Suatu pagi saat menemani anak nonton film kartun kegemaran mereka di televisi (TV), saya terperangah. Saat jeda, muncul iklan obat kuat pria. Walah! Untunglah ada remote control. Untung pula anak-anak masih balita sehingga mereka tidak mengajukan pertanyaan macam-macam (hal 51).
Dalam salah satu tulisannya, penulis menyoroti masalah pertelevisian yang meresahkannya. Begitu banyak informasi (untuk orang dewasa) yang belum pantas disaksikan oleh anak-anak, sehingga ia membatasi dan menyaring acara TV yang boleh ditonton oleh putra-putrinya. Biasanya ia menggantinya dengan film-film dari VCD atau DVD yang sudah jelas ceritanya. Seringkali pula ia pun membimbing dan menemani mereka menonton.
Dalam suatu pencarian, ia menemukan sebuah artikel dari internet, bahwa ternyata TV memiliki banyak kelemahan. Banyak yang tidak bisa diberikan TV kepada putra-putri kita, tapi kita bisa melakukannya, sebagai berikut :
TV tidak mengenal nama anak kita, tidak dapat memeluknya, tidak dapat mendengar keluh-kesahnya, tidak dapat menidurkan anak kita, berdoa bersama mereka, dan lain sebagainya.
- Kita sebagai orang tua dapat melakukan semua hal diatas. Yang pasti, kita bisa menawarkan dan memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh TV kepada mereka. Maka kitalah pesaing terberat TV.
Dalam suatu keluarga, relasi antara anggota keluarga khususnya antara orang tua dan anak harus terbina baik dan berkualitas. Dan itulah tujuan dari buku yang berjudul ‘Secangkir Teh Hangat di Beranda Rumah' ini. Dengan tebal 180 halaman, buku ini memberikan masukan-masukan dalam bentuk kisah, refleksi dan puisi untuk penyegar kebersamaan keluarga.
Inspirasi menulis buku ini didapat penulis ketika ia menginap di rumah sepasang suami-istri (pada saat itu ia masih lajang). Sore hari mereka mengajaknya duduk-duduk di beranda menghadap ke taman belakang, ditemani teh hangat dan makanan kecil. Mereka berbincang dan bertukar pikiran seputar keluarga dan rumah tangga mereka.
Perbincangan seputar dinamika keluarga itulah yang coba penulis tuangkan dalam buku ini. Sebuah perbincangan ringan, dipaparkan melalaui perpaduan antara kisah dan refleksi, yang memberi inspirasi dan menghangatkan kebersamaan (tulisan pada cover belakang).
Selain judul diatas, masih banyak tulisan lainnya seperti Berkah di Balik perbedaan, Bila Kemesraan Meranggas, Pernikahan Masih Penuh Berkat, Orang Tua Sebagai Pahlawan, Pendidikan Anak: Investasi Terbaik, Sukses Bersama Keluarga dan lain sebagainya.
Namun selain itu adapula tulisan dalam bentuk Puisi. Salah satunya adalah puisi berjudul Rumah,
Rumah adalah keutuhan, dimana bunga bermekaran, dimana burung berkiauan, matahari gemilang berkilauan.
Rumah adalah... ketika manusia saling menyapa, ketika Tuhan mengulurkan kasihNya.
Sedangkan puisi-puisi lainnya adalah: Keluarga Kecilku, Kesederhanaan, Kuatrin Ulang Tahun, Dalam Doa, Dialog, Serenade Bunga Rumput Pulang dan lain sebagainya.
Buku yang diterbitkan oleh Obor ini layak dimiliki karena begitu mengasyikan bila dinikmati dan dijadikan bahan obrolan keluarga di saat santai sembari menyeruput teh hangat. (px).