heri_spica

Pendidikan Seks untuk Anak

Jumat, 01-02-2008 11:13:21 oleh: heri_spica
Kanal: Kesehatan

Waktu membaca atau mendengar kata 'anak', yang kita pikir dan bayangkan adalah anak kecil usia sekolah TK/SD. Tapi yang saya maksud di sini adalah 'anak' dari sudut pandang orang tua. Artinya anak secara umum terlepas dari ukuran tubuh atau usianya.

Pengetahuan soal seks merupakan hal menarik tapi rumit untuk dijelaskan orang tua kepada anak, bagaimana cara yang tepat menjelaskan tanpa merasa kikuk ataupun salah bicara. Teman saya kebetulan mendapat artikel menarik ini dari internet.

Awas, Si Kecil Kebablasan!

sumber : http://www.korantempo.com/

Senin, 21 Januari 2008
Gaya Hidup
Awas, Si Kecil Kebablasan!

Dr Boyke Dian Nugraha geleng-geleng kepala mendengar penuturan pasiennya. Sebut saja Indah, 36 tahun, asal Sukabumi yang menangis histeris menceritakan kelakuan putrinya, Nita, 11 tahun.

Bersama dua teman sekelasnya di sekolah menengah pertama, Nita melakukan aib memalukan keluarga dan sekolah. "Semua salah kami, memberikan kebebasan kepadanya menonton tayangan apa pun tanpa diawasi, termasuk di Internet," papar Indah sesenggukan. Tangisnya pecah begitu mendengar pengakuan putri kesayangannya meniru adegan bercinta di film Sex in the City bersama kakak kelasnya.

Menurut Boyke, kasus Nita belum seberapa. Ada pasien lain yang mengeluhkan putrinya yang baru berusia 7 tahun saat ngobrol dengan teman sebayanya cekatan menyebut foreplay, petting, making love, dan sejenisnya.

Pemilik Klinik Pasutri di bilangan Tebet ini pun menyebut kisah lain: seorang remaja putri berusia 12 tahun yang diledek temannya karena belum pernah pacaran dan berciuman. Karena penasaran, remaja itu mencari tahu di Internet. Tertarik mempraktekkan, ia meminta dan membayar sopir rumahnya.

"Tidak hanya ciuman, si sopir bejat itu justru mengajak tahap yang lebih hot, yaitu bercinta. Akibatnya, si kecil ketagihan, kebablasan, hingga hamil dan bikin gempar semua (anggota keluarga)," ujar pakar seks tersebut masygul.

Sederet cerita tersebut bukan ilusi, tapi peristiwa yang kian dekat dan sering terjadi. Kini para belia itu sangat piawai dan tahu akan seks melebihi orang tuanya. "Ini bukan pendidikan seks, melainkan pengetahuan soal seks yang kebablasan dan berakibat fatal," kata dokter berkulit putih ini dengan nada gemas.

Tiga tahun lalu ia hanya melayani pasien dewasa seputar keluhan masalah mereka. Tapi sekarang, pasutri yang datang "curhat" soal sederet cerita aneh soal seks buah hatinya. Boyke mengakui kemampuan anak masa kini, yang disebut di era generasi platinum, begitu cepat dan mudah menyerap pengetahuan dan teknologi.

Alhasil, jangan heran jika para bocah bau kencur itu sudah pandai berselancar ke situs-situs dewasa. "Yang paling penting, memberikan pendidikan seks buat anak harus perlu pendampingan, " Boyke berpesan.

Senada dengan Boyke, Elly Risma, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati yang aktif memberikan pendidikan kesehatan reproduksi untuk anak-anak sekolah, menyebut pentingnya pendampingan dari orang tua, guru, dan lingkungan. "Mereka harus mengikuti perkembangan atau melakukan update seputar informasi terbaru seksologi supaya ilmunya tidak ketinggalan, " ujarnya.

Alzena Masykouri, pengajar luar biasa di Fakultas Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta, mengatakan keluarga merupakan pagar pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di dalam dan di luar rumah.

Pesatnya pengetahuan seks mereka, terutama dampak kemajuan teknologi yang dekat dengan dunia generasi platinum, perlu diwaspadai. "Orang tua jangan "gaptek". Perlu mengimbangi (anak). Sebaiknya mendampingi (mereka) dan menyaring informasi agar anak tak salah langkah," ujarnya.

Alzena mengingatkan, dari sisi kejiwaan, si anak harus pandai menyerap dan memilah informasi mana yang benar dan tidak tepat buatnya. Untuk moral, jangan sampai anak terlalu larut berpikir bebas mengadopsi informasi dunia Barat.

Tip Aman

Dr Boyke Nugraha memberi tip agar buah hati aman memahami mengenai seks.

- Lengkapi diri Anda dengan pengetahuan terbaru.

- Jangan lupa pelajari masalah anatomi, fisiologi, biologi, moral, dan etika.

- Jangan salahkan kemajuan teknologi. Tanamkan nilai-nilai moral dan dampingi saat mereka mengakses internet.

- Berilah batasan-batasan soal pemanfaatan teknologi, misalnya mengakses Internet hanya buat mengerjakan tugas sekolah.

- Tempatkan komputer di ruang keluarga dan bukan di ruang pribadi.

- Hati-hati memberikan telepon genggam.

- Seringlah berdiskusi dan manfaatkan momen itu untuk memberi pendidikan seks sesuai dengan usia, kemampuan, dan cara berpikirnya.

- Tanamkan rasa tanggung jawab pada si kecil. Beri pengertian bahwa tiap perbuatan, termasuk soal seks, selalu ada risiko dan tanggung jawab yang harus dipikulnya.

HADRIANI P

 ***

Semoga bermanfaat bagi orang tua yang kesulitan menjelaskan seks pada anaknya :)

heri_spica



Sumber: www.korantempo.com
Bookmark and Share

Tag/Label seks, pendidikan seks, anak-anak
Penilaian anda

Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
10 komentar pada warta ini
Jumat, 01-02-2008 13:00:01 oleh: Retty N. Hakim

Nah siapa dong yang mau bagi cara "childlock" internet buat yang gaptek? Wikimu banyak ahlinya kan?! Nulis dong....



Jumat, 01-02-2008 13:39:53 oleh: kasyanto

Sebenarnya seks tidaklah lebih berbahaya daripada film kartun. Setidaknya tidak akan membuat anak cacat.

Saya pernah mendengar ada anak yang karena rumahnya kecil sering melihat bapak ibunya berhubungan seks. Alhasil si anak yang masih SD mengajak teman perempuannya (bukan pacar) untuk main 'kuda-kudaan'. Tentu saja tidak ada yang merasa dirugikan karena anak masih SD belum bisa 'berdiri'.

Bahaya seks sebenarnya adalah pertambahan populasi yang tidak terkontrol di luar kemampuan ekonomi suatu masyarakat. Dari sudut pandang keluarga, pertambahan bayi (baik itu anak maupun cucu) tentu akan menambah beban ekonomi keluarga.
Bahaya lain adalah penyebaran penyakit menular seperti sipilis, HIV, atau hepatitis.


Maka saran saya yang tentu saja kedengaran radikal, seks harus dipertontonkan oleh orangtua sejak dini pada balita. Anak harus membuka mata lebar-lebar pada kenyataan hidup, bukannya dicekoki dongeng2. Anak harus tau sejak dini darimana dia berasal dan tidak merasa tabu akan seks. Seks adalah sesuatu yang baik dan normal dengan 2 syarat: 1)kemampuan ekonomi 2)kesehatan.

Lalu, bagaimana kalau si anak ketika menginjak masa subur (sekitar usia 12 tahun) menjadi 'horny'? Sederhana saja, sediakan film porno dan sextoys di kamar anak dan biarlah anak menjelajahi seksualitasnya tanpa merasa malu. Katakan pada anak, bila dia sudah mampu secara ekonomi, ia boleh menikah dan menikmati seks sepuas2nya.











Jumat, 01-02-2008 13:58:20 oleh: heri_spica

komentar mas kasyanto bisa bikin org lain shock atau marah atau ternganga tak percaya. Tp saya hargai pendapat mas walau kontroversial juga tdk setuju dgn usul2 diatas yg melabrak norma2 sosial agama dan kesehatan fisik, mental, spiritual.

Seorg anak ttp harus dibimbing orang tuanya dan seks tdk bisa disalurkan begitu saja dgn memberi mainan atau film, tp pengertian bhw seks lbh dari sekedar kegiatan fisik utk pelampiasan nafsu atau proses prokreasi atau ungkapan cinta.

Lagipula proses kedewasaan itu bertahap termasuk seks. Jd kita tidak bisa mengatakan semua ttg seks atau apa saja dan membiarkan si anak berpikir tanpa bimbingan yg tepat.

Saya anggap komentar mas ini sebagai guyonan dan memberi perbedaan yg cukup berani dr komentar yg umum diberikan orang2.

heri_spica




Jumat, 01-02-2008 14:17:43 oleh: kasyanto

Semakin cepat diajarkan semakin baik karena orang tua tidak canggung lagi. Demikian pula anak tidak perlu malu kalau mau bertanya soal seks pada orangtua, atau minta izin menyalurkan hasrat seksualnya.


Kalau ditunda-tunda terus, pastilah anak tahu dari internet atau dari teman atau dari sumber lain. Zaman sekarang agak beda karena informasi tersebar cepat dan sangat murah pada siapa saja.
Maka, pilihan zaman sekarang saya rasa bukan KAPAN kita mengajarkan seks pada anak tapi SIAPA yang mengajarkan seks lebih dulu pada anak?


Orang tua bisa mengajarkan dengan perilaku nyata di depan anak. Misal berciuman, berpelukan, mengelus-elus, mandi bersama, dsb. Intinya, seks itu baik dan normal sejauh orang 1) mampu secara ekonomi 2) sehat dari penyakit menular.


Tentu saja tantangannya adalah agar anak juga memahami kedua poin tersebut secara bersamaan.


Poin pertama bisa diajarkan dengan mendidik anak membeli mainan/jajanan hanya dari uang belanja bulanan. Tidak boleh minta lagi. Anak juga akan mendapatkan bonus bila hasil ulangan baik, bukan dari rengekan.

Poin kedua, agak sulit, anak dibiasakan hidup bersih, makan yang bersih, merapikan kamar sendiri, ikut mengepel lantai, dst. Sambil membersihkan orang tua bisa mengajarkan apa itu kuman, bakteri, virus, penyakit, dst. Bila perlu dicarikan gambar orang-orang sakit HIV,malaria,kusta, sipilis, dsb, sambil dijelaskan mengapa mereka menderita sakit seperti itu.


Penting untuk mengajarkan anak kenyataan hidup (yang kejam maupun yang nikmat) tanpa dongeng2 yang justru menyesatkan. Menurut saya lho..;-p





Jumat, 01-02-2008 14:38:19 oleh: Micky Jo

Yup benar, saya juga suka terkaget - kaget mendapat pertanyaan seputar anatomi tubuh wanita dari anak lelakiku yang berusia 5 tahun...Dan sayapun berusaha memberikan penjelasan sesuai dengan porsi anak seusianya saja ( tetap ada batasannya kan...). Yup, semua ini juga tidak terlepas dari tayangan yang ada ditelevisi..saya juga senang karena anak saya gak ragu untuk bertanya daripada mencari tahu sendiri ( bisa berabe nih..). Walaupun saya sadar, apa yang ditanyakan hanyalah rasa heran melihat adanya perbedaan anatomi tubuh antara laki dan perempuan....^_^



Jumat, 01-02-2008 15:19:04 oleh: rizki

sebuah hal yang -buat saya- masih susah untuk saya lakukan karen belom menemukan metode yang -menurut saya- tepat, untung nya blom saat juga sih mengingat anak baru 2 tahun :p

tapi ke depannya saya sendiri setuju dengan pendidikan seks untuk anak, paling tidak he has to know how his body works, apa fungsinya, manfaat sekaligus resikonya.. tentunya bertahap. semoga aja anak saya bisa menggali sendiri keingintahuannya dan tentunya saya dan ayahnya stand by untuk menjawab baik dari segi ilmiah ataupun dari pengalaman sendiri




Jumat, 01-02-2008 16:30:42 oleh: Retty N. Hakim

Dulu ada buku bagus, lupa judulnya apa...untuk pendidikan anak...eh tidak boleh beredar! Tapi sinetron bisa bebas mengumbar cerita...

Saya tetap mengharap ada yang berkisah tentang pemasangan "childlock" di internet, anak saya boleh browsing yang lebih bebas hanya kalau saya dampingi. Entah ya kalau sudah SMP ke atas, mungkin pembelajaran di rumah sudah memadai...mungkin...zaman gini, susah jadi ortu!




Jumat, 01-02-2008 18:03:54 oleh: kasyanto

Oya dua syarat lagi: 3) tidak ada paksaan antara dua belah pihak, alias suka sama suka. 4) di ruang tertutup/ruang pribadi bukan di tempat publik.

Memangnya kenapa sih makan, mandi, buang air tidak tabu sedangkan seks menjadi tabu?

Selama kita menganggapnya tabu, sampai kapanpun kita tidak akan mengajarkan seks pada anak. Kalau sudah begitu jangan salahkan anak mencari informasi dan bereksperimen sendiri karena takut dimarahi ortu.

Ini menurut saya lho;-p




Jumat, 01-02-2008 18:12:24 oleh: heri_spica

Terima kasih lagi mas kasyanto, keterangan anda lebih luas dan mendalam, saya jadi mendapat pencerahan serta pemahaman lebih baik. Hanya memang utk soal sex toys saya ttp tidak setuju karena lebih padahal menyalahgunakan dan berpikir kalau melakukan dgn benda2 mati tidak apa2. Sementara dgn manusia nanti sdh lebih siap tp inipun pendapat saya sendiri.

Kembali pada individu masing2 bagaimana cara dan waktu yg tepat utk mengajarkan pengetahuan seks pada anak. Sbg orang tua memang berat karena mgk tidak akan siap menghadapi pertanyaan2 anak yg suka ingin tahu, bukan hanya soal seks tp juga banyak hal. Dan kita mau tidak mau harus terus belajar ttg apa saja agar tidak sulit mengatasi pertanyaan anak.

to mbak Micky: walaupun yg ditanyakan bukan soal seks, minimal anak anda sdh menyadari perbedaan antara pria dan wanita secara fisik. Itu mgkn waktu dimana anak sdh harus diberitahu sedikit ttg seks atau perbedaan fisik. Tp semua kembali pada masing2 pribadi, soal cara dan waktunya :)
thks
heri_spica




Rabu, 29-10-2008 14:57:52 oleh: ikhwan kunto alfarisi

peran orang tua dalam menerapkan nilai-nilai agama harus dioptimalkan dlm klrg



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY