Ketika waktu Lohor sudah tiba, sementara matahari sudah makin garang membakar jalur Pantura, kami harus beristirahat untuk makan siang.
Dan kali ini dipilih Rumah Makan Pringsewu yang telah mendapatkan penghargaan dari MURI (Musium Rekor Indonesia), bukan karena masakannya, melainkan karena berani gila-gilaan memasang iklan terpanjang di Indonesia.
Ruang parkir memang terbilang luas. Tak heran mereka membusung dada sebagai Restoran Taman.
Hari itu saya memilih ruang makan yang berada di tingkat atas.
Seperti biasa "Dewa Beser" menuntun saya masuk kedalam toilet. Setelah melewati seorang pengunjung lelaki berkaos hitam dan berbadan besar yang terbaring merem melek dipijat mesin elektronik. Sementara istrinya duduk disamping sampil menikmati jus alpukat maka sampai juga saya ke toilet.
Segera saya melepaskan hajat di toilet yang sempit dan cuma terdiri dua kamar. Sama sekali tidak nyaman untuk dipergunakan dan membuat pengunjung lain antri. Padahal, rata-rata pengunjung datang adalah untuk menggunakan tempat ini.
Melalui pengeras suara, disampaikan informasi pelayanan perusahaan seperti loket makanan, loket oleh-oleh, loket obatan disertai permintaan maaf, atas pelayanan prasmanan yang disediakan disini. Cukup informatif.
Ternyata musim liburan, membuat pemilik Pringsewu kedodoran melayani pelanggan secara normal (dilayani), sehingga aturan main diubah.
Seperti nampak pada gambar, pengunjung antri beramai-ramai mengambil makanan sementara pendingin ruangan juga seperti sudah separuh keok mengatasi sengatan panas udara Pantura dari luar.
Saya menyendok Sup Buntut agar perut yang terguncang di jalur Pantura bisa sedikit merasakan kehangatan. Tetapi, mohon maaf, daging sup masih terasa liat, lalu saya menggigit udang goreng, dan beberapa masakan lainnya. Agaknya dengan rasa menyesal saya harus memberikan nilai di bawah strip yang saya inginkan, untuk rumah makan besar yang terbilang "borju" di kawasan Pantura.
Selesai bersantap, seorang wanita manis mendatangi saya sambil memperlihatkan tiga kartu. yaitu 7,8,9 spade (keriting) lalu saya diminta mengambil kartu "8" yang ternyata ditangan saya sudah berubah menjadi kartu lain.
Lalu ada kartu lain yang harus dibaca dengan pikiran kosong agar diperoleh efek yang dinginkan dan sebuah permainan grafik.
Saya bertepuk tangan, karena merasa dihargai sebagai pelanggan. Ternyata kartu tadi dihadiahkan kepada saya. Untuk yang satu ini (customer care), Pringsewu boleh diacungi jempol.
Mudah-mudahan kedepan, dengan berakhirnya liburan anak sekolah, Pringsewu kembali meningkatkan kualitas pelayanan masakannya terutama daging sup buntutnya.