Erwin Arianto

Selamat Hari Buruh 1 Mei 2008

Rabu, 30-04-2008 12:35:58 oleh: Erwin Arianto
Kanal: Opini

Pagi ini saya mendapatkan undangan di meja kerja saya untuk mengikuti peringatan hari buruh besok tepat 1 Mei di Gelora Bung Karno,dari SPSI kantor. Buruh adalah semua orang yang bekerja dan mendapat upah. Populasi buruh di Indonesia , baik informal maupun formal, sebanyak lebih dari 80 juta jiwa. Melihat dari jumlah tersebut, maka bisa dipastikan buruh adalah elemen masyarakat yang penting untuk dibela dan diberdayakan.

Tapi saat ini sungguh sangat menyedihkan nasib kaum buruh ini, dari tertindasnya kaum buruh dengan adanya sistem outsourcing, yang kapan saja bisa dipecat perusahan bila tidak suka, adanya pembatasan pesangon hanya di batasi 5x gaji. Pemberlakuan kerja melebih jam kerja kantor dan banyak lagi persoalan yang dihadapi para buruh saat ini.

Nasib buruh seperti santan kelapa, maksudnya apa..? Seperti santan kelapa untuk mendapatkan gaji atau upah buruh harus siap diperas tenaganya hingga maksimal dengan pendapatan yang sedikit lalu habis dan tidak bisa memenuhi kebutuhan satu bulan.

Coba sedikit kalkulasi bodoh yang kita lakukan. UMR sekitar +/-Rp 900.000/bulan / Rp.30.000/hari. Cukupkah dengan UMR sebesar itu buruh untuk hidup? Coba bandingkan dengan gaji DPR yang lebih dari 20X gaji UMR ++ uang yang dikorupsi. Jadi benarkah Dewan Perwakilan Rakyat mewakili rakyat yang notabene adalah kaum buruh ini?

Cukupkah UMR untuk hidup dalam satu bulan untuk kaum buruh? Jawabnya ya harus cukup, di tengah melambungnya harga gas/minyak tanah, harga beras yang tinggi. Lalu bisakah buruh hidup sejahtera? Jawabnya dengan jelas dan lugas adalah tidak bisa. Lalu adakah solusi untuk ini? Jawabnya sekali lagi tidak ada. Jika jujur ditanya pada hati nurani tidak ada 1 orang pun yang menginginkan menjadi buruh, tapi sistem keadaan ekonomi yang ada membuat keadaan seperti ini.

Buruh adalah lambang dari penyiksaan fisik dan nurani dipentaskan berkali-kali dan penonton yang tak bertepuk tangan itu tetap diam, tidak beranjak dari kursinya. Nyaman menikmati hidangan yang tersaji untuk menggendutkan perut-perut yang sudah membuncit itu oleh oknum pejabat, aparat dan pengusaha hitam, dan sebuah pengakalan buruh yang terjadi sistematik dengan rencana perubahan UU 13.

Kita selalu melihat paradoks yang sama, yang terjadi berulang-ulang, dan pihak yang punya kewenangan jika ditanya selalu memberikan jawaban buntu. Lalu siapalah pejabat ini? Hanya ingat kebobrokan negeri ini di kala kekurangan, dan sekejap saja melupakan jika sedang perut terasa kenyang. Cuma bisa teriak-teriak saat ingat, tapi kemudian lena karena menang sumpeknya persoalan hidup sehari-hari.

Sejarah awal May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.

Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres merubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Besok adalah tanggal 1 Mei saatnya buruh Indonesia memperingati harinya, saat nya kaum buruh meminta dengan damai kepada pemerintah untuk dapat meningkatkan kesejahteraan kaum buruh, yang hampir 80 juta jiwa penduduk indonesia adalah buruh, tetapi inilah Indonesia, selalu kaum buruh yang banyak yang tertindas oleh kalangan sedikit pejabat yang berwenang.

Selamat Hari Buruh International... Maka Buruh Bersatulah...semoga dapat terwujud Buruh Indonesia yang sejahtera.... bukan buruh yang hanya dapat Upah Minimum....


Depok 30 Mei 2008


Best Regard
Erwin Arianto,SE
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED, INOVATION & INDEPENDENCY

Bookmark and Share

Tag/Label opini, buruh, hari buruh, mayday, 1 mei
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
11 komentar pada warta ini
Rabu, 30-04-2008 12:49:30 oleh: aryani

artikel yang cukup bagus dan menambah wawasan. memang seharusnya DPR itu dipilih orang orang yang benar benar punya jiwa pejuang tanpa terlalu memikirkan pamrih....tapi jaman sekarang ????
semoga makin ke depan indonesia makin maju.
Pak erwin, ada salah ketik di penutup yaitu depok 30 mei 2008, mugkin maksudnya 30 april 2008 ya....

salam,
aryani




Rabu, 30-04-2008 13:09:43 oleh: bajoe

Mas Erwin,
pertama-tama aku ucapkan salut kepada Mas, karena tulisan tentang buruh, adalah tulisan yang jarang. Ini menunjukkan kepedulian Mas Erwin pada masalah perburuhan.

Namun aku ingin mengritisi 3 hal dari artikel di atas :

1. Tidak ada 1 orangpun yang ingin menjadi buruh, karena buruh lambang penyiksaan? Kalimat-kalimat ini justru akan menguatkan anggapan menjadi buruh memang sudah takdirnya sengsara. Jadi jangan minta sejahtera segala. Tidak Mas, menjadi buruh adalah profesi yang mulia. Tanpa ada buruh, sistem ekonomi kita akan runtuh, karena tidak ada yang memproduksi. Sama seperti petani, yang menghasilkan pangan. Masalahnya adalah bagaimana menjadi buruh sejahtera, yaitu ya upah yang layak. Di negara2 Eropa, Jepang, Korea Selatan, menjadi buruh makmur-makmur lho.

2. Penindas buruh tidak selalu pejabat atau anggota DPR lho. Dengan UU no 13 yang sekarang ini, sebagian hak buruh terlindungi lho. Tapi praktek di lapangan UU ini tidak jalan. Siapa yang bertanggung jawab? Ya,pegawai Depnaker setempat dan pengusaha itu. Di sini ada peran pengusaha, dan menurutku cukup besar berkontribusi terhadap sengsaranya buruh. Karena paradigma pengusaha kebanyakan, buruh adalah sekedar komoditi, aset ataupun deretan angka yg mesti dibayar setiap bulan. Paradigma ini yang mesti berubah.

3. Terakhir, yang dinamakan buruh sebenernya semua orang yang menjual tenaga dan pikirannya. Jadi bukan hanya pekerja kasar di pabrik, tetapi para pekerja di kantoran yang berdasi, parfum wangi, tetap saja seorang buruh. Hanya saja di sini ada istilah eufemisme-nya : karyawan, staf, dll. Di belahan lain dunia, para karyawan ini juga merayakan hari buruh. Cuma di Indonesia saja, mereka yang menyebut diri karyawan merasa bukan bagian dari buruh. Mungkin contoh buruh yang sudah sejahtera dan lupa solidaritas pada buruh lain, adalah para karyawan ini.

note: aku juga buruh,meski orang sering mengategorikan karyawan :)




Rabu, 30-04-2008 13:10:30 oleh: Meidy

Setiap tgl 1 Mei (hari buruh) di beberapa negara seperti Malaysia, Philipine, Rusia, Singapore, South Africa, Taiwan, Thailand, Vietnam adalah hari libur.
Di USA hari buruh diperingati setiap tanggal 5 September juga libur.

Di Indonesia boro-boro. Besok libur bukan karena hari buruh :-(




Rabu, 30-04-2008 13:53:46 oleh: Anwariansyah

@Mas Bajoe
Mungkin yg dimaksud buruh sama Mas Erwin Aianto adalah terjemahan dari kata bahasa Inggris "labour". Di negara barat biasanya pekerja kasar di pertambangan, pertanian, perkebunan dan pabrik-pabrik industri. Sedangkan yg levelnya di atas itu biasa disebut "employee". Makanya dijaman Orba karena ada ketakutan politik dari pemerintah, istilah buruh diganti dengan pekerja (Serikat Buruh menjadi Serikat Pekerja). Karena di barat sana serikat buruh bisa membentuk Partai Buruh. Kalau disebut pekerja akan terdengar lebih terhormat (kayaknya).




Rabu, 30-04-2008 16:15:50 oleh: Ign. Taat Ujianto

Urun rembug, menambahkan komentar Mas Bjoe,
Istilah "buruh" dalam persfektif sejarah perburuhan di Indonesia mengalami penyempitan makna. Itu benar. Tetapi tidak hanya karena dampak digantikannya dengan istilah "kaum pekerja/karyawan", tetapi juga diakibatkan oleh hilangnya wacana tentang "teori kelas" seperti banyak dibahas oleh Karl Marx. Bila menggunakan pisau bedah "teori kelas", maka "kaum buruh" tidak hanya menunjuk pada orang-orang yang bergantung paka pabrik, karyawan yang berdasi maupun tidak, tetapi juga pembantu rumah tangga, buruh tani, kaum pengangguran, pekerja kontrak yang selalu berpindah kantor, dll. Dalam teori kelas, salah satu poin penting memahami kelompok "buruh" adalah kelompok yang tidak mempunyai alat produksi untuk menopang hidupnya, dan hanya mengandalkan tenaganya untuk dijual.
Wacana "teori kelas" setelah tahun 1965 jarang sekali dibahas lagi dalam dunia pendidikan formal. Akibat pelarangan segala hal yang berbau pemikiran "Karl Marx" selalu dipandang miring, ateis, tak perlu dipelajari. Padahal, sebagai ilmu pengetahuan, pemikiran Karl Marx dalam berbagai hal sangatlah penting. baik ilmu sosiologi, antropologi, politik maupun ekonomi. Dalam menelanjangi ketidakadilan sistem kapitalisme, karya Marx tetaplah menempati prioritas yang utama.

Salam Kompak
Taat




Rabu, 30-04-2008 18:11:16 oleh: Phil lea

Saya ingin mengkritisi atas tulisan mas Erwin dan Mas Bayu :
1.Mengenai Pengusaha hitam.
2.Di sini ada peran pengusaha, dan menurutku cukup besar berkontribusi terhadap sengsaranya buruh.

Untuk butir 1 dan 2, kelihatannya memojokkan pengusaha, memang tidak semua pengusaha "baik",dan juga tidak semua pengusaha "tidak baik".
Begitu juga tidak semua buruh "baik semua", dan juga tidak semua buruh "tidak baik semua", jadi kalau kita dapat melihat dengan kacamata yang jernih, karena pada dasarnya setiap komponen pasti melihat dari sisi kepentingannya sendiri, dan jangan lupa, mengapa buruh kita dihargai rendah ???????, karena memang kwalitas kerjanya/skill-nya dibawah rata-rata, saya yakin sekali,apabila skill/keahlian buruh kita diatas rata-rata, pasti si pengusaha akan memberi lebih dari UMR/KLH yang berlaku normatif, cuma masalahnya disini sekarang dalam keadaan perekonomian yang makin terpuruk dan ketidak jelasan dari keamanan dan kenyamanan berusaha di negara kita, masih maukah investor asing berinvestasi dalam sektor padat karya di sini..???, mari kita pikirkan bersama.!!
Selamat hari Buruh.!!




Rabu, 30-04-2008 19:13:55 oleh: Retty N. Hakim

He...he...he...komentar pak Phil benar sekali, ditambah lagi kwalitas manajemen pengusaha/skill yang juga belum sanggup jadi wirausaha tapi memaksakan diri terkadang cukup bikin pusing untuk mengatur manajemen keuangan dan manajemen SDM, tapi sekarang katanya sudah ada yang memberi tambahan kurikulum bagaimana menjadi pengusaha yang efektif...mudah-mudahan juga membahas unsur upah dan kualitas hasil kerja.



Kamis, 01-05-2008 09:32:17 oleh: Anwariansyah

Permasalahan perburuhan adalah bukan masalah ekonomi semata. Menurut teori kapitalisme memang buruh adalah aset, yg berarti bisa dilepas bila sudah tidak menguntungkan, dan bisa masuk komponen biaya, yg berarti bisa dipangkas bila perusahaan ingin mengurangi cost. Tapi menurut kacamata sosial budaya (agama dan etika) buruh adalah manusia, yg sudah sepantasnya "dimanusiakan", bukan "dibarangkan". Nah, untuk menjadikan buruh sbg manusia disinilah peran manusia lain, yaitu pengusaha dan pejabat pemerintah.
Sudah saatnya juga para buruh bangkit memanusiakan dirinya. Buruh memang harus mempunyai peran politik. Hidup para buruh !




Jumat, 02-05-2008 07:45:06 oleh: bajoe

waduh Pak Phil Lea,

pernyataan Anda berbahaya sekali. Ini mungkin cara pikir yang sesat, mencampur aduk soal yang berbeda. UMR adalah keputusan politis dari pemerintah untuk melindungi hak minimal seorang buruh, agar tidak dibayar semena-mena. Dan patut diketahui, UMR di Indonesia masih belum menyamai kebutuhan hidup minimal (ini ada standarnya, bisa dicek di BPS dan Depnaker).

Nah soal kualitas rendah buruh kita, itu soal lain, jangan dikaitkan dengan UMR. Untuk pengusaha, bisa memilih kok. Kalo kualitas seorang buruh tdk sesuai standar pabriknya, ya jangan diterima. Atau pilihan lain, pekerjakan buruh, lalu antar buruh diberi insentif yg berbeda. kalo yg berkualitas, kinerjanya bagus dapat tambahan insentif. kalo yg biasa2 aja, ya cukup UMR.

Kalo alasan kualitas buruh dijadikan alasan membayar di bawah UMR, itu alasan yang mengada-ada. Karena UMR, itu saja sudah di bawah standar hidup minimal.

Pengusaha sedang kesulitan usaha/keuangan? Di UU, dimungkinkan membayar di bawah UMR, asal ada kesepakatan antar pihak. Di sini penting adanya serikat buruh, sehingga ada komunikasi. Banyak contoh kok, misalnya pabrik tekstil yang sekarang lagi susah, buruh-buruhnya mau dibayar seadanya, asalkan tetap bekerja. Yang penting di sini adalah transparansi dan kepandaian manajer HRD berkomunikasi dengan serikat buruh. Karena kadang justru komunikasi macet, karena orang HRD-nya jelek banget komunikasinya.

Yang bikin buruh resah adalah bila pengusaha ngakunya kesulitan keuangan, tapi tidak nampak dalam perilaku sehari-hari. Jajaran manajer dan direksi tetep saja mendapat fasilitas lebih, sementara buruhnya dibayar di bawah UMR. Ini untuk kasus2 di pabrik ya. Kalau usaha skala kecil, tentu beda lagi kasusnya.




Jumat, 02-05-2008 10:25:35 oleh: Anwariansyah

@bajoe
Saya setuju. Dan seharusnya bila kualitas SDM (buruh, pekerja) rendah, itu juga termasuk kewajiban si pengusaha untuk memberikan pendidikan, pelatihan agar SDM semakin berkualitas. Kira-kira begitulah.




Senin, 05-05-2008 14:59:13 oleh: Ign. Taat Ujianto

Pak Phil: "kelihatannya memojokkan pengusaha, memang tidak semua pengusaha "baik",dan juga tidak semua pengusaha "tidak baik".

Klasifikasi semacam ini menandakan kekurangpahaman tentang kepentingan pokok antara buruh dan pengusaha. Sekali lagi, dengan analisa kelas, istilah "Buruh baik atau jelek" dan "pengusaha baik atau jelek", bukanlah hal yang paling penting. Antara pengusaha dan buruh ada antagonisme kepentingan yang saling berkontradiksi. Itu, adalah karakter yang melekat dalam kapitalisme yang HANYA BISA HIDUP melalui "pencurian" atas nilai lebih yang telah dihasilkan oleh kelas buruh. Tanpa kelas buruh, nilai lebih tidak akan bisa diciptakan..... contoh: mesin saja tak akan bisa berproduksi, perlu tenaga kerja. Bila perusahaan memperoleh "nilai lebih" yang besar, memang bisa membuat kaum buruhnya berpenghasilan tinggi (contoh: Buruh Gramedia/Kompas). Tapi, apa yang diterima kelas kepitalis (pengusaha) yang sekali lagi "NILAI LEBIH" yang direnggut dari hak-nya buruh, jauh lebih besar pula.... Dalam sistem seperti ini, tidak akan pernah, kaum buruh memperoleh haknya sama dengan jerih payahnya.... sebab, bila seluruh keuntungan perusahaan dibagi merata apa adanya kepada buruh, maka AKUMULASI MODAL sebagai tujuannya tidak bisa tercapai. Dengan demikian, sudah dapat dipastikan, buruh adalah kelas yang ditempatkan oleh sistem, untuk menjadi "sapi perahannya" kelas kapitalis.... Itu pasti!
Dan Benar: kelas buruh harus bersatu....
Hidup Buruh

Salam
Toat




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY