Ada hal yang menarik dari perayaan Hari Pers Nasional tanggal 9 Februari kemarin. Presiden SBY mencanangkan gerakan yang cukup unik, yaitu Gerakan Nasional Membaca Koran. Menjadi menarik karena seakan-akan membaca koran adalah hal yang 'langka' di masyarakat. Benarkah?
Secara umum, budaya membaca masyarakat kita belum bisa dikatakan memiliki kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara yang memadai. Hal itu bisa dilihat dari beberapa indikator yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran bangsa Indonesia akan nilai penting pengembangan minat baca tersebut. Untuk tingkat buta huruf penduduk Indonesia, diperkirakan masih mencapai angka di atas 8% (Depdiknas, 2007). Selain itu, rata-rata partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan masih rendah. Terutama untuk 7-12 tahun dan 13-15 tahun hanya mencapai angka 95,26% dan 82,09% bahkan untuk tingkat perguruan tinggi hanya mencapai angka 13% (BPS, 2006).
Padahal kita memiliki sebuah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang terbilang lengkap, termasuk koleksi katalog CD, Foto Dalam Album, Kaset Audio, Majalah Langka, Manuskrip, Mikrofilm, Monograf, hingga Peta, dengan koleksi 1.976.150 buku. Selain itu kita juga memiliki 2.583 perpustakaan umum, 117.000 perpustakaan sekolah dengan total koleksi 106 juta buku, 798 perpustakaan universitas, dan 326 perpustakaan khusus. Lalu didukung dengan jumlah penerbit yang terdaftar di IKAPI sebanyak 691 atau sekitar 750 lebih jumlah penerbit di seluruh Indonesia. Ditambah lagi dengan beberapa jaringan toko buku besar serta toko buku kecil maupun kios buku yang berjumlah 2.000 lebih.
Pencanangan gerakan nasional membaca koran sepatutnya kita dukung penuh. Namun yang menjadi masalah adalah apakah gerakan itu mampu mencabut akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu kurangnya minat baca? Untuk segmen masyarakat urban, budaya membaca sudah merupakan suatu kebutuhan. Coba kita lihat di stasiun kereta api Jabotabek, budaya membaca bukanlah hal yang langka. Koran-koran seperti Warta Kota, Non Stop, hingga Koran Tempo laris manis.
Bagaimana dengan masyarakat rural yang tidak bisa terjangkau oleh distribusi koran? Bagaimana pula dengan masyarakat kecil yang tidak mampu membeli koran? Bagaimana dengan segmen remaja yang notabene sangat jauh dengan budaya membaca?
Bagi saya, gerakan nasional membaca koran terlalu sempit. Apabila tujuannya untuk mendorong masyarakat mengakses informasi, maka saat ini ada banyak media yang bisa dimanfaatkan seperti internet, radio, hingga TV. Namun patut kita hargai apa yang telah dicanangkan oleh Presiden SBY, karena sampai saat ini masyarakat kita masih berjuang untuk menuju masyarakat yang melek aksara.
Sumber gambar:http://membership.acs.org