Bagi komunitas Tionghoa, menjadi bagian dari masyarakat-bangsa Indonesia, baik secara politis, ekonomi mapun kultural bukan sesuatu yang mudah. Menyoal relasi politis,ekonomi dan kultural antara komunitas Tionghoa dalam proses menjadi bagian dari Indonesia, kita seakan-akan dihadapkan dengan ragam pertanyaan yang kompleks.
Pertanyaan-pertanyaan sentral seperti dari mana komunitas Tionghoa berasal? Factor apa saja yang berpengaruh dalam pembentukan mereka menjadi satu bagian dari masyarakat Indonesia? Bagaimana mereka berupaya menjadi satu bagian dari Indonesia? Apakah bentuk tindakan dan kegiatan mereka baik bersifat individual maupun kolektif? Sebesar apa sumbangan mereka untuk Indonesia? Lantas bagaimana konflik dan kerusuhan anti Tionghoa serta sederetas stigma dan stereotype berpengaruh terhadap upaya mereka menjadi satu bagian dari masyarakat Indonesia?
Lapisan pertanyaan di atas dijawab dengan sangat menarik oleh Rustopo dan Erniwati dalam buku-buku hasil kajian mereka.
Rustopo dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Jawa, Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa Di Surakarta (Penerbit Yayasan Nabil Jakarta: 2007) mencoba menelisik keterkaitan antara komunitas Tionghoa dan kebudayaan Jawa khususnya masyarakat Surakarta yang terentang antara tahun 1895 sampai 1998. Rustopo menemukan simpul bahwa komunitas Tionghoa telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Relasi cultural inilah yang memampukan komunitas Tionghoa tetap bertahan dan mampu melebur cari dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Kaitan kultural antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Indonesia juga dikupas dengan menarik oleh Erniwati dalam “Asap Hio Di Ranah Minang, Komunitas Tionghoa di Sumetera Barat” (Penerbit Yayasan Nabil Jakarta: 2007). Kajian ini tidak hanya menyoal perihal relasi social-ekonomi, tetapi juga kaitan cultural antara keduanya. Bahwa komunitas Tioghoa adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Lantaran itu stigma dan label diskriminasi terhadap komunitas Tionghoa perlu dikikis dari kerangka berpikir masyarakat Indonesia.
Saya menilai dua buku ini pantas untuk dipunyai, dibaca dan dijadikan reference penting untuk merangkaikan pandangan dan tindakan dalam berelasi bukan hanya dengan komunitas Tionghoa (yang dalam dua buku di atas dijadikan sebagai pusat kajian) tetapi untuk segelap komunitas dan ragam ras suku bangsa ini. Tujuannya antara lain agar kita menjadi sungguh-sungguh paham dan sadar menjadi bagian dari Indonesia ber-bhineka tunggal ika.
sumber image: www1.bpkpenabur.or.id