Retty N. Hakim

Apa Arti Kejujuran dan Integritas Bagi Seorang Penulis?

Sabtu, 15-09-2007 10:14:28 oleh: Retty N. Hakim
Kanal: Opini

Apa Arti Kejujuran dan Integritas Bagi Seorang Penulis?

Sebuah Surat pembaca untuk Redaksi Yth. Harian Kompas tanggal 14 September 2007 berjudul "Kompas" Kecolongan Artikel "Daur Ulang" menarik perhatian saya. Penulis surat, Fransiskus Uba Ama dari Surabaya dengan jeli mencermati artikel "Puasa untuk Semua" tulisan Abd Rohim Ghazali di harian yang sama tanggal 12 September 2007.

Pembaca yang protes ini mengetahui bahwa dari paragraph 5 -19 tulisan itu 99% sama dengan dengan tulisan yang sudah pernah dibukukan Kompas terbitan tahun 2001 berjudul "Pluralitas Agama: Kerukunan dalam Keragaman". Buku ini merupakan kumpulan artikel pilihan Kompas selama tahun 1996 - 2000. Jadi kesimpulannya artikel ini sudah menjalani daur ulang dari artikel asli yang terbit 17 Desember 1999.

Hari ini, Sabtu 15 September 2007, penulis artikel menggunakan hak jawabnya mengemukakan penyangkalan melakukan "cut and paste" karena artikel lama merupakan artikelnya sendiri. Menurutnya yang dilakukannya hanya "membuang yang tidak perlu dari yang lama dan menambah yang dianggap perlu untuk yang baru". Sebagai pemilik hak tulisan beliau merasa berhak menggunakan kembali tulisannya sendiri.

Kejadian ini saya angkat karena saya juga pernah melihat artikel yang persis sama dengan penulis yang juga sama di portal jurnalisme warga berbeda. Tidak saya cermati portal mana yang memuat pertama. Bagaimana sebenarnya kejujuran dan integritas penulis harus diletakkan?

Sebagai pembaca tentunya menjadi hak seorang pembaca untuk mendapatkan berita yang baru, berita yang hanya dapat kita peroleh melalui media massa tersebut. Karena itu satu tulisan yang sudah pernah dimuat di sebuah media tidak etis dikirimkan kembali ke media berbeda. Topik yang sama bisa saja dikirimkan dengan sudut pandang atau bahasan yang berbeda. Bagaimana dengan memuat tulisan yang sama ke satu media yang sama? Apakah dengan mendaur ulang paragraf pembukaan bisa menjadikan suatu tulisan etis diterbitkan kembali?

Saya belajar dari editorial Ohmy News International untuk menceritakan latar belakang penulisan artikel kepada editor. Apakah tulisan yang sama akan saya masukkan ke media massa cetak atau bersumber dari tulisan saya yang lain yang pernah dimuat di media massa harus dicantumkan. Mendaur ulang tulisan dari buku harian atau blog tentunya berbeda dengan mendaur ulang tulisan yang sudah pernah dimuat di sebuah media massa. Media massa cetak biasanya menyediakan honor untuk sebuah artikel, sehingga boleh dikatakan bahwa hak cipta penulis sudah diberikan separuhnya kepada media massa tersebut. Pengutipan (mengutip bukan membajak) artikel menjadi etis bila disertai dengan catatan asal pengutipan. Untuk penulisan di buku hal ini lebih mudah terlihat, tapi untuk sebuah artikel di media massa cetak hal ini kurang terlihat. Tapi setidak-tidaknya diketahui oleh editor atau mungkin disinggung dalam artikel itu sendiri.

Bagi jurnalisme berbasis internet hal ini menjadi lebih mudah karena penulis bisa menggunakan link pada tulisan. Masalah "cut and paste" ini bisa menjadi sumber dilecehkannya portal jurnalisme berbasis internet. Menurut orang-orang yang kontra, jurnalisme berbasis internet banyak mengutip dan menggunakan bahan pemikiran orang lain.

Saya sendiri dalam menulis untuk internet banyak menggunakan link. Menurut saya pribadi hal ini menunjukkan penghargaan saya pada tulisan orang tersebut. Sebagai warga yang mungkin dianggap awam terhadap suatu permasalahan, menurut saya tidak ada salahnya bila saya merujuk kepada pendapat seseorang yang mungkin dianggap ahli. Terkadang saya merujuk kepada sebuah blog yang saya anggap dapat menggambarkan pemikiran warga lainnya. Dengan link ini penulis bisa menghemat waktu tidak perlu menceritakan secara detail suatu permasalahan yang mungkin sudah diketahui orang, tapi bagi yang berminat untuk mengetahui lebih mendalam bisa mencari tambahan pengetahuan.

Dalam menulis bagi portal jurnalisme warga, saya sebagai penulis juga sering menggunakan harian cetak Indonesia sebagai bibliografi. Untuk penulisan ke portal jurnalisme warga internasional, hal ini terutama saya lakukan untuk menunjukkan pemikiran-pemikiran lain dari bangsa Indonesia. Dengan link ke berbagai media cetak lokal saya ingin memperkenalkan media cetak Indonesia dan pemikiran-pemikirannya juga karena saya percaya bahwa dengan menyuarakan suara kita ke dunia internasional juga bisa membantu memperbaiki image bangsa ini.

Selain itu saya percaya bahwa dengan kerja sama antara media massa cetak dengan portal jurnalisme warga di internet maka berita yang disajikan entah di media massa cetak maupun di internet bisa jadi lebih bermutu. Koreksi terhadap kesalahan menjadi lebih meluas karena sebuah media massa tidak mungkin memiliki segmen pembaca yang sama, sementara topik yang dimunculkan mungkin saja sebenarnya bisa menarik juga bagi pembaca lainnya.

Karena itu patut kita pertanyakan dengan perenungan lebih mendalam makna kejujuran dan integritas seorang penulis. Bagaimana kita sebagai penulis harus menyikapinya agar kreativitas dan keinginan untuk terus belajar mengembangkan diri bisa tercapai. Mudah-mudahan kemajuan bangsa bisa ikut terangkat. Bagaimana pembaca, apakah arti kejujuran dan integritas seorang penulis menurut Anda?

 

Gambar: www.binus.ac.id 

Bookmark and Share

Tag/Label kompas, abd rahim ghazali, wikimu, jujur, kejujuran, integritas
Penilaian anda

Warta terkait
Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
14 komentar pada warta ini
Sabtu, 15-09-2007 11:21:27 oleh: Kris Bheda

Apakah arti kejujuran dan integritas seorang penulis menurut Anda?

pertama, yah..jujurlah jika mau menulis. Artinya originalitas tulisan itu bisa dipertanggungjkawabkan kalau ditulis dengan jujur.

kedua, tidak salah melakukan daur ulang dalam penulisan, namun dengan catatan sertakan sumber kutipan secara lengkap dan jelas.

ketiga, mengapa pemerkosaan terhadap kekayaan intelektual masih tetap tumbuh subur di tanah air. Alasannya antara lain, 1) karena kita belum mampu berpikir sendiri, 2) merasuknya budaya instanstisme sehingga yang malas kuliah pun tiba-tiba dah dapat ijazah atau tiba-tiba dah kelar kuliah 3)moralitas, kejujuran dan iman belum menjadi konsumsi kehidupan, tetapi hanya menjadi konsumsi ruang-ruang atau sekat-sekat sakral semacam agama dan budaya tertentu, 4) tidak adanya kepastian hukum, korupsi moral ada di mana-mana, mengalahkan korupsi material yang tampak lebih vulgar, 5) kita kurang makanan bergisi dan imunisasi, sehingga tubuh tidak sehat. Tubuh tidak sehat yah jiwa tidak sehat. Jiwa tidak sehat yah..hancurlah negara ini..sebenarnya saya mau mengatakan kita miskin.




Sabtu, 15-09-2007 12:25:33 oleh: Berthold Sinaulan

Sudah saya vote berguna, karena tulisan ini penting untuk pelajaran bagi semua kontributor Wikimu. Di Kompas hari ini (Sabtu, 15/9), sudah ada jawaban dari penulis Abd. Rohim Ghazali yang mengakui bahwa tulisan itu mengambil bahan dari tulisan yang lama. Namun dia berkilah, itu bukan "copy and paste", namun membuang hal yang tak perlu, dan memasukkan hal-hal yang perlu atau sesuai kondisi saat ini. Jawaban Redaksi Kompas (kalau tidak salah), bahwa rubrik opini adalah untuk asah intelektual para penulis, dan bukan untuk para "perajin tulisan".



Sabtu, 15-09-2007 13:23:43 oleh: Micky Jo

ya..saya setuju bila mengangkat topik yang sama tapi bukan menjiplak melainkan menyorot dari sudut pandang yang berbeda..klo sekedar sebagai referensi untuk warta tersebut sebaiknya sumber tersebut memang dicantumkan...



Minggu, 16-09-2007 14:45:21 oleh: tasripin

Mengapa media massa harus menabukan pemuatan artikel yang telah dimuat oleh media massa lain? Tolong, berikan jawaban pada saya secara jujur! Jangan menggunakan dalih bahwa penulis seperti itu tidak memiliki integritas, penulis mata duitan, penulis gila popularitas, dsb. Yang saya ingin ketahui adalah: alasan media massa menghidupkan tradisi itu apa?
Saya merasa perlu menyakan hal itu karena toh saya cermati hampir semua koran, majalah, atau televisi juga doyan melakukan pengulangan-pengulangan isis media mereka. Tak hanya mengulang tema lama, tapi juga menjiplak ide, gagasan, bahkan liputan media lain.
Mari kita coba melihat persoalan ini dari sebuah sudut lain. Andaikata ada seorang penulis artikel yang berniat baik (bukan menunjuk pada kasus KOMPAS) semata-mata ingin menebar pengetahuan dan keyakinannya pada suatu kebenaran lewat sebuah artikel, apa salahnya kalau dia mengirim ke beberapa media massa sekaligus? Bukankah sudah sewajarnya kalau dia ingin ide-idenya bisa tertangkap banyak audience? Belum tentu dia gila popularitas, bukan berarti dia ingin honor dobel-dobel, lo. Dia hanya ingin ide-idenya dan keyakinanya tertanam pada banyak orang. Mengapa tak boleh?

Kini, kita lihat sudut pandang lain lagi? Andaikata pengelola Koran A memandang sebuah artikel yang sudah dimuat di Koran B memang berbobot dan mengandung kebenaran yang layak dipublikasikan, apakah salah kalau dia hendak memuatnya lagi di Koran A?

Mungkin ada yg menganggap honor untuk penulis artikel sudah menjadi semacam kontrak eksklusif? Kalau memang benar begitu, bagaimana kalau ada penulis yang rela tak menerima honor asal boleh mengirim tulisannya di beberapa media sekaligus?

Yang merasa tahu jawabannya, sumonggo..




Minggu, 16-09-2007 20:26:14 oleh: charles beraf

masalah kejujuran intelektual dan moral selalu berkenaan dengan kreativitas. kita tidak bisa hanya terpaku pada masalah kegunaan gagasan atau ide yang dilemparkan ke publik, tetapi juga masalah kreativitas. Media adalah ajang kreativitas, diskursus, bukan ajang berideologi atau berhegemoni.
salam




Minggu, 16-09-2007 21:38:50 oleh: tasripin

Benarkah media cuma jadi ajang kreativitas bagi para pengelolanya atau pengisinya? Lalu, di manakah posisi pembaca atau audience? Siapa yang bisa menjamin pembaca hanya mengharapkan sebuah karya kreatif, melebihi karya yang bermanfaat?

Saya masih belum faham di mana letak kesalahan seorang penulis yang mengirimkan tulisan ke beberapa media sekaligus?

Sayang saya bukan penulis artikel, tapi andaikata iya, saya mungkin akan nekat mengirimkan sebuah keyakinan yang saya sampaikan dalam sebuah tulisan ke sebanyak-banyaknya media. Bukan lantaran gila popularitas atau butuh duit banyak, saya hanya ingin keyakinan saya menjadi keyakinan orang lain pula. Kalau tulisan saya hanya dimuat KOMPAS, bagaimana dengan pembaca Republika, Tempo, atau KONTAN? Tak bolehkan saya menyampaikan keyakinan saya kepada mereka?

Mungkin ada yang menyarankan saya mengirim ulang dengan gaya dan pilihan kata berbeda. Tapi apakah itu tak lebih menipu. Memanfaatkan kata-kata sekadar sebagai kamuflase agar seolah-olah saya kreatif?




Senin, 17-09-2007 13:17:31 oleh: Retty N. Hakim

Sebagai penulis memang ingin haisl pemikirannya diketahui oleh banyak. Mungkin ini yang mengakibatkan banyak orang membuat buku.

Sebagai pembaca saya ingin mendapat sudut pandang yang berbeda dari berbagai media massa. Sama seperti dahulu ketika saya berhenti berlangganan Jakarta Post karena isinya hampir serupa dengan Kompas hanya versi bahasa Inggris saja. Kalau kemudian editorial menjadi lebih tanggap terhadap kebutuhan pembacanya maka gairah untuk membaca harian tersebut lebih tinggi.

Khusus untuk kasus yang saya angkat, menurut saya memang masalah yang diangkat penulisnya masih sah diangkat sekarang ini. Tapi kalau bisa lebih kreatif dan memperlihatkan perbandingan antara kurun waktu 8 tahun ini maka tulisan ini pasti menjadi jauh lebih berisi. Terus terang kalau tidak ada pembaca yang jeli saya juga mungkin tidak tahu kalau tulisan itu daur ulang. Tapi bagi pembaca yang jeli itu bisa jadi merasa kecewa.




Senin, 17-09-2007 15:28:10 oleh: Tri Hupadi

Berkenaan dengan 'jiplak-menjiplak' rasanya bangsa Indonesia itu jagonya. Akan tetapi, memang tidak semua. Ada beberapa penulis yang sangat kreatif dan mau bersusah payah mancari/membaca serta mengutip dengan benar. Sebuah penelitian pernah mengatakan bahwa ada korelasi antara ketrampilan membaca dan menulis. Semakin orang banyak mambaca maka akan muncul beribu ide dari kepalanya. Hanya yang menjadi persoalan, sejauhmana penulis itu berani berterus terang untuk mengatakan bahwa karya yang dibuat itu berasal dari hasil membaca dan mencantumkan kutipan, catatan kaki, daftar pustaka. Sejauh hal ini dilakukan maka pertanggungjawaban penulis semakin jelas. Bukankah di dunia ini tidak ada yang benar-benar orisinil? Ilmu pengetahuan berkembang karena ada peneliti sebelumnya. Peneliti yang muncul kemudian hanyalah bersifat melengkapi dan menyempurnakan. Faktanya, perlu kebesaran jiwa untuk mengakui bahwa karya yang dibuat itu mengutip karya orang lain. Marilah kita mencoba untuk menjadi penulis yang bertanggungjawab.



Senin, 22-10-2007 14:45:32 oleh: Anton Kesiani

Mendaur ulang tulisan menurut saya sah-sah saja. Soal hak cipta, penulis sama sekali tidak kehilangan hak ciptanya setelah tulisannya dimuat di koran. Honor diberikan bukan untuk membeli atau mengurangi hak cipta. Cobalah kita perlakukan penulis seperti pencipta lagu, penyanyi, pelukis, atau siapa pun yang bergelut dalam hal cipta-mencipta. Semua bisa mendaur ulang karya ciptanya sesuai dengan kebutuhan... soal ada yang merasa kecewa ya wajar saja. Jangan pernah berpretensi bisa menyenangkan semua orang...manusia tidak ada yang sempurna...yang merasa kecewa juga pasti pernah mengecewakan orang lain.



Kamis, 25-10-2007 14:06:29 oleh: Johny S

semua kita kembalikan ke hati nurani dan motivasi penulis. hak cipta dan daur ulang lagu tidak bs kita samakan dgn daur ulang tulisan. saya belum pernah dengar lagu lama yang hanya diubah judul lagu dan 1 baris lirik pertamnya, lalu diklaim sebagai lagu baru. paling2 diaransemen musiknya sj, itupun slalu ada catatan di cover bhw lagu tsb merupakan lagu lama yang di daur kembali.

Sy setuju dgn mas Anton bhw wajar2 seorang mengutarakan kekecewaannya. Tp jgn sampai ketidaksempurnaan manusia hy menjadi tameng menutupi kesalahan kita yang secara sadar & sengaja kita buat. Mudah2an




Selasa, 30-10-2007 19:49:06 oleh: Anton Kesiani

Mas Johny, bagaimana pun prosesnya, tapi selalu ada yang didaur ulang bukan.
Yang dibuat menutupi kesalahan saya kira bukan tidaksempurnaan, tapi keangkuhan, kecongkakan, arogansi, kepongahan, dan yang semacamnya. Ketidaksempurnaan merupakan alat instrospeksi agar kita tidak mudah menjudge, mencaci maki, mencari-cari kesalahan orang lain...




Selasa, 06-11-2007 16:57:16 oleh: Fidel

Dear kawan semua,
Harap satu dua di antara kita yang sudah beri komentar tentang kasus daur ulang tulisan Abd Rohim Ghazali di Kompas, muncul artikelnya di Kompas juga.....! Daur ulang lagi artikel dalam nuansa lain biasa... Yang penting jangan curi orang punya artikel!!!! persetan dia mau kirim ke Kompas, Republika, Times, atau sekaligus ke luar angkasa, serba jadi! itu haknya. Boleh jadi dapat uang ekstra bung!
Fidel




Selasa, 25-12-2007 18:49:43 oleh: Ulfa Yuniati

yah, ini bagus juga untuk wartawan-wartawan yang hanya bermodal cut dan paste saja. Sejujurnya saya juga tidak menyukai wartawan yang tak tahu etika jurnalistik. Ini harus dipertegas lagi, bila ada wartawan yang melakukan kesalahan dalam tugas jurnalistiknya.
makasih...




Kamis, 15-11-2012 00:52:39 oleh: m.yusuf sulaiman g

pada dasarnya manusia adalah peniru ulung contohnya kita meniru dari org lain bahasa yg kita kuasai sekarang ini,kita meniru makanan yg dimakan oleh orang disekitar kita potongan rambut cara berpakaian dsb. penulis terkenal william foster mengatakan bila dalam mulai menulis sesuatu hati dulu baru pemikiran. menurut saya penulis adalah sang motivator.



Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY