Leonardo Paskah Suciadi

Obat Generik vs Obat Paten

Sabtu, 09-02-2008 12:52:57 oleh: Leonardo Paskah S
Kanal: Kesehatan

Obat Generik vs Obat Paten

Siapa bilang beli obat selalu mahal ? Buktinya, saya baru saja pulang dari apotek membeli 3 jenis obat yang totalnya 40 butir dengan harga ‘hanya’ Rp.5000,-. Lho kok bisa? Lah iya, wong saya belinya obat generik kok. Mungkin lantas beberapa orang akan berkata ‘iih ngapain generik, pantesan aja murahan!’. Itu adalah persepsi yang lazim di dalam masyarakat bahwa obat generik yang murahan itu kurang bagus dibanding obat paten. Sayangnya, secara umum, persepsi itu keliru. Yang benar obat generik itu memang murah tapi bukan murahan. Obat generik adalah obat yang khasiatnya sama persis seperti obat paten dengan komposisi yang serupa. Yang membedakan harganya antara langit dan bumi adalah cerita di balik pembuatan dan pemasarannya.

Obat itu ternyata lebih gaul dibandingkan anda dan saya, soalnya satu obat memiliki 3 macam nama sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Ketiga nama itu adalah nama kimia (rumus kimiawi), nama generik (nama yang dikenal di kalangan medis umum, sama di seluruh dunia) dan nama paten/dagang (nama yang diberikan dari perusahaan obat yang memproduksi). Sebagai contoh panadol (nama dagang-paten) memiliki nama generik paracetamol serta nama dagang acetaminophen. Jadi jika Anda mendapatkan resep generik parasetamol yah jangan protes, itu kan sama aja Anda mendapat panadol tanpa merk yang notabene harganya jauh lebih murah ( sebagai perbandingan, sebutir panadol harganya Rp.400-an, sedangkan paracetamol Rp.90-an). Tentang khasiat dan efek sampingnya? Yah sama aja.

Obat generik adalah obat yang merupakan tanggung jawab pemerintah dalam mengupayakan kesehatan masyarakat, oleh karena itu bahan baku obat generik itu sebagian ditanggung anggaran pemerintah (disubsidi seperti bensin premium). Jadi jangan heran jika harganya jauh lebih murah. Tentang bahan baku yang digunakan, obat generik berbahan baku sama dengan obat paten terkait, yaitu sama-sama bahan impor lagi! Jadi bagi Anda yang suka serba impor, obat generik pun sebenarnya obat berbahan impor lho! Obat generik di produksi oleh pabrik yang telah ditunjuk pemerintah dan padanya terdapat harga eceran tertinggi sehingga apotek tidak dapat menjual dengan harga seenaknya. Saat ini sudah sekitar 90% jenis obat paten yang diminum sudah diupayakan generik tandingannya oleh pemerintah sebagai upaya meningkatkan akses masyarakat akan kesehatan.

Tapi perlu ditekankan, tidak semua obat ada generiknya.Terutama obat-obat dengan struktur kimia yang lebih baru, tentunya itu adalah hasil penelitian yang bertahun-tahun dan menghabiskan banyak dari perusahaan farmasi terkait, sehingga biasanya mereka mematenkan produk itu. Paten itu bertahan secara hukum selama 20 tahun, jadi untuk obat baru tentu saja tidak akan pernah ada generik selama sampai 20 tahun setelahnya. Demikianlah yang terjadi dengan beberapa antibiotik generik yang ada sekarang, dulu saat baru dipatenkan yah tidak ada generiknya, namun setelah masa paten habis maka setiap perusahaan farmasi dapat membuatnya. Untuk beberapa obat yang lebih menjurus spesialisasi seperti obat-obat jantung, interna, saraf, urologi, dll memang belum ada generiknya, begitu pula untuk antibiotik mutakhir. Sehingga jika menurut dokter, Anda memang memerlukan obat seperti tersebut, maka mau tidak mau Anda harus diresepkan obat paten. Dan dalam kasus antibiotik memang tepat dikatakan bahwa obat paten lebih baik daripada generik, soalnya obat paten memang memuat komposisi kimiawi yang lebih dasyat menghancurkan agen infeksi. Obat antibiotik memang seakan perlombaan perang antara kecanggihan obat dengan kuman yang terus memperkebal diri, jadi susunan kimiawi antibiotik yang baru relatif lebih baik membunuh kuman yang sudah kebal terhadap obat antibiotik susunan lama yang sudah dikenal oleh si kuman. Contohnya antibiotik roxitromycin (paten) adalah lebih ampuh dibandingkan Eritromisin(generik) dosis sesuai untuk mengobati infeksi saluran napas lanjut.

Lalu mengapa banyak dokter yang masih enggan memberi obat generik? Kalau pertanyaan ini yah tentunya jawabannya relatif banyak, dan hanya si dokter itu sendiri yang tahu. Kemungkinan terburuk karena pesan sponsor. Tapi kemungkinan lain adalah memang obat yang si dokter mau memang belum ada generiknya. Dan kemungkinan yang tidak boleh dilupakan juga adalah terkait dengan persepsi negatif di masyarakat seperti tadi tentang obat generik. Terkadang dokter merasa gengsi jika meresepkan obat generik, apalagi jika ia seorang dokter spesialis, karena nantinya si pasien (umumnya kaum menengah ke atas) akan mengatakan si dokter murahan dan kurang percaya untuk minum obat yang diresepkan. Jadi lebih baik ia memilih meresepkan obat paten. Dan kasus ini banyak dijumpai di klinik bahkan di puskesmas, saya sendiri pernah menjumpai. Padahal di puskesmas yah obatnya generik semua. Karena si pasien ngotot, akhirnya saya meresepkan obat untuk ditebus di apotek. Padahal kan isinya sama saja. Jadi saran saya, jangan enggan dan ragu meminta dokter Anda meresepkan obat generik, jika memang obat itu tidak ada generiknya, baru deh mau ga mau si obat paten dibeli. Dan satu lagi, jika Anda sedang berkonsultasi dengan seorang dokter tentang obat yang Anda sedang minum, sebutkanlah nama generik bukan nama dagangnya. Karena satu obat generik bisa memiliki lebih dari 20 nama dagang dan tidak ada satupun dokter di dunia yang mampu menghafal semua nama dagang. Dalam pendidikannya, selalu nama generik yang kami pelajari dan kami dilarang menyebut suatu nama dagang.

 Semoga sekarang Anda tak ragu lagi mengkonsumsi obat generik, yang penting aman dan bisa sembuh kan? Siapa juga yang mau makan merk dagang....

Bookmark and Share

Tag/Label Tidak ada tag/label untuk artikel ini.
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
19 komentar pada warta ini
Senin, 11-02-2008 13:28:49 oleh: kasyanto

luar biasa berguna..
saya jadi lebih pede menggunakan obat generik.
terima kasih dok!




Senin, 11-02-2008 17:00:23 oleh: Sandhy ED

Wah.., tulisan tentang obat generik dah muncul.
Thank's ya Dok... kampanye obat generiknya ok tuh.

Eh ya nambahin, sebetulnya istilah obat paten di Indonesia agak salah persepsi. Obat paten sebetulnya obat yang belum habis masa patennya, jadi belum boleh diproduksi oleh produsen lain (kecuali sangat dibutuhkan oleh suatu negara, misalnya obat untuk HIV generiknya sudah ada, walaupun masa patennya belum habis.)

Obat paten yang kita kenal sebenarnya adalah obat me too, dimana produsen memproduksi suatu obat yang masa patennya sudah habis... seperti parasetamol tadi.

Ok wikimuers semua, selamat menggunakan obat generik... kalau kata ibu Nury, kita kan makan obatnya, bukan bungkusnya :)




Senin, 11-02-2008 19:37:40 oleh: Leonardo Paskah S

Sedikit ralat..pada paragraf ke-2 maksudnya acetaminophen adalah nama KIMIAWI bukan nama dagang seperti yg tertulis.
Selain itu pada paragraf ke-4 yang tentang antibiotik, maksudnya beberapa antibiotik paten memang lebih baik khasiatnya dan kekuatannya dibanding yang generik (bukan semua antibiotik selalu lebih baik yang paten). Dan juga contoh roxitromisin yang tencantum di atas sebenarnya nama generik juga, cuma maksud saya belum ada obat generiknya (hanya tersedia dalam obat ber merk dengan komposisi roxitromisin). Thx, semoga semakin jelas....




Selasa, 12-02-2008 16:43:38 oleh: EA Budi Darmawan

Salut untuk kejujuran Anda menuliskan paragraf 5. Adakah lagi Wikimuers yang berprofesi sebagai dokter yang satu persepsi dengan mas LPS ini?



Selasa, 12-02-2008 19:19:35 oleh: gunardi

Profesi dokter sayangnya kurang dihargai masyarakat dengan tarif yang terlalu rendah untuk pengorbanan bertahun-tahun mempelajari ilmu kedokteran. Benar-benar tidak sepadan.

Saya tidak menyalahkan "penyimpangan" yang dilakukan dokter. Saya justru melihat itulah harga yang sebenarnya harus dibayar oleh masyarakat yang tidak menghargai kesehatan.
Daripada membayar premi asuransi dan obat2 bermerk semestinya kita memiliki dokter keluarga.


Saya sungguh salut kepada Dokter Leonardo yang dengan jujur dan tulus membagikan informasi ini kepada kita. Terima kasih ya Dokter.





Kamis, 14-02-2008 07:49:05 oleh: Silvi Anhar

makasih dok, infonya berguna banget. saya vote berguna.
coba semua dokter sepertti anda, juga seperti dr. nury.
oya, dok boleh nanya dikit diluar konteks.. diatas disebutkan antibiotik. apakah jika sakit, antibiotik selalu diberikan? apa efek dari mengkonsumsi terus menerus antibiotik?
karena, pernah, saya biasanya tiap 3 bulan pasti terkena serangan radang tenggorokan parah.. dan selalu diberi antibiotik, tapi pas dijerman, dokternya ga kasih antibiotik, dan itu bertahan cukup lama saya tidak terserang radang tenggorokan lagi. sepulang dari jerman, eh siklus penyakit tiga blan itu datang lagi... dan kembali saya mengjonsumsi antibiotik tsb.... kenapa ya bisa begitu? makasih atas jawabannya.




Kamis, 14-02-2008 12:26:49 oleh: EA Budi Darmawan

4 Mas Gunardi
Maaf, Mas... Saya pikir bukannya masyarakat kurang menghargai profesi dokter dengan rendahnya tarif dokter. Sampai sejauh ini, setahu saya di praktek2 dokter pribadi, pasien hanya 'membayar' jasa diagnosis, konsultasi dan resep sesuai nominal yang disebut oleh dokter yang bersangkutan. Bukan kayak di pengobatan alternatif yang tarifnya 'asal keikhlasan' pasien saja. Jadi sepertinya dokter yang lebih berperan dalam 'menghargai' jasa yang dilakukannya sendiri itu. Nah, kalau pada akhirnya mungkin pasien lebih memilih dokter yang tarifnya lebih murah, atau bahkan ke Puskesmas atau dokter keluarga (kalau menggunakan Asuransi Kesehatan), sepertinya itu manusiawi sekali. Bukan begitu?

4 Mbak Silvi, cuma sedikit berbagi ilmu...
Banyak sekali tulisan yang intinya mengingatkan kita untuk tidak sembarangan antibiotik. Antibiotik dipergunakan apabila dari tanda-tanda klinis memang diperlukan. Demam misalnya. Bukan sembarang demam bisa dikasih antibiotik. Demam karena adanya luka, atau segala kondisi yang apabila udah dilakukan pemeriksaan di laboratorium dan diketahui jenis kumannya, barulah pemberian antibiotik bisa dipertanggungjawabkan.
Dokter2 di luar negeri memang tidak akan dengan mudah memberikan antibiotik. Saya tidak tahu apa pertimbangan banyak dokter di Indonesia jadi 'hobi' mencantumkan antibiotik dalam resep yang ditulisnya. Mungkin karena daerah Indonesia rawan infeksi kali, ya? Hehehe, tapi bukannya orang Indonesia udah kebal?
Pemberian antibiotik dalam jangka waktu lama (apalagi kalo tidak tepat sasaran) akan membuat bakteri (yang seharusnya mati) menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut.
Nah, kesimpulannya... tidak semua dokter salah, tapi tidak semua juga bisa tepat memberikan diagnosis dan peresepan. Tugas kita sebagai pasien adalah selalu awas. Kita punya hak untuk mendapatkan penjelasan akan obat yang kita terima, dan kita juga punya hak untuk mendapatkan pendapat daro dokter lain (second opinion). Semoga berguna...




Kamis, 14-02-2008 13:09:30 oleh: gunardi

@EA Budi Darmawan

Bahwa masyarakat berhak mendapatkan layanan medis yang murah adalah hal yang baik.

Bahwa dokter berhak mendapatkan harga jasa diagnosis yang tinggi adalah hal yang baik.

Selamanya dalam pasar, secara ilmu ekonomi, selalu ada perbedaan kepentingan antara supply dan demand. Dengan asumsi tidak ada intervensi pemerintah, kegiatan iklan/marketing, dan perbedaan kualitas jasa diagnosis akan tercapai suatu titik equilibrium (jumlah barang/jasa & harga barang/jasa)yang memuaskan kedua belah pihak.

Sayang sekali asumsi tidak selalu berlaku sehingga mekanisme pasar tidak berjalan secara sempurna.

Masyarakat mengandalkan intervensi pemerintah untuk mendapatkan harga jasa semurah-murahnya, gratis malah, guna menekan biaya hidupnya.

Dokter mengandalkan kegiatan marketing pabrik farmasi untuk mendapatkan pendapatan setinggi-tingginya, guna meningkatkan penghasilannya.

Dua-duanya manusiawi. Yang lebih penting lagi, dua-duanya berjuang secara legal.Hanya saja saya menduga efek bersihnya sama saja.


Berdasarkan asumsi bahwa efek bersihnya sama saja, saya berteori kalau saja masyarakat lebih menghargai dokter maka akan lebih banyak lagi dokter-dokter seperti Dokter Leonardo yang mereferensikan obat generik, alih-alih obat bermerk.





Kamis, 14-02-2008 14:09:20 oleh: Leonardo Paskah S

Trims Mbak Silvi, saya masi harus banyak belajar...

tentang penyakit Mbak silvi memang umum bgt bagi penduduk Indo, namanya Faringitis kronik (ini secara diagnosa simple saja berdasarkan cerita tertulis Mbak, mgkn juga saya salah karena memang belum melakukan pemeriksaan langsung).
Penyakit radang tenggorok ini memang bandel, dan wajar saja jika Anda kumatnya justru di Indo karena seperti Anda tahu bahwa di Indo udaranya kotor serta lembab, makanan serba gorengan atau panas dan semua itu adalah pemicu kambuhan penyakit Anda (serangan akut). Memang sangat tepat bahwa pada saat serangan muncul antibiotik tidak diindikasikan karena dari hasil penelitian memang tidak byk manfaatnya karena peradangan sudah kronik. Konsultasi ke THT adalah tepat untuk menangani penyakit kronik menahun ini lebih komprehensif disamping sekedar minum obat saat serangan datang. Paling 'mudah'nya menghindari faktor pemicu seperti makanan dan polusi seperti yang saya sebutkan tadi, dan jangan salah loh saya sering mendapatkan pemicu tersering justru si suami pasien sendiri maksudnya asap rokok dari si suami. Jadi jika suami Anda perokok, nah di hari penu kasih sayang ini saatnya yang tepat untuk membujuknya berhenti kebiasaan yang mengerikan tersebut (kampanye Anti-rokok pernah saya tulis di wikimu "Rokok itu Narkoba").
So antibiotik itu bukan obat dewa untuk semua sakit, efek samping macam2 tergantung jenis antibiotik yg macam2, yang sering gangguan ginjal, hati,jantung,alergi,kebutaan dan ketulian jika dikonsumsi terlalu sering dan jangka waktu lama. Selain itu penggunaan yang tidak rasional akan menyebabkan kuman kebal sehingga selanjutnya antibiotik bersangkutan tidak efektif lagi untukmengobati penyakit Anda di hari esok. Semoga bermanfaat, trims..




Jumat, 15-02-2008 12:53:36 oleh: EA Budi Darmawan

Geliat dunia pengobatan dan kesehatan memang luar biasa. Semua punya peran yang hampir sama pentingnya. Akan tetapi, apapun dan siapapun itu yang berperan, prioritas utama adalah kesehatan masyarakat secara umum.



Rabu, 05-03-2008 16:59:56 oleh: Ibn Salim

Maaf nimbrung dikit Mas Leo
Kebetulan skripsi S1 saya 10 tahun lalu
komparasi obat generik dgn non generik (branded) untuk penyakit kecacingan dari sisi farmaseutikanya.

Saya usul judul tulisan mas kayaknya lebih cocok

"obat generik vs obat branded"

Penjelasan mas agak merancukan antara obat paten dengan obat branded (me too)

Soal potensi antibiotik yang masih dalam masa paten dibandingkan antibiotik yang telah habis masa patennya serta telah tersedia baik generik atawa brandednya (me too) itu adalah masalah klaim, yang boleh jadi diasumsikan dari hasil penelitian in vitro, uji pra klinik bahkan uji klinik tahap I dan II tetapi perlu diingat bahwa

"that is just the beginning of evaluation not the end"

Kenyataan dilapangan terjadinya booming peresepan antibiotik oleh prescriber/peresep serta booming (cenderung ke "drug abuse") antibiotik oleh masyarakat (self medication) akibat mudahnya memperoleh antibiotik. Belum lagi "drug abuse" yang berwujud resep polifarmasi.

TQ




Kamis, 17-07-2008 19:59:47 oleh: Regita Andries

Tulisan yang bagus!
Jika semakin banyak dokter yang tidak enggan meresepkan obat generik, akan meningkatkan "rational medicine use".
Saya sangat mendukung pemanfaatan obat generik, terutama demi pemerataan dan keterjangkauan obat bagi sebagian besar masyarakat kita yang masih terbatas kemampuannya.




Jumat, 21-11-2008 19:43:12 oleh: zar_udin@yahoo.com

assalamualikum wr,wb..
cuma saya ingin minta dengan hormat,nama-nama obat paten.salam hormat dari saya sebagai mahasiswa stiks semarang. wassalam,wr,wb.




Jumat, 21-11-2008 19:47:56 oleh: zarudin

asslamualaikum wr wb.
dalam mengatasi masalh pasien yang terkena penyakit tumor ganas pada payudara itu,gimana cara pengobatanya.,,?
coba tolong di jelaskan dalam artikel berikutnya pada email saya,,saya tunggu dari saudara,,wassalam..




Jumat, 13-11-2009 00:22:50 oleh: dokter johanes

Salut untuk teman-teman kolega yang mengutamakan obat generik. dari pengalaman saya obat generik yang sangat perlu di edukasikan pada masyarakat agar mudeng fungsi dan percaya bahwa khasiatnya sama dengan obat patent adalah pertaman Paracetamol, Mebendazol ( obat rakyat 1000 ) , kemudian obat-obat darah tinggi seperti Captopril dan Propanolol, walaupun kini sudah ada seri Amlodinin dan Bisoprolol generik yg bagus namun harganya tidak semurah generik lain. yg jadi kendala masih banyak obat yg belum habis masa patent nya sehingga hanya ada obat patentnya . perlu hikmah dari dokter untuk mencari obat patent/mitu termurah yg bisa dipertanggungjawabkan penresepannya. Kemudian komentar untuk para detailmen, saya senang bila dad deatailmen yg bisa menjelaskan obatnya dgn baik ( + dan ngatifnya ) dan memenag bila ada infikasi saya hanya bisa menggunakan obat itu, misal CLOPIDOGREL belum ada generik maka saya tentu tetap aka nresepkan obat patent dengan bertanya dulu pada pasien . apa rekan2 setuju dg nsaya?



Selasa, 27-04-2010 20:03:06 oleh: judo

terima kasih mas informasinya perbedaanya...., smoga ilmu tsb dapat bermanfaat untuk orang byk.



Selasa, 06-07-2010 07:22:58 oleh: aryo

mengutip salah satu pernyataan prof farmakologi saya dalam sebuah forum, "obat generik dan obat bermerk, ibarat anda memberi bahan yang sama pada beberapa orang penjual gado2 untuk di masak, maka nanti anda akan mendapatkan gado2 yang beragam rasa, dan tidak ada yang sama persis"
kenapa begitu? pastilah cara buatnya beda,tekniknya beda,cara potongnya lain, jumlah campurannya beda, cara masaknya beda pula, dan sebagainya.....
sama halnya dengan obat generik VS obat bermerek....
*bila obat A kandungannya tidak akurat obat B sebaliknya, ya jelas beda, katakan obat A kandungan paracetamol nya 500 mg tertulis, namun benarkah tepat 500mg? sedang obat B menjamin keakuratan nya, jelas obat B lebih mahal
*satu di olah dengan alat sederhana satu di olah dengan mesin modern hingga tingkat cacat produksi rendah, ya jelas aja obat dengan alat modern lebih mahal
*obat yang satu di buat seperti biasa, dan yang lain dengan butiran lebih halus/ lebih kecil sehingga lebih cepat di absorpsi tubuh, tentu pula harga beda
*satu obat dibuat dengan kombinasi obat yang lain satunya tidak, ya jelas lebih mahal yang kombinasi

walau saya diajarkan untuk berkata keduanya sama saja. tentu saja hati kecil saya bilang tidak, mereka mirip tapi beda, serupa tapi tak sama, mohon koreksi bila saya salah




Rabu, 14-07-2010 20:51:55 oleh: Lingga Pranata

Terima kasih dok,,,dengan artikel ini sya bisa lebih mengetahui tentang obat generik maupun paten dan juga bisa melengkapi tugas laporan PKL saya.



Rabu, 14-07-2010 20:52:09 oleh: Lingga Pranata

Terima kasih dok,,,dengan artikel ini sya bisa lebih mengetahui tentang obat generik maupun paten dan juga bisa melengkapi tugas laporan PKL saya.



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY