Salah satu dari Hijriah New Year's Resolution saya adalah saya ingin kembali aktif berenang untuk kesehatan. Ikan cere yang satu ini sudah tiga tahun pas tidak pernah berkubang di air warna aquamarine lagi. Tahun lalu sudah kena panggil dokter karena hasil medical check-upnya menurun dari hasil tahun sebelumnya. Tahun Kabisat ini, saya ingin hal-hal yang lebih baik bisa saya lakukan.
Jadi ingat kolam-kolam yang rajin saya sambangi dulu.
- Kolam renang Bulungan.
- Kolam renang Senayan.
- Cilandak Sport Center (sekarang namanya berubah jadi kolam renang CITOS ngga?).
- Gelanggang Remaja Kuningan Sumantri Brojonegoro (berubah jadi Kolam Renang Pasar Festival kali yaaaa).
Jadi bertanya-tanya, bagaimana keadaan kolam-kolam itu sekarang. Apakah masih seperti dulu? Apakah sudah berubah seiring dengan perkembangan jaman dan peradaban?
Kolam Renang Bulungan yang saya kenal adalah sebuah kolam yang dijuluki "cendol". Bukan cendol ijo-ijo mengapung di permukaan kolam tersebut, tapi yang berenang banyak banget, sampai akhirnya orang hanya bisa berendam saja di sana. Mestinya namanya diganti jadi Kolam Rendam Bulungan.
Kebersihannya ketika terakhir saya ke situ sekitar 10-15 tahun yang lalu tidak banyak berubah. Ada kolam cuci kaki yang warnanya coklat. Ada tempat mandi yang ... mendingan ngga mandi di situ. Juga kolam renang yang lebih mirip kolam rendam (... nama yg lebih tepat: Jacuzzy Bulungan !).
Terakhir kali saya ke kolam Senayan adalah tahun 1998-1999. Waktu itu tentara/polisi yang bertugas menjaga wilayah DPR dan seputar Senayan, suka mandi di situ. Bukan mandi di shower area. Mereka lebih suka langsung nyemplung di kolam 5 meter. Akibatnya, kami yang dapat bagian berlatih setiap Kamis malam (lupa gue... Rabu malam atau Kamis malam gitu) kadang-kadang mendapati kumpulan-kumpulan busa sabun mandi mengambang di permukaan kolam. Hiya lah... mosok mandi ndak pakai sabun?
Kolam paling asik di sana adalah kolam 2.5 meter. BIRU bo. Dan tidak ada tempat ceteknya, sehingga orang tidak mungkin berendam di situ. Paling banter water trapen. Tapi berapa lama sih orang tahan water trapen? 5 menit sudah jago tuh. 10 menit? Sudah teriak-teriak dan memohon-mohon supaya boleh menepi. Kolam 1.5 meternya berwarna kehijau-hijauan airnya. Paling tidak terakhir saya main kesana, airnya begitu. Mata saya sempat kelilipan partikel-partikel yang melayang-layang di dalam kolam tersebut.
Cilandak Sport Center adalah tempat saya belajar untuk bisa jago berenang. Waktu itu saya paling banter bisa berenang 5-10 meter. Saya sebenarnya ingin berenang di kolam renang murah seperti Gelanggang Kuningan. Namun karena kemampuan renang saya amat terbatas, saya takut kalau kebanyakan berendam nanti banyak yang nyolek-nyolek atau ngerogoh-rogoh *literally speaking*. Jadilah saya mengunjungi kolam mahal ini untuk meningkatkan daya renang saya. Dari yang tadinya cuma bisa 5-10 meter nonstop, menjadi 200 meter nonstop.
Cilandak Sport Center adalah kolam yang luar bisa menyenangkan di tahun 94-96 an. Kadang-kadang saya baru naik dari kolam mendekati jam 9 malam. Ukurannya bukan olympic, tapi lebih luas dari setengah olympic. Orang-orang yang berenang di sana tidak jorok dan tidak colek-colek. 10 tahun kemudian, saya dengar cerita dari rekan kantor bahwa pada hari-hari tertentu dan jam-jam tertentu, banyak orang suka ber-oh-Naniii di dalam kolam. Dia sedang berenang, dan mendapati seseorang memandanginya tak putus-putus dari pinggir kolam, sambil melakukan ... itu. Segera dia keluar dari kolam, mengangkat putrinya yang masih balita, pergi dan tak kembali lagi.
Gelanggang Renang Kuningan adalah kolam pujaan sepanjang masa. Bagaimanapun tingkah laku pengunjungnya, saya tetap cinta mati sama kolam renang satu ini. Dari segi ukuran... olympic...sukaaa. Dari segi lokasi, strategis dan banyak tempat makan. Dari segi jam buka, excellent. Kalau malam belasan lampu ribuan Watt dinyalakan menerangi kolam bak siang hari. Jam setengah 7 pagi juga sudah buka kalau tidak salah. Ada locker simpan barang, dan kalau sudah kenal sama pengurusnya, bisa titip sepatu katak di situ. showernya banyak dan airnya melimpah ruah, ada pintunya semua - walau tidak jamin bisa ditutup. Kebersihannya setingkat lebih baik daripada Kolam Bulungan, which is... sangat-sangat baik jika mengingat harga karcis masuknya waktu itu adalah 5000 rupiah.
Antara tahun 1997-1999 saya berenang di sini 3 sampai 4 hari dalam seminggu. Krismon kan harus berhemat ya. Kalau dihitung-hitung lebih murah saya refreshing di kolam daripada di mall. Mulut saya sampai berbuih-buih membicarakan kebaikan-kebaikan kolam ini pada rekan-rekan di Senayan, sampai akhirnya salah satu rekan saya luluh dan ingin mencoba berenang di sana.
Ternyata ada alasan mengapa saya bisa merasa aman tentram berenang di kolam "negri" ini. Biasanya kan hanya kolam "swasta" yang cukup aman. Ternyata kolam ini banyak digemari rekan-rekan gay. Sementara rekan saya yang straight dan kebetulan berbodi yang bikin rekan-rekan gay meneteskan liur, ngeri banget ketika didekati salah satu pengunjung kolam. Habis gimana, ngedeketinnya pas di shower. Udah gitu pakai pegang-pegang pula.
Tahun 1429 H ini, cita-cita saya ingin kembali ke kolam lagi. Mungkin sudah tidak ke kolam-kolam yang saya sebutkan di atas karena secara lokasi sudah tidak begitu strategis lagi bagi saya. Mudah-mudahan, jika Allah berkenan, kali ini tidak ada lagi panu-kadas-kurap bagi saya di kolam-kolam.