dari siaran televisi 20 sampai 30 tahun yang lalu. Apakah menjadi korban baik atau korban buruk, kita saja yang tahu (?)




Selasa, 13-05-2008 10:17:53 oleh: Mieka Kurnia Yasa

Saya setuju dengan Agus Mardhika. Kitalah yang harus selektif memilih acara TV. Dampingi anak dalam menonton acara TV jika acaranya tidak sesuai dengan perkembangan anak segera pindah channel dan usahakan ada satu TV di rumah sehingga kita bisa mengontrol acara-acara mana saja yang bisa ditonton anak dan mana yang tidak.



Selasa, 13-05-2008 11:16:26 oleh: Dina Sulistyana

etika memang menarik untuk diperdebatkan.
apalagi jika menyangkut hasil masa depan yang tidak pasti.




Selasa, 13-05-2008 11:40:34 oleh: oktavian

Acara tv di Indonesia 90% memang gak mendidik. Hiburan, gosip, sinetron cengeng, humor sex, dan semacamnya. Mo ganti2 channel jg dapetnya ya itu-itu juga. Cape deeh..



Selasa, 13-05-2008 11:45:57 oleh: Dina Sulistyana

nonton TV berlangganan aja.



Selasa, 13-05-2008 12:05:12 oleh: Anwariansyah

@Dina Sulistyana

TV berlangganan lebih parah lagi. Tampilan penyanyi dan bintang filmnya lebih vulgar lagi. Masalahnya TV kita (dan sebagian bangsa kita) berkiblat ke TV Barat (Amrik), tapi susahnya kalau tidak ngikutin zaman, dijamin akan diprotes pemirsa karena dibilang melanggar HAM, dan stasiun TV nya akan bangkrut (kaya nasib Televisi "Pendidikan" Indonesia dulu)




Selasa, 13-05-2008 12:20:08 oleh: Dina Sulistyana

kalo begitu jadwal anak dibikin padat dengan kursus2 atau kegiatan seni & olahraga.



Selasa, 13-05-2008 12:27:51 oleh: Anwariansyah

Jadi jalan satu-satunya yang bisa dilakukan, ya menghindarkan anak dari menonton acara-acara seperti ini atau menemani sambil nonton dan dikasih tahu mana yang jelek dan mana yang baik. Orang tua memang harus ekstra ketat menjada anak-anaknya. Tapi bagaimana dengan kedua orang tua yang jarang ada di rumah atau tidak bisa menemani anaknya setiap saat menonton TV ?



Selasa, 13-05-2008 12:31:51 oleh: Dina Sulistyana

tunda punya momongan.

kalo udah kebelet atau kadung punya anak, jual aja semua TV di rumah.

biasakan sejak lahir anak tidak mengenal TV supaya tidak kecanduan TV.

oya, denger2 ada babyTV lho, khusus untuk balita.




Selasa, 13-05-2008 12:55:15 oleh: Ferdinandus Setu

Jangan sampai anak kita tumbuh menjadi generasi mabuk televisi, yang bisa menjauhkan mereka dari buku. Budaya menonton televisi hampir selalu vis a vis dengan budaya membaca. Semakin banyak waktu dihabiskan untuk menonton tv, semakin sedikit waktu untuk membaca buku. Lebih parah lagi, kalau tontonan di TV kita tak ada yang edukatif. Karenanya pendampingan orang tua adalah mutlak.



Selasa, 13-05-2008 13:06:24 oleh: Anwariansyah

@bajoe

Apa bukan karena KPI dan YLKI bakal berbenturan dengan "orang yang punya duit" sehingga KPI dan YLKI sengaja lahir dalam keadaan mandul dan ompong ?

@Ferdinandus Setu

Kayaknya sudah tuh, Mas. Apalagi dengan adanya game. Tapi benar peran orang tua harus lebih, karena memang hanya itu "peluru yang tersisa".




Selasa, 13-05-2008 13:13:51 oleh: Yulius Haflan

Sedikit ngelurusin saja. Pemerintah (Depkominfo) tidak memiliki kewenangan untuk 'mengubek-ubek' isi atau konten penyiaran. Itu kewenangannya KPI atas amanat UU no.32 thn 2002. Di sini posisi Depkominfo sebagai mitra KPI karena hingga saat ini masalah administrasi penyiaran dll memang masih di tangan Pemerintah karena bersinggungan dengan hal2 teknis yang masih masuk ke kewenangan pemerintah seperti frekuensi (UU telekomunikasi). Dulu memang benar terjadi tarik-menarik antara dua instansi tsb mana yang berhak untuk mengeluarkan izin. Namun sekarang poin2 permasalahan tsb sudah berhasil diatasi dan semua pihak mau duduk bersama. Siapa saja bisa mengajukan ijin penyiaran melalui dua lembaga tersebut.

Untuk masalah konten penyiaran, klo gak salah KPI dan Polri sudah menandatangani MoU untuk bekerja sama ttg hal tsb. Jadi saya rasa KPI tetap punya 'gigi' yang ckup kuat untuk menindak lembaga penyiaran yang tidak sesuai dengan UU penyiaran.




Selasa, 13-05-2008 13:47:44 oleh: Anwariansyah

@Yulius Haflan

Kalau begitu tinggal ditunggu "gigitannya" KPI. Ghrrrauuuu .... . Asal jangan keenakan tidur setelah diberi susu. (he he he)




Rabu, 14-05-2008 15:08:06 oleh: Lilis Kho

setuju, sangat tidak mendidik.



Rabu, 14-05-2008 16:09:35 oleh: Slamet Riyadi

Saya setuju dengan komentar mas Gus Way. Kalo bisa acara tersebut jangan ditayangkan



Minggu, 01-06-2008 15:43:52 oleh: yuliya

suami yang takut istri karena istri yang bekerja gajinya lebih besar. anak semakin tidak dapat menghormatinya ayahnya.si istri semakin sering menyuruh suaminya. itupun kalo istri dan anak sadar bahwa tontonan tersebut salah dan payah. mana ada seorang anak berani mencubit ayahnya dan seorang ibu kerjanya hanya duduk. kecuali....
saya setuju, bila suami-suami berhenti tayang karena mengganggu jam sholat. sholat maghrib menjaditertunda. suami saya, menonton dulu baru sholat, begitu pula dengan anak saya. yang lebih parah, anak saya terkekeh-kekeh bahagia bila si karyo buat ulah dan karla-anaknya mencubitnya. belum lagi, suami saya terpesona dengan perempuan yang datang silih berganti dengan pakaian ketat dan kemudian beradegan mesra. dilarang? tidak. biar saja, karena ujungnya berebutan remot, mengalah pindah nonton ke tetangga sebelah.




Minggu, 01-06-2008 17:02:20 oleh: Anwariansyah

@yuliya

Wah, cerita Anda mirip adegan di sinetron SSTI ini, ya ?




Minggu, 13-07-2008 02:50:49 oleh: wahyu pratama

kren sang

bagai mana klu cerita na
klu bang tigor na
berantem ama bu' RT
mungkin lebih seru,




Senin, 14-07-2008 12:43:19 oleh: tamara

kalau saya lebihmenyukai SSTI karena tayangan itu menyadarkan agar suami suami tidak selingkuh dan berpoligami si situ diberi contohnya



Senin, 14-07-2008 14:00:04 oleh: Leo Fitratulloh

Di dunia ini tersaji secara seimbang, ada baik ada buruk, siang-malam, tinggi-pendek, dosa-pahala.....sorga dan neraka. Semua tersaji dengan "sempurna", saya sangat setuju bila ada filterisasi utk penayangan acara TV / radio yg sifatnya kurang bahkan tidak mendidik. Namun sebenarnya filter yang paling ampuh adalah anggota keluarga itu sendiri (orang tua)dan sebenarnya inilah FITRAH manusia, karena sekuat apapun kita "memberantas" kemaksiatan tetap saja ada. Karena Tuhan pantang menarik peraturan yang telah ditetapkannya, sampai kiamat "kemaksiatan" tetap ada makanya kelak Dunia akan diKiamatkan (bagi yg percaya)jadi biarkan Tuhan berjalan dengan sistemnya. Nah mari bagi orang tua sejak dini mengarahkan putra-putri kita pada pendidikan yang lebih objektif, kemaksiatan tak perlu ditutup-tutupi....sehingga selalu ada pembandingnya, justru lebih mudah kita memberikan pendidikan bila ada pembandingnya, "ini lho Nak yang baik...ini buruk..",. Kita tak akan bisa merubah Jaman...toh jaman berubah dan berproses dengan sendirinya. Marilah kita belajar untuk tidak gampang menyalahkan OBJEK, dan cenderung untuk mensikapinya dengan bijak. Siapkah kita utk menjadi Orang tua yang tidak begitu saja dan masa bodoh menyerahkan pendidikan hanya kepada Guru, Ustad, Pendeta atau Biksu, dsb, tanpa peran orang tua secara maksimal ?. Nah yg lebih penting justru mendampingi putra-putri kita dengan nawaitu/niat untuk menjadikan manusia yg bijak dalam bersikap....., sehingga tidak kaget atas apa yg terjadi di dunia...ya..inilah fitrahnya dunia, tempat bercampurnya segala macam makhluk dengan romantika hidup dan kehidupannya sendiri2. Siapa yang taat akan sisitem Tuhan...dialah yg aman, tidak perlu menyalahkan apalagi menghujat, namun tetap konsisten pada aturan main Tuhan.....Silahkan pasti anda punya Opini sendiri, tapi jangan paksa Tuhan untuk membenarkan opini anda...Salam damai.



Rabu, 23-07-2008 16:21:45 oleh: chavez

anda berarti selalu melihat dr segi negatifnya teruss ya,sudahkah anda berkaca pada diri anda sendiri,mulia kah anda di mata msyarakat skrg??????
saya setuju dgn pak leo,jng paksa tuhan membenarkan opini anda




Rabu, 23-07-2008 17:14:59 oleh: Anwariansyah

Kalau bicara Tuhan dengan kehendak dan perbuatannya, itu terlalu jauh dan bukan hak kita sebagai manusia. Bicara saja mengenai syariat / aturan agama (hukum Tuhan untuk manusia), itu lebih membumi dan merupakan hak kita. Kira-kira ... agama mana yang membolehkan tayangan seperti SSTI itu (seperti disebut di atas)?



Rabu, 23-07-2008 19:05:36 oleh: Suriadiputra

sebenarnya ini bukan suami-suami takut istri, melainkan istri-istri durhaka pada suami. Dan anehnya kedurhakaan dimenangkan dan dibenarkan dalam sitkom ini.Jika memeng dalam keluarga terjadi seperti ini, buat apa diteruskan? degan yang ditampilkan sering menyajikan KDRT dimana suami menjadi korban kekerasan para istri. Lucukah ini..? Mentertawakan penderitaan orang lain. Terkutuklah istri-istri yang ada dalam sinetron itu. Semoga pembuat sinetron ini segera sadar bahwa dalam karya tidak hanya ada uang dan keuntungan tetapi juga ada tanggung jawab moral dan tanggung jawab kepada Tuhan. Jangan sebarkan kemunkaran lebih luas lagi.



Rabu, 23-07-2008 20:42:12 oleh: chavez

apa ada juga merasa ga punya dosa sehingga anda ingin semua yg ada didunia ini selalu sempurna



Selasa, 19-08-2008 18:56:55 oleh: yani

menurut saya, tayangan ini kurang mendidik. awalnya saya menikmati tayangan ini karena lucu. tapi kelamaan, kok sepertinya istri-istri disitu pada durhaka semua sama suaminya. karena ketidakberdayaan suami yang selalu di eksploitir. ilfill jdinya nonton acara itu. ga ada esensi sama sekali. sarannya, lebih kreatif lagi aja deh



Selasa, 26-08-2008 16:51:48 oleh: Patricia Shanti Arya Sathyani

SETUJU !! saya perempuan, sekaligus seorang istri bekerja, tetapi tak ada terpikir untuk memperlakukan suami seperti itu.
mencontohkan perilaku rumah tangga yang tidak sehat,dan seharusnya ditayangkan di malam hari untuk tontonan dewasa, tidak pada jam dimana anak-anak masih berkeliaran. masalahnya acara ini disukai oleh mereka yang "kebanyakan tidak berpikir", mereka hanya tahu menikmati dan tertawa jika akting tersebut dirasa lucu. padahal, maksud sang sutradara justru menyindir. bagi yang berpendidikan dan bermoral, dengan mudahnya ganti channel tv, mematikan tv, menetapkan larangan menonton tv di jam-jam tersebut bahkan memberikan alternatif dengan memasang tv kabel yang acaranya jauh lebih netral dan bisa di atur untuk konsumsi anak.
trans-tv harusnya lebih bijak untuk mengubah jam tayang, sementara para penikmat, harap jauhkan tayangan2 tak bermutu dari mata anak=anak.




Senin, 01-09-2008 17:48:10 oleh: shendy

ga usah protes deh, orang ini emang bukan tayangan buat anak-anak koq. kalo buat anak2 udah pasti ditayanginnya siang-siang. malem2 tuh waktunya orang tua yang nonton. mending nonton begituan daripada elu ngeloyor clubbing cari cewe



Jumat, 05-09-2008 16:11:55 oleh: Emilia Mannopo

Saya sangat setuju,lebih baik ditayangkan dinihari atau extrimnya dibekukan saja , yang membuat saya pusing justru anak2 kami suka sekali dengan sinetron tersebut.Unsur tidak mendidiknya berporsi lebih besar sekali ketimbang kegunaannya...
BAGAIMANA TRANS TV.....???




Selasa, 16-09-2008 10:44:21 oleh: sam

sebaiknya SSTI dihentikan saja acaranya. karena tdk bermutu, porno, dpt merusak moral. selain itu sinetronnya tdk kreatif, tdk lucu sama sekali. porno iya



Kamis, 18-09-2008 09:27:10 oleh: gus bur

knapa sih orang indonesia sukanya menghujat,terlalu mengkritik,ga seneng klo org lain seneng????????????
kalian juga secara ga sadar memberikan efek negatif,uda lah tdk usa mencerca!!!
liat aja segi positifnya...klo mnurut anda semua(tukang kritik) banyak negatifnya,ya ga usa ditonton!!!
klo emg bukan anda yg mnonton(suami,anak,dll)jual aja tipinya!!!!
gitu aja kok repot...




Jumat, 24-10-2008 19:15:24 oleh: wahyu

Ya begitulah Indonesia sekarang, gara-gara kebebasan yang kebablasan di zaman Reformasi ini...
Sehingga banyak pihak yang berdalih bahwa sekarang(Reformasi) adalah zamannya Demokrasi yang bebas sehingga mereka dengan seenaknya bertindak sendiri...
Ini sebagai akibat dari longgarnya Pengawasan dari pemerintah pada masa reformasi ini dan kurang dewasanya masyarakat menyikapi keadaan Demokrasi yang sesungguhnya yaitu Demokrasi yang bertanggungjawab...




Senin, 10-11-2008 12:42:43 oleh: Lidia

Gak ada acara lain lagi apa? yang lebih mendidik. SSTI bukan hanya melecehkan harga diri suami tapi juga menjatuhkan peran suami sebagai imam dan kepala keluarga. Apalagi peran Sheila...kejam banget sama suami sendiri, Karyo kaya jongosnya aja. Kalau SSTI masih mau tayang, peran istri2nya jangan kejam banget dong...gak etis dan gak mendidik.



Jumat, 14-11-2008 16:07:55 oleh: Boy Leo

Sebenernya sih, kalau menurut saya cuman salah jam tayang aja...Kalau masalah isi sih, sebagai orang dewasa yang bisa membedakan mana yang riil dan fiktif, saya kira biasa aja...jangan terlalu berlebihan lah kritiknya...

Bermasalah di jam tayang karena itu bisa ditonton anak-anak. Nah, masalahnya, anak-anak kan jam segitu harusnya belajar (Saya dulu setiap hari harus belajar dari jam 6-8). Kalau jam segitu anak-anak nonton TV, salah siapa coba?

Bukan mau membela TV ybs. Hanya saja kalau semuanya ditimpakan ke TV, lah peran orang tua dimana?




Rabu, 03-12-2008 18:38:17 oleh: umi

Tolong... dialog nya jangan pake jerit-jerit... sakit nich.. telinga !!



Jumat, 19-12-2008 14:00:35 oleh: herland

untuk tayangan serial suami suami takut istri kisah itu sangat tidak mendidik dan kesan nya sangat di buat buat dan menjijik dan tidak berguna tolong di hapus kan...thx



Jumat, 26-12-2008 09:43:50 oleh: saiful huda

Sinetron komedi situasi berjudul Suami-suami Takut Istri yang ditayangkan oleh stasiun Trans TV setiap hari Senin sampai dengan Kamis pada pukul 18.00 WIB memang menghibur tapi memang tidak mendidik. Buktinya salah satu karyawan wanita di kantorku memperlakukan suaminya seperti ditayangan tersebut padahal hanya masalah gaji suaminya lebih rendah dari dia, dia sering berkata "ada uang abang disayang tak ada uang abang akan ku tendang".



Jumat, 26-12-2008 10:39:20 oleh: Rudy Handoko

Aah...jangan terlalu khawatir, jika suami mampu menghormati dan menghargai istri serta memperlakukan istri sebagai mitra sejajar dalam rumah tangga, istri juga pasti akan menghormati dan menghargai suami, bahkan mungkin akan cinta mati pada suaminya! Santai aja para suami dan calon suami...hehehehe...




Selasa, 20-01-2009 09:18:12 oleh: Muhdar.ar

Saya sangat setuju kalo sinetron Suami-suami takut isteri di hentikan karena sangat tidak mendidik apalagi di saksikan oleh anak-anak dan isteri-isteri yang lagi mencari-cari kesalahan suami.



Sabtu, 31-01-2009 12:18:45 oleh: indri hapsari

mnurut...qu tayangan ini da sisi + dan sisi -...

sisi+:
kita bs liat...da karyo yg dari jawa sma shela..yg dr org metropolis.. da Pak ER..TE ma bu ER..TE..yg dua2nya dr betawi.. da lg si Uda Faisal..ma Deswita yg dr keluraga minang yg peliit.., truz..mba' welas dr jawa en bang tigor si tayger.. dr medan..
Karakter yg berbeda ini mengingatkan qta pda kalimat..: Bhinneka Tunggal Ika ..nah intinya..mungkin target dr SSTI menghibur para pemirsa..dgn perbedaan suku bangsa dan ras..
contoh: klo para istri2 lg bingung mikirin suami2 yg jelalatan.. psti mereka diskusi bareng..begitu sbaliknya dgn suami2.. merekapun jg diskusi bgaimana mendekati si janda muda prety.. mreka diskusi tnpa membeda2kan suku mereka...malahan kompak bgd..

sisi -:
syg.. SSTI dibumbui dengan adegan kekerasan, perlawanan.. truz pungli (korupsi,ma mencuri ada jg lho)..ma seks..
contoh pungli: Liat ajj si satpam Dadang atow ki daus.. mreka menolong dgn pamrih.. sbelum mreka mlaksanakan tugas psti mreka minta uang yg gag standarnya.. perbuatan ini jg ditiru oleh anak mang dadang..untuk ngerjain karla..truz Lila yg ska malakin ortunya bwt beli pulsa.. klo da nak dibawah umur nonton.. waah..bahaya..

contoh adegan berbau seks:
mnurut..informasi, tayangan SSti da unsur seks_nya, liatin tuh para suami2. mreka gag da kapoknya godain si prety..trus mreka smakin nafsu gtu deeh!! o..ya busana yg dipake prety jg bner2 gag senonoh..tlg di ubah busananya..! 1 lagi tntg si Lila anak Pak RT.. yg suka pacaran..tlg di kurangin pacaranya.

cth kekerasan yg tertanam:
klo para suami2 ktahuan di rmhnya prety..psti disuruh plg dgn cara yg kasar..lebih2 ma si Shela.. super duper kasar ma karyo..smpe2 karla jg ikut2an nyubit prut papanya.. bgtu jg para istri yg laen.. mreka ikut hukum suami msg2 dgn hukuman yg td msk akal!!

naah hnya thu yg kommen qu.. panjang bgd khan??
ni ditulis sesuai app yg tjadi di SSTI!!
yg di cth sisi + ajj iia!!




Senin, 02-02-2009 09:10:49 oleh: Hamriah Dimaz

GEMEZZZ...sama tayangan yang satu ini, apalagi yang dibelain dari sitkom yang bener-bener ga bermutu ini.Kalo sudah tidak 'bagus' kenapa tidak segera ditindaklanjuti-diberhentikan misalnya, diubah jamnya, dikurangi durasinya, 5 menit saja, agar tidak mengurangi pendapatan pemainnya..Jam tayangnya, ketika anak - anak masih melek, dan nonton tv, sudah tidak ada bahasa satupun yang santun dari scripnya, memberi contoh perilaku yang tidak hormat pada ayah, suami.Bagaimana anak tidak meniru??coba tanya anak mana saja, coba dikembalikan lagi ke kehidupan pribadi kalo mau buat film.Penonton jangan dijadikan korban dari kenaifan orang-orang TV yang hanya mengejar rating dan keuntungan.Tidak perlu bersembunyi dalam jargon "emansipasi wanita".Mana bagian yang ada emansipasinya???itu malah meletakkan wanita sebagai sosok yang lemah, rapuh, hanya marah - marah melulu, dijadikan obyek seksualitas rendahan.Duhhh....kemana orang-orang yang peduli sama rakyatnya ini.TOLONG siapapun yang membaca komentar-komentar senada, siapapun yang masih sayang anak-anaknya,yang masih mau dihargai kekuasaannya.Tolong sitkom ini segera ditindaklanjuti.



Selasa, 03-02-2009 20:08:31 oleh: sisillia

acara Tv indonesia tidak ada yang mendidik,jd merusak anak bangsa.apalagi sinetron contoh;suami suami takut istri,jd banyak istri yang meniru apalg seperti sikap sela ama suaminya.gw malessssss banget nonton acara Tv indonesia,mending flim korea.



Sabtu, 28-02-2009 15:50:54 oleh: Merry

kalau mau buat tayangan TV yang masuk akal dikit donk, masak suami takut sama istri, Qw gak setuju bangat gitu lho,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,



Jumat, 13-03-2009 19:49:23 oleh: umi

Saya jg seorang istri & ibu 2 anak. Kadang2 anak saya suka nonton SSTI & saya hampir tiap hari nonton, tp Alhamdulillah mereka msh hormat ama org tua & saya pun msh hormat, menghargai, sayang & cinta ama suami. Saya & suami kalau komunikasi tidak pernah menyebut "kamu" selama 18 thn nikah. Jd gak terlalu ngaruh SSTI, cuma capek & bosan juga sekarang nontonnya.



Selasa, 17-03-2009 03:38:28 oleh: maman

Sebenarnya saya juga kurang suka sama acara tsb, tapi memang sulit untuk menghentikan acara yang menghasilkan uang banyak. Kalau saja di kemudian hari saya mendapatkan istri saya berkelakuan seperti di acara tsb pasti langsung saya cerai tanpa pikir 2x. Sudah banting tulang buat keluarga masih berkelakuan seperti itu sih mendingan tidak berkeluarga deh.. hehe..



Rabu, 18-03-2009 04:11:47 oleh: bora sinea

film atau guyonan komedi seperti hal nya suami-suami takut isteri ini memang sangat menghibur bagi saya dan mayoritas masyarakat indonesia yang haus akan hiburan ditengan kepenatan kita semua,....
tapi saya rasa dari sekian banyak adegan yang saya tonton terlalu banyak :
1. isteri yang selalu mengintimidasi sang kepala keluarga yaitu suami secara tidak wajar berlebihan,terlalu arogan dalam memberikan "Hukuman" pada sang suami, dan sama sekali tidak mendidik pada para keluarga. yang tidak menutup kemungkinan akan banyak di tiru oleh masyarakat indonesia pada umum nya
2. anak "lila" memberikan contoh yang tidak seharusnya sering dilakukan oleh seorang anak kepada orang tuanya melihat statusnya sebagai pelar yang selalu mencari celah kesalahan orang tua dengan cara harus disogok dan meminta uang untuk tutup mulut..
3. saya sama sekali tidak setuju kalau para suami diperlakukan seperti layaknya binatang atau orang bodoh.
4. layar komedi ini sepertinya menjuruskan bahwa sang istri lah yang menjadi kepala rumah tangga yang dengan kekuasaan nya yang semena2

Jadi intinya saya suka sekali dengan hiburan ini, TAPI TOLONG DIPERHATIKAN ADEGAN ATAU BAHASA ATAU TINDAKAN yang tidak masuk akal agak dikurangi atau diperhalus.
Atau kami penikmat seni akan mengecam habis-habisan tayangan ini agar di BERHENTIKAN.
karena menurut saya tingkah laku para istri - anak - atau suami pun terlalu KONYOOOOLL jika terlalu dilebih2 kan...
kami juga takut hal atau tindakan yang ada dalam tayangan SSTI ini akan banyak dicontoh oleh orang banyak

DI PERHATIKANNNN BUNG.....




Rabu, 18-03-2009 04:20:24 oleh: KAREM

JANGAN KOMENTAR SAJA YANG DI DENGARKAN HEI PARA PEMBUAT TAYANGAN SSTI

TOLONG PEMERINTAH MENBERIKAN TINDAKAN PADA PENULIS CERITA INI AGAR BERPIKIRAN POSITIF DAN MENDIDIK BAGI INDONESIA

KALAU MASIH JUGA BLENGER....DI BERHENTIKAN SAJA TAYANGAN SSTI INI BRO

SAMA SEKALI KURANG MENDIDIKAN BUANGET




Rabu, 18-03-2009 04:23:00 oleh: kaka

Ttup Siaran SSTI ini yang kurang Mendidik ini

Aq gerah melihat adegan yg memuakkan itu




Rabu, 25-03-2009 18:29:08 oleh: nana

Kayaknya satu2 nya cara agar didengar komentar kita2 yah gak usah di tonton dan lagi yang gak suka ya gak usah di tonton, lama2 juga ratingnya nanti turun.



Kamis, 26-03-2009 18:42:35 oleh: R12KY

Jangn ah... jangan di hapus, SSTI lucu koq pa lagi pas bulan puasa. aq klo nonton tu acara di otaku ga ada pikiran macem2 yang ada hanya Tertawa dan tersenyum ^_^



Senin, 30-03-2009 21:54:48 oleh: nana

KAN... AKHIRNYA DITEGUR JUGA AMA KPI.... BUNG ANJASMARA ! HABIS MAKIN KESINI.. CERITA DAN DIALOGNYA MAKIN GAK KARUAN.. MAKIN MALES NONTONNYA. MASALAHNYA SSTI (JAM 18.00) GAK ADA SAINGAN, YG ADA CUMA SINETRON MELULU (CAPE DEH..!), COBA KALO ADA FILM HOLLYWOOD ATAU MARICHUY PINDAH TAYANG SORE PASTI SSTI GAK ADA YG LIAT...HEHE



Selasa, 09-06-2009 18:41:14 oleh: nana

emang welas lucu gitu... cape dech.... aku malah gak pengen liat dia.....



Jumat, 19-06-2009 15:12:48 oleh: kanajus

Menurut saya jam tayang SSTI lebih baik malam (anak kecil sudah tidur), tayangan sinetron yang ada di TV mbok ya dibuat seperti kehidupan sehari-hari, tidak direka reka, hampir semua senetro adalah rebutan harta harta harta.......!



Jumat, 23-10-2009 17:07:24 oleh: elisabeth

memang lucu 100 percent.... tapi aku gak pernah liat lagi!



Kamis, 26-11-2009 22:38:27 oleh: NEGI

saya sendiri agak khawatir kalau istri dan anak (sekitar jam 7 malam ke atas) di kamar nonton TV .. mereka sih udah gak suka nonton filem ini ... tapi filem yang lain .. sinetron .. isinya marah2 .. dendam... dll .. anak saya yang perempuan kalau menjelaskan sesuatu dalam keadaan marah ya begitu lah .. mirip adegan sinetron (anak umur 4 tahun) .. sebisa mungkin sudah saya larang .. tapi seperti terhipnotis sinetron ..padahal tayangan yang menghibur seperti Gong Show, dll .. masih bisa di tonton :(

apa ada peraturan UU penyiaran yang menegaskan larangan menebarkan / mencotohkan perilaku tak baik .. atau penegasan jam tayang ...

kalau menurut saya sih tayangan kurang mendidik sama parahnya dengan pengaruh filem porno (UU AP)

siaran TV bersifat ke penyebaran banyak penduduk loh .. DPR harus bergerak!




Senin, 07-06-2010 07:54:42 oleh: bani

Rasul bersabda, yg intinya: begitu bahayanya dhoharol ma`asyi (kemaksiatan yang nampak) bahkan kalau tak ada yang memprotesnya akan menjadikan `adzab Allah di ratakan utk semua, terbukti bencana terus-menerus...???
Kita bisa merasakannya, ktk tayangan2 TV kita tdk lg mempertimbangkan etika, akhirnya pemerkosaan, mutilasi, penipuan, dan kejadian2 kejahatan yg ada merupakan kejadian copy paste dari yg ditayangkan di TV, coba perhatikan......




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY