Engelbertus Pr Degey

Koteka, Antara Identitas Diri dan Kemajuan Masyarakat Papua

Minggu, 09-12-2007 21:34:19 oleh: Engelbertus Pr Degey
Kanal: Gaya Hidup

Koteka, Antara Identitas Diri dan Kemajuan Masyarakat Papua KOTEKA adalah penutup bagian khusus alat kelamin pria yang dipakai beberapa suku bangsa di Papua. Bagi pria berwibawa dan terkenal dalam masyarakat, koteka yang digunakan harus berukuran besar dan panjang. Batang kotekanya pun diukir berwarna-warni. Seorang pria berwibawa dan gagah biasanya mengenakan koteka sambil memegang panah dan busur dengan tatapan wajah yang tajam ke alam bebas.

KOTEKA terbuat dari buah labu. Labu tua dipetik, dikeluarkan isi dan bijinya kemudian dijemur. Setelah kering, labu tersebut disumbat pada batang penis dengan posisi berdiri tegak menjulur arah pusat.

Kata koteka berasal dari salah satu suku di Paniai, artinya pakaian. Di Wamena koteka disebut holim. Ada berbagai jenis ukuran koteka, tergantung besar kecilnya kondisi fisik pemakai. Tetapi, besarnya koteka juga sering hanya aksesoris bagi si pemakai. Tubuh yang kekar bagi seorang pria berkoteka adalah idaman seorang wanita suku Pegunungan Tengah seperti Suku Dani. Agar penampilan seorang pria lebih perkasa dan berwibawa, seluruh bagian kulit luar termasuk rambut dilumuri minyak babi agar kelihatan hitam mengkilat dan licin bila terpanggang matahari. Lemak babi itu dioleskan di wajah, pinggang, kaki, dan tangan. Biasanya dipakai pada saat pergelaran pesta adat seperti bakar batu.

Tidak ada literatur yang menyebutkan, sejak kapan suku- suku asli Papua mengenakan koteka. Sejak petualangan bangsa Eropa datang ke daerah itu, kaum pria dari suku–suku di Pegunungan Tengah (Jayawijaya, Puncak Jaya, Paniai, Nabire, Tolikara, Yahokimo, dan Pegunungan Bintang) sudah mengenakan koteka. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Papua Dominggus Rumbewas, keterampilan membuat koteka diperoleh secara turun temurun bagi kaum pria. Seorang laki-laki ketika menginjak usia 5-13 tahun harus sudah mengenakan koteka sebagai busana pria. Pria yang menutup bagian penis dengan kulit labu ini sering disebut "manusia koteka", atau sering pula disebut masyarakat koteka.

Dr Jos Mansoben (49), antropolog budaya dari Universitas Cenderawasih, Jayapura, memaparkan ihwal adat pemakaian koteka sebagai identitas masyarakat Papua ini. Menurut Jos, integrasi Papua ke dalam NKRI pada 1962 merupakan satu titik balik kehidupan masyarakat koteka. Pertemuan para pejabat dari Jakarta dengan masyarakat koteka waktu itu merupakan pertemuan dua budaya yang berbeda, yakni Melanesia dan Polinesia.

"Orang Jakarta tidak melihat koteka sebagai pakaian, sementara masyarakat pedalaman Papua melihatnya sebagai pakaian, yang tidak berbeda dengan pakaian yang dikenakan masyarakat Indonesia umumnya. Sejak itu pula terbangun sikap heran dan tanda tanya di antara kedua pihak," papar Jos. Jakarta hadir di Papua dengan membawa misi khusus sebagai pembawa perubahan, modernisasi, kemajuan, memberantas kemiskinan dan ketertinggalan. Misi itu begitu menggebu dalam semangat dan tindak tanduk para pejabat.

Koteka dinilai sebagai salah satu bagian dari kemiskinan dan keterbelakangan. Koteka bukan pakaian. Pria yang mengenakan koteka dilihat sebagai pria telanjang dan "tidak beradab". Tetapi, dari sisi orang Papua, koteka adalah pakaian resmi orang Papua.

Secara bertahap, sosialisasi mengenai gerakan pemberantasan koteka pun mulai digalakkan. Gubernur Frans Kasiepo (1964-1973) mulai menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai pakaian yang sehat, sopan, dan bermartabat. Kemudian dilanjutkan dengan kampanye antikoteka oleh Gubernur Soetran. Sosialiasi dilanjutkan Acub Zainal, Busiri Suryowironoto, dan Gubernur Isaac Hindom. Pada masa pemerintahan Gubernur Barnabas Suebu (1988-1993) dan Yacob Pattipi (1993-1998) mulai dilakukan kampanye antikoteka di Pegunungan Tengah. Puluhan ton pakaian dijatuhkan di beberapa kecamatan dan kampung-kampung di Pegunungan Tengah yang merupakan basis koteka.

Tetapi, kampanye antikoteka dengan cara itu tidak banyak membantu masyarakat koteka. Satu dua potong pakaian yang dibagi kepada masyarakat tidak bertahan lama. Pakaian itu dikenakan terus siang-malam, dan tidak dicuci sampai hancur di badan.

Ketika pakaian hancur, tidak ada pakaian baru sebagai pengganti. Kondisi geografis yang sangat sulit dijangkau, membuat mereka seakan-akan tetap terisolasi di tengah hutan. Tidak mengenal peradaban modern dan tidak tahu caranya mendapatkan pakaian. Mereka juga tidak tahu bagaimana cara merawat dan menjaga pakaian agar tetap awet di badan. Kampanye antikoteka tidak disertai pembangunan infrastruktur yang menghubungkan masyarakat kota dengan masyarakat terisolasi sehingga tidak banyak membawa perubahan. Ada kesenjangan cukup besar antara masyarakat kota yang sebagian besar dihuni warga pendatang dengan masyarakat pedalaman yang dikuasai penduduk asli. Satu-satunya sarana transportasi untuk menjangkau masyarakat pedalaman adalah pesawat. Itu pun kalau ada lapangan terbang di daerah itu. Transportasi udara ini sebagian besar dimiliki gereja, dan belakangan ini mulai diminati pihak swasta seperti Trigana, Mimika Air, Merpati, dan Manunggal Air Service.

Pemerintah memaksa masyarakat meninggalkan koteka dengan cara membagi-bagikan pakaian. Cara ini memang tidak tepat sasaran. Tetapi, paling tidak manusia koteka mulai paham bagaimana harus mengenakan pakaian yang layak dan memenuhi syarat kesehatan. Jos Mansoben memaparkan, pembangunan dengan sendirinya membawa perubahan bagi masyarakat pedalaman Papua. Kemajuan infrastruktur, masuknya teknologi dan informasi ke pedalaman dengan sendirinya mengubah pola pikir dan perilaku hidup masyarakat pedalaman. Pembasmian koteka tidak harus dengan cara membagi-bagi pakaian.

"Masuknya arus informasi teknologi ternyata menantang cara berpikir, gaya hidup, pertahanan budaya serta tradisi manusia koteka. Mereka mulai mempertanyakan identitas mereka. Ternyata, ’dunia tidak sebatas daun kelor’," paparnya.

Kesadaran ini mulai dibangun ketika terjadi pertemuan dengan dunia luar. Secara perlahan tetapi pasti masyarakat mulai membangun pemikiran positif dalam interaksi dengan dunia luar. Pada tahun 1980-an ketika ratusan manusia koteka datang dari distrik terpencil ke Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, serta-merta mereka melihat kemajuan di kota itu. Para manusia koteka pun berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Secara bertahap mereka tidak lagi memakai koteka duduk di dalam angkutan umum, bergabung dengan warga pendatang di dalam angkutan. Apalagi kalau di dalam angkutan ada ibu rumah tangga dan anak-anak gadis yang ketakutan ketika duduk bersama manusia koteka. Akhirnya ada larangan manusia koteka naik angkutan umum, kecuali harus mengenakan pakaian umum. "Mereka pun menaati larangan itu setelah menyadari bahwa berpakaian yang resmi jauh lebih sopan dan bermartabat dibanding koteka," ungkap Jos.

Meskipun mendapatkan pakaian jauh lebih sulit dibanding koteka, mereka pun harus mengikuti perkembangan di Wamena. Tetapi, setelah kembali ke kampung asal jauh dari Wamena, tradisi mengenakan koteka dipakai lagi. Pakaian resmi yang umum disimpan, dan koteka dikenakan lagi. Kini manusia koteka di dalam kota Wamena sudah berkurang. Hanya dua-tiga manusia koteka sengaja hadir di Bandara Wamena untuk dipotret oleh para turis asing, kemudian mereka meminta bayaran Rp 5.000-Rp 100.000, tergantung kesepakatan. Manusia koteka pun sering dijadikan obyek wisata oleh pemerintah daerah setempat.

Di satu sisi, pemerintah berupaya membasmi koteka, namun di pihak lain pemerintah juga mempromosikan manusia koteka ke dunia luar untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Tahun 1996 sejumlah manusia koteka dibawa oleh Pemerintah Provinsi Papua bersama beberapa pengelola obyek wisata di Papua untuk mempromosikan wisata ke luar negeri. Kegiatan ini mendapat tanggapan negatif dari para tokoh agama, LSM dan tokoh adat di Papua. Disebutkan, manusia koteka hanya dijadikan obyek semata, sementara pemerintah daerah menikmati keuntungan dari proyek promosi wisata ke luar negeri itu.

Menurut Dominggus Rumbewas, membasmi koteka di Papua serba dilematis. Di satu sisi, koteka sebagai simbol kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan dan ketelanjangan. "Tetapi, pada masa otonomi khusus ini sudah tidak layak lagi orang Papua mengenakan koteka," tandas Rumbewas.

Penasihat Dewan Adat Papua, Ramses Ohee, mengemukakan, tidak semua budaya dan tradisi asli Papua harus dipertahankan. Budaya dan tradisi yang dinilai sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman, menghambat pembangunan, dan bertentangan dengan nilai moral, agama, kesopanan dan kehidupan sosial masyarakat hendaknya diperbarui. Ohee memaparkan, budaya dan tradisi asli yang dinilai tidak mendukung pembangunan nilai moral dan agama di Papua antara lain, koteka, pesta seks pada upacara adat bagi suku tertentu, perlakuan terhadap perempuan yang lebih rendah dibanding kaum pria dalam keluarga dan masyarakat. Adat dan tradisi tua ini sering melahirkan persoalan di kalangan masyarakat.

Sumber: http://www.infopapua.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=2459&mode=thread&order=0&thold=0

Bookmark and Share

Tag/Label koteka, papua, rumbewas, dinas kebudayaan, kehidupan
Penilaian anda

Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
9 komentar pada warta ini
Minggu, 09-12-2007 22:11:22 oleh: (((((engel)))))

kepada Editor, trims karena sudah diedit dan dengan demikian sedikitnya mempercantikan penampilan wikimu. Saya setuju kalau setiap tulisan saya diedit. Karena sering saya tidak koreksi lalu kirim. Komentar ini mungkin sambungan dari pendapat beberapa anggota wikimu sebelumnya yang pernah berkeinginan sama.



Minggu, 09-12-2007 22:56:55 oleh: aloysius weha

Bung Engel gak login yach? Ntar dikira orang yang lagi nyamar loh Bung...



Senin, 10-12-2007 06:11:37 oleh: Retty N. Hakim

Ya..inga..inga...jangan lupa log in dulu!

Terima kasih tambahan infonya. Satu hal yang menarik bahwa dengan pakaian ini orang Papua tidak terkena dampak malaria seperti pada orang yang berpakaian lengkap...ajaib benar!




Senin, 10-12-2007 12:20:43 oleh: Engelbertus Pr Degey

Bung Alo dan mba Retty, trims atas peringatannya. Tuhan selalu menyertai ibu dan bapak dalam karya-karyanya.

Bravoo Wikimu..




Senin, 10-12-2007 22:46:48 oleh: nury nusdwinuringtyas

saya punya dongeng tentang koteka
kejailan saat kecil, maaf
saat tahun 60 an ayah saya berdina di (saat itu) Sukarnapura kalau tak salah
koteka belum dikenal
ayah saya mendapat souvenir koteka ( pasca pakai) , dan dikirim ke kami di Malang (saat itu)
waktu ada tamu, saya di tanya , nury ini untuk apa,
saya bilang, buat minum om, ini dari labu, si om asyik mencium-cium koteka
ketika sudah puas mencium, saya ambilkan album yang menampakkan koteka sebagai "pembungkus"
si om tampak bingung dan langsung pusing.....

mengendusnya asyik sih.....
mau marah sama saya engga berani kali ya.....
he he, maaf ya om




Senin, 10-12-2007 23:35:03 oleh: Sugeng Dj

Soal koteka?, aku pernah dengar dari omku yang dulu pernah bertugas cukup lama di Papua. Nah dari tulisan ini telah menjelaskan buat aku untuk memahami realita budaya Papua. Makasih ya bung Engel, dengan tulisan ini ada kejelasan tentang Koteka, yang selama ini dipahami sebagai simbol keterbelakangan dan kebodohan sesamaku dari Papua. Anggapan kita dari luar selama ini rupanya keliru, ya! Lebih-lebih pemerintah kita yg terkadnag berpemikiran kuno memandang sesama bangsa di Papua sana, dan kebijakan pembangunan di sana tidak menyentuh warga pribumi. Syahlom






Rabu, 16-01-2008 14:49:47 oleh: ali

iye memegang tradisi nggak berarti primitif bro



Minggu, 04-01-2009 11:34:05 oleh: paskalis

kammi tdk minta utk di kasihani tetapi mari kita menghargai dan melestarikan budaya kami krn ini kebanggaan kami dan bangsa indonesia



Senin, 28-11-2011 10:41:46 oleh: ippank

Koteka harus dipertahankan & dilestarikan karena merupakan budaya masyarakat papua. Inilah yang membedakan masyarakat papua dengan masyarakat lain di indonesia. Jangan selalu menganggap budaya kita lebih unggul dibanding budaya orang lain. Dalam hal ini, kita juga harus melihat dari perspektif mereka (pendukung budaya). Kalau orang2 di sana senang dengan ber-koteka, biarkanlah mereka seperti itu. Buktinya, hingga kini mereka tetap bisa survive. Ingatlah bahwa modernisasi itu tdk selamanya positif karena (dlm kasus ini) terkesan memaksakan kehendaknya kpd org lain.
Pemerintah indonesia jangan seenaknya ingin menghapus koteka (melarang berkoteka, tetapi tetap mengeksploitasi aktivitas mereka utk menambah2 PAD).





Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY