Ulfa Yuniati

Mekanisme Baru dari Depkes, Diharapkan Lebih Baik

Minggu, 27-04-2008 10:06:51 oleh: Ulfa Yuniati
Kanal: Opini

Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) naik, sembilan bahan pokok (Sembako) naik, para pencari berita, kamera di mana-mana, hendak mewawancarai masyarakat miskin. Masyarakat miskin menjadi terkenal karena kekurangannya itu. Menjadi artis dalam waktu sekejap karena permasalahan naiknya harga BBM dan Sembako. Biaya untuk makan saja kurang, eh malah ditambah naiknya BBM. Belum lagi kalau ada yang sakit, tambah repotlah masyarakat miskin.

Keberadaan masyarakat miskin seakan tak dilihat oleh pemerintah, walaupun masyarakat miskin telah diberitakan dimana-mana. Seakan-akan masyarakat miskin itu tak ada. Mengenai program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin) yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan (Depkes) nyatanya tak banyak membantu masyarakat miskin selama ini. Banyak masyarakat miskin yang belum terdata, juga keluhan-keluhan dari Rakin mengenai Askeskin itu sendiri.

Konflik Antara Depkes dan PT Askes

Menteri Kesehatan (Menkes), Siti Fadillah Supari, mengganti program Askeskin menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Tak ada yang berubah dalam program itu, kecuali dalam manajamen keuangan. PT Asuransi Kesehatan (Askes), yang semula dipercaya mengelola keuangan secara penuh, kini tidak lagi mengelola (Koran Tempo, Selasa, 01/04).

Sebelumnya, seperti diberitakan di (Media Indonesia, Rabu, 13/02). Ada konflik yang terjadi antara PT Askes dan Depkes. PT Askes menyatakan setuju dengan mekanisme baru yang ditawarkan melalaui surat resmi yang diberikan kepada Siti Fadillah Supari. Mekanisme baru yang disetujui PT Askes ini antara lain; Pertama, pembayaran tidak dilakukan melalui PT Askes, tetapi dari kas negara langsung ke rumah sakit. Kedua, verifikasi dilakukan petugas independen yang tidak melibatkan sama sekali PT askes.

Namun nyatanya, isi surat tersebut tidak seperti yang disebutkan Menkes. Dalam surat itu, PT Askes menyodorkan tiga hal pokok. Yang pertama, PT Askes selaku BUMN siap menjalankan tugas dari pemerintah. Kedua, apabila Depkes tidak percaya dengan kinerja PT Askes, PT Askes bersedia di audit oleh auditor independen. Ketiga, PT Askes menyarankan sesuai dengan tujuan Sistem Jaminan Sosial (SJSN), sebaiknya mekanisme program Askeskin dijalankan sama pada 2006. Dengan kata lain kembali ke pola lama. Pembayaran dan verifikasi dilakukan PT Askes (Media Indonesia, Rabu, 13/02)

Konflik yang terjadi antara Depkes dan PT Askes memang berdampak pada terlambatnya pembayaran klaim di rumah sakit rujukan Askeskin. Contoh konkretnya, pemberitaan di Koran Tempo, Jumat, 15 Februari 2008, mengenai keterlambatan penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI jakarta berimbas pada molornya pembayaran klaim kesehatan pengguna kartu keluarga miskin di rumah sakit negeri atau swasta di Jakarta. Jumlahnya tidak kira-kira, 80 rumah sakit diminta untuk menalangi biaya pelayanan kesehatan pengguna kartu keluarga miskin.

Ini tentu saja, membuat pihak rumah sakit yang diberi tanggung jawab untuk menangani masyarakat miskin, kerepotan. Karena molornya pembayaran klaim kesehatan pengguna kartu keluarga miskin.

Menyoal keterlambatan pembayaran klaim biaya pelayanan Askeskin dari PT Askes, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dalam situs pemerintahan Republik Indonesia (RI) yang ditulis oleh bagian Koordinator Kementrian Kesejahteaan Rakyat, mengatakan hal itu antara lain terjadi karena proses pencairan klaim PT Askes terlalu panjang. Sebelum disalurkan ke rumah sakit rujukan, katanya, dana Askeskin dari PT Askes pusat harus disalurkan dulu ke kantor regional PT Askes dan mengendap beberapa waktu di kantor regional.

Namun Direktur Utama PT Askes Orie Andari Sutadji tidak membenarkan pernyataan itu dan menyatakan bahwa pihaknya waktu itu belum membayarkan klaim Askeskin karena dana Askeskin dari pemerintah memang telah menipis. Dana Askeskin tahun 2007 yang telah disalurkan ke PT Askes senilai Rp 1,7 triliun hanya cukup untuk membayar klaim biaya pelayanan Askeskin rumah sakit hingga periode Mei 2007.

Juga, terkait dengan masalah Depkes tidak lagi kerja sama dengan PT Akses Faktornya adalah, pertama, Tuntutan PT Askes yang meminta pemerintah menaikan premi per kapitasi (per kepala) dari sebelumnya Rp 5000,00 per kepala menjadi Rp 9600,00 menjadi salah satu pertimbangan Depkes menghentikan kerjsama.

Depkes menilai managerial PT Askes dalam mengelola Askeskin dinilai tidak beres. Hal ini berujung pada banyaknya masalah dalam proses pelaksanaan Askeskin 2007.

Nah, jika kita melihat ke bagian pasien Askeskin. Kita akan menemukan banyak keluhan-keluhan yang datang dari pasien keluarga miskin (gakin) itu sendiri. Keluhan-keluhan mengenai pelayanan kesehatannya, perlakuan dari pihak rumah sakit sendiri untuk mengatasi pasien gakin, yang hanya mengandalkan Askeskin saja, dan sebagainya.

Ambil contoh di dua kota, yaitu Bandung dan Jombang. Mengapa? Karena ini perbandingan antara kota besar dan kota kecil.

Bandung, Warga Cionyam, RT 03/03, Kel Palasari, Kec Cibiru, yang dirawat di kelas II diharuskan melunasi pembayaran Rp 16 juta. Ningsih namanya, terpaksa menjalani operasi melahirkan pada 5 Februari karena menderita selaput kista di rahim. Operasi berjalan lancar. Karena tidak ada uang untuk melunasi seluruh biaya perawatan dan operasi, untuk sementara diperbolehkan pulang. Tapi pihak rumah sakit berkata, ini tidak ada penyanderaan, tetapi karena terjadi kesalahan prosedur administrasi (Seputar Indonesia, Selasa, 19/02).

Senada dengan di atas, di Jombang, Sunyoto warga Wersah Jombang, berniat untuk menebus resep dari dokter tidak terpenuhi. Dengan alasan obat tersebut tidak terdapat dalam daftar obat di PT Askes, hal ini menunjukkan pemerintah belum sepenuhnya memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Artikel tersebut ditulis oleh Miftachul Ansori, 9 April tahun lalu, di salah satu media elektronik—internet.

Jika pertamanya sudah diawali dengan konflik dari Depkes dan PT Askes. Malah menunjukkan bahwa program ini nantinya akan berjaan lancar atau tidak. Keluhan-keluhan yang datang dari pasien gakin ketika mendapatkan pelayanan yang tidak baik, ketika ada masalah dengan kartu Askeskin tersebut. Membuat para pasien gakin berpikir dua kali untuk berobat ke rumah sakit.

Adanya perbedaan diskriminasi antara si kaya dan si miskin membuatnya menjadi-jadi. Diskriminasi pada pelayanan kesehatan, baik hal yang terkecil sampai hal yang terbesar. Hal yang terkecil misalnya dalam kisah Sunyoto di atas. Ini merupakan diskriminasi dalam pelayanan obat. Dimanakah rasa iba para pekerja di rumah sakit? Apalagi jika pasien askeskin meninggal?

 

Pemerintah Segera Cari Solusi

Dari masalah-masalah seperti ini, seharusnya pemerintah segera mencari solusi untuk program Jamkesmas. Tapi nyatanya, pemerintah sampai sekarang kurang memperhatikan rakyatnya sendiri.

Tugas pemerintah untuk mencari solusi atas segala persoalan yang dihadapi rakyat hampir tidak dilakukan. Akibatnya, antara pemerintah dan rakyat yang dperintahnya tidak nyambung. Tidak heran kalau rakyat berjalan sendiri-sendiri, tutur Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Amat Nasional Soetrisno Bachir di Jakarta, hari Minggu, 24 Februari 2008 (Kompas, 26/02).

Sebenarnya mencari solusi itu gampang, yang susah dari pelaksanaannya sendiri. Mau bersungguh-sungguh apa tidak untuk melakukan tindakan seperti itu. Kalau dari pemerintahnya malas menanggapinya, tidak akan berubah nasib rakyat Indonesia.

Dari segi Kesehatan, solusi yang telah dikeluarkan Menkes berupa program baru dan mekanisme baru mengenai Askeskin. Program baru dan mekanisme baru itu, apakah nantinya akan berjalan lancar atau tidak? Itu masalahya. Pernah beberapa aggota Komisi Kesehatan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mempersoalkan program ini. Alasannya, program itu tak disinkronkan dengan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Koran Tempo, 01/04).

Banyak solusi-solusi lain, bila program tersebut dipermasalahkan. Pemerintah bisa berangkat dari, misalnya, memberikan fasilitas pelayanan yang lebih pada masyarakat gakin yang ingin berobat atau menambah anggaran. Sebelum semua itu dilaksanakan, pemerintah terlebih dahulu mendata masyarakat gakin di seluruh Indonesia. Ini sudah menjadi syarat utama sebelum memulai sesuatu yang baru, agar pemerintah tahu berapa biaya yang dikeluarkan. Beres kan, tidak ada masalah seperti molornya pembayaran klaim, keluhan-keluhan yang datang dari pasien Askeskin, dan sebagainya.

Tapi, kalau Depkes tetap bersikukuh dengan mekanisme baru itu, diharapkan keadaan pasien Gakin menjadi lebih baik. Semua hal yang sudah terjadi, harap diperhatikan dengan baik-baik. Agar pasien Gakin tak kecewa.

Jika program ini berhasil, pemerintah bisa mencari solusi untuk kasus korupsi yang tidak kunjung hilang, pembalakan liar, dan sebagainya. Kami berharap, tidak akan lagi kasus korupsi atau masalah lainnya datang. Juga dengan ini pemerintah lebih memperhatikan masyarakatnya. Perhatikan setiap langkah jika mau mengeluarkan aturan-aturan itu. Apa tidak akan menimbulkan masalah nantinya.

 

 

Ulfa Yuniati

Mahasiswa Jurnalistik, Fikom, Unpad, Jatinangor

Bookmark and Share

Tag/Label opini, depkes, askes, bbm, sembako, miskin
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
2 komentar pada warta ini
Senin, 28-04-2008 10:14:58 oleh: Anwariansyah

Ciri khas birokrasi di Indonesia yang berbelit-belit adalah pejabatnya tidak antisipatif dan cenderung reaksioner tapi lambat mengambil keputusan (Menunggu diributi masyarakat), kurang inovatif dan kreatif, suka saling melempar permasalahan dan kesalahan.
Nah, para pejabat atau mungkin presiden sekalian, gimana, nih ?




Jumat, 30-05-2008 12:20:44 oleh: oktav

@ Ulfa Yuniati:

sebenarnya yang gak becus itu Menkes nya. Suka ngomong ngawur dan memutarbalikan fakta. Askes tdk pernah minta naikan premi dari 5000 menjadi 9600. angka 9600 hasil hitungan premi secara aktuaria. premi asuransi hrs dihitung scr aktuaria. Depkeslah yang meminta Askes menghitung scr aktuaria, dan hasilnya dilaporkan ke Depkes. ehh... malah dikiraian askes yang minta naikan premi.
mau tau bedanya kinerja Menkes:
flu burung, gizi buruk meningkat, askeskin ribut dll.
kinerja askes: lihat di
http://opini-manadopost.blogspot.com/2008/03/prestasi-kinerja-askes-2000-2007.html




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY