Kris Bheda

Susahnya Komunitas Tionghoa Menjadi 'Indonesia'

Senin, 12-11-2007 20:36:18 oleh: Kris Bheda
Kanal: Gaya Hidup

Susahnya Komunitas Tionghoa Menjadi 'Indonesia'

Bagi komunitas Tionghoa, menjadi bagian dari masyarakat-bangsa Indonesia, baik secara politis, ekonomi mapun kultural bukan sesuatu yang mudah. Menyoal relasi politis,ekonomi dan kultural antara komunitas Tionghoa dalam proses menjadi bagian dari Indonesia, kita seakan-akan dihadapkan dengan ragam pertanyaan yang kompleks.


Pertanyaan-pertanyaan sentral seperti dari mana komunitas Tionghoa berasal? Factor apa saja yang berpengaruh dalam pembentukan mereka menjadi satu bagian dari masyarakat Indonesia? Bagaimana mereka berupaya menjadi satu bagian dari Indonesia? Apakah bentuk tindakan dan kegiatan mereka baik bersifat individual maupun kolektif? Sebesar apa sumbangan mereka untuk Indonesia? Lantas bagaimana konflik dan kerusuhan anti Tionghoa serta sederetas stigma dan stereotype berpengaruh terhadap upaya mereka menjadi satu bagian dari masyarakat Indonesia?


Lapisan pertanyaan di atas dijawab dengan sangat menarik oleh Rustopo dan Erniwati dalam buku-buku hasil kajian mereka.


Rustopo dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Jawa, Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa Di Surakarta (Penerbit Yayasan Nabil Jakarta: 2007) mencoba menelisik keterkaitan antara komunitas Tionghoa dan kebudayaan Jawa khususnya masyarakat Surakarta yang terentang antara tahun 1895 sampai 1998. Rustopo menemukan simpul bahwa komunitas Tionghoa telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Relasi cultural inilah yang memampukan komunitas Tionghoa tetap bertahan dan mampu melebur cari dalam kehidupan masyarakat Indonesia.


Kaitan kultural antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Indonesia juga dikupas dengan menarik oleh Erniwati dalam “Asap Hio Di Ranah Minang, Komunitas Tionghoa di Sumetera Barat” (Penerbit Yayasan Nabil Jakarta: 2007). Kajian ini tidak hanya menyoal perihal relasi social-ekonomi, tetapi juga kaitan cultural antara keduanya. Bahwa komunitas Tioghoa adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Lantaran itu stigma dan label diskriminasi terhadap komunitas Tionghoa perlu dikikis dari kerangka berpikir masyarakat Indonesia.


Saya menilai dua buku ini pantas untuk dipunyai, dibaca dan dijadikan reference penting untuk merangkaikan pandangan dan tindakan dalam berelasi bukan hanya dengan komunitas Tionghoa (yang dalam dua buku di atas dijadikan sebagai pusat kajian) tetapi untuk segelap komunitas dan ragam ras suku bangsa ini. Tujuannya antara lain agar kita menjadi sungguh-sungguh paham dan sadar menjadi bagian dari Indonesia ber-bhineka tunggal ika.

 

sumber image: www1.bpkpenabur.or.id

Bookmark and Share

Tag/Label kehidupan, tionghoa, buku
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
9 komentar pada warta ini
Selasa, 13-11-2007 02:27:00 oleh: is silarta

Kalau kita dengar etnis Tionghwa yang muncul didalam benak kita tentang penilaian; mereka umumnya 'piawai' dalam hal berdagang.
Mengapa mereka banyak yang berhasil didalam usaha perdagangan ?
Kenyataanya dalam skala kecil atau skala besar mereka banyak yang sukses.

Salah satu kata kuncinya,mereka saling mendukung(kompak) dan kuat dalam hal bergotong royong didalam berusaha.
Didalam sesama usaha mereka masih berpegang teguh pada etika dagang.
Contoh : Pada komoditas harga barang mereka tidak mengadakan 'perang harga' secara habis habisan terhadap kompetitornya,terutama disektor retail.
Termasuk harga subsidi antar sesama.

Lain halnya dengan etnis lain yang bernama "diatas awan" saling mematikan dan kalau perlu 'pake jurus' jual barang dibawah harga modal untuk menghancurkan saingannya.
Kalau belum mati usahanya dan masih bisa bertahan,pake jurus gosip plus kasak kusuk...terakir dukun atau santet.
Misal : Disebar/dikirim tanah kuburan,bunga bunga plus jarum ditambah 'paket buto ijo'
Mereka sudah tidak ada sama sekali etika dagang.
Ini banyak ditemui dikalangan skala usaha kecil/retail bahkan juga pada skala usaha besar pada etnis yang bernama "diatas awan".

Kapankah etnis yang termasuk "diatas awan" didalam berdagang memulai memakai etika kembali ?
Semoga aje...
Salam n Bravo Wikimu,




Selasa, 13-11-2007 09:30:56 oleh: Retty N. Hakim

@ Bung Kris: kapan ya boleh pinjem buku pada bung Kris? He..he..he...

@ Mas Is: generalisasi tidak selamanya benar, buktinya saya nggak bisa dagang....Dalam era globalisasi dan serba instan ini juga sepertinya hal yang tidak etis juga mengglobal tidak terbatas pada kurungan etnis. Sebenarnya kalau semua orang ingat surga dan neraka (atau karma) kan nggak perlu macem-macem...gitu aja kok susah?!




Selasa, 13-11-2007 10:41:50 oleh: is silarta

Makasih mbak Retty koreksinya,memang saya tulis 'umumnya mereka' jadi tidak secara keseluruhan.

Kalau yang etnis "diatas awan" itu terjadi diusaha kecil seperti toko/warung dan sampai pusat jajan atau tempat makan yang dipinggir jalan besar.
Pada umumnya mereka secara berkala " mencharge " sesuatu kepada 'orang pintar' guna pertahanan diri /usahanya dari hal buruk seperti pengiriman paket 'buto ijo atau buto pink(klo pas valentine)' yang tiada henti.

Semoga jikalau sebenarnya semua orang ingat surga dan neraka sukur plus karma...waaah dunia menjadi kembali seindah warna aslinya.
Salam n Bravo Wikimu,




Selasa, 13-11-2007 11:30:21 oleh: Kris Bheda

@ bung Is Silarta

Sebetulnya saya sependapat dengan pendapat bung perihal korelasi etika dan bisnis di kalangan Tionghoa. Memang benar bahwa
"mereka saling mendukung(kompak) dan kuat dalam hal bergotong royong di dalam berusaha. Di dalam sesama usaha mereka masih berpegang teguh pada etika dagang"

jika ditelisik lebih jauh sebetulnya ini filosofi dagang/bisnis saudara-sudari kita komunitas Tionghoa. Hanya sayang kita, meminjam kata-kata bung etinis 'di atas awan' tidak mengadopsinya sebagai satu kekuatan mendasar. Mengapa?

Sesungguhnya kita terjebak dalam beberapa hal:
1) Gengsian atau dengan kata lain, enggan meniru lantaran nanti dibilang koq mayoritas kalah ama yang minoritas?
2) Kita terjebak pada imagologi diskriminasi dan penjelek-penjelekan terhadap komunitas tinghoa. Lantaran itu muncul generalisasi terhadap komunitas Tionghoa sebagai yang kurang dan jelek.

Dua lingkaran setan di atas sebetulnya sedikit dari sambungan simpul kekerdilan cara berpikir etnis 'di atas awan' yang jika ditelisk lebih jauh dalam berbagai aspek kehidupan ternyata bisa sangat banyak.

@ Bu Retty

Gimana ya caranya...sepertinya Wikimu harus punya perpustakaan buat anggotanya. Biar saya bisa sumbang buku-buku, siapa tahu ada yang suka baca.




Rabu, 14-11-2007 12:41:18 oleh: Cempari

Komunitas Tionghoa memang susah menyatu dengan kultural Indonesia, Jika...

Masih tidak menggunakan nurani dalam ber-Bisnis, sikut kiri, sikut kanan, seruduk sini, seruduk sana..

Inilah kenapa, jika ada kerusuhan, pribumi melakukan hal yg jelek pada semua yg punya embel2 Tionghoa, walaupun tidak semua dari Komunitas Tionghoa memiliki perangai buruk dalam ber-Bisnis..




Jumat, 26-09-2008 19:57:15 oleh: Santy

seharusnya warga Tionghoa yang sudah tinggal di Indonesia bahkan sudah beraak cucu, semestinya membuka diri dengan masyarakat pribumi, baik itu dalm suatu kegiatan yang biasanya dilakukan dilingkungan dimana kita tinggal



Selasa, 10-02-2009 12:12:21 oleh: hippo

Susah karena mayoritas tidak berusaha menyatu dengan bahasa, kebudayaan setempat.
50 tahun lalu masih ada generasi yang berpakaian dan sepatu seperti jaman Shaolin.
generasi ini ada yang masih tidak mementingkan pendidikan formal, cukup baca, tulis, hitung sudah cukup dan selebihnya belajar dagang mengikuti orangtuanya. Jadi tidak heran bila bocah umur 10 tahun sudah hapal harga2 barang ditoko ortunya.
Bayangkan lingkungan dan pergaulan mereka seperti apa. Sebelum RRC komunis terbentuk dan berlaku UU kewarganegaraan di Indonesia, mereka masih mengirimkan anak2nya yang sudah menikah untuk melahirkan di daratan China untuk menjaga kemurnian darah keturunan, Bagi mereka kelas peranakan atau Hoakiauw dipandang sebagai kelas yang rendah derajatnya.
Sampai saat ini mayoritas Tionghoa tersinggung apabila mendengar kata Cina, padahal kata ini sebetulnya yang paling umum dipakai.
Kenapa tersinggung?
Penduduk Chinese Malaysia malah mendelik matanya bila disebut Tionghoa, bagi mereka umum pemakaian kata Cina disana.
Perbedaan ini berdasarkan dari sebutan dari dinasti rambut berkuncir jaman dulu, sebagian orang Hokian di Malaya adalah keturunan perantau yang melarikan diri dari dinasti pemerintahan yang mengharuskan semua laki2 berkuncir rambutnya.
Kalau dengan nama etnis saja, kita tidak bisa menggunakan yang umum diseluruh dunia, ini menunjukkan kita ini golongan eksklusif, tidak mau menyatu dengan mayoritas sekitarnya.
Perlu diperhatikan 2 negara besar berebut memakai nama Republic China, dan dengan sedih terpaksa yang kalah harus memakai nama Republic Taiwan.
Penduduk seluruh dunia mengakui penduduk atau bangsa Cina yang terbanyak diseluruh dunia, dan tidak mengenal lagi sebutan Tionghoa.
Mengapa kita harus malu dan tersinggung bila dipanggil orang Cina.
Bila kita dimaki dengan kata "Cina Lu", seharusnya malah kita bangga menjadi orang yang "dengan mata kecil melihat dunia lebih luas".
Berarti kita sudah maju selangkah menjadi Indonesia, k




Rabu, 14-10-2009 12:27:17 oleh: Lie Tjie Pouw

Thema klasik yang tidak akan habis-habis dibicarakan untuk waktu yang panjang. Komentar-komentarnya pun masih seputar pada isu-isu klasik, masalah ekonomi, kesenjangan sosial, sikap exclusive sampai sebutan kata CINA yang konon berkonotasi negatif.
Satu hal yang menarik menurut saya adalah, tidak ada yang sadar bahwa isu pribumi dan non pribumi atau lebih tepatnya pribumi dan cina itu adalah sebuah grand design dari rezim orde baru.
Kehadiran etnis Cina di Nusantara itu sendiri mau tidak mau suka tidak suka adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, kalau kita mau mempelajari sejarah migrasi populasi umat manusia beiringan dengan perkembangan teknologi, terutama teknologi navigasi dan pelayaran (kapal layar).

--bersambung--




Rabu, 14-10-2009 12:42:00 oleh: Lie Tjie Pouw

--lanjutan--

Kenyataan bahwa dalam satu etnis itu ada yang baik ada yang buruk itu adalah kenyataan sehari-hari, tidak exclusive milik etnis atau ras tertentu.
Kembali kepada grand design yang diciptakan oleh orde baru, korban dari kebijakan orde baru tersebut itu tidak melulu etnis cina itu sendiri, melainkan juga rakyat indonesia secara keseluruhan.
Satu hal yang pasti, tidak akan ada efek positif yang bisa membuat sebuah bangsa menjadi maju jika bangsa tersebut menerapkan politik diskriminasi.

salam
tjie pouw




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
diekie   pada  Suzuki Skywave 125
dedi   pada  Tiara Express Taxi
wawan   pada  Kawasaki Kaze R

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
zahra: hum.. gara2 ada pop screen, pulsa sering kebuang.. huh,

Suara kita selengkapnya... (14 komentar)



Suara Kita Terbaru:
zahra   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
081379132222   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
panglima perang   pada  Usai UN Pelajar Tawuran, Empat Dirawat di Rumah Sakit

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-7222921 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY