Yermias Ignatius Degei

Nilai Pedagogis Paulo Freire dan Masa Depan Pendidikan Papua

Sabtu, 04-08-2007 15:25:34 oleh: Yermias Degei
Kanal: Opini

Nilai Pedagogis Paulo Freire dan Masa Depan Pendidikan Papua

Pendidikan di tanah Papua nampaknya sudah tidak berhasil ditinjau dari aspek pedagogis. Terutama ketika terjadi peralihan kekuasaan tanah Papua dari tangan Belanda ke Indonesia. Dunia pendidikan Papua kering dari aspek pedagogis, dan sekolah nampak lebih mekanis sehingga seorang anak sekolah cenderung kerdil karena tidak memunyai dunianya sendiri.

Untuk itu, diperlukan adanya satu upaya baru dalam menjalankan proses pembelajaran. Baru, dalam pengertian berbeda dari yang selama ini melembaga dalam dunia pendidikan di tanah Papua. Salah satu metode pendidikan yang dinilai tepat dijalankan di situasi daerah seperti Papua adalah konsep pendidikan Paulo Freire yang dikenal dengan pendidikan proses pembebasan.

Paulo Freire?

Paulo Freire (lihat profil di arsip artikel http://pendidikanpapua.blogspot.com/) menemukan jawaban dari sebuah pikiran kreatif dan hati nurani yang peka atas kesengsaraan dan penderitaan luar biasa di sekitarnya. Kondisi ketertindasan di daerahnya cukup menggambarkan pola keumuman praktek pendidikan di dunia ketiga. Daerah yang tertindas dari segala sisi itulah tumbuh kebudayaan bisu. Paulo Freire mengungkapkan bahwa proses pendidikan -dalam hal ini hubungan guru-murid- di semua tingkatan identik dengan watak bercerita. Murid lebih menyerupai bejana-bejana yang akan dituangkan air (ilmu) semau gurunya. Karenanya, pendidikan seperti ini menjadi sebuah kegiatan menabung. Murid sebagai "celengan" dan guru sebagai "penabung".

Secara lebih spesifik, Freire menguraikan beberapa ciri dari pendidikan yang disebutnya model pendidikan "gaya bank" tersebut adalah: "Guru mengajar, murid diajar", "Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa", "Guru berpikir, murid dipikirkan", "Guru bercerita, murid mendengarkan", "Guru menentukan peraturan, murid diatur", "Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui", "Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya", "Guru memilih bahan dan ini pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu", " Guru mencampuradukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid", "Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka"

Sebagai jawaban atas pendidikan gaya bank tersebut, Freire menawarkan bahwa sesungguhnya pendidikan semestinya dilakukan secara dialogis. Proses dialogis ini merupakan satu metode yang masuk dalam agenda besar pendidikan Paulo Freire yang disebutnya sebagai proses penyadaran (pendidikan pembebasan).

Pendidikan Papua Sungguh Anti Realitas

Pendidikan Papua tidaklah berangkat dari satu realitas masyarakat. Memang jauh dari realitas. Rakyat Papua ada di kampung-kampung dan bekerja di kebun. Tetapi, kenyataan tersebut tidak dipahami dengan baik di setiap jenjang pendidikan di Papua. Apakah dalam proses pembelajaran maupun dalam kegiatan riset. Sehingga yang hasil dari proses pendidikan adalah konsep. Hasil belajar diterapkan langsung untuk keberlangsungan hidup. Padahal pendidikan hakikatnya adalah untuk hidup.

Contoh kasus pendidikan anti realitas dalam pembelajaran di Papua. Anak -anak SD di Papua harus belajar tentang Kereta, Becak, Siti, Budi, dan lain-lain (pembelajaran Jawa sentries) yang tidak ada di sekitarnya. Siswa yang baru berkembang itu tidak melihat langsung di sekitarnya tentang apa yang dia belajar itu. Semuanya adalah barang-barang yang berada di luar realitas kehidupan.

Nah...dalam konteks ini, sebagai anak yang baru berkembang, secara psikologis dia selalu berada dalam situasi stres. Kita tidak dapat melihat. Mengapa? Karena apa yang dia belajar adalah sesuatu yang abstrak (tidak dapat lihat di sekitarnya). Teman mainnya, tidak ada yang namanya Siti dan Budi. Yang ada adalah nama-nama seperti Kris, Natalis dan lain-lain. Apalagi nama-nama benda, gunung dan nama-nama kota adalah sungguh jauh dari kehidupannya. Cara berpikir anak umur SD adalah mekanis, bukan analitis. Jadi, ini adalah kasus pendidikan yang anti realitas dan terkesan politis.

Contoh lainnya dapat kita cermati dalam pendidikan agama di persekolahan. Pendidikan agama diajarkan secara antirealitas. Padahal pluralitas kehidupan beragama kita merupakan realitas yang tidak perlu dipungkiri lagi. Pendidikan agama masih diajarkan sebagai bagian dari usaha seseorang untuk memonopoli Tuhan dan kebenaran, dan dengan sendirinya menghakimi orang lain yang berbeda agama dengannya. Akibatnya, realitas kehidupan beragama kita kurang berfungsi sebagai pengikat persaudaraan dan membantu menumbuhkan kearifan dan sikap rendah hati untuk saling menghormati dan saling memahami perbedaan yang ada. Pada akhirnya, pluralitas kehidupan beragama lebih cenderung menjadi penyebab konflik yang tak habis-habisnya.

Tanah Papua yang katanya kaya raya itu, relitas ekonomi rakyat masih berada dalam kategori miskin dan terbelakang. Realitas ini tidak pernah dijadikan bahan pijakan untuk menentukan pmbangunan pendidikan di tanah Papua. Sekolah di Papua lebih mirip sebagai industri kapitalis daripada sebagai pengemban misi sosial kemanusiaan dalam mencerdaskan kehidupan rakyat.

Sementara untuk sekolah tinggi di Papua lebih mirip toko kelontong. Perguruan Tinggi yang bermunculan di Papua kini berkeping-keping dengan membuka sekaligus menawarkan aneka program studi jangka pendek dan program ekstensi. Tujuannya jelas, penjualan kelontong itu lebih berorientasi profit (mengejar keuntungan materi) ketimbang pengembangan ilmu untuk kehidupan rakyat yang lebih baik.

Fungsi sekolah masa lalu yang mengemban misi agung sebagai pencerdas kehidupan bangsa, kini tak ubahnya lahan bisnis untuk memperoleh keuntungan. Otonomi Khusus yang berjalan selama enam tahun di Papua ternyata gagal membangun pendidikan untuk kehidupan rakyat Papua.

Hanya kelompok elit sosial-lah yang yang mendapatkan pendidikan cukup baik. Anak-anak dari keluarga miskin tidak bisa sekolah sekalipun tingkat SMA. Padahal uang Otonomi Khusus berkelimpahan di Papua. Katanya. Kaum miskin menjadi kaum marjinal secara terus-menerus. Merekalah yang disebut Paulo Freire sebagai "korban penindasan".

Proses penindasan yang sudah mewabah dalam berbagai bidang kehidupan semakin mendapat legitimasi lewat sistem dan metode pendidikan yang paternalistik, murid sebagai obyek pendidikan, instruksional dan anti dialog. Dengan demikian, pendidikan pada kenyataannya tidak lain daripada proses pembenaran dari praktek-praktek yang melembaga. Secara ekstrim Freire menyebutkan bahwa sekolah tidak lebih dari penjinakan. Digiring ke arah ketaatan bisu, dipaksa diam dan keharusannya memahami realitas diri dan dunianya sebagai kaum yang tertindas. Bagi kelompok elit sosial, kesadaran golongan tertindas membahayakan keseimbangan struktur masyarakat hierarkis piramidal.

Pendidikan Papua Harus Dialogis dan Hadap Masalah

Penerapan metode pendidikan konvensional, anti dialog, proses penjinakan, pewarisan pengetahuan, dan tidak bersumber pada satu realitas masyarakat, maka orang Papua harus merefleksikannya. Ini agenda mendesak di era Otonomi Khusus. Pendidikan Papua harus berangkat dari proses dialogis antar sesama subyek pendidikan. Dialog yang lahir sebagai buah dari pemikiran kritis sebagai refleksi atas realitas. Hanya dialoglah yang menuntut pemikiran kritis dan melahirkan komunikasi.

Tanpa komunikasi tidak akan mungkin ada pendidikan sejati. Sebagai respon atas praktek pendidikan anti realitas, Freire mengharuskan bahwa pendidikan harus diarahkan pada proses hadap masalah. Titik tolak penyusunan program pendidikan atau politik harus beranjak dari kekinian, eksistensial, dan kongkrit yang mencerminkan aspirasi-aspirasi rakyat. Program tersebut diharapkan akan merangsang kesadaran rakyat dalam menghadapi tema-tema realitas kehidupan. Hal ini sejalan dengan tujuan pembebasan dari pendidikan dialogis. Pendidikan yang membebaskan, menurut Freire, agar manusia merasa sebagai tuan bagi pemikirannya sendiri. Jadi, pendidikan yang harus dibangun di Papua saat ini adalah dialog dan hadap masalah. Sehingga, dalam konteks Papua, rakyat Papua menjadi tuan di atas tanahnya sendiri.

Masa Depan Pendidikan Papua

Pendidikan untuk masa depan Papua haruslah dibebaskan dari suasana bisnis, agen perpanjangan kapitalisme gaya baru: kapitalisme pendidikan, dan tentu saja politisasi. Budaya pura-pura harus kita hilangkan. Sudah realitasnya seperti itu, pendidikan yang dibangun jauh dari realitas yang sudah dia lihat. Jangan pura-pura tidak tahu dan tidak melihat. Kurikulum pendidikan di Papua harus berangkat dari realitas rakyat Papua saat ini, penataan kembali pendidikan agama, penanaman demokrasi dan menumbuhkan pemikiran kritis. Karena tujuan pendidikan juga bukan hanya kognitif semata, maka tinjauan apektif dan psikomotorik harus pula dijadikan bahan acuan dalam menjalankan proses pendidikan. Pendidikan harus berangkat dan memupuk keterampilan sosial dan keterampilan hidup.

Masa depan rakyat dan tanah Papua tergantung dari sekarang. Otonomi Khusus telah berjalan enam tahun, tetapi belum menampakkan wajah perubahan pendidikan di tanah Papua. Tahun depan (2008) Otonomi Khusus akan berumur tujuh tahun. Tahun berikutnya lagi akan berumur delapan tahun dan seterusnya sampai masa 25 tahun Otonomi Khusus itu akan habis, lalu apa? Jadi, kewenangan pembangunan pendidikan di tanah Papua yang atur melalui Undang-Undang Otonomi Khusus itu benar-benar harus digunakan untuk membangun rakyat Papua di atas tanah mereka.

Orang-orang yang akan duduk di Dewan Pendidikan Papua yang telah dibentuk itu, kiranya menjadi dewan yang benar-benar berpikiran kreatif, berhati nurani yang peka atas kesengsaraan dan penderitaan luar biasa di sekitarnya. Harapannya adalah pendidikan yang dibangun di tanah Papua benar-benar dialogal dan hadap masalah-masalah, sehingga rakyat menyadari dirinya, sesamanya, lingkungannya, dan masa depannya. Ini bukan zamannya lagi, rakyat Papua tidak menyadari dirinya, sesamanya, lingkungannya, masa depannya. Karena memang bukan kodrat menjadi budak di atas tanah yang menghasilkan susu dan madu. Ini menyedihkan.***
Bookmark and Share

Tag/Label paulo freire, pendidikan, papua
Penilaian anda

Kirim ke Teman
* Email Teman:
Pisahkan tiap email dengan titik koma.
Contoh: bill@microsoft.com; steve@apple.com
* Email anda:
5 komentar pada warta ini
Sabtu, 04-08-2007 16:17:48 oleh: Krispianus Bheda

Proficiat, ini ide cemerlang serentak merupakan teguran sangat intelektual. Lantaran itu amatlah tepat jika saya menegaskan sekali lagi sebaris kata penting ini.....Pendidikan untuk masa depan Papua haruslah dibebaskan dari suasana bisnis, agen perpanjangan kapitalisme gaya baru: kapitalisme pendidikan, dan tentu saja politisasi. Budaya pura-pura harus kita hilangkan. Sudah realitasnya seperti itu, pendidikan yang dibangun jauh dari realitas yang sudah dia lihat. Jangan pura-pura tidak tahu dan tidak melihat. Kurikulum pendidikan di Papua harus berangkat dari realitas rakyat Papua saat ini, penataan kembali pendidikan agama, penanaman demokrasi dan menumbuhkan pemikiran kritis. Karena tujuan pendidikan juga bukan hanya kognitif semata, maka tinjauan apektif dan psikomotorik harus pula dijadikan bahan acuan dalam menjalankan proses pendidikan. Pendidikan harus berangkat dan memupuk keterampilan sosial dan keterampilan hidup....sekali lagi proficiat.




Sabtu, 04-08-2007 16:44:52 oleh: bajoe

Paolo Freire ya....konsep yang idealis. Membaca karangan Freire ini perlu ditambahkan lagi dengan membaca Ivan Illich : Bebas dari Sekolah, lalu diimbangi dengan Toto Chan. Atau kalau mau liat realita Indonesia, baca buku : Orang Miskin Dilarang Sekolah, karangan Eko Prasetyo.

Setelah itu kita akan sadar betapa bobroknya sistem pendidikan nasional kita. Tidak hanya di Papua, dipelosok Sukabumi pun, amburadul. Kepala Dinas Pendidikan bukan sibuk memikirkan kurikulum lokal, tapi bagaimana mengalokasikan anggaran atau tugas2 administratif lain.

Maka beruntunglah mereka yang sekolah dan tidak pernah baca buku2 di atas, karena mereka merasa menjadi kaum terdidik dalam strata sosial yang tinggi. Tapi kalau berani membaca buku2 di atas, maka sial-lah kita yang sudah susah payah sekolah, ternyata hanya menjadi sekrup-sekrup sebuah mesin raksasa. :D

Namun dengan kesadaran menjadi seorang sekrup, maka tahap berikutnya adalah bagaimana berkembang menjadi seorang pembebas seperti kata Paolo Freire.




Minggu, 05-08-2007 15:21:43 oleh: is silarta

Sekolah 'mahal'..."Kita sudah banyak utang dan menjual/menggadaikan/ barang yang ada dirumah untuk menyekolahkan anak kita !" keluhan orang tua pada umumnya ketika tahun ajaran baru dan masuk sekolah/universitas.

'Angkat topi' untuk artikel Bung Y.Ign.Degei dan merupakan teguran tertuju kepada Pemerintah Daerah masing masing serta harus ditindak lanjuti.

Pendidikan pada dasarnya mempunyai motto kehidupan, kepada siswa atau mahasiswa maupun yang non formal ketika dididik.
"Sapientia et Virtu" yang maknanya sbg.'Kebijakan dan kebajikan' atau 'Pandai menggunakan akal budinya dan berani berbuat sesuatu yg.baik'.
Suatu motto kehidupan luhur untuk pedoman mencapai tata kehidupan yang baik,bagi para yg.'dididik' yang akan menjadi calon pemimpin pada bidang keahliannya masing masing !.
Motto ini berdimensi sangat luas seperti :
- Menghargai orang lain,mengahargai perbedaan,kebersamaan,kepedulian,kepemimpinan dan kedisiplinan yang merupakan tawaran nilai luhur bagi setiap yang dididik.
- Penyelenggara pendidikan harus memberikan pelayanan untuk kehidupan dan sarana yg. dididik,dari sisi manajemen 'service quality' mengacu pada tangibility,empathy,realibility,responsiveness dan assurance.
- Penyelenggara melaksanakan tugas,berpedoman pada pilar pilar keutamaan yg. meliputi kesadaran diri,ingenuitas,cinta kasih dan hasrat hasrat heroik dan bertindak untuk peubahan niat berperilaku baik.
Membuat suasana yg. kondusif dan berdampak pembentukan diri,disamping ilmu yg.dipelajari.
-Prinsipnya bila seseorang memiliki niat berperilaku baik,dapat diprediksi bahwa dia akan berperilaku baik seperti jujur,disiplin dan mengabdi kepada masyarakat.

Semoga dapat menggugah kita semua dalam upaya mendidik generasi muda,agar tabah dalam menghadapi perubahan hidup dan tetap memiliki niat baku berperilaku baik bagi Nusa dan Bangsa Indonesia..

Salam n Bravo Wikimu,







Selasa, 07-08-2007 15:40:09 oleh: Engelbertus Pr Degey

Setuju semua pendapat, baik komentar dari Bung Kris, Mas Bajoe, Mba Is atau pendapat Freire. Tulisan dari Yerry sungguh sangat menggugah. Saya cuma berpikir, suatu saat kita berdoa agar seorang yang punya konsep di atas duduk di Dinas P dan P dan mulai mendobrak sistem pendidikan.

Bagaimana mendobrak? Daerah seperti Yogya, Aceh dan Papua tidak perlu bingun. Sejalan dengan adanya pemberian Otonomi Khusus dan Daerah Khusus Istimewa, menjadi kekuatan dasar untuk mengatur sistem pendidikannya sendiri. Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, mesti diterjemahkan kedalam kebutuhan daerah masing-masing.

Setiap saat Ujian Nasional dikoreksi dari pusat itupun sudah berpengaruh buruk. Contohnya, SMA YPPK Adhilur dan beberapa SMA lain yang bermutu, muridnya didiknya banyak yang jatuh alias tidak lulus. Padahal siswa-siswa itu selama ujian semester atau naik kelas selalu rengking. Kokh, UN jatuh. Itukan lucu. Malah SMA-SMA yang ada di pedalaman sana, seperti SMA N Mapia, muridnya lulus semua.

Menurut konsep Alm Lukas Karl Degey (mantan Rektor Asrama Tunas Harapan Jayapura, terakhir Ketua I DPP PDIP), membina generasi muda, lebih jitu dengan Pendidikan Berpola Asrama (Seminari). Yang penting di asrama itu, jangan dari satu suku saja. Buktinya, waktu 23 tahun mengurus asrama, anak didiknya ada yang dari warga trans, bugis, sumatra, Papua (oksibil, Ekari, Jayapura, Demta, Sorong, Mapia, dll).

Hasilnya bagus dan hal itu dapat dilihat bukti sendiri.

Tulisan Yerry ini perlu dipahami dan diketahui oleh siapa saja yang menjadi pelaku pendidikan dimana saja berada, termasuk orang tua di rumah.

Bagi Wikimu, tulisan Yerry adalah bagi-bagi pengetahuan, agar masalah pendidikan di negara ini perlu di ubah sesuai potensi dan karakteristik daerah. Menyamaratakan sistem pendidikan di Indonesia juga bisa mencapai hasil yang buntu, seperti yang sekarang sedang kita alami.




Sabtu, 29-03-2008 17:50:10 oleh: nagaikrar

model pendidikan yang ditepaakn di papua sungguh jauh dari kontek budaya yang ada.
bagaimanan anak-anak Papua dapat memehami pendekatan budaya luar papua, kalau budaya nya sendiri tidak ada keberpihaan untukm eramu konsep pendidikan yang sesuai di Papua. Hanay dengan tema pembangunan naional lalu semua itu diilegalkan sehingga hal itu merupaka faktor penghambta perceptan pedidikan di Papua.

Dengan berlakunya undang-undang kebijakan pendidikan di era otonomi daerha, kiranya menjadi kekuata bagi daerah untuk metamu dan menyusun konsep pendidikan yang sesuai dengan kebudayaan lokal sehingga, ada seapan ilmu dan penyesuian yang cepat dalam adaptaisnya dalam rangka embangunan nasional yang baik dan mandiri sehingga dnegandemikian dapat menyesuaikn diri dengan dunia luar, namunn demikian diaharapka adnaya komitmen dan kerja sama dai berbagai pihak melalui Pemerintah daerha utuk hal dimaksud.

Salah satu pola yang tepat aalh, bagaimana mermau dam mengadopsi pola pendidikan masa lalu ' ala belanda , yang dipakai untuk masyarakat Papua ,sehingga daya serapannya cepat, karena mereka menggali aspke lokal sebagai pegnatara ayng tepat dan efisien serta menjangkau

nagai arsam krar
Guru pada SMK Negeri 1 Keerom Papua




Tambahkan komentar anda
* Nama lengkap:
* Email:
tidak ditampilkan untuk umum
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan :
  • - Berilah komentar yang relevan dengan topik warta ini. Bacalah semua dari warta maupun komentar-komentar lain, sebelum memberi komentar.
  • - Tidak membuat komentar yang bernuansa SARA, pornografi, menyerang pribadi, menyebarkan kebencian dan kekerasan maupun pendapat yang melanggar hukum.
  • - Tidak beriklan di kolom komentar ini.
  • - Gunakan bahasa yang santun dan beri respek pada semua pendapat meskipun berbeda pendapat.
  • - Gunakan nama asli dan bila Anda sudah menjadi anggota Wikimu, upayakan login member terlebih dahulu. Bila belum menjadi anggota, email yang Anda cantumkan di kolom email, tidak akan dimunculkan.
* Komentar:  
captcha Silakan tulis kode disamping ini untuk melanjutkan.

PALING BERGUNA (bulan ini)

TERBANYAK DILIHAT (minggu ini)

TERBARU

50 TAG / LABEL TERPOPULER

 

Link Wikimu


Mau pasang link Wikimu di blog/situs Anda? copy link ini

TESTIMONI PRODUK

Minuman Sereal Baru ENERFILL

Jumat, 05-06-2009 18:04:42 oleh: Rina Linda

Bosan dengan yg biasa??? Minuman sereal ENERFILL, di setiap porsinya mengandung kombinasi 8 Vitamin, Protein, Kalsium & mineral lainnya yg dibutuhkan tubuh. Kombinasi rasa yg nikmat dengan sensasi baru BUTIRAN OATS PADAT di dalamnya bikin ENERFILL sebagai minuman penambah energi dengan kenikmatan rasa yang mudah tersaji. Cukup disajikan dgn 150 ml air panas ke dlam gelas, rasakan sensasi rasa baru coklat atau vanilla. ENERFILL, minuman penunda lapar yang lengkap, enak, lebih mengenyangkan & sehat untuk penambah energimu



Testimoniku:
Fajar Setyo Hartono: Minum Sereal Baru ENERFILL bila disajikan dalam minuman panas dalam gelas kita dapat merasakan sensasi rasa baru coklat atau vanila dan bisa menambah energi setelah minum .

Testimoni selengkapnya... (4 komentar)



Testimoniku Terbaru:
Sergio   pada  Pocari Sweat
David   pada  Momogi Snack
Latif Nur Hidayah   pada  Yakult...Bisa untuk Obat Diare??

SUARA KITA

Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya

Sabtu, 21-02-2009 12:22:33 oleh: Eko Nurhuda
Saya pengguna Simpati sejak pertama kali bisa beli hape di tahun 2002. Sampai sekarang saya masih setia dengan Simpati karena alasan coverage area. Namun belakangan ini kesetiaan saya terganggu karena Simpati suka seenaknya mengirim SMS berisi iklan layanan yang tidak saya butuhkan (dan sering!). Sungguh menyebalkan..!

Suaraku:
melfa: Saya memakai simpati dari thn 1993 waktu itu blm ada kartu hallo suafu saat saya miggrasi ke hallo sampai 2010 tiba2 diputus sama mereka tanpa alasa,saya mohon aktifkan nmr saya itu kembalia



Suara kita selengkapnya... (18 komentar)



Suara Kita Terbaru:
melfa   pada  Simpati Kirim SMS Iklan Seenaknya
gdwmnv   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman
pjkhfge   pada  Hutan Pantai Jakarta Dibangun Pemukiman

DARI ADMIN

Rekan-rekan,

Wikimu juga mempunyai PUBLIC PROFILE di Facebook jika anda ingin menjadi Fans silahkan kunjungi kami. Jangan ketinggalan kami mempunyai lomba komentar di Public Profile setiap hari Senin dan Kamis. Nantikan terus artikel yang menjadi topik dalam lomba komentar.

Untuk pertanyaan dan masukkan, silahkan email ke

info@wikimu.com

salam,

21 April 2009

Admin.

Masukan, pertanyaan, kritikan terhadap kami silakan kirim email ke info@wikimu.com atau telp : 021-56165522 Senin-Jumat (08.00 - 17.00 WIB)
COPYRIGHT ©2006 WIKIMU.COM - Jurnalisme Publik (Citizen Journalism). All Rights Reserved | PRIVACY POLICY